Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Curhatan Bunda Dianti


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian ....


Bunda Dianti menjadwalkan untuk bertemu dengan seseorang yang cukup dekat dengannya, seseorang yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Mengingat waktu dua pekan yang juga hampir tiba, maka Bunda Dianti tidak bisa berlama-lama, dia segera bertemu dengan Khaira. Ya, Bunda Dianti merasa ingin mengobrol dengan Khaira, setidaknya bertukar pendapat dan meminta pendapat dari wanita yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri itu.


"Baru sibuk Khai?" tanya Bunda Dianti begitu bertemu dengan Khaira di Taman Baca siang itu.


"Enggak, biasa Bunda ... sehari-hari hanya mengurus Arsyilla dan Arshaka, sembari mengajar saja di kampus. Tumben Bunda, padahal biasanya kita bertemu setiap bulan di Taman Baca," balasnya.


Tampak Bunda Dianti menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, ada yang perlu Bunda bicarakan nih Khaira ... walau sebenarnya Bunda malu juga, karena masa-masa ini seharusnya sudah lewat untuk Bunda."


Khaira mencoba menaruh perhatian penuh kepada Bunda Dianti, dan kemudian mempersilakan wanita itu untuk bercerita kepadanya. "Boleh, Bunda ... silakan bercerita. Walau secara pengalaman sudah tentu Khaira tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Bunda," balasnya.


"Begini Khaira ... jadi beberapa pekan yang lalu aku bertemu kembali dengan seseorang dari masa laluku. Kakak tingkatku waktu kuliah dulu di Bandung. Kala, itu ... kami dekat dan akrab. Bisa, dikatakan semacam perasaan tak terucap. Intinya sama-sama tahu saja kalau kami berdua sama-sama cinta, sama-sama suka, tapi tidak pernah ada kata jadian. Nah, kemudian kami bertemu kembali tanpa sengaja. Rupanya, dia melamarku, Khaira ... memintaku untuk mendampinginya. Yang menjadi pertimbangan Bunda ... harusnya Bunda menerimanya? Kamu tahu sudah lama Bunda hidup sendiri, tanpa cinta ... mengabdikan hidup Bunda untuk pelayanan sosial dan anak-anak di Kasih Bunda. Usia Bunda sudah 47 tahun, tidak lagi muda. Mungkin menopause saja sudah mengintai di depan mata. Kemampuan seksualitas juga menurun seiring dengan bertambahnya usia. Kemudian dengan harapan akan masa depan, menjelang paruh baya, semua angan pada akhirnya hanya bermuara pada satu tujuan yaitu keharibaan-Nya. Iya, kalau Bunda berumur panjang, kalau tidak, apakah Bunda tidak akan memberikan luka untuk pria itu?"


Mencoba mendengarkan semua cerita Bunda Dianti, hingga akhirnya Khaira memberikan pendapatnya kepada Bunda Dianti di sana. "Tidak ada kata terlambat untuk membina rumah tangga, Bunda. Dengan harapan untuk menua bersama. Jika, sekarang Bunda dan Om tersebut sudah merasa di paruh usia, setidaknya kalian berdua bisa bergandengan tangan dan menikmati hari tua bersama. Mengisi waktu yang selama ini hanya dihabiskan sendirian, dan mengukir hari dengan doa dan harapan untuk mendapatkan umur yang panjang. Pendapat Khaira seperti itu, tidak terlambat, tapi sekarang mungkin adalah saat yang tepat. Perasaan Bunda sendiri bagaimana?" tanya Kahira kemudian.


"Ya, masih ada Khaira ... cuma banyak kekhawatiran akan masa depan," jawab Bunda Dianti dengan menghela nafas.


"Dia pria yang baik?" tanya Khaira lagi.


"Dia selalu baik, Khai ... sosok yang hebat, bijak, dan juga kebapakan. Dia menjadi duda selama 26 tahun, dan sekarang dia meminta Bunda untuk mendampinginya. Aneh kan Khai ... usia kami sebenarnya sudah sama-sama lewat," balas Bunda Dianti lagi.

__ADS_1


Khaira tersenyum di sana, kemudian Khaira kembali lagi berbicara, "Usia bisa lewat, Bunda ... tapi momennya tidak akan pernah terlewat. Kalau Khaira pribadi, Khaira mendukung Bunda. Tidak dipungkiri semua kecemasan dan kekhawatiran itu akan selalu mengiringi kita. Namun, kita melihat bahwa akan ada tangan yang menggandeng tangan itu rasanya begitu indah dan hangat. Melihat ada sepasang netra yang di dalam retinanya ada satu objek dan itu adalah kita, tentu sangat menyenangkan. Waktu bisa berlalu, tapi momen tidak Bunda."


Sekadar mengingatkan bahwa waktu bisa berlalu, tetapi berbagai momen itu bersifat abadi di dalam waktu. Momen itu tidak akan pernah hilang karena selalu teringat dalam benak manusia. Khaira dengan pendapatnya justru merasa bahwa ini adalah momen yang indah untuk Bunda Dianti.


"Berarti beliau pria yang baik, Bunda ... tidak ingin berlama-lama pendekatan dan melakukan hubungan tanpa status, karena beliau juga berpikir dia sudah tidak merasa di masa itu. Alih-alih sekadar dekat, lebih baik mengucapkan akad. Jadi, lebih mantap untuk mengisi masa depan bersama. Jika, boleh tahu beliau usia berada Bunda?" tanya Khaira lagi.


"53 tahun, Khai ... masa di mana pria akan memulai pubertas keduanya. Sudah pasti keinginan untuk bercinta meningkat, sementara wanita sudah dalam fase lampu kuning, harus berhati-hati. Jadi, itu pendapatmu ya Khai?" tanya Bunda Dianti lagi.


"53 seusia Ayah saya dong Bunda ... tidak banyak kan selisihnya dengan Bunda. Khaira yakin Bunda akan bahagia dengan Om itu. Nanti Khaira yang akan mengantarkan Bunda jika mengucapkan akad," balasnya dengan tertawa.


Bunda Dianti pun tersenyum di sana, "Kamu bisa aja, Khai ... senengnya Bunda, walau kamu masih muda, kalau diajak bertukar pendapat bisa banget. Makasih Khai," balasnya.


"Belum begitu sih ... cuma dia memberikan waktu dua pekan untuk berpikir. Bunda juga tidak memiliki orang tua lagi, jadi untuk menikah harus dengan wali hakim ya Khai?" tanya Bunda Dianti lagi.


"Iya Bunda ... dengan wali hakim. Kayaknya sudah serius ya Bunda ... Khaira doakan yang terbaik untuk Bunda. Sudah pasti, Khaira akan menjadi orang pertama yang berbahagia untuk Bunda."


Bunda Dianti tampak tersenyum di sana, "Kamu kenal siapa pria itu kok, Khai ... orang putrinya saja mahasiswa kamu," ucap Bunda Dianti kemudian.


"Oh, yah ... siapa Bunda?" tanyanya.


"Dokter Tendean ... Ayahnya Anaya. Kenal kan? Mereka bilang, kamu teman kuliahnya Tama juga, suaminya Anaya."

__ADS_1


Mendeangar jawaban dari Bunda Dianti, nyatanya Khaira justru tertawa di sana. Tidak mengira bahwa pria yang diceritakan Bunda Dianti rupanya adalah Ayahnya Anaya, Dokter Tendean. Sudah pasti Khaira bisa melihat bahwa Om Tendean adalah orang yang baik.


"Ya ampun Bunda ... jadi kakak tingkatnya Bunda itu Om Tendean yah?" tanyanya.


"Iya, dia kedokteran, Bunda psikologi. Ya, begitulah Khaira. Lucu yah?"


Khaira kemudian menganggukkan kepalanya, "Benar-benar seperti pepatah berkata, Asam di gunung, garam di laut, bertemu di belanga. Berpisah 26 tahun, singgah ke hati yang lain dulu. Kalau jodoh, sudah pasti akan bertemu. Selamat Bunda ... ah, Khaira jadi mau nangis kan," balasnya yang sudah berkaca-kaca.


"Kok jadi nangis sih?" balas Bunda Dianti dengan memberikan beberapa tissue kepada Khaira.


"Iya Bunda ... jalannya cinta itu terkadang terjal dan berliku, tak jarang juga menemukan jalan buntu. Namun, ketika Tuhan yang kembali mempertemukan, rasanya begitu indah. Bayangkan asam dan garam yang bertemu di belanga bisa menghasilkan cita rasa yang harmonis dan padu. Khaira bahagia untuk Bunda," balasnya.


Bunda Dianti pun juga menitikkan air matanya. Bisa berbicara hati ke hati dengan Khaira, bisa memahami jalan pikiran wanita muda itu. Kemudian Bunda Dianti kembali berbicara, "Jadi, boleh kalau Bunda menikah?" Sebuah pertanyaan yang layaknya seorang ibu kepada anaknya untuk meminta izin menikah lagi.


"Ya ... ya, Bunda ... boleh."


Khaira menjawab dengan berurai air mata dan juga bahagia. Dia akan sangat senang jika Bunda Dianti pada akhirnya akan menikah dengan pria yang sudah bertahun-tahun lamanya berada di dalam hatinya, walau kata tidak terucap, tetapi hati mampu mengucapkan semuanya itu dengan lugas.


"Makasih, Khai ... jika Bunda menikah, mau menemani Bunda?" tanyanya lagi.


"Pasti Bunda ... Khaira dan Mas Radit akan menemani Bunda."

__ADS_1


__ADS_2