
Agaknya usai mendengar cerita dari Citra yang tampak begitu excited akan sosok Oma yang bernama Dianti itu, Anaya pun menelisik dan begitu ingin tahu mengenai seperti apa sosok Dianti itu. Oleh karena itu, kini Anaya tampak mengobrol bersama Ayahnya dan Tama juga. Sementara, Citra memilih tidur siang. Charel dan Charla juga terlelap di dalam box bayi yang ada di ruang keluarga itu.
"Jadi, Oma Dianti itu sapa Yah?" tanya Anaya dengan tersenyum, barang kali saja ada kisah dari masa lalu mengenai Ayahnya yang tidak Anaya ketahui. Toh, Anaya juga siap untuk mendengarkan cerita dari Papanya itu.
Ayah Tendean pun sampai tersenyum jadinya melihat anaknya yang tengah kepo itu. Dari kecil, ketika ingin tahu tentang sesuatu, pastilah Anaya akan mengejarnya sampai Ayahnya bisa bercerita kepadanya.
"Cinta pertama Ayah yah?" Tama bertanya dadakan, yang membuat Ayah Tendean tertawa di sana.
Anaya pun tertawa, "Iya ya Yah? Jadi cinta pertamanya Ayah, Oma itu yah?" tanya Anaya lagi.
Seakan mereka menyadari bahwa orang yang menikah dengan kita sering kali justru bukanlah cinta pertama. Sama seperti Tama, cintanya pertamanya, yang dia nikahi siapa, dan kini yang berlabuh dalam hidupnya justru kembali kepada Anaya, dulu cinta sesaat yang pernah singgah dalam hidupnya.
"Cinta sesaat lebih tepatnya," balas Ayah Tendean. Jujur, malu rasanya bercerita seperti ini kepada Tama dan Anaya. Terlebih dengan usianya yang sudah tidak lagi muda.
"Oh, cinta sesaat. Ayo, Ayah ... ceritanya. Anaya sudah ingin tahu nih, kisah Ayah dan Oma Dianti itu," balas Anaya.
Tampak Ayah Tendean menghela nafas perlahan dan kemudian menatap Anaya dan Tama bergantian. Barulah kemudian Ayah Tendean memulai ceritanya.
***
Beberapa tahun yang lalu ....
Kala itu di kota Bandung, seorang pemuda yang menempuh pendidikan kedokteran tengah berjalan bersama menyisiri universitas dengan pohon-pohonnya yang rindang bersama seorang gadis yang kala itu tengah mengambil jurusan psikologi. Di masa lalu, kedokteran dan psikologi adalah satu prodi, hanya berbeda jurusan. Akan tetapi, sekarang Kedokteran dan Psikologi dibedakan dan menilai bahwa ilmu Psikologi lebih tepat sebagai ilmu sosial karena berhubungan banyak dengan orang lain.
"Nanti selesai kulia kalau lulus kamu ingin jadi apa, Dian?" tanya Tendean yang di waktu kuliah akrab disapa Dean.
"Oh, aku ingin menulis buku untuk anak-anak sih Mas Dean. Mewarnai dunia literasi anak. Pengennya buku yang bukan sekadar cerita, tetapi ada nilai-nilai dan pembentukan karakter yang aku sisipkan di sana," jawab Dianti.
Memang Dianti sendiri mengambil jurusan Psikologi Perkembangan Anak. Passionnya di dunia anak-anak sangat kentara, dan juga dia terlibat aktif menjadi relawan di panti asuhan dan juga sering terlibat dalam kegiatan mendongeng untuk anak-anak.
__ADS_1
"Kalau kamu Mas?" tanya Dianti.
"Aku lanjut ke spesialisai. Mamaku berharap aku bisa menjadi ahli saraf, jadi ya aku akan lanjut kuliah lagi," balas Tendean.
Dianti pun menganggukkan kepalanya sesaat, "Keren deh ... cita-cita yang sangat mulia. Kan begitu orang bilang, menjadi Dokter itu cita-cita yang mulia. Bahkan kebanyakan orang tua akan mengharapkan anak-anak mereka bisa menjadi seorah Dokter. Impian anak-anak seluruh Indonesia," balas Dianti.
Tendean tersenyum di sana dan menatap Dianti dengan kagum, "Kamu akan menjadi berlian di masa depan nanti, Dian. Begitu bahagia, pria yang bisa memilikimu," balas Tendean dengan yakin.
Dianti tertawa dengan menggelengkan kepalanya perlahan, "Kamu bisa saja Mas ... aku masih lama dalam pendidikan Psikologi ini. Kamu yang akan lulus terlebih dahulu," balas Dianti.
Hubungan yang manis antara Kakak tingkat dengan adik tingkat itu. Walau keduanya berbeda jurusan, tetapi tidak ada yang bisa menghalangi keduanya untuk bertemu. Entah itu di perpustakaan, di kantin fakultas kedokteran, dan juga di depan gedung fakultas ada saat-saat yang indah bisa berpapasan dengan gadis cantik bunga fakultas Psikologi itu.
Sebenarnya tak pernah terucap kata jadian dari keduanya. Hanya saja Tendean dan Dianti tahu bahwa keduanya sama-sama cinta. Namun, usai lulus Tendean pindah ke Jakarta menyelesaikan program spesialisai dan S2 dan petualangan cintanya akhirnya berlabuh ada sosok Desy, wanita yang merebut hatinya dan dia nikahi hingga akhirnya melahirkan Anaya.
***
"Jadi, saling tahu perasaan masing-masing, tetapi tak pernah jadian Ayah?" tanya Anaya.
Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, "Benar ... seperti itu. Sebatas tahu sama tahu kalau perasaan suka itu ada. Hanya saja, tak pernah terucap. Terjebak dalam zona nyaman," balas Ayah Tendean.
Anaya lantas memanyunkan bibirnya di sana, "Yahhh, itu namanya Ayah menggantung seseorang tanpa kepastian."
"Loh, menggantung gimana? Kan tujuan Ayah lulus dan jadi Dokter dulu," balasnya.
"Itu Oma Dian digantung. Cuma sebatas tahu perasaan tapi tidak ada aksi. Namanya apa kalau bukan menggantung?" balas Anaya.
Tama yang mendengarkan obrolan Ayah mertuanya dengan istrinya hanya turut tertawa. Membiarkan saja Anaya dan Ayah Tendean terlibat dalam obrolan yang seru.
"Mas, kamu dulu naksir dosenku itu, kamu katakan enggak?" Anaya seketika bertanya kepada suaminya.
__ADS_1
"Hmm, dulu ya aku utarakan walau langsung ditolak saat itu juga," balas Tama.
Ayah Tendean menatap Tama di sana, "Dulu kamu naksir siapa Tam?" tanyanya.
"Dulu Ayah ... teman kuliah, sekarang dosennya Anaya," balas Tama dengan jujur.
"Dosen yang ke sini waktu aqiqah itu yah?" tanya Ayah Tendean lagi.
Tama dan Anaya sama-sama tertawa. Bagaimana pun memang faktanya dulu Khaira memang gadis yang dicintai oleh Tama. Namun, Tama berani mengungkapkan perasaannya walau langsung ditolak.
"Ah, Ayah ... harusnya diungkapkan. Setidaknya rasa itu didengar oleh orang yang kita cintai," balas Anaya lagi.
Ayah Tendean menghela nafas di sana, "Cerita kepada kalian bikin Ayah bernostalgia ke tahun-tahun yang sudah terlewatkan," balas Ayah Tendean.
"Sudah menikah belum Ayah, Oma itu?" tanya Anaya lagi.
Ada gelengan kepala dari Ayah Tendean, "Ayah tidak tahu, Aya ... tadi lupa tanya. Deg-degan dulu," jawabnya.
Tama sekarang yang balas tertawa, "Apakah hasrat itu sudah ada Ayah?" tanya Tama.
Ayah Tendean kemudian mengedikkan bahunya, "Enggak lah ... kembali bertemu dengan si Bunga kampus yang ayu dan menawan, bikin Ayah deg-degan duluan. Sampai bingung mau tanya apa," jawab Ayah Tendean dengan jujur.
"Ketemuan lagi lah Ayah," balas Anaya.
"Iya, nanti mau ajakin Citra ke Taman Baca yang baru dia buka di Bendungan Hilir. Kalian mau ikut?" ajak Ayah Tendean.
"Enggak ... kalau sudah resmi saja, Anaya baru ikut. Kalau masih ada rasa, ucapkan saja Ayah. Sungguh, Anaya tidak keberatan kalau Ayah menikah lagi," balas Anaya dengan sungguh-sungguh.
"Tenang ... sabar saja. Baru bertemu juga satu kali. Ayah juga tidak tahu dia sudah menikah atau belum," balas Ayah Tendean.
__ADS_1