
Tidak perlu menunggu malam hari tiba bagi Tama dan Anaya untuk memadu kasih bersama. Dua belas bulan menjadi waktu yang panjang, maka dari itu Tama merasa benar-benar puas kali ini. Walau baru satu kali, tetapi dirinya seolah khilafah yang menempuh perjalanan panjang menyusuri padang pasir yang menemukan oase yang menyejukkan dahaganya. Tama yang berbaring dan masih memeluk Anaya itu tersenyum dan menatap wajah istrinya itu.
"Seriusan sakit?" tanya Tama kemudian.
"Iya," balas Anaya dengan menganggukkan kepalanya.
"Pelan-pelan saja. Nanti lama-lama juga tidak sakit kok," balas Tama.
Anaya hanya tersenyum tipis. Wanita itu memilih menstabilkan deru nafasnya dan juga berkenalan dengan rasa asing yang masih tersisa di pangkal pahanya. Anaya kemudian melirik sekilas kepada pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Buka puasa ya Mas?" tanya Anaya.
"Ya, bisa dikatakan seperti itu ... genap satu tahun berpuasa," balas Tama dengan menghela nafas.
Dalam satu tahun tak pernah tercukupi kebutuhan batinnya, mungkin saja bagi seorang pria adalah siksaan yang berat. Namun, agaknya Tama tidak terlalu memikirkannya karena memang Tama lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan juga mengasuh Citra. Perihal kebutuhan batin tidak terlalu dipikirkan oleh Tama.
Pun kali ini Tama juga menjawab dengan jujur bahwa dirinya sudah genap satu tahun berpuasa. Waktu yang cukup lama juga untuk seorang pria bisa menahan hawa naf-sunya selama satu tahun penuh.
"Enggak pernah aneh-aneh sebelumnya?" tanya Anaya.
Jujur saja Anaya bertanya, biasanya para duda seringkali terlihat me-sum dan suka main serong dengan para wanita. Kali ini, Anaya hanya ingin mendengar jawaban dari Tama saja sebenarnya.
"Enggaklah ... hampir tiap malam aku tidur sama Citra juga, Ay ... lebih menjaga diri sih. Kalau mimpi itu kan alamiah, tidak dosa," balas Tama kemudian.
Anaya kemudian menganggukkan kepalanya perlahan dan menatap Tama, "Luar biasa, kalau kamu bisa menahan semuanya," balas Anaya kemudian.
Tama kemudian terkekeh geli, pria itu kian mendekap erat tubuh Anaya, "Makasih banget ya Anaya Sayang ... semua ini sangat berarti bagiku. Kamu melahirkan Caesar ya Sayang?" tanya Tama kemudian.
__ADS_1
"Hmm, iya ... caesar karena waktu itu kondisiku drop. Kenapa Mas?" tanya Anaya kemudian.
"Oh, itu ... ada bekas sayatan di bawah pusar kamu," balas Tama.
Oh Tuhan, jujur saja Anaya begitu malu mendengarnya. Suaminya itu bahkan bisa melihat lekuk-lekuk feminitasnya dan bagian yang tersembunyi dari tubuhnya. Anaya sampai memalingkan wajahnya karena malu.
"Sayang, boleh aku minta satu hal sama kamu enggak?" tanya Tama kemudian.
"Hmm, apa Mas? Kalau aku bisa, pasti aku berikan," balas Anaya.
"Jangan memakai pakaian berwarna hitam lagi, Ay ... kamu cantik dan mempesona di semua warna. Satu tahun penuh aku selalu melihatmu memakai pakaian berwarna hitam. Tadi, saat kamu mengenai kebaya berwarna putih itu, kamu sangat cantik, Anaya. Hapus kesedihan di hati kamu. Aku dan Citra akan selalu mengisinya dengan kebahagiaan yang baru," balas Tama.
"Iya ... kalau sudah di rumah nanti aku pakai warna yang lainnya," balas Anaya kemudian.
Tama pun tersenyum, "Nah, gitu dong ... aku masih ingat warna favorit kamu, Sayang," ucap Tama kemudian.
"Apa emangnya?" sahut Anaya.
Sungguh, Anaya merasa terharu begitu mendengarkan ucapan Tama. Pria yang berjanji akan melukiskan aneka warna di dalam hidupnya. Anaya merasa bahwa semua kata yang Tama ucapkan adalah bentuk ucapan yang sungguh-sungguh.
"Terima kasih banyak, Mas," balas Anaya.
"Iya ... sama-sama Sayang. I Love U," ucap Tama yang menyatakan perasaannya dengan mengucapkan kata cinta kepada Tama. Kali ini Anaya hanya tersenyum kala Tama mengucapkan kata cinta kepadanya.
"Kamu tidak cinta sama aku ya Sayang? Dari awal aku merasakan perasaanku sampai sekarang kamu tidak pernah bilang kalau kamu suka atau cinta sama aku," balas Tama.
"Apa harus diucapkan?" tanya Anaya kemudian.
__ADS_1
"Iya, setidaknya cinta kita sama-sama terbalas. Aku dan kamu," balas Tama.
Anaya sedikit miring dan dia menatap wajah suaminya, "Aku cinta kamu, Mas," ucap Anaya yang seolah membalas pernyataan cinta dari suaminya itu.
"Aku juga cinta kamu Sayang," balas Tama dengan kembali mendekap erat tubuh istrinya yang hanya tercover selimut itu. "Mau lanjut lagi Sayang?" tanya Tama kemudian, kini jari-jemari pria itu sudah memberikan usapan naik dan turun di lengan Anaya yang polos dan tidak tercover busana itu.
"Nanti malam saja Mas ... ini saja masih sore. Di luar masih panas, masak mau lagi? Enggak capek emangnya?" tanya Anaya.
Memang fakta, sekarang masih sore. Matahari pun seolah masih memancarkan sinarnya, sementara di dalam kamar hotel, Tama seakan sudah berharap bisa melanjutkan kegiatan panas mereka lagi.
"Enggak capek sih ... cuma kalau kamu capek ya nanti saja. Makan dulu mau?" tawar Tama kemudian.
"Aku enggak laper sih Mas, cuma sedikit mengantuk saja. Biasanya kan aku tidur sama Citra sebentar sampai Citra terbangun waktunya untuk mandi," balas Anaya.
"Ya sudah, tidur dulu saja. Nanti kalau bangun, tenaganya sudah pulih," balas Tama.
Anaya menganggukkan kepalanya, kemudian dia hendak mengenakan kembali pakaiannya. Bagaimana pun rasanya risih hanya mengenakan selimut saja untuk mengcover tubuhnya. Kala Anaya berniat mengenakan kemejanya lagi, rupanya Tama segera mencegahnya.
"Gini saja, sudah bobok saja. Aku peluk," ucap Tama.
"Eh, Mas ... tapi kan pakai baju dulu," sahut Anaya.
"Tidak perlu Sayang, gini saja," balas Tama.
"Malu," sahut Anaya yang mempertahankan selimutnya tepat di depan dadanya, mempertahankan jangan sampai selimut itu merosot yang mengekspos bagian tubuhnya. Jujur, saja rasanya malu, risih, dan sekaligus bingung juga bagi Anaya.
"Sama suami sendiri, tidak usah malu ... halal Sayang. Bobok dulu saja," balas Tama lagi.
__ADS_1
Mendengar apa yang disampaikan suaminya, mau tidak mau Anaya memilih membawa selimut yang tebal dari hotel itu untuk mengcover tubuhnya. Berharap kali ini Anaya bisa istirahat sejenak, karena apa yang terjadi malam nanti sudah pasti tidak akan bisa diprediksi.
Ini adalah sore termanis untuk keduanya, penyatuan yang bukan hanya menyalurkan hasrat yang lama terpendam, tetapi kian mengenal pasangan masing-masing. Menikmati istirahat di sore hari sejenak, lagipula Anaya sangat percaya bahwa malam nanti Tama tak akan melewatkan malam pengantin mereka begitu saja. Mengingat mungkin saja keesokan harinya mereka berdua akan cek out karena terpikir dengan Citra di rumah, jadi mungkin saja sisa waktu sampai cek in besok akan benar-benar dimanfaatkan oleh Tama dengan sebaik mungkin.