Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Gender Reveal


__ADS_3

Tidak terasa sudah beberapa pekan berlalu, itu artinya usia kehamilan Anaya pun juga semakin bertambah usianya. Hari ini akan menjadi hari di mana Anaya harus kembali ke Rumah Sakit dan memeriksakan kondisi janinnya.


"Mas, nanti anterin ke Rumah Sakit yah," pinta Anaya kepada suaminya itu.


"Boleh ... jam biasa kan?" tanya Tama.


"Iya, nanti aku daftar pakai Whatsapp dulu, biar dapat nomor antriannya. Kalau sudah, aku kabarin," balas Anaya.


"Ya sudah, penting nanti sore kamu siap-siap saja yah. Jadi, biar bisa langsung berangkat ke Rumah Sakit," balas Tama. Itu karena hari ini adalah masih hari bekerja, sehingga Tama meminta istrinya untuk bersiap terlebih dahulu dan juga tinggal menuju ke Rumah Sakit, tanpa harus menunggu lama.


"Iya, Mas Suami ... aku akan bersiap kok," balas Anaya. Anaya kemudian berdiri di samping suaminya, kemudian Anaya kembali berbicara kepada suaminya itu.


"Mas, peluk dulu sebentar dong," pinta Anaya kali ini.


Tama yang sedang berdiri di cermin rias pun menaruh sisir di tangannya, dan segera memeluk Anaya. Tumben-tumbenan istrinya itu meminta dipeluk terlebih dahulu. Mungkin saja memang efek hormon kehamilan yang membuat Anaya lebih manja dengan suaminya.


"Sini ... dipeluk dulu. Tumben My Love ... kamu minta peluk, kadang aku suka kalau kamu manja seperti ini," sahut Tama dengan memeluk tubuh Anaya dengan begitu eratnya.


Tama memeluk Anaya untuk beberapa saat lamanya, dan Anaya pun membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Di pagi hari, dengan suaminya yang sudah rapi dan wangi, menjadi kesukaan sendiri bagi Anaya di kehamilan kali ini.


"Kamu lebih manja ya Sayang hamil kali ini ... apa jangan-jangan baby kita girl ini, Baby Twins-nya cewek semua," balas Tama yang seakan menerka jenis kelamin bayinya di dalam rahim istrinya.


"Entah ... enggak tahu, cuma aku seneng saja nempelin kamu kayak gini. Udah rapi, harum lagi. Seneng deh," balasnya dengan kian mencerukkan wajahnya di dada suaminya.


Tama pun terkekeh geli dan sesekali menciumi kening istrinya itu, "Kamu bisa saja ... tiap hari aku juga rapi dan wangi, Sayang," aku Tama dengan jujur.


Keduanya masih berpelukan untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Anaya mengurai pelukannya, dan mendorong sedikit dada Tama. "Ya sudah, sana berangkat bekerja dulu ... nanti sore aku tunggu yah," balas Anaya.


"Oke Istriku tercinta ... Suami kamu mengais rupiah dulu yah," balas Tama dengan mengecup kening istrinya dan menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar.


Sebab, hari Tama rasanya ada yang kurang jika Anaya tidak mengantarnya sampai ke depan pintu. Untuk itu, pasti Tama akan menggandeng tangan istrinya itu sampai ke depan pintu.

__ADS_1


"Bye, aku kerja dulu yah ... hati-hati di rumah. Tidak usah kecapekan sama Citra. I Love U, My Love," ucap Tama sembari melambaikan tangannya dan memasuki mobilnya.


***


Sore harinya ....


Anaya sudah bersiap dengan buku catatan pemeriksaan miliknya. Menunggu suami tercinta pulang dan akan mengantarnya ke Rumah Sakit. Untuk kali ini, Citra tidak ikut ke Rumah Sakit karena ada Mama Rina yang kali ini bermain ke rumahnya dan hendak mengasuh Citra selama Anaya dan Tama ke Rumah Sakit.


"Yuk, Sayang ... sekarang saja," ucap Tama yang memasuki rumah masih mengenakan celana bahan berwarna hitam dan kemeja panjang itu.


"Mas enggak mandi dulu?" tanya Anaya kepada suaminya.


"Gini saja ... takut telat. Kamu dapat nomor antrian duluan soalnya. Yuk, sekarang," ajak Tama kepada Anaya untuk segera berangkat ke Rumah Sakit.


Sore hari dengan lalu lintas yang cukup ramai. Anaya melihat pemandangan yang bergerak dari balik kaca jendela mobilnya. Keduanya sesekali juga saling mengobrol, sehingga tidak terasa sekarang mereka sudah tiba di Rumah Sakit.


Mengantri terlebih dahulu dan menunggu sampai perawat memanggil nama Anaya untuk memasuki ruang pemeriksaan dengan Dokter Indri. Hampir dua puluh menit keduanya menunggu, sampai pada akhirnya giliran Anaya.


"Halo ... bagaimana kabarnya Anaya dan Tama. Sehat kan? Sudah waktunya pemeriksaan lagi yah," sapa Dokter Indri kepada keduanya.


Kemudian Dokter Indri melihat catatan pemeriksaan Anaya terlebih dahulu. Melihat catatan berat badan dan tekanan darahnya, kemudian mencatatkan beberapa hal di sana.


"Jika sesuai catatan di sini, harusnya kehamilan kamu sudah 19-20 weeks. Artinya sudah setengah jalan ya Anaya. Kayak baru kemarin ketemu kamu dan sekarang perutnya sudah makin kelihatan kan? Kalau hamilnya kemar seperti ini, baru beberapa minggu tapi sudah kelihatan banget," ucap Dokter Indri.


"Iya Dokter, ini saja sudah kelihatan lebih membuncit, Tante ... Anaya sendiri juga tambah banyak banget berat badannya, sudah naik 10 kilogram," balas Anaya.


"Benar, naik sepuluh kilogram ... ya seperti ini kalau hamil Baby Twins, lonjakan selera makan yang berdampak ke lonjakan berat badan, kalau nanti posisi bayinya bagus, kita bisa melihat jenis kelaminnya nih. Kalian inginnya boy atau girl?"


Tanya Dokter Indri dengan setengah tertawa menatap Anaya dan Tama. Pemeriksaan bayi selama masih berada dalam kandungan memang menyenangkan. Sama seperti pertanyaan ingin baby boy atau baby girl juga rasanya menggelitik dan membuat orang tua ingin tahu jenis kelamin babynya.


"Apakah kembar itu selalu identik dan satu jenis kelamin ya Tante?" tanya Anaya kemudian kepada Dokter Indri.

__ADS_1


"Memang biasanya sejenis dan identik, tapi kalau fraternal tidak. Kembar fraternal dapat menghasilkan jenis kelamin atau penampilan berbeda karena mereka berbagi setengah genom mereka. Sebaliknya, kembar identik (kembar monozigot) dihasilkan dari pembuahan satu sel telur oleh satu sper-ma, dengan sel telur yang dibuahi kemudian membelah menjadi dua. Akibatnya, kembar identik berbagi genom yang sama dan selalu berjenis kelamin sama. Perbedaan antara kembar fraternal dan identik adalah kembar fraternal berasal dari dua telur yang berbeda. Namun, kembar fraternal juga bisa menghasilkan jenis kelamin yang sama."


Dokter Indri pun menjelaskan semuanya mengenai kehamilan kembar dengan jelas dan juga detail kepada Anaya dan Tama.


"Sekarang silakan naik ke brankar, dan Tante akan periksa dengan USG yah," pinta Dokter Indri.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, dia menitipkan sling bag miliknya kepada suaminya terlebih dahulu, kemudian menaiki brankar. Seorang perawat membantu menyingkap baju hamil yang dikenakan Anaya dan mengoleskan USG gell di permukaan kulit di perut Anaya.


“Maaf ya Bu Anaya,” ucap perawat itu, saat sedikit menurukkan celana di pinggang Anaya hingga sampai di bawah pusarnya.


“Iya,” balas Anaya.


Kemudian Dokter Indri mengetikkan tanggal pemeriksaan di komputer, dan bersiap dengan transducer di tangannya. Perlahan-lahan Dokter Indri menggerakkan transducer di atas perut Anaya.


“Oke, kita mulai pemeriksaannya yah … usia kehamilan sekarang tepat yah. Sudah 19 hingga 20 minggu. Ini artinya sudah setengah jalan dari 40 minggu yang harus dilalui ya. Janin kamu sekarang besarnya kira-kira seukuran lobak dengan berat kurang lebih 150 gram dan panjangnya kira-kira 12 centimeter. Di kehamilan ini, tempurung bayi berkembang dengan baik ya. Tulang rawan dan tempurungnya kian mengeras. Selain itu, plasentanya berkembang pesat. Plasenta janin sudah berkembang pesat dengan ribuan pembuluh darah yang dapat membantu mengoptimalkan fungsinya untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin dan membuat zat sisa janin. Tali pusatnya pun sudah menjadi lebih kuat dan tebal." Dokter Indri menjelaskan semua itu dengan begitu detail kepada Anaya. Itu adalah penjelasan untuk kedua baby Anaya tentunya.


"Masih-masih beratnya sekitaran 150 gram ya Dokter?" tanya Anaya.


"Iya, Tante ukur satu per satu yah ... mau tahu jenis kelaminnya?" tanya Dokter Indri kemudian.


"Iya," Jawab Anaya dan tama bersamaan.


"Kalian pengennya boy atau girl?" tanya Dokter Indri kemudian.


"Sedikasihnya sih Tante," balas Tama.


"Karena terbentuk dari dua telur yang berbeda, jadi ... selamat yah ... kalian memiliki Kembar Fraternal. Anak laki-laki memiliki kromosom XY dan anak perempuan memiliki kromosom XX. Jadi, kembar laki-laki dan perempuan terjadi ketika satu sel telur X dibuahi dengan sper-ma X, dan sper-ma Y membuahi sel telur X lainnya. Selamat, boy and girl kali ini," balas Dokter Indri.


Wah, begitu senangnya Anaya dan Tama kali ini. Keduanya benar-benar tidak mengharapkan anak dengan jenis kelamin tertentu karena mereka dari awal berpikir sedikasihnya saja. Akan tetapi, sekarang justru Tuhan sangat baik kepadanya dengan mengaruniakan Kembar Fraternal, alias sepasang untuk mereka.


Selamat Tama dan Anaya!

__ADS_1


Semoga bisa menambah pengetahuan juga ya, kenapa bisa mendapat bayi kembar Fraternal karena ada dua telor yang berhasil dibuahi. Jika kembar identik, satu telur yang dibuahi dan membelah menjadi dua, Sementara kalau kembar Fraternal adalah dua telur yang berhasil dibuahi. Masing-masing bayi memiliki plasenta, hanya saja terlihat seolah dua plasenta itu menyatu.


Happy Reading!


__ADS_2