Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ucapan Selamat dari Bu Dosen


__ADS_3

Di hari Sabtu ini, Anaya akan kembali ke kuliah. Walau sudah hamil dan perutnya semakin membesar, tetapi Anaya tetap mengikuti kuliah dan tetap bersemangat. Tama yang melihat istrinya sedang bersiap untuk kuliah itu pun mengamati istrinya.


“Bumil masih aja kuliah sih,” ucap Tama.


“Iya Mas … harus semangat kuliah. Walaupun endingnya jadi Ibu Rumah Tangga sih,” balas Anaya dengan terkekeh geli.


“Ibu Rumah Tangga kalau mendapat pendidikan yang tinggi akan memiliki pola pikir yang berbeda juga kok Yang … anggap saja untuk membekali dirimu sendiri,” balas Tama kemudian.


Lantas Tama mendekat dan memeluk istrinya itu, “Coba dulu kamu ke Amerika untuk kuliah. Sudah pasti aku akan menjadi gila, Sayang,” ucap Tama.


Teringat dengan dulu kala Anaya berpamitan dengannya dan memintanya untuk mencari Ibu Susu yang baru. Kala itu, dada Tama terasa begitu sesak. Ingin rasanya untuk menghentikan Anaya kala itu. Barulah di bandara, Tama seolah mendapatkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya dan juga menahan kepergian Anaya kala itu. Terlihat juga bagaimana pengorbanan Anaya yang melepas beasiswanya di luar negeri dan lebih memilih mengambil kuliah di Jakarta.


“Masak … emang kamu bisa gila?” tanya Tama dengan menatap suaminya itu.


“Bisa Sayang … aku bisa gila. Berysukur sekali, kamu akhirnya memilih untuk bertahan untuk aku dan Citra. Terima kasih My Love,” ucap Tama dengan mencuri satu kecupan di pipi istrinya itu.


Sampai pada Tama mengurai pelukannya, pria itu lantas turun ke dapur terlebih dahulu dan mengambil Cookies kemasan untuk Ibu hamil, selain itu Tama juga membuatkan cokelat dingin yang ditaruh di dalam Tumbler, bekal untuk istrinya kuliah.


“Ini Sayang … aku siapkan Cookies dan cokelat dingin dari susu ibu hamil buat kamu. Nanti dimakan ya waktu istirahat di kampus. Tas kamu sudah aku masukin tissue kering dan tissue basah juga, dan hand sanitizer untuk terus menjaga kebersihan,” ucap Tama.


Anaya yang mendengarkan pesan dari suaminya dan beberapa barang yang sudah dipersiapkan suaminya itu pun merasa begitu senang. “Makasih banget Mas Suami … sweet banget sih, aku kuliah dan juga udah disiapkan semuanya. Jadi semakin bersemangat untuk kuliah,” balas Anaya.


“Sama-sama Sayang … yuk, berangkat sekarang agar kamu tidak terlambat,” balas Tama.


Akhirnya, keduanya keluar dari rumah dan menitipkan Citra kepada Mama Rina terlebih dahulu. Setelahnya, Tama segera mengantar Anaya ke kampusnya. Lantaran usia kehamilan Anaya kian bertambah, sehingga Tama pun melajukan mobilnya dengan lebih pelan, takut guncangan yang terjadi bisa membuat gangguan pada kehamilan Anaya.

__ADS_1


Begitu sudah sampai di kampus, Tama menghentikan mobilnya, dan juga membukakan pintu untuk istrinya itu, “Kuliah yang rajin ya Bumilku … nanti pulang sore seperti biasa kan?” tanya Tama lagi.


“Iya, jam biasanya … bye Mas … aku kuliah dulu yah,” balas Anaya dengan mencium punggung tangan suaminya terlebih dahulu dan kemudian memasuki gedung fakultas.


Kuliah Psikologi Pendidikan kali ini memang begitu disukai oleh Anaya, diajar oleh Bu Khaira membuatnya tidak pernah bosan untuk mengikuti perkuliahan itu. Justru yang ada Anaya kian bersemangat untuk kuliah dan berharap semester depan bisa mendapatkan Bu Khaira lagi di mata kuliah selanjutnya.


120 menit kali ini benar-benar dihabiskan Anaya tanpa gangguan. Sekarang, terlihat Bu Khaira yang mengajaknya berbicara ketika kelas telah usai.


“Gimana Bumil sehat?” tanya Khaira.


“Amin, sehat Bu ….”


“Perut kamu membuncit sekali ya Anaya. Perasaan baru beberapa minggu bertemu kan? Sudah seperti usia kandungan 6 bulan. Sekarang baru berapa bulan sih?” tanya Khaira lagi.


Mendengar bahwa Anaya hamil bayi kembar, terlihat Khaira yang tersenyum dan seolah ingin memberikan usapan di perut Anaya yang kian membuncit itu. Benar dari pandangannya saja, perut Anaya terlihat seolah hamil 6 bulan, selain itu Khaira juga melihat pipi Anaya yang semakin chubby.


“Wah, congratulations … Baby Twins yah … identik atau fraternal?” tanya Khaira lagi.


Tentu saja Khaira tahu istilah-istilah seperti berikut karena ada kalanya Khaira menjadi nara sumber untuk topik-topik parenting, sehingga Khaira bisa langsung bertanya apakah kembar identik atau fraternal.


“Alhamdulillah, Fraternal Bu Khaira,” balas Anaya dengan tersenyum.


“Wah, luar biasa. Berarti ada dua ovum yang berhasil dibuahi. Kalau kembar identik kan hanya satu ovum yang dibuahi dan kemudian membelah menjadi dua,” balas Khaira.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Benar Bu … saya juga tidak menyangka. Awalnya itu juga kaget kok ada dua kantung janin waktu pertama kali USG, kian takjub ternyata kembar Fraternal,” cerita Anaya kepada dosennya itu.

__ADS_1


“Luar biasa banget yah … sekarang bisa kembar Fraternal itu sudah jarang. Kalau kembar identik masih banyak. Sehat-sehat ya Anaya … sehat sampai waktu persalinan nanti. Kabar-kabar yah kalau nanti bersalin, saya bisa datang menjenguk,” ucap Khaira lagi.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Amin … doanya ya Bu … semoga bisa melahirkan dan merawat baby twins, kadang kebayang repotnya, tetapi dijalani saja,” balas Anaya.


Tidak dipungkiri bahwa melahirkan Baby Twins akan membuatnya merasa begitu repot. Akan tetapi, Anaya juga yakin bahwa dengan menjalaninya dan beradaptasi hari ke sehari sudah pasti semuanya bisa dilewati. Walau berat, tetapi Anaya akan terus berusaha untuk bisa merawat kedua bayi kembar dan juga sekaligus untuk mengasuh Citra.


“Tidak apa-apa. Mungkin awal mula repot banget, tetapi tidak apa-apa. Nanti kalau sudah terbiasa, pasti bisa kok untuk mengasuh si kembar. Pakai Babysitter, pasti dibolehin sama suami kamu,” balas Khaira kemudian.


“Kok saya lebih suka mengasuh sendiri ya Bu … rasanya gimana gitu memakai babysitter,” balasnya.


“Takut godain suami yah?” goda Khaira.


“Enggak sih,” sahut Anaya.


Khaira kemudian tertawa, “Kalau saya dulu takut godain suami, waktu itu baru trending babysitter yang naik pangkat dari daddysitter, hingga istri sah tergulingkan. Jadi, saya mengasuh Arsyilla dan Arshaka sendirian. Cuma ya ada Bunda-Bunda yang bantuin, Bundanya saya dan juga mertua. Jadi, kalau saya tinggal kuliah gini, Arshaka sama Neneknya,” balas Bu Khaira.


Anaya pun tertawa, “Saya tidak mengira Bu Khaira berpikiran demikian,” sahutnya.


“Iya … saya juga cuma manusia biasa, wanita biasa. Takut jika suami tergoda. Hahahah … ya cuma selama ini sih aman dan berharap akan tetap aman dan akan saling menjaga sampai akhir usia nanti,” balas Khaira.


“Amin … itu juga doa dan harapan saya Bu Khaira. Saya ingin menemui bersama dengan Mas Tama,” balasnya.


Khaira pun tersenyum dan menatap Anaya, “Sehat-sehat ya Bumil … saya dulu mengajar sambil hamil, sekarang kamu yang kuliah sambil hamil. Dijaga baik-baik yah. Mamanya sehat, Twins juga sehat,” ucap Anaya lagi.


“Amin Bu Khaira … terima kasih,” balas Anaya.

__ADS_1


__ADS_2