
Begitu telah sampai di rumahnya, Tama sendiri sampai membukakan pintu mobil bagi Anaya. Pria itu meminta Anaya untuk tidak turun terlebih dahulu karena Tama yang ingin membukakan pintu mobil bagi Anaya.
"Silakan Ay," ucapnya sembari membuka pintu mobilnya.
"Makasih Tam ... padahal aku bisa membukanya sendiri," balas Anaya.
"Tidak apa-apa. Anggap saja aku ingin melakukan yang terbaik untuk calon istriku," balasnya.
Kembali Anaya tersipu malu dibuatnya. Sepagi ini, entah sudah berapa kali Tama membuatnya tersipu. Benar yang Anaya rasakan, dia jatuh cinta lagi dan itu terjadi pada pria yang sama, yaitu Tama. Dulu, beberapa tahun yang lalu, dengan naifnya, Anaya pernah mengutarakan rasa cintanya kepada Tama. Kini, rasa itu seolah meletup kembali. Tidak bisa untuk ditahan. Namun, sejak kemarin Anaya juga belum mengatakan bagaimana perasaannya. Anaya hanya mengatakan bahwa dia mau menjadi istri Tama dan juga Mama bagi Citra.
"Nanti malam aku anter kamu pulang lagi yah. Jangan menolak, Ay ... karena aku mau dan suka melakukannya," balas Tama.
Seolah Tama tidak menghendaki adanya penolakan dari Anaya. Sehingga, sebelum Anaya menolaknya. Tama terlebih dahulu meminta supaya Anaya mau untuk dia antar pulang. Biar makin dekat dan makin sayang tentunya. Sebab, dalam sehari Tama akan bekerja, juga waktu untuk bertemu Anaya hanya di pagi hari seperti ini dan juga sore sepulang bekerja. Setelahnya, baru esok hari lagi Tama bisa bertemu dengan Anaya.
"Baiklah, jika kamu memaksa," balas Anaya.
Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah Tama, di ruang tamu sudah ada Mama Rina yang menggendong Citra. Terlihat Mama Rina juga kaget dan juga senang di saat bersamaan saat melihat Anaya ada di rumahnya.
"Anaya, akhirnya kamu masih di sini. Mama senang banget karena kamu tidak jadi berangkat ke Amerika," ucap Mama Rina.
"Iya Ma ... ada sesuatu sehingga Anaya tidak jadi berangkat," balasnya.
Kemudian Tama meninggalkan Anaya yang mengobrol dengan Mama Rina. Tama memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ranselnya. Dengan segera, dia harus berangkat ke kantor supaya tidak sampai terlambat. Walaupun hati masih ingin berlama-lama dengan Anaya, tetapi dia harus bekerja untuk masa depan Citra dan tentunya menambah pundi-pundi tabungannya untuk menikahi Anaya.
"Mama, Tama berangkat kerja dulu yah," pamitnya kepada Mama Rina.
"Sayangnya Papa ... Papa berangkat kerja dulu yah. Di rumah yang manis sama Eyang dan ...."
Ucapan Tama tertahan, karena Anaya segera menyelanya.
"Sama Onty yah," sahutnya dengan cepat
Tama membawa kedua matanya untuk menatap Anaya, tetapi wanita itu seolah mengirimkan isyarat dari kedua matanya, sehingga kali ini Tama mengikuti saja rencana Anaya. Akan tetapi, Tama tentu akan memberikan kabar baik ini kepada Mama dan Papanya.
"Baiklah ... Anaya, aku titip Citra yah. Terima kasih banyak sebelumnya," pamitnya.
__ADS_1
"Iya, hati-hati yah," sahut Anaya.
Seolah Anaya berusaha untuk menutupi dari Mama Rina apa yang terjadi semalam. Setidaknya biarlah kali ini Tama berangkat bekerja dulu dan di lain hari bisa memberitahu kepada kedua orang tua Tama.
Sepanjang hari dijalani Tama dengan bekerja. Sementara di rumah tentu ada Anaya dan juga Citra yang menghabiskan banyak waktu bersama. Keduanya begitu klop bagi satu sama lain. Terlihat jelas bahwa Anaya dan Citra seolah memang tidak bisa terpisahkan. Ada hubungan yang terjalin dari hati karena kebersamaan yang berlangsung secara terus-menerus dan itu adalah yang terjadi pada Anaya dan juga Citra.
Hingga ketika sore tiba, Tama yang pulang dari kantor, memilih untuk mandi dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelahnya, dia akan segera bergabung dengan keluarganya dan juga Anaya yang kini sedang berkumpul di ruang tamu.
"Sore semuanya," sapa Tama begitu turun dari kamarnya.
"Sore," balas Mama Rina, Papa Budi, dan Anaya dengan serempak. Seolah ketiganya mengikuti paduan suara hingga menjawab pun secara bersamaan.
"Tumben Pa, kok sudah pulang?" tanya Tama kepada Papanya.
"Iya ... sedikit capek Papa. Terlebih beberapa hari ini lembur, jadinya pulang tepat waktu hari ini," balas Papa Budi.
"Mama dan Papa, Tama ingin berbicara sesuatu," ucap Tama kali ini.
Merasa bahwa Tama hendak berbicara serius, sehingga Mama Rina segera mematikan televisi yang sore ini menyala. Sebagaimana kebiasaan putranya itu, Tama jika ingin berbicara sesuatu sudah pasti itu adalah hal yang serius. Sehingga kini seluruh atensi pun tertuju kepada Tama.
"Hmm, begini Papa dan Mama ... di sini Tama ingin berbicara dan Tama ingin meminta izin kepada Mama dan Papa bahwa Tama ingin menikah lagi," ucap Tama dengan memandang wajah Mama dan Papanya.
Tentu saja Mama Rina dan Papa Budi terlihat kaget. Lebih tepatnya, menerka siapanya wanita yang pada akhirnya akan dinikahi oleh Tama itu.
"Menikah lagi?" tanya Mama Rina.
"Iya, Ma ... menikah lagi," balas Tama.
"Dengan siapa?" Giliran Papa Budi yang kini berbicara kepada Tama.
Kemudian Tama melirik sekilas kepada Anaya yang sedari tadi menunduk dan lebih sibuk dengan memangku Citra. "Tama ingin meminta izin kepada Mama dan Papa untuk menikah lagi dengan ... Anaya," jawabnya.
Jika sebelumnya seluruh atensi tertuju kepada Tama. Kini, Mama dan Papa Budi pun melihat kepada Anaya yang tengah memangku Citra.
"Anaya? Tidak salah kan Tama?" tanya Papa Budi.
__ADS_1
Jika Papa Budi terkejut, berbeda dengan Mama Rina yang justru tersenyum lebar. Tama pun segera menganggukkan kepalanya, "Begini Mama dan Papa ... sebelumnya Tama dan Anaya pernah mengenal beberapa tahun yang lalu. Kami dulu pernah pacaran walau hanya tiga bulan saja. Kemudian kami dipertemukan ketika Tama mencari Ibu Susu. Seiring dengan berjalannya waktu Tama merasa Tama sayang dan juga membutuhkan Anaya. Kemarin secara langsung Tama sudah melamar Anaya dan mendapat izin dari Ayah Tendean. Jadi, apakah Mama dan Papa akan merestui jika Tama menikah lagi dengan Anaya?"
"Kamu sudah siap untuk memulai kehidupan pernikahan yang baru?" tanya Papa Budi.
"Tama akan bersiap, Pa," balasnya.
"Kamu tidak akan trauma dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi lagi di depan?" tanya sang Papa lagi.
"Rasa trauma takut kehilangan itu ada Pa ... sukar melupakan peristiwa naas dan tragis dalam hidup Tama. Akan tetapi, Tama yakin bersama Anaya, Tama bisa perlahan-lahan bangkit," balasnya.
Sebuah pengakuan yang jujur dari Tama bahkan hari ternaas dalam hidupnya ada kalanya datang dan membangkitkan kesedihan dalam hatinya. Akan tetapi, dengan Anaya yang mendampinginya Tama akan berusaha untuk bangkit dan membalut luka itu.
"Itu benar Anaya? Jadi, maukah kamu mendampingi Tama dengan segala kekurangannya?" tanya Papa Budi kepada Anaya.
Merasa dipanggil namanya, tentu saja Anaya merasa begitu kaget. Akan tetapi, sesaat kemudian Anaya pun menatap kepada Mama Rina dan Papa Budi. "Ya, Anaya mau dan bersedia," balasnya.
"Bukannya apa Anaya, hanya saja menikahi seorang duda beranak satu itu membutuhkan kelapangan hati. Menikah pria lajang itu sudah pasti mudah, tetapi yang kamu nikahi adalah seorang duda beranak satu. Kamu bisa menerima Tama apa adanya?" tanya Papa Budi sekali ini.
"Iya Pa, Anaya mau," balasnya lagi.
"Kalau Papa tidak keberatan. Papa senang jika Tama berani untuk melangkah ke depan. Bagaimana pun hidup memang harus berjalan dan juga memiliki orang tua yang utuh tentu baik untuk Citra," balas Papa Budi.
"Benar ... Mama juga tidak keberatan. Justru, jauh-jauh hari Mama berharap bahwa Anayalah yang akan menjadi menantu Mama dan menjadi Ibu bagi Citra," balas Mama Rina.
"Jadi, Mama dan Papa setuju?" tanya Tama lagi.
"Ya, kami berdua setuju. Lanjutkanlah hidupmu, Tama ... berbahagialah bersama Anaya. Papa dan Mama berdoa, kiranya kali ini kehidupan rumah tanggamu akan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Saling mencintai dan saling menerima kekurangan masing-masing. Jika menerima kelebihan pasangan itu mudah, yang tidak mudah itu adalah untuk menerima kekurangan pasangannya. Berbahagialah kalian berdua," ucap Papa Budi kepada Anaya dan Tama.
"Terima kasih banyak Ayah," balas Tama.
"Nak Anaya, jadi kapan Papa dan Mama bisa datang ke rumahmu dan melamar kamu secara langsung untuk Tama?" tanya Papa Budi.
"Anaya sampaikan kepada Ayah terlebih dahulu ya Pa ... bagaimana pun disesuaikan dengan jadwal Ayah," balasnya.
"Tentu. Akhirnya Papa lega. Tidak apa-apa mengakhir status duda. Lagian kalian berdua juga bersama lama untuk mengasuh Citra. Doa yang terbaik dari Papa untuk kalian berdua," ucap Papa Budi lagi.
__ADS_1
Semua akan dilakukan Tama dan keluarga step by step. Keluarga Tama akan datang ke rumah Ayah Tendean dan melamar Anaya secara resmi. Semoga saja tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa melangsungkan pernikahan Mas Duda dengan Ibu Susu anaknya.