Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kesehatan Mental Busui


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu pekan berlalu, dan dalam sepekan ini Anaya termasuk bisa beradaptasi dengan mengasuh bayi dan juga Citra bersamaan. Memang tidak sendirian, karena ada Mama Rina yang selalu membantu Anaya. Adanya Mama Rina di rumah memang membuat Anaya begitu terbantu, setidaknya ada yang menemani di saat tubuh Anaya juga belum sepenuhnya pulih.


Namun, di akhir pekan ini karena Tama libur, Mama Rina ingin pulang dulu dan bersih-bersih rumah. Nanti di hari Senin, Mama Rina akan datang kembali. Sebab, Mama Rina percaya Tama sendiri begitu bisa diandalkan. Untuk membantu mengasuh anak dan juga untuk pekerjaan rumah tangga, Tama bisa diandalkan.


"Mama pulang dulu yah ... nanti Mama datang lagi hari Senin," pamit Mama Rina.


"Iya Ma ... Tama udah berterima kasih sekali, sudah dibantuin Mama," balasnya.


"Sama-sama Tama ... Mama juga seneng bisa bantuin kalian berdua. Menikmati masa untuk merawat cucu," balasnya.


"Terima kasih banyak ya Mama ... Anaya tunggu hari Senin nanti yah," balas Anaya.


Mama Rina pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... nanti hari Senin, Mama datang lagi. Kalau butuh sesuatu, Tama bisa dimintai tolong, Anaya. Jangan sungkan. Walau Tama seorang pria, tetapi dia bisa membantu kamu," balas Mama Rina.


"Pasti Ma ... selama ini juga Mas Tama sudah baik banget sama Anaya," sahut Anaya.


"Harus baik. Suami adalah kepunyaan istrinya, dan istri adalah kepunyaan suaminya. Sehingga kalian memang harus saling memiliki. Jika ada yang sakit, yang sehat yang merawat. Begitulah hidup bersuami istri," balas Mama Rina.


Ini adalah nasihat yang baik. Ketiga sudah masuk dalam biduk rumah tangga, suami dan istri hendaknya memang saling memiliki satu sama lain, saling merawat. Sehingga, kehidupan rumah tangga bisa berjalan dengan semakin harmonis.


Ketika Mama Rina sudah pulang, Tama pun bertanya apa yang istrinya itu butuhkan. Sebisa mungkin Tama berusaha untuk bisa membantu Anaya.


"Istirahat saja Mas ... kamu sejak pagi sudah sibuk loh. Dari mulai mencuci baju-baju bayi, menjemur, dan lain-lain. Sampai sekarang, kamu belum istirahat," ucap Anaya yang merasa kasihan dengan suaminya itu.


"Tidak apa-apa, banyak bergerak kan sehat Sayang. Enggak apa-apa, intinya kamu sembuh dulu, pulih," balas Tama.


Anaya pun tertawa, "Pasti pulih ... ini juga sudah tidak begitu nyeri kok bekas jahitannya. Sudah tiga minggu juga Mas ... jadi akan cepat pulihnya," balas Anaya.


"Masih masa nifas ya Sayang?" tanya Tama lagi.

__ADS_1


"Masih Mas ... aku enggak tahu apa ada kaitannya kehilangan rahim dan masa nifas enggak, cuma masih kok," balas Anaya.


Tama menatap istrinya itu, "Sabar yah ... kapan mau ke Rumah Sakit untuk cek lagi?" tanya Tama.


"Boleh Mas ... sama mau tanya itu Histerektomi total atau sebagian. Aku baca sih, kalau memang total ya aku akan mandul Mas ... tidak punya rahim lagi, dan juga tidak akan mengalami menstruasi lagi karena rahimnya sudah diangkat," balas Anaya.


Tama mendengarkan baik-baik cerita istrinya itu, ada rasa kasihan juga. Istrinya yang masih muda dan juga masih ada di usia produktif, justru harus mengalami hal yang begitu berat. Tama sangat tahu secara mental pastilah Anaya terpengaruh dan juga harus bisa berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keadaan bahwa memang kondisi tubuhnya tidak lagi sama. Di sinilah peran suami yang terbesar, memulihkan Anaya secara mental.


Jika yang sakit itu bisa dilihat dengan mata, maka mudah merawatnya. Sama seperti luka yang akan dibersihkan dan juga digunakan perban hingga muncul jaringan kulit yang baru. Akan tetapi, jika yang sakit adalah mentalnya, itu adalah hal yang tidak bisa dilihat dengan mata. Yang bisa Tama lakukan adalah memberikan support, afirmasi positif, dan juga memberi diri untuk menjadi tempat bersandar dan bercerita untuk istrinya.


"Kalau perasaan kamu gimana Sayang?" tanya Tama. Ini adalah supaya Tama juga tahu kondisi perasaan Anaya.


"Aku baik kok Mas ... sudah tidak sesedih dulu. Mungkin teralihkan dengan mengasuh Trio C," balasnya.


"Kalau merasa sedih dan juga stres gitu, waktu memberikan ASI untuk Twins, coba rileks Sayang. Aku baca kalau menyusui itu bisa mengurangi tingkat stres seorang ibu," balas Tama.


Apa yang dikatakan Tama ini benar adanya, ibu yang menyusui memiliki tingkat stres dan kecemasan yang lebih rendah, serta mengurangi suasana hati negatif. Selain itu, pola tidur juga akan cenderung lebih stabil dan tekanan darah normal. Hormon oksitosin yang dilepaskan saat menyusui pun dapat membantu meningkatkan bonding ibu dan bayi.


Anaya yang mendengarkannya pun menganggukkan kepalanya, "Iya, aku sudah merasakannya. Dulu aku depresi itu, sembuh salah satu dengan menyusui Citra kok Mas. Sejak menyusui Citra, seolah aku menemukan anakku yang tiada. Walau pun mereka berbeda. Namun, beberapa hari itu aku merasa lebih tenang, malam bisa tidur, dan aku bener-bener berhenti tidak mengonsumsi obat anti depresan. Jadi yah, aku sudah merasakannya, dampak dari menyusui," balas Anaya.


"Ibu yang sehat secara mental bisa membuat si baby lebih sehat secara fisik dan perkembangan kognitifnya juga," balas Tama.


Anaya pun tersenyum, "Ini yang dikatakan Bu Khaira kepadaku kemarin waktu aqiqah Mas, kan waktu itu kami ngobrol bersama. Dia bilang kalau kesejahteraan mental seorang ibu memiliki dampak langsung pada bayinya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengingat para wanita butuh didukung, didengar, dan dihakimi," balas Anaya.


Tama lantas merangkul istrinya itu, "Aku akan melakukan itu, My Love ... aku akan mendukung kamu, mendengar kamu, dan tidak menghakimi. Di balik suksesnya kegiatan menyusui, ada suami yang aktif memberikan dukungan. Benar?"


"Benar, tepat sekali."


Anaya menjawab dan kemudian tertawa. Kadang, candaan seperti ini juga sangat baik memperbaiki kondisi psikologisnya. Lebih dari itu, Anaya sangat tahu bahwa suaminya memang akan selalu mendukung, mendengar, dan juga tidak akan menghakiminya.

__ADS_1


"Punya suami kayak kamu seperti ini yang membuatku lebih sehat dan pulih lebih cepat," balas Anaya.


"Harus ... harus itu. Aku akan dukung kamu untuk sukses menyusui sampai Charel dan Charla berusia 2 tahun nanti. Semangat Mama Anaya!"


"Makasih Papa Tama," balas Anaya dengan mencuri satu kecupan di pipi suaminya itu.


Tama kemudian melirik istrinya, "Jangan cium-cium Sayang, bahaya ... peraturannya tidak boleh berhubungan selama enam minggu. Aku tergoda lagi nanti," balas Tama.


Anaya pun terkekeh geli, "Mulai lagi deh ... kamu lucu deh Mas. Jujur, candaan kamu yang kayak gini, bikin aku bahagia sih. Jadi, aku juga merasa tidak terlalu bersedih," balasnya.


Itulah suami dan istri, saling mendukung dan saling mengisi. Ada kalanya untuk menempatkan diri saling mendukung, saling mendengar, dan tidak perlu menghakimi satu sama lain.


***


Dear My Bestie,


Sembari menunggu untuk update selanjutnya, silakan mampir ke karya teman Author berikut ini yah.



Pernikahan Karena Perjodohan karya Syasyi




Dukung juga untuk karya Author lainnya yah. Mohon maaf juga, kemarin ada human eror di Bab 204. Bestie, yang ingin membaca cerita itu, bisa langsung mengikutinya di novel Author yang berjudul Muara Kasih Ibu Tunggal, yang up setiap hari di Noveltoon.


__ADS_1


Terima kasih,


Kirana^^


__ADS_2