
Malam itu dalam keremangan cahaya karena listrik padam, Tama hanya bisa memeluk Anaya saja. Sebab, di dekat Anaya ada Citra yang sudah mulai terlelap. Anaya perlahan beringsut dan mengancingkan piyamanya usai memberikan ASI untuk Citra. Lantas kini Anaya ingin minum karena setiap kali usai memberikan ASI untuk Citra, dia merasa begitu haus. Sehingga Anaya menepuk kaki suaminya itu.
"Mas, geser dulu sebentar ... aku mau minum," ucapnya.
Tama kemudian bergeser, "Tunggu di sini saja My Love ... aku yang mengambilkan ke dapur. Gelap, nanti kaki kamu bisa tersandung," balas Tama.
"Makasih Mas Suami," balas Anaya yang tentu senang karena suaminya itu responsif dan mengambilkan air minum untuknya.
Tama keluar dari kamar dengan membawa handphone dan menyalakan senter dari handphone itu. Tidak berselang lama, Tama kembali ke dalam kamar dengan membawa air minum.
"Minum dulu Sayang," ucap Tama dengan menyerahkan satu gelas berisi air minum.
"Makasih Mas Suami," balas Anaya yang segera menerima gelas itu dan minum hingga hampir habis.
"Haus banget yah?" tanya Tama kemudian.
"Iya, tiap abis ng-ASI langsung haus banget. Apalagi AC-nya di dalam kamar enggak menyala. Jadinya ya tambah gerah," balas Anaya.
Tama tersenyum di sana, "Kalau lanjut tambah gerah ya Sayang?" tanya Tama yang mengambil tempat duduk di sisi istrinya di ranjang itu.
"Iya, gerah ... gelap juga. Terus kalau kita justru mengganggu Citra yang baru tidur gimana? Kasihan nanti kebangun lagi," balas Anaya.
Tama menganggukkan kepalanya, "Iya sih ... cuma tadi udah di ubun-ubun, Yang ... jadi pusing deh," akunya kali ini.
Anaya hanya terkekeh geli dan segera memeluk suaminya itu, "Sabar yah ... besok bisa lagi. Besok semoga Citra boboknya lelap dan juga tidak ada gangguan dari PLN. Di luar kendali kita Mas ... hujannya juga deras banget dan petirnya itu serem, kasihan Citra kalau dibiarkan sendirian," balas Anaya.
"Oke ... tidak apa-apa Sayang. Memang lebih baik ditunda. Udah berapa kali kita terjeda seperti ini Yang?" tanya Tama.
__ADS_1
"Sekali mungkin Mas ... enggak tahu sih, enggak ngitungin. Kamu emangnya ngitungin?"
"Entah ... cuma kayaknya pernah terjeda kayak gini. Kalau punya baby seperti ini ya Yang ... baru ***-***, bayinya kebangun yang minta ASI atau apa," balas Tama.
"Ya iya Mas, mau gimana lagi. Sampai mereka usia toddler sih Mas. Cuma kan nanti lama-lama, kita juga punya waktu luang kan. Gimana lagi, kita menikah, berumahtangga kan untuk mendapatkan anak dan keturunan. Jadi, ya seperti ini, ada kalanya bercinta saja terjeda. Harap maklum ya Mas."
Bagi pasangan yang masih memiliki anak kecil memang sering kali percintaan mereka terjeda karena ada gangguan dari si baby. Namun, memang seperti itulah berumahtangga. Tidak semua yang kita harapkan akan berjalan dengan mulus. Bahkan di kala terjeda pun, pasangan bisa menyadari dan memprioritas untuk si bayi terlebih dahulu.
"Kalau baby nya nambah, bercintanya gimana ya Yang?" tanya Tama sekarang kepada Anaya.
"Ya, seluangnya Mas ... mau tambah baby atau bercinta terus?" tanya Anaya kini kepada suaminya.
"Ya punya baby dong. Aku mau punya baby sama kamu Sayang. Buah cinta kita berdua yang akan menjadi saudara untuk Citra, teman bermain di rumah. Seru kali ya Yang kali di rumah ini berisik sama suara bayi," balas Tama.
Ya, sejenak Tama membayangkan mungkin saja rumahnya akan semakin ramai jika bertambah baby nanti. Tawa riang dari anak-anak kecil, atau suara tangisan yang mungkin saja Citra dan adiknya nanti bisa menangis bersama. Tentu rumah mereka akan lebih bising dan seru.
"Semoga ya Mas ... kan sudah lewat tiga kali masa haid juga. Semoga nanti lebih cepat ya isinya. Tuhan titipkan bayi-bayi yang lucu di sini," balas Anaya dengan membawa tangan Tama meraba perutnya.
Tama turut mengaminkan dan juga berharap nanti Tuhan akan menitipkan bayi yang lucu dan sehat di dalam janin perutnya. Bayi yang akan melengkapi kebahagiaan mereka bertiga.
***
Keesokan harinya ....
Pagi hari itu, Ayah Tendean yang hendak berangkat ke Rumah Sakit ternyata menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Anaya dan Tama terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin dibagikan Ayah Tendean kepada Anaya dan juga Tama.
"Tama ... Aya," panggil Ayah Tendean sembari mengetuk pintu rumah itu.
__ADS_1
Anaya pun sedikit berlari dan membukakan pintu untuk Ayahnya yang datang. "Ya, Ayah ... tumben pagi-pagi ke sini. Yuk, sarapan dulu Ayah ... Mas Tama di dalam baru sarapan," balas Anaya.
Ayah Tendean menganggukkan kepalanya dan bergabung dengan Tama yang sudah duduk di meja makan dengan Citra yang duduk di baby chair di sana. Melihat kedatangan Ayah mertua, Tama berdiri dan menyalami mertuanya itu.
"Sarapan Ayah," ucap Tama.
"Iya, Ayah ikut sarapan yah," balasnya.
Anaya segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng dan omelette untuk Ayahnya. Sementara Anaya duduk di dekat Citra sembari menyuapi Citra dengan sarapannya.
Beberapa saat mereka fokus dengan sarapan mereka, hingga kemudian Ayah Tendean yang sudah selesai makan mulai berbicara.
"Anaya dan Tama, minggu depan kita wisata ya sekeluarga," ucap Ayah Tendean.
"Ke mana Yah?" tanya Anaya.
"Ke Malang ... kalian bisa honeymoon di sana. Untuk Citra jangan khawatir, Ayah, Mama Rina, dan Papa Budi akan ikut serta dalam perjalanan kali ini. Kalian tidak perlu bingung. Menikmati masa bersama tidak masalah. Atau kalian ingin pergi berdua sendiri juga tidak apa-apa," balas Ayah Tendean.
Tama melirik ke Anaya. Sebenarnya Tama merasa keduanya memang butuh liburan. Terlebih untuk Anaya yang beberapa waktu lalu usai kuretase, perlu mengambil jeda dari mengasuh Citra. Namun, Tama juga tidak ingin memaksa Anaya. Bagaimana pun keputusan Anaya itu yang Tama ikuti.
"Kalau bersama keluarga besar, tolong cutilah satu pekan, Tama ... kalau kalian hanya berdua, terserah Tama yang mengatur waktu. Kalau kalian pergi berdua saja, Mama Rina dan Ayah Budi akan menginap di sini saja. Kami orang tua sudah rembugan bersama. Lagian kalian juga belum bulan madu kan? Jadi, tidak apa-apa, menikmati waktu berdua. Nanti kalau Anaya hamil dan buah hati kalian bertambah akan semakin sulit mendapatkan waktu berkualitas berdua," jelas Ayah Tendean kepada Tama dan Anaya.
"Sesekali berdua saja gimana Sayang?" tanya Tama sekarang kepada Anaya.
Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, "Tidak apa-apa Anaya. Hanya pergi berdua dengan Tama bukan berarti kamu tidak sayang Citra. Menikmati waktu dengan suami juga tidak masalah," balas Ayah Tendean.
"Baik Ayah ... Anaya akan pergi berdua saja dengan Mas Tama. Nitip Citra ya Ayah. Hanya sebatas memberi kami waktu berdua, Ayah dan yang lainnya sampai kerepotan," balas Anaya.
__ADS_1
"Tidak repot Aya ... nanti kalau sore Ayah juga ke sini main-main sama Citra. Tenang saja, keluarga besar juga support sistem untuk kalian berdua kan?"
Anaya percaya kali ini dia dan Tama akan spent time bersama. Semoga saja ketika dia dan Tama menikmati waktu berdua, Citra yang di Jakarta dengan Eyang dan Opanya bisa kooperatif dan semuanya bisa berjalan seperti rencana.