
Peraduan malam yang begitu indah untuk keduanya. Menikmati waktu terbaik, usai bercinta dan mengurai rasa. Bahkan Ayah Tendean seakan tak percaya bahwa sekarang ada Dianti yang berbaring di sampingnya. Semuanya terasa seperti ini. Hingga tengah malam, pria yang berprofesi sebagai Dokter itu terjadi dan mengamati wajah Dianti di sana.
"Apa yang terjadi barusan benar-benar kejutan untukku, Di ... aku tidak mengira bahwa aku akan menjadi pria yang pertama buat kamu. Walau aku seorang duda beranak satu, kejutan yang kamu berikan membuatku bahagia dan sesak di saat bersamaan. Bahkan dadaku terasa sesak mana kala kamu mengatakan menungguku," ucap Ayah Tendean dalam hatinya sendiri.
Ya, Ayah Tendean merasakan bagaimana hatinya yang terasa senang dan sedih di saat bersamaan. Dia pikir bahwa Dianti akan menikah dan berkeluarga. Bahkan karena menduga hal itu, Ayah Tendean sampai tidak bertanya apakah Dianti sudah menikah terlebih dahulu sebelumnya. Begitu malam pertama, rupanya semuanya barulah tersingkap. Seketika, Ayah Tendean teringat dengan memori lamanya bersama dengan Dianti dulu.
***
Bandung, 26 tahun yang lalu ....
Ketika wisuda di salah satu universitas di kota Bandung, tampak seorang mahasiswa berdiri berhadapan dengan seorang mahasiswi di bawah pohon Tabebuya dengan bunga-bunga kuning yang berhamburan ketika tertiup angin. Pemuda yang masih mengenakan toga itu menatap pada sang gadis dengan tatapan yang seakan memaku sampai ke dalam sanubari.
"Di, aku akan melanjutkan studiku S2 ke Jakarta. Sesuai permintaan kedua orang tuaku yang menyarankan aku untuk mengambil spesialisasi saraf. Jadi, aku akan ke Jakarta, Di," ucap Tendean kala itu yang berusaha menjelaskan bahwa dirinya akan melanjutkan kuliah ke Jakarta.
"Ke Jakarta, Mas Dean? Untuk berapa lama?" tanya Dianti di sana.
Gadis itu merasakan sedih, ketika kakak tingkatnya lulus dan diwisuda, sudah pasti pertemuan keduanya akan sangat jarang. Sebab, selama ini mereka memang hanya sering bertemu di kampus saja. Kini, ketika Tendean, Kakak Tingkatnya itu seolah mengucapkan pamit untuk pergi ke Ibu kota, sudah pasti ada rasa bersedih di dalam hati Dianti.
"Mengambil S2, pendalaman spesialisasi, dan menjadi sertifikasi kedokteran lainnya, Di ... mungkin bisa lima hingga enam tahun," jawab Tendean lagi.
Oh, Tuhan ... menunggu selama itu bukan perkara yang mudah. Lima hingga enam tahun adalah waktu yang lama. Terlebih lagi, sarana komunikasi waktu itu belum ada handphone, untuk menelpon saja orang-orang harus mengantri di Wartel dan menelpon dengan durasi yang terbatas karena banyaknya antrian. Seketika, hati Dianti bergejolak. Dalam rentang waktu selama itu, dia merasa sanksi dengan hubungannya yang tanpa nama ini.
"Baiklah Mas ... sukses untuk studinya. Aku doakan Mas akan sukses dan menjadi Dokter Spesialis Saraf yang banyak menyembuhkan banyak pasien nanti," jawab Dianti.
Bahkan ketika Dianti mengungkap itu, ada senyuman yang tercetak jelas di wajahnya. Walau hatinya merasa begitu getir. Namun, mendukung Tendean untuk menggapai cita-citanya, itu yang ingin Dianti lakukan.
__ADS_1
"Tunggu aku kembali ya, Di ... Bandung dan Jakarta tidak seberapa jauhnya. Aku usahakan di akhir pekan nanti akan mengunjungimu di Bandung. Kamu mau kan menungguku?" tanyanya.
Walau getir dan juga merasa tidak akan nyata, Dianti tetap menganggukkan kepalanya di sana, "Ya, aku akan menunggu Mas Dean ke Bandung lagi."
"Makasih, Di ... kamu memang bisa memahami aku. Aku akan kembali untukmu."
Sayangnya kesibukan sebagai mahasiswa kedokteran yang begitu luar biasa, pulang ke Bandung hanya angan semata. Walau keduanya sering berkirim layang, tetapi lambat laun karena kesibukan dan tidak pernah lagi bertemu, hubungan itu terjeda, terputus, dan sirna begitu saja.
Hingga akhirnya, Tendean bertemu dengan Desy. Gadis cantik yang mengalihkan dunianya. Seakan semua berjalan begitu adanya. Sosok Dianti dan janji yang sempat terucapkan pun hanya tinggal sebuah janji belaka.
***
Sekarang ...
Akhirnya, pria itu berbaring di sisi Dianti, dan mendekap tubuh itu begitu erat. Memeluknya dari belakang. Sungguh, ini adalah malam yang begitu indah untuknya. Malam-malam panjang dalam kesendirian sirna sudah. Kini hanya sang istri yang akan berbagi kemesraan dengannya setiap hari.
***
Hingga pagi menjelang ...
Rencana Ayah Tendean sebelumnya adalah ingin menyapa surya yang hangat pertama dalam pernikahan mereka, caranya adalah dengan mengajak sang istri bercinta. Memadu kasih dan melepas dahaga usai perasaan yang tertahan lebih dari seperempat abad lamanya.
Dianti, sang istri sudah berada di dapur pagi itu. Sebagai wanita, Dianti memang selalu bangun lebih pagi. Sehingga, Ayah Tendean begitu bangun dia menepuk bagian ranjang yang semalam ditempati istrinya tercinta sudah kosong.
"Kamu bangun sepagi ini, Di?" tanyanya lirih. Pertanyaan yang tak mendapat jawaban. Sebab, sosok yang dia tanyai tidak ada di sana.
__ADS_1
Akhirnya, Ayah Tendean pun memilih turun ke bawah, usai mencium aroma masakan yang terasa begitu lezat. Pria itu melihat ke dapur, rupanya benar ada istrinya yang sedang bergulat dengan berbagai peralatan memasak di dapur.
"Pagi, Di ... kamu meninggalkanku begitu saja? Aku mencarimu," ucapnya dengan memeluk tubuh Bunda Dianti dari belakang.
"Aku membuatkan sarapan untukmu, Mas Dean," jawabnya.
"Kamu lupa ... ini pagi pertama kita sebagai suami dan istri, aku ingin menyapa surya dengan memadu kasih bersamamu," ucap Ayah Tendean di sana.
Tampak Bunda Dianti pun tersenyum, "Apakah itu masih berlaku untuk pasangan paruh baya seperti kita?" tanyanya.
"Iya, masih berlalu ... yuk, ke kamar," ajaknya.
Tampak Ayah Tendean mematikan kompor di sana, dan membuat sang istri untuk berhadap-hadapan dengannya. Kemudian, Ayah Tendean tersenyum, memangkas jaraknya yang tidak seberapa, ujung hidung saling menempel, bergerak ke kanan dan kiri, tanda cinta kasih yang besar dari suami dan istri itu.
"Mau yah?" ajaknya lagi.
"Aku belum mandi," jawab Bunda Dianti di sana.
"Tidak masalah, setelahnya kita bisa mandi bersama," balas Ayah Tendean lagi.
Ketika, Ayah Tendean terus mendekat dan memangkas jarak kedua bibir yang tidak seberapa, rupanya ada teriak dari luar rumahnya yang membuat Ayah Tendean mengurai pelukannya di tubuh sang istri.
"Opa ... Oma ... Citra datang sama Mama," teriak Citra yang sudah mengetuk pintu rumah Omanya.
Keduanya pun sama-sama tertawa. Ingin menikmati pagi pertama sebagai pasangan suami istri, nyatanya pagi ini menyambut mentari pagi tak seindah yang mereka harapkan. Memang ada kalanya, harapan tak sesuai dengan kenyataan.
__ADS_1