Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Hari Pertama Sekolah Terlewati


__ADS_3

Di Taman Kanak-Kanak pagi itu, ada dua Mama muda yang menunggui anak-anaknya melewati hari pertama sekolah. Sebenarnya, mungkin Anaya bisa kembali pulang ke rumah. Akan tetapi, mengingat hari pertama sekolah adalah hari yang penting untuk Citra, maka Anaya pun memutuskan untuk menunggu di sana. Lagipula, pihak sekolah memberikan izin kepada orang tua untuk bisa menemani anak-anak sampai dua minggu saja. Setelahnya, semua anak harus ditinggal dan dilatih untuk mandiri dalam belajar.


"Citra yang sekolah, aku yang deg-degan," ucap Anaya sekarang.


Tampak Khaira yang duduk di samping Anaya pun tersenyum. "Yang sekolah anaknya, yang deg-degan Mamanya yah ... aku dulu waktu Syilla yang sekolah juga gitu. Syilla yang sekolah, aku yang deg-degan. Waktu itu, Mas Radit sampai cuti karena ingin menikmati momen pertama anak sekolah," cerita Khaira kepada Anaya.


"Pengalaman pertama nyekolahin anak kali ya Kak ... jadi rasanya deg-degan. Ini tadi juga Mas Tama mau cuti sebenarnya. Namun, banyak pekerjaan di kantornya dan ada maintanance situs perusahaan. Jadi, aku bilang Papanya bekerja saja," cerita Anaya kemudian.


"Sama ... tadi Mas Radit mau cuti, tapi ini ada laporan auditing di perusahaannya, jadi yah harus bekerja. Ya sudah, biarkan Papanya bekerja, dan Mamanya yang menunggui Shaka," balas Khaira.


Sebenarnya memang semalam Tama sudah berbicara dengan Anaya perihal keinginannya untuk cuti dan menunggui Citra di hari sekolahnya. Namun, karena banyaknya pekerjaan, Tama pun tidak bisa cuti. Anaya pun tidak keberatan. Toh, nanti ketika di rumah sudah pasti Citra juga akan bercerita panjang lebar kepada Papanya.


"Di rumah Shaka lebih dekat sama Mamanya atau Papanya?" tanya Anaya kemudian kepada Khaira.


"Shaka sih justru lebih dekat sama aku. Kalau Syilla itu anak Papa banget. Nempelan banget sama Papanya. Ya, benar yang orang katakan bahwa anak perempuan itu milik Papanya. Jadi, udah kelihatan dari kecil sama Papanya nempelan melulu. Shaka imbang sebenarnya, tapi dia banyak dekat sama Mamanya. Citra juga enggak? Lebih ke anak Papa gitu?" tanya Khaira.


Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Citra justru lebih dekat sama aku. Dari kecil. Ya, sama Papanya dekat, tapi biasanya di rumah dia itu apa-apa dikit memanggil Mama, dan juga kadang minta me time sama Mamanya," balas Anaya.


Setelahnya keduanya sama-sama tertawa. Kadang memang tingkah anak-anak di rumah terasa begitu lucu. Ada yang tipekal anak Papa, ada juga yang tipekal anak Mama. Namun, memang anak memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Itulah yang menjadi keunikan anak.


Satu jam pertama menunggui anak sekolah terlewati. Namun, menjelang di jam kedua. Ada Miss Lusi yang turun dan mencari orang tuanya Citra.


"Mamanya Citra," panggil Miss Lusi.


Anaya pun berdiri dan berjalan mendekat dengan Miss Lusi. "Ya, Miss ... ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Ini Bu ... Citra menangis. Bisa minta tolong ditenangkan dulu? Mencari Mamanya," ucap Miss Lusi.


Anaya pun turut menaiki kelas di lantai tiga dan dia melihat ada Citra yang menangis. Walau ada Arshaka yang memegangi bahunya seolah menenangkan Citra, tetapi nyatanya Citra masih menangis hingga sesegukan.


"Kenapa Nak?" tanya Anaya perlahan.


"Takut, Tante ... tidak mau maju ke depan untuk kenalan," ucap Arshaka yang seakan menjadi juru bicara untuk Citra.


Anaya pun tersenyum melihat tingkah Citra dan Arshaka di sana. Hingga kemudian Arshaka kembali berbicara kepada Anaya. "Shaka udah berteman tadi Tante ... Citranya menangis mencari Mamanya," balas Arshaka lagi.


"Makasih ya Shaka," balas Anaya.


Anak lelaki kecil itu pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Tante Anaya," balasnya.


Kemudian Anaya mengajak Citra untuk keluar dulu dan menenangkan putrinya itu. "Kenapa Citra kok nangis? Kan ada banyak teman-teman. Ada Shaka juga kan?" tanya Anaya perlahan.


"Apa yang membuat Citra takut?" tanya Anaya lagi.


"Tidak mau maju ke depan untuk kenalan dan menyanyi," jawabnya.


Kali ini Anaya tersenyum. Jawaban yang diberikan Citra terdengar lucu. Akan tetapi, memang begitulah anak-anak. Hari pertama yang sudah disiapkan baik-baik dari rumah, memberikan semangat kepada anak. Ada kalanya harapan tak sesuai dengan realita. Citra yang biasanya pintar dan percaya diri, sekarang justru menangis tersedu-sedu seperti ini.


"Kan Kak Citra pinter di rumah saja berani dan percaya diri loh. Kenapa di sekolah menangi?" tanya Anaya lagi.


"Dilihatin teman-teman," jawabnya lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi ini adalah jawaban yang lucu. Namun, ada benarnya juga jika ditatap oleh orang-orang baru bisa membuat seorang anak merasa tidak nyaman dan juga merasa tidak percaya diri. Lingkungan baru dan teman-teman yang baru. Dari 25 siswa di kelasnya, yang Citra kenal sekarang hanya Arshaka saja, mungkin itu juga yang membuat Citra menangis karena takut dan tidak percaya diri.


"Ya sudah, habis ini kembali masuk ke dalam yah. Jangan takut. Kan ada Miss-nya. Ada Shaka juga tuh yang lihatin Citra dari dalam kelas. Kalau Citra merasa malu dan tidak percaya diri, lihatin Shaka aja, temannya Citra. Oke?"


Anaya memberikan nasihat demikian kepada Citra. Jika memang merasa takut dan tidak percaya diri, Citra bisa mengalihkan pandangannya kepada orang yang sudah dia kenal. Di dalam kelas itu, ada Arshaka sebagai orang yang sudah Citra kenal.


"Iya Ma," balasnya.


Setelah tangisan Citra agak reda, kemudian Anaya mengantarkan Citra untuk masuk kembali ke dalam kelas di sana ada Shaka yang sudah berlari mendatangi Citra.


"Belajar lagi yah," ajak Shaka.


"Iya," sahut Citra dengan lirih.


"Yuk," ajak Shaka kepada Citra.


Anaya tersenyum, semoga saja Citra bisa melewati hari ini dengan baik. Setelah Citra menangis, rupanya ada beberapa siswa lainnya yang menangis dan tampak ditenangkan oleh Mamanya. Setelahnya, Anaya kembali turun ke bawah dan duduk di samping Khaira lagi.


"Kenapa Citra nya?" tanya Khaira kepada Anaya.


"Malu dia ... di minta maju ke depan untuk perkenalan dan menyanyi. Katanya dipandangi teman-temannya. Hal baru, dia belum terbiasa, dan di kelas tidak ada yang dikenal, cuma Shaka yang dikenal," balas Anaya.


"Tidak apa-apa. Banyak yang terjadi di hari pertama sekolah. Kita orang tua perlu mensupport anak dan membangkitkan semangatnya. Pelan-pelan nanti terbiasa dan bisa berteman dengan semuanya," balas Khaira.


"Benar Kak ... tidak apa-apa. Hari pertama sekolah itu memang berat, tapi setidaknya Citra sudah mencobanya."

__ADS_1


Memang begitu banyak kejadian tak terkira yang bisa terjadi di hari pertama masuk sekolah. Anak yang kehilangan kepercayaan dirinya dan juga merasa hal lainnya yang membuatnya takut.


__ADS_2