Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Bermekaran di Kota Kembang


__ADS_3

Usai dari Sudirman Street kini, Ayah Tendean mengajak Dianti untuk menuju ke hotel. Beristirahat sejenak dan esok dia akan mengajak Dianti untuk mengunjungi kampusnya. Mengingat lagi masa-masa almamater dulu. Memang itulah tujuannya datang ke kota Bandung, untuk mengingat kembali memori di masa muda dulu. Walau masa mudanya sudah berlalu, tetapi mengingat kembali yang sudah terjadi membuat mereka akan menjadi terasa muda kembali.


"Istirahat dulu, Di ... besok kita akan mengunjungi kampus kita yah," ajak Ayah Tendean.


"Iya, boleh, Mas ... usai sarapan saja yah," balas Bunda Dianti di sana.


"Iya, kamu ingin aku memanggilmu Dianti atau Bunda, Di? Mana yang membuatmu lebih nyaman?" tanya Ayah Tendean kemudian.


"Bunda saja, Mas ... itu lebih nyaman. Ya, mungkin karena selama ini anak-anak kecil memanggilku Bunda. Jadinya aku suka," balasnya.


"Baiklah, Nda ... kamu boleh memanggilku Mas saja, kalau hanya berdua. Kalau sudah ada Anaya dan cucu-cucu kita, tolong dikondisikan," balas Ayah Tendean di sana.


"Iya, mandi sana Mas Dean ... biar segar dan nanti istirahat dulu," ucap Bunda Dianti.


"Baiklah ... aku akan mandi. Lihatlah, sekadar disuruh mandi saja, aku sudah seneng banget, Nda ... rasanya ada yang memperhatikan dan mengurus. Kalau menjadi duda kan tidak ada yang mengurusi," balasnya.


"Mulai sekarang, aku akan mengurusmu, Mas," balasnya.


"Iya, urus aku dengan baik-baik yah," balasnya.


Akhirnya Ayah Tendean memilih mandi dulu. Keduanya juga berganti untuk mandi. Hingga sore tiba, sekarang keduanya sama-sama rebahan di tempat tidur. Sebenarnya, Ayah Tendean ingin meminta sesuatu kepada Dianti sekarang. Akan tetapi, dia sangat takut jika itu membuat istrinya itu merasa tidak nyaman. Akan tetapi, lebih baik mengutarakannya. Daripada harus memendamnya sendiri.


"Bunda ... Nda, kamu capek enggak?"


Percayalah, terkadang tanpa meminta secara eksplisit, pria itu bertanya capek atau tidak adalah sebuah sinyal yang tersembunyi, dan memiliki berbagai makna.


"Hmm, kenapa memangnya Mas Dean?" tanyanya.

__ADS_1


"Enggak cuma bertanya saja kok ... kamu capek enggak?" Lagi Ayah Tendean bertanya. Semoga kali ini pertanyaannya mendapatkan jawaban yang tepat dari istrinya itu.


Namun, sang istri hanya tersenyum pias di sana. Senyuman yang tentunya memiliki beribu makna bukan? Namun, jika memulai dan mengambil inisiatif, teringat usia, rasanya juga sungkan.


"Yang kemarin masih sakit enggak?" tanya Ayah Tendean lagi.


"Masih, bagaimana pun baru satu kali. Masih ngilu dan perih," balasnya.


"Ya sudah, istirahat dulu saja," balasnya.


Kemudian Bunda Dianti pun tersenyum dan menggenggam satu tangan suaminya, "Kalau Mas Dean mau silakan saja. Aku tahu kok," ucapnya.


"Serius?" tanyanya lagi.


"Iya, serius. Pelan-pelan saja, Mas ... intinya jangan terlalu sakit saja sih," balasnya.


"Aku senang kalau kamu mengecup keningku," ucapnya dengan masih memejamkan mata.


"Aku akan selalu mengecup keningmu di pagi hari membuka mata, dan malam hari ketika kita akan menikmati peraduan malam," ucap Ayah Tendean.


Ada anggukan samar dari kepala Dianti. Tentu dia senang, karena memang ketika suaminya itu mengecup keningnya, dia merasa disayang, diperhatikan. Sehingga, rasanya sangat damai di dalam hati.


Perlahan, wajah Ayah Tendean turun dan bibir itu kini mendaratkan kecupan di bibir istrinya yang saat itu sama sekali tidak mengenakan lipstik. Permukaan kulit yang kenyal, manis, dan juga hangat bisa Ayah Tendean rasakan, hingga pria itu menutup matanya. Perlahan-lahan, Ayah Tendean menggerakkan bibirnya dan mulai memagut bibir itu dengan begitu lembut. Dua bibir bertemu dalam satu muara yang di mana keduanya sama-sama memuaskan dahaga. Saling memagut, saling mencecap rasa manis, dan juga saling mengusap dengan lidah yang membawa keduanya terombang-ambing dalam badai cinta yang dingin. Ya, dingin, tetapi nyatanya sekarang suhu tubuhnya sekarang naik dengan begitu drastis. Menghangat.


Tangan yang semula hanya menahan di pinggang sisi kanan dan kiri, perlahan pun merayap dan meraba lekuk-lekuk feminitas yang ada di tubuh istrinya. Memberikan belaian di tengkuk hingga telinga, meraba bagian lengan, hingga tangan itu dengan sengaja memberikan remasan di dada istrinya.


"Dian ... Dian," ucap Ayah Tendean dengan menghela nafas sepenuh dada.

__ADS_1


Belum sempat sang istri menjawab, Ayah Tendean sudah membawa bibirnya untuk menjatuhkan kecupan yang hangat dan basah di garis leher istrinya. Walau menjalang setengah abad, tetapi permukaan epidermis itu masih begitu halus, justru Diantinya kian cantik saja di matanya.


Tangan-tangan yang perlahan menarik ke atas kaos yang kala itu dikenakan oleh istrinya, menunjukkan area dada dengan permukaan kulit yang halus. Oh, Ayah Tendean agaknya kembali muda sekarang. Dia membuka bibirnya, dan mulai menjatuhkan gigitan demi gigitan yang meninggalkan jejak merah di leher hingga di sembulan dada yang begitu ranum itu.


Pun Dianti yang sengaja melepaskan kemeja yang dikenakan suaminya. Sama-sama shirtless. Hingga keduanya bisa merasakan suhu tubuh yang meningkat dengan drastis.


Menyisir area dada, Ayah Tendean melepaskan wadah penutup berwarna putih dengan hiasan beberapa bunga itu. Pria itu membuka matanya dan melihat istrinya. Walau keremajaan masa muda sudah berlalu, yang ada di depan matanya sekarang justru begitu menggairahkan.


Pria itu dengan pelan-pelan mulai menghisap buah persik yang ada di sana. Menahan dengan tangannya, dan menggigitnya perlahan, menghisapnya, melu-matnya dengan begitu bersemangat. Pekikan dari istrinya disertai remasan di area rambutnya justru membuat Ayah Tendean tambah dan tambah bersemangat.


Hingga di sana semua benang yang menempel di sana terlepas semuanya. Ayah Tendean memperhatikan penampilan istrinya, dia memuja. Oleh karena itu, dengan perlahan dia menyisiri lembah yang ada di bawah sana. Menghisapnya dengan begitu bersemangat, menusuknya perlahan dengan ujung lidahnya, bahkan tiga jari tangannya memberikan godaan di sana.


"Mas Dean ... Mas Dean!"


Dianti memekik. Rasa yang asing, gelenyar yang membutakan mata kembali menerpanya. Kali ini, rasa sakit itu hilang berganti dengan rasa terbang dan melayang. Hingga Ayah Tendean, meminta sang istri untuk membasahi pusakanya terlebih dahulu. Kemudian pria itu menempatkan dirinya. Dengan perlahan-lahan dan sangat halus, penyatuan dua jiwa dalam satu muara kembali terjadi.


"Dian ... Di ... an!"


Lagi Ayah Tendean merasakan dirinya yang nyaris meledak. Dia hanya diam, belum menghujam, tetapi sambutan yang hangat dan cengkeraman di dalam sana sudah membuatnya menggila. Hingga dengan menahan pinggang sang istri, Ayah Tendean menghujam perlahan. Menusuk. Menerobos hingga terasa benturan di dalam sana.


Begitu padu. Begitu indah. Sampai keduanya benar-benar mengarungi sungai yang bermuara ke samudra cinta. Ombak demi ombak, riak-riak air, dan juga gelombang membasahinya, seakan membuat keduanya nyaris tenggelam. Akan tetapi, itulah nikmatnya.


Dengan begitu erat Dianti memeluk erat suaminya. Dia menerima setiap perlakuan dari suaminya. Menyesuaikan diri bahwa inilah memadu kasih yang indah bagi sepasang suami istri.


Hingga sampai batas, Ayah Tendean merasakan tubuhnya berguncang dengan begitu hebat. Matanya terpejam kian rapat. Hingga akhirnya, dia meledak dan pecah. Rubuh dan berpeluh. Itu adalah yang dirasakan Ayah Tendean sekarang ini. Benar-benar indah, muara yang indah dan juga berbalutan sejuta kenikmatan.


"Aku cinta kamu, Dian ... Aku cinta kamu," ucap Ayah Tendean dengan terengah-engah di sana.

__ADS_1


"Aku juga Mas Dean ... sangat mencintaimu!"


__ADS_2