
Ada senyuman yang terlukis di wajah Tama ketika dia benar-benar merasakan erupsi volcano yang begitu kuat dan tak tertahankan. Bukan sekadar mengejar kenikmatan belaka, tetapi memadu kasih bersama istri tercinta sangat baik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
Ya, fakta itu benar adanya. Bercinta bisa membantu menjaga sistem kekebalan tubuh, bahkan para ahli menyarankan bahwa bercinta bisa dilakukan satu kali atau dua kali dalam seminggu untuk meningkatkan antibodi. Selain itu, bercinta bisa mengurangi stres. Keintiman fisik bukan selalu melakukan percintaan, tetapi memberikan sentuhan kasih sayang seperti berpelukan, menggenggam tangan, atau sekadar ciuman yang bisa memicu pelepasan hormon oksitosin. Hormon ini yang kemudian akan memicu pusat kebahagiaan di otak yang menurunkan perasaan cemas dan juga stres. Bahkan dengan bercinta bisa juga untuk memperbaiki kualitas tubuh. Sebab, kalau berhubungan tubuh akan melepaskan hormon prolaktin yang membuat tubuh lebih rilesks dan mengantuk. Itulah yang menyebabkan seseorang akan mudah mengantuk dan tidur dengan nyenyak usai berhubungan intim.
"Makasih My Love, benar-benar mantap jiwa," ucap Tama kemudian.
"Ehmm, jangan panggil aku My Love tow Mas ... enggak suka," gerutu Anaya dengan menarik selimut di tempat tidurnya yang sebenarnya sudah tidak begitu lembut usai dia remas kala menapaki puncak asmara bersama suaminya tadi.
"Tapi aku suka ... kamu itu lembut, adem, dan indah. Kata-kata apa lagi yang bisa aku ucapkan untuk menggambar begitu indahnya kamu?" tanya Tama kemudian.
"Cuma itu kayak tagline merek sprei," balas Anaya.
"Ya enggak apa-apa. Sprei buatan dalam negeri dan kualitasnya teruji, bangga dong," balas Tama.
Anaya tampak menggelengkan kepalanya di sana, "Enggak mau. Panggil Anaya saja," balasnya.
Tama kemudian merapikan anakan rambut Anaya yang masih menutupi keningnya itu dan mendaratkan sebuah kecupan di sana.
"Kamu itu lembut, adem yang bisa menenangkan aku, dan indah. Kamu itu cantik. Tidak mungkin kan aku menyebutkan California, Kintakun, atau Bonita?"
Dengan begitu absurdnya, Tama justru menyebutkan berbagai merek sprei itu. Anaya hanya bisa menghela nafas karenanya.
"Ranjang ini jika tidak ada spreinya rasanya kosong Sayang, tidak ada nilai estetikanya sama sekali. Akan tetapi, begitu ranjang berbentuk persegi panjang ini diberikan sprei, terasa bedanya kan? Lebih bagus, lebih indah, dan nyaman untuk ditiduri, Sama seperti aku yang kosong, tidak menarik, tetapi ketika kamu datang semuanya berubah. Kekosongan di hati dan hidupku sirna. Hidupnya yang semula hanya berwarna abu-abu, kini menjadi berwarna merah, kuning, hijau, di langit yang biru," balas Tama.
Anaya yang mendengarnya pun perlahan terkekeh geli karenanya, "Balonku ada lima dong," sahutnya dengan cepat.
"Bukan lima Sayang ... hanya dua. Jadi, peganglah erat-erat," balas Tama lagi.
__ADS_1
Anaya semakin terkekeh geli karenanya. Bisa-bisanya Tama memiliki selera humor seperti itu. Sampai sekarang tubuh Anaya berguncang karena tertawa akibat jawaban Tama yang begitu absurd.
"Jadi ... biarkan aku memanggil kamu My Love yah ... My Lovely deh," balas Tama lagi.
"Gimana yah ... ingat my love ingat sprei," sahut Anaya.
"Kan sudah dijelaskan filosofi sprei, jadi ya tidak apa-apa. Oke My Love?"
"Terserah kamu saja deh, walaupun geli dengarnya," balas Anaya lagi.
Lagi, Tama justru terkekeh di sana dan kemudian membawa Anaya dalam pelukannya, tangan Tama bergerak dan mengusapi lengan Anaya dengan gerakan naik turun yang begitu lembut.
"Aku serius. Aku mungkin hanya ranjang yang usang. Tidak menarik, orang akan tidur di atasnya pun enggan. Akan tetapi, ketika bersama kamu, aku berubah Sayang. Aku bisa menjadi Tama yang perlahan bangkit, membuka diri aku, dan aku akan selalu berusaha untuk kamu dan juga Citra. Kamu sejak datang menjadi Ibu Susu bagi Citra, kamu mengingatkan aku akan arti kata berjuang. Kamu yang mengalami berbagai kesulitan dalam hidup saja bisa bangkit, bisa pulih, aku berkata pada hatiku sendiri bahwa aku pun bisa bangkit," balas Tama.
Anaya kini berbaring miring agar dia bisa menatap wajah suaminya itu. Tidak mengira usai percintaan yang begitu menggebu-gebu, kini Tama berbicara dan menjelaskan hal filosofis yang tentu sangat berarti untuknya.
Pada kali ini, usai mendengarkan penjelasan dari suaminya, Anaya pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, baiklah ... boleh," jawabnya dengan sedikit beringsut dan mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Tangan Anaya bergerak dan memberikan usapan lembut dengan ujung jari telunjuknya di dada suaminya yang masih polos karena memang sekarang keduanya sama-sama belum memakai busana.
"Jika suatu saat aku berubah menjadi pribadi yang tidak lembut, tidak adem, dan tidak indah bagaimana?" tanya Anaya kemudian.
"Tidak apa-apa. Aku menerima kamu apa adanya My Love," balas Tama dengan mendekap hangat tubuh Anaya. "Emangnya kamu bisa menjadi wanita yang tidak lembut dan tidak adem?" tanya Tama.
Ketika Anaya ingin menjawab, rupanya Tama kembali berbicara sehingga Anaya memilih menjadi seorang pendengar kala suaminya itu kembali berbicara.
__ADS_1
"Ah, benar ... kamu bisa tidak adem, beberapa menit barusan. Itu karena ... kamu ... panas Sayang. Sangat panas, sampai ...."
Giliran Anaya yang kali ini sengaja memutus perkataan Tama, " ..., sampai terjadi letusan gunung berapi," balas Anaya dengan terkekeh geli.
"Hmm, iya bener banget. Itu juga karena kamu yang hebat. Sekali diajarin saja langsung bisa. Hebat banget My Love," balas Tama.
"Masak, padahal aku tidak sehebat itu. Aku takut," balas Anaya kemudian.
"Takut untuk apa?" tanya Tama.
"Takut dengan itu," balas Anaya. Mengatakan itu secara tersirat. Sebab, itu menjadi pengalaman pertama baginya. Sebelumnya, dia hanya cukup menerima pemberian dari suaminya. Kini, kala melihat, merasakannya, dan menggenggamnya tidak dipungkiri seolah memacu Anaya untuk melakukan hal yang sebelumnya belum pernah dia lakukan.
"Tidak usah takut, sudah aku kasih label ini yow ...."
"Label apa?"
"Milik Anaya."
Sekali lagi, Anaya yang mendengarkan jawaban dari suaminya hanya bisa terkekeh geli di sana. Tidak mengira bahwa suaminya itu bisa dengan mudahnya membuat dia tertawa bahagia.
"Ah, kamu bisa saja sih Mas," balas Anaya.
"Bisa dong ... Tama gitu," jawabnya dengan ikut tertawa. "Makasih ya Sayang ... kamu tidak takut, heran atau apa gitu kala aku menunjukkan setiap sisi hidupku kan?" tanya Tama sekarang ini.
Anaya menggelengkan kepalanya perlahan dan menengadahkan wajahnya menatap suaminya dalam jarak pandang yang hanya seberapa itu, "Tidak apa-apa Mas Tama Sayang," balasnya.
Ada senyuman yang tercetak jelas di wajah Tama. Sungguh, dia tidak mengira bahwa Anaya bisa membuatnya tersipu seperti ini. Sungguh, hadirnya Anaya membawa perubahan dan tentunya angin segar dalam hidupnya. Sungguh, Tama merasa bersyukur memiliki Anaya di sisinya.
__ADS_1