Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kota Kembang yang Bermekaran


__ADS_3

Rupanya tidak membutuhkan waktu lama bagi Citra untuk terlelap. Menempati kasur yang empuk, udara yang sejuk, dan juga mendapatkan ASI membuat Citra dengan begitu mudahnya terlelap. Selain itu, karena sudah waktunya untuk tidur siang, sehingga tidak perlu berlama-lama, Citra sudah berlelap.


Menikmati staycation pertama bersama bayi kecilnya, Anaya segera menaruh guling di sisi Citra, untuk menghadang pergerakan anak kecil itu supaya tidak jatuh. Selanjutnya, dia turun dari tempat tidur. Usai memberikan ASI, rasanya Anaya juga begitu haus, sehingga wanita itu berniat untuk meminum terlebih dahulu.


"Kemana Sayang?" tanya Tama yang melihat Anaya yang beranjak dari tempat tidur.


"Minum Mas, haus," jawabnya.


Tama segera berdiri, dia kemudian mengambil botol air mineral dan memutar sealnya, setelahnya menyerahkan kepada Anaya. "Ini minum dulu, haus yah?" tanyanya.


"Hmm, iya ... haus. Cepat banget Nak Cantik boboknya," balas Citra dengan melirik ke Citra yang duduk telentang, kedua tangannya naik ke atas laksana ingin terbang itu.


"Sudah jamnya bobok siang itu Sayang ... tadi kan di dalam mobil, Citra juga tidak tidur sama sekali. Jadi, ya sekarang deh boboknya," balas Tama.


Usai minum, Anaya kemudian memilih duduk di sofa yang ada di sudut hotel itu, dan melihat mungkin saja ada pesan yang masuk ke handphonenya.


"Besok jalan-jalan ke mana Mas?" tanya Anaya sekarang.


"Terserah, kamu pengennya ke mana. Ada Farm House, ada kebun binatang, Floating Market juga ada. Terserah kamu saja," balas Tama.


"Ke kebun binatang seru kali ya, ajakin Citra lihat berbagai satwa. Kalau udah punya anak kan yang dicari bukan tempat yang romantis, tetapi tempat yang bisa sekaligus mengedukasi anak," balas Anaya.


"Kamu keibuan banget loh. Aku yang mendengarnya sampai terharu," balas Tama.


"Apaan sih, biasa saja," balas Anaya.


Sekali lagi Anaya ingin menekankan bahwa tidak perlu terharu dengan setiap apa yang dia lakukan untuk Citra. Sebab, Anaya melakukannya dengan hati. Memiliki Tama tentu Anaya siap untuk mencurahkan kasih sayangnya untuk Citra.


"Sini Sayang ... pacaran dulu," ajak Tama dengan tiba-tiba. Tanpa banyak bicara, pria itu meraih handphone yang masih dipegang oleh Anaya dan menaruhnya di atas meja. Kemudian pria itu tanpa ragu untuk memeluk Anaya. Tama memejamkan matanya, dan membawa kedua tangan Anaya untuk melingkari pinggangnya. Sekaligus mereka bisa memanfaatkan waktu untuk pacaran berdua.


"Kangen kamu Sayang," ucap Tama dengan menghirupi aroma parfum Vanilla yang begitu manis dari tubuh Anaya.


Anaya tersenyum, wanita itu mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya, "Sama ...."


"Kamu enggak makan dulu?" tanya Tama kemudian.

__ADS_1


"Enggak, nanti saja," balas Anaya dengan yakin.


Tama tersenyum, pria itu segera membawa tangannya untuk memberikan usapan di tengkuk Anaya, meraba area bahu dan punggung istrinya dengan gerakan usapan tangan yang naik dan turun, tidak hanya itu, Tama mulai mengecupi kening istrinya itu.


"Mumpung Citra bobok, mau enggak Sayang?" tanya Tama.


"Mau apa?" tanya Anaya. Sebenarnya Anaya sudah tahu kemana arah pembicaraan dan kemauan suaminya itu, tetapi Anaya memilih menunggu Tama untuk mengatakan hal secara jujur kepadanya.


"Menggapai puncak asmara," balas Tama.


"Di mana?" tanya Anaya karena tidak mungkin mereka melakukannya di ranjang. Sebab, di sana putri kecil mereka tengah terlelap.


"Di sini saja," balas Tama. Dengan sorot mata menunduk ke sofa yang sekarang mereka duduki berdua.


"Mana bisa Mas?" tanya Anaya.


"Bisa ... atau mau basah-basahan sambil berendam," balasnya.


"Kalau Citra kebangun gimana?" tanya Anaya.


Pria itu mengurai pelukannya, dan mengajak Anaya untuk menuju ke dalam kamar mandi. Sungguh, Anaya rasanya berdebar-debar rasanya. Percintaan seperti apa lagi yang akan diajarkan suaminya itu kepadanya. Mungkinkah bisa melakukannya sambil berendam.


Benar, di dalam kamar mandi, Tama menghadapkan Anaya ke cermin besar yang berada di kamar mandi, pria itu menelisipkan untaian rambut Anaya ke satu sisi, dan Tama segera mengecupi bibir Anaya, dengan posisi pria itu memeluk Anaya dari belakang.


"Mas, malu," ucap Anaya karena suaminya menghadapnya ke kamar mandi.


Tama kemudian tersenyum, dia membalik posisi Anaya untuk berhadap-hadapan dengannya, tanpa ragu bibir Tama memagut lembut bibir Anaya. Mengecupi bibir yang manis dan hangat itu, menyesap lipatannya bergantian atas dan bawah. Ciuman yang Tama labuhkan benar-benar membuat Anaya terengah-engah, wanita itu sampai mencuri nafas di setiap pergerakan bibir Tama.


Tangan Tama tidak berhenti, tetapi perlahan-lahan tangan itu membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Anaya. Tidak membutuhkan waktu lama, Anaya sudah polos mutlak di hadapannya. Pun demikian, Tama yang melepaskan busananya. Lantas pria itu menghentikan gerakannya, mengisi bath up dengan air hangat dan memasukkan bath bomb beraroma sea butter di sana.


Tama memilih memasuki bath up terlebih dahulu, kemudian dia mengulurkan tangannya meminta Anaya untuk bergabung dengannya.


"Sini Sayang," ucapnya.


Anaya yang benar-benar deg-degan, akhirnya mengikuti saja keinginan suaminya itu. Wanita duduk di depan Tama dengan memunggungi suaminya itu. Tama menarik bahu Anaya, membuat punggungnya bersentuhan dengan dadanya, pria itu memercikan air bercampur dengan busa di tubuh Anaya. Sensasi hangat, licin, dan aroma yang harum dengan begitu mudahnya membuat Tama terbakar.

__ADS_1


Bibir pria itu dengan begitu berani mengecupi tengkuk Anaya, bahu, hingga punggung, sementara tangannya memberikan elusan di lengan istrinya yang lembut dan terasa licin di tangannya. Sungguh, Anaya benar-benar meremang. Sentuhan dan kecupan demi kecupan yang diberikan oleh suaminya membuat Anaya menahan nafas. Bahkan Anaya membawa kedua kakinya merapat dan memeluki lututnya dengan kian memejamkan matanya.


"Hhh, Mas ...."


Oh Tuhan, bersama Tama, Anaya merasakan pengalaman bercinta yang gila. Dirinya terbakar langsung lilin yang disulut api. Desisan hingga pekikan membuat Anaya benar-benar kehilangan akal rasanya.


Tangan Tama yang semula mengelus lengan Anaya, kini tangan kini mulai menjelajahi area dada Anaya. Memberikan remasan demi remasan di sana, remasan dengan tekanan serupa, remasan memutar, dan kemudian memilin puncaknya. Sungguh, Anaya benar-benar limbung, nafasnya terasa sesak. Sungguh, mantan duda itu begitu piawainya membuatnya resah dalam gelenyar asing yang membuatnya meremang.


Tama sadar ada Citra yang sedang tidur di kamar, untuk itu kali ini Tama tak bisa berlama-lama. Akan tetapi, step by step tetap dia lakukan karena Tama sadar bahwa seorang wanita tidak bisa langsung menuju puncak, seorang wanita perlu mendadaki tempat-tempat perhentian hingga akhirnya menuju puncak.


Kini dengan kian berani, tangan Tama memberikan sentuhan di inti sari tubuh Anaya. Mengusapnya perlahan, memberikan tusukan demi tusukan di bibir cawan surgawi sang istri. Oh, ini adalah rasa yang luar biasa. Demi Tuhan, Anaya pun benar-benar kehilangan akalnya. Anaya sampai memejamkan matanya kian rapat dan menggigit bibirnya sendiri supaya tidak mende-sah.


Tak ingin menunggu lama, Tama meraih tangan Anaya dan menyentuhkannya kepada pusakanya yang sudah begitu tegak sempurna. Anaya terkejut, kali pertama dia menyentuh pusaka seperti ini. Tama menghela nafas.


"Milikmu Sayang," ucapnya.


Anaya benar-benar bingung harus melakukan apa, yang dia lakukan hanya berani memegangi itu saja, dan tidak tahu harus seperti apa. Dalam hatinya, Tama tersenyum dia harus membuat Anaya makin terbiasa dengannya. Perlahan-lahan pasti Anaya bisa kian terbiasa dengannya. Kini Tama membuat Anaya berhadap-hadapan dengannya, pria itu sedikit mengangkat tubuh Anaya, dan menyatukan dirinya dengan Anaya.


"Hhhh, Mas," pekikan dari Anaya saat merasakan pusaka suaminya menembus cawan surgawinya.


"Iya Sayang ... gerakkan pinggulmu Sayang," perintah Tama kini.


Anaya hanya bergetar mengikuti instingnya saja. Wanita itu mencengkeram bahu Tama saat merasakan terpaan demi terpaan yang menghantam dirinya. Sungguh, gesekan demi gesekan berpadu dengan air dan sensasi busa justru membuat tubuh keduanya sama-sama licin. Tama menahan pinggul Anaya, dan menghantamkan dengan menggerakkan pinggulnya sendiri dari bawah. Keduanya sama-sama memejamkan mata. Sungguh luar biasa rasanya.


"Mas," ucap Anaya dengan nafas yang kian terengah-engah.


"Love U ... Anayaku ... oh Anaya," balas Tama dengan merapatkan dirinya dengan Anaya.


"Lebih cepat Sayangku ...."


"Aku tidak tahan, Mas," aku Anaya yang sekarang dirinya benar-benar tidak tahan.


"Barengan Sayang ... satu ... dua ... Anaya oh Anaya!"


Keduanya sama-sama meledak dalam permainan cinta yang berpadu dengan riakan air yang memenuhi bath up itu. Meraih puncak asmara yang benar-benar indah. Menyisakan kenikmatan yang pecah, indah, dan tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2