Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Malam Mingguan


__ADS_3

Akhir pekan ini menjadi waktu yang menyenangkan untuk Tama dan Anaya, karena hari ini seluruh keluarga berkumpul. Mama Rina, Papa Budi, Ayah Tendean, hingga Bunda Dianti bisa kompakan main ke rumah mereka. Lantaran para Eyang serta Oma dan Opa datang, tentu banyak yang mengajak anak-anak, sehingga Anaya tidak begitu capek juga. Bahkan orang tua berkunjung juga sampai sore, sehingga Citra bisa full bermain dengan Eyang, Oma, dan Opa.


"Kapan-kapan kita piknik yuk ... tiga keluarga," ajak Ayah Tendean ketika dia hendak pulang.


"Boleh Ayah ... Busui juga pengen healing," balas Anaya.


"Ke Bogor saja, kan Ayah ada villa di sana. Sembari menghirup udara segar," balas Ayah Tendean.


Papa Budi pun tampak menganggukkan kepalanya, "Boleh ... nanti ibu-ibu yang siapkan konsumsinya," balasnya.


"Benar Pak ... menikmati akhir pekan, biar makin akrab," balas Ayah Tendean di sana.


"Nanti kita agendakan lagi yah ... biar istri saya semakin akrab dengan Bu Rina," ucap Ayah Tendean lagi.


Hingga akhirnya menjelang petang, barulah mereka berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Ketika para orang tua sudah pulang kini giliran Anaya dan Tama yang masuk ke kamar. Citra sudah makan dan memilih membaca buku sendiri. Sementara Charla dan Charel sedang bermain dengan Papanya. Sementara Mama Anaya merebahkan dirinya di tempat tidur untuk sejenak.


"Aku rebahan bentar ya Mas, capek," ucap Anaya di sana.


"Hmm, iya ... mandi dulu saja Sayang. Nanti aku pijitin," ucap Tama yang seakan tengah memberikan kode kepada istrinya itu.


"Seriusan dipijitin? Enggak yang aneh-aneh kan?" tanya Anaya kepada suaminya.

__ADS_1


Tama pun tersenyum perlahan, "Ya, itu tergantung sih Sayang ... cuma janji, aku pijitin kok," balas Tama.


Mengikuti instruksi dari suaminya, Anaya pun memilih mandi dulu. Tama berkata bahwa Anaya tidak usah terburu-buru karena Tama adalah seorang Papa yang bisa diandalkan. Bahkan untuk urusan si kembar yang pup saja, Tama bisa membersihkannya. Sehingga kali ini, Tama meminta kepada Anaya untuk tidak cemas.


Merasa suaminya memang bisa diandalkan, Anaya pun mandi dan menikmati mandinya. Sebab, ketika sudah menjadi seorang ibu, untuk sekadar urusan di toilet saja harus singkat dan serba terburu-buru. Untunglah ketika Tama ada di rumah, Anaya bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri.


Cukup lama Anaya mandi, sampai petang pun sudah berganti menjadi malam. Citra bahkan sudah tertidur mungkin karena kecapekan bersama dengan Eyang, Oma, dan Opanya. Sampai Tama memindahkan putrinya itu yang tertidur.


"Loh, dari mana Mas?" tanya Anaya kepada suaminya itu.


"Itu dari kamarnya Nak Cantiknya kamu udah bobok dia," ucap Tama.


"Ya ampun, baru jam 19.00 sudah tidur?" tanya Anaya.


"Iya Mas," balasnya.


Akhirnya lampu utama di kamar itu diredupkan. Suasana menjadi temaram. Si Charel tampak lucu, karena dia tidur dengan mengenyot ibu jarinya. Sementara Charla melihat aneka mainan yang tergantung di atas box bayinya dan perlahan-lahan keduanya pun tertidur.


"Ya ampun, jam segini sudah pada tidur," ucap Anaya.


Tama kemudian merangkul istrinya itu, "Anak-anak baik, mereka beri waktu untuk Mama dan Papa bermalam minggu. Yuk, jadi dipijitin enggak?" tawar Tama kepada istrinya itu.

__ADS_1


"Yakin Mas? Dosa enggak sih? Takut dosa," balas Anaya di sana.


"Rebahan saja Sayang, sebisanya yah," balas Tama kemudian.


Mengikuti permintaan suaminya, Anaya berbaring di tempat tidur dan Tama mulai memijat betisnya perlahan, hingga telapak kaki, menarik-narik jari-jari di kaki Anaya hingga terdengar bunyi.


Kluk!


"Tulang-tulang kamu berbunyi, Yang," ucap Tama.


"Iya, capek Mas ... pijatan kamu enak deh Mas," aku Anaya yang sembari menghela nafas merasakan pijatan dari suaminya itu.


"Aku berbakat Yang," balas Tama dengan sedikit tertawa.


Kurang lebih lima belas menit, Tama memijit Anaya dengan asal sebenarnya, tapi Anaya berkata enak. Sesudahnya, Tama pun mengibas-ibaskan tangannya dan tersenyum menatap Anaya.


"Mau dibuatin minuman hangat?" tanya Tama kemudian.


"Baik banget sih Mas, malam minggu malahan dipijitin dan diperhatikan kayak gini," balas Anaya.


"Ya kan aku pernah janji, bahwa aku akan baik kepadamu seumur hidupku, Sayang ... jadi, kalau aku bersikap kurang baik, kamu boleh protes," balas Tama.

__ADS_1


Anaya pun tersenyum di sana, "Makasih Mas Tama. Kamu itu Best Hubby dan Best Daddy banget. Karena kamu yang sweet kayak gini dulu banyak ibu-ibu di kompleks rumah Mama Rina, muji-muji kamu," balas Anaya.


Tama hanya tertawa di sana. Memang dia akan menjadi yang terbaik untuk Anaya. Tidak memerlukan pujian dari siapa pun karena cinta dan ketulusannya hanya untuk Anaya seorang.


__ADS_2