
Tidak terasa waktu satu bulan telah berlalu. Dalam satu bulan yang berjalan, rupanya si Kecil Citra sudah bisa berjalan. Sekarang Citra menjadi lebih aktif mengeksplor ruangan. Di sore ketika sang Papa pulang kerja, Tama juga mengajak Citra untuk sekadar berjalan-jalan di depan rumah.
Sama seperti sore ini, Tama yang terlihat menggandeng tangan Citra dan menemani putri kecilnya itu jalan-jalan di halaman rumah. Citra yang kala itu mengenakan sepatu kala untuk menginjak bisa berbunyi memang menghasilkan bunyi yang berisik, tetapi Citra justru senang mendengar bunyi dari sepatunya itu.
"Pelan-pelan saja Nak," ucap Tama kala memperingatkan Citra.
Namun, Citra yang memang senang-senangnya berjalan, dan juga masih kecil sering abai. Sehingga Tama dan Anaya yang harus mengarahkan Citra, memperingatkan supaya Citra hati-hati.
Ada waktu kurang lebih satu jam bagi Tama dan Citra sore itu. Sementara Mama Anaya menyiapkan untuk makan malam mereka. Mengasuh anak sendiri, mengurus rumah sendiri, dan tetap kuliah di akhir pekan menjadi rutinitas bagi Anaya.
"Masuk yuk, Mama baru ngapain nih di dalam," ajak Tama kepada Citra.
Tanpa ragu, Tama segera menggendong Citra dan mengajak putri kecilnya itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Tentu yang mereka cari adalah sosok Anaya. Tama memanggil-manggil istrinya itu, mencairnya. Rupanya Anaya terlihat tengah memakan buah stroberi yang rasanya agak asam.
"Hei My Love ... tumben ngemil stroberi?" tanya Tama kepada istrinya.
Tentu Tama mengatakan tumben. Sebab, biasanya Anaya selalu membuat Jus Stroberi, tidak pernah memakannya secara langsung.
"Iya Mas, mendadak pengen ... mau?" Anaya menawarkan kepada suaminya.
"Enggak, asam Sayang," balasnya dengan menggelengkan kepala.
Anaya pun tersenyum di sana, "Aku mendadak pengen," balasnya.
"Coba pengen yang lain gitu Sayang, ***-*** misalnya. Aku pasti seneng banget," ucapnya dengan tertawa.
"Sstts, ada Citra ... jangan berbicara yang aneh-aneh. Malu," balas Anaya lagi.
Setelahnya Anaya menyimpan buah stroberi ke dalam lemari es, kemudian dia menggendong Citra, dan menikmati makan malam yang sudah dia siapkan. Terlihat Anaya menyuapi Citra dengan makanan padat karena memang di usia 12 bulan, tekstur makanan anak sudah tidak lembek. Sementara Tama juga tampak lahap memakan masakan Anaya. Untuk urusan makanan, Tama juga tidak pilih-pilih. Apa pun masakan Anaya akan dimakan Tama dengan lahap.
"Enak Mas?"
"Hmm, iya ... enak banget," balas Tama.
__ADS_1
"Nambah aja, aku ambilin yah," balas Anaya.
"Ini dulu saja Sayang, aku habiskan cepat biar gantian kamu bisa makan."
Ada kalanya memang begitulah Tama dan Anaya. Tama sering kali memakan makanannya dengan lahap supaya Anaya bisa gantian makan. Begitu Tama sudah selesai makan, dia langsung mencuci tangannya, dan kemudian mengajak Citra.
"Yuk, Citra ikut Papa yah. Mama biar makan dengan tenang," ajaknya.
Selalu Anaya tersenyum tiap kali Tama mengajak Citra dan memberikan waktu kepada Anaya untuk makan dengan tenang. Rasanya memang seolah Tama memberikan waktu khusus untuk Anaya.
Malam harinya, begitu Citra telah tertidur, sekarang giliran Anaya yang me time dengan suaminya itu. Agaknya memang ada waktu di mana Anaya terkadang manja dengan suaminya sendiri. Sama seperti sekarang ini di mana Anaya tampak bersandar di dada bidang suaminya dan kedua tangan yang melingkari pinggang sangat suami. Tidak banyak bicara, karena Anaya lebih senang diam kala suaminya itu memeluknya.
Dekapan hangat Tama, seringkali berpadu dengan usapan dan belaian di kepala hingga bahu dan lengannya, juga dengan kecupan yang sering kali Tama daratkan di kening istrinya. Sungguh, menikmati kebersamaan seperti ini saja membuat Anaya bahagia. Lelahnya dalam sehari seakan sirna, begitu bisa memeluk suaminya seperti ini.
"Kangen yah?"
Tama akhirnya membuka suara, dan bertanya kepada istrinya itu.
"Hmm, iya ... tiap hari bertemu, tapi masih kangen banget," jawabnya.
"Ya, sini aku peluk," balasnya dengan mengeratkan pelukannya.
Anaya tersenyum dan kian mencerukkan kepalanya di dada suaminya itu.
"Mas," panggil Anaya pada suaminya itu.
"Hmm, kenapa My Love?" sahutnya.
"Kok aku bulan ini belum haid lagi yah? Terakhir yang waktu palang merah itu, udah lebih dari sebulan loh," tanya Anaya kepada sang suami.
Kini Tama agak beringsut dan menatap wajah istrinya, "Kita cek aja untuk memastikan Sayang. Mau aku belikan tes pack di apotek?"
"Cuma tanda-tanda hamil kayak mual dan muntah belum ada deh Mas, kalau dulu itu aku mual dan muntah, di awal-awal kehamilan," balasnya.
__ADS_1
"Lalu, gimana? Masak mau nunggu mau mual dan muntah dulu Sayang? Dulu, waktu Mama Kandungnya Citra hamil, yang muntah dan mual aku loh," balas Tama.
Anaya tampak menghela, "Bisa sih, itu namanya kehamilan simpatik. Pasti kamu cinta banget sama almarhumah ya Mas? Biasanya gitu, ada ikatan deh jadinya," balas Anaya.
"Ya cinta, Yang. Kan juga kami suami istri. Jangan cemburu, semua sudah masa lalu Sayang. Nanti kalau kamu yang hamil, aku yang mual dan muntah juga enggak apa-apa. Yang penting kamu sehat," balas Tama.
Anaya pun tersenyum di sana, "Aku menanggungnya juga tidak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa menanggung kayak gitu sendiri," balasnya.
Dengan cepat Tama menggelengkan kepalanya, "Itu dulu Sayang, sekarang kamu punya aku. Aku tidak keberatan untuk menanggung semuanya. Prioritasku, kamu sehat dan bahagia berada di sisiku, menemani aku," balas Tama.
Itu adalah sebuah ucapan yang sunguh-sungguh. Bagi Tama semuanya telah berbeda. Dulu Anaya menanggung semua sendiri karena memang tidak ada tanggung jawab dari pria yang menghamilinya. Sementara sekarang, Tama tidak akan membiarkannya. Tama dengan sukarela mau menanggung apa pun yang berkaitan dengan Anaya.
Rupanya mendengar kata-kata Tama, membuat Anaya menitikkan air mata di sana. Begitu terharu dengan jawaban yang diberikan suaminya itu.
"Loh, kok jadi nangis?" tanya Tama melihat Anaya yang sesegukan dan menyeka sendiri air matanya.
"Terharu, sebagai wanita yang pernah menanggung semua sakit sendiri dan sekarang ada kamu yang begitu baik rasanya bikin aku terharu sampai nangis," balasnya.
Tama tersenyum di sana. Tidak menunggu lama, Tama segera mendekap tubuh Anaya dan mengecupi keningnya.
"Jadi mellow gini, jangan-jangan kamu beneran positif Sayang? Biasanya Ibu hamil kan sensitif juga. Jadi, mau test kehamilan sekarang atau nunggu?" tanya Tama lagi.
"Minggu depan aja ya Mas, ditunggu sebentar kali ada memang periode haid-nya mundur," balas Anaya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, yang penting selalu cerita gimana rasanya badan kamu. Sayang, cuma kalau hamil, kamu siap kan?" tanya Tama.
"Iya, siap. Aku siap mengandung buah hati kita, adiknya Citra. Jangan ragu ya Mas, walau anak kandung kita lahir, aku tetep sayang banget sama Citra. Kalau aku salah nanti, tegur saja aku, Mas. Aku tidak apa-apa," balasnya.
Tama tersenyum, kini dia pria sedikit menunduk dan mengecup bibir Anaya di sana.
Chup!
"Aku percaya bahwa kamu akan selalu sayang Citra. Jangan kepikiran yang seperti itu, Sayangku. Intinya kamu lakukan yang terbaik, aku yakin kamu Mama yang hebat untuk Citra dan adik-adiknya nanti," balas Tama.
__ADS_1
Dalam hatinya Tama begitu yakin bahwa Anaya akan menjadi seorang Mama yang hebat untuk Citra dan adik-adiknya. Tama yakin kendati hanya Ibu sambung, tetapi Anaya bukan image Ibu sambung yang kejam. Justru rasanya Tama ingin Anaya bisa mengandung dan memiliki anak, biar orang tahu bahwa kasih sayang yang Anaya berikan untuk Citra dan anak kandungnya itu seimbang dan tidak berat sebelah.