Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Tidak terasa sepekan sudah waktu bulan madu di kota Malang berakhir. Memang tempat yang mereka kunjungi hanya terbatas, tetapi kesempatan untuk memadu kasih tidak terbatas. Setiap kali ada waktu dan melihat Anaya yang tidak kecapekan, Tama siap melancarkan peperangan yang tentu adalah untuk menyemikan benih cinta dalam rahim istrinya itu.


"Kembali ke Jakarta yah," ucap Tama dengan memeluk istrinya itu.


"Hmm, iya ... lama-lama di sini tulangku bisa remuk, lepas dari sendinya," balas Anaya.


"Kamu bisa saja sih Sayang ... cuma kan enak. Usaha dan doa kan sudah kita lakukan bersama. Tinggal menunggu waktu semoga saja benih cinta kita akan tumbuh yah di sini," balas Tama.


Anaya yang mendengarkan balasan suaminya itu pun terkekeh geli di sana, "Kamu kalau ngasih siraman rohani pinter banget sih Mas ... cuman ya benar sih, nunggu benih cinta kita tumbuh. Adiknya Citra ya Mas. Mas, aku mau janji sama kamu, bahwa meskipun nanti aku hamil dan punya anak dari kamu, aku selalu sayang sama Citra. Tidak akan berkurang kasih sayangku untuk Citra," balas Anaya.


Tama mengeratkan pelukannya di sana dan mengecupi kening Anaya, "Aku sepenuhnya yakin kepadamu, Sayang ... aku yakin bahwa kasih sayangmu untuk Citra tidak akan berkurang. Hanya saja, nanti kalau punya baby kan dibagi juga perhatian dan waktunya. Jadi, tidak apa-apa. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, berdoa dulu ... dalam sepekan ini sudah menyemai benih banyak, semoga saja ada yang berenang-renang dan menemukan ovum hingga terjadi pembuahan."


"Amin," balas Anaya mengaminkan ucapan dan doa dari suaminya itu.


Setelahnya Anaya tampak mengurai pelukan suaminya di sana, "Packing yuk Mas ... kita masih harus perjalanan Malang ke Surabaya dan nanti masih terbang Surabaya ke Jakarta. Aku sudah pengen pulang, kangen sama Nak Cantik," ajaknya.


Sehingga waktu itu keduanya sama-sama melakukan packing. Oleh-oleh yang Anaya beli dari Malang berupa Apel Malang dan Keripik Apel semua dikemas dalam satu kardus tersendiri. Setelahnya, Tama melakukan cek out dan menyewa taksi online yang mau mengantarkannya ke Bandara Internasional Juanda, Surabaya.


Walau liburan dan bulan madu itu menyenangkan, tetapi bertemu dengan buah hati tercinta juga sangat dinanti oleh Tama dan Anaya. Kian cepat sampai di Jakarta, rasanya sungguh menyenangkan. Terbangun lucunya Citra, dan setiap kosakata yang sudah bisa dikuasai Citra walaupun belum sempurna untuk pengucapannya.


"Malang enak dan sejuk, di Jakarta nanti kembali panas-panas ya Sayang," bisik Tama kepada istrinya itu.


"Iya, cuma ya sudah kangen, Mas ... sudah lima hari juga. Dalam lima hari ini hanya komunikasi melalui videocall. Citra kangen enggak ya sama kita?" balas Anaya.


"Pasti kangen lah," sahut Tama.


Hingga akhirnya, mereka telah tiba di Juanda, dan Tama melakukan cek in terlebih dahulu, memasukkan koper dan kardus yang berisi oleh-oleh ke dalam bagasi pesawat, setelahnya keduanya menunggu di ruang tunggu.

__ADS_1


"Mau makan dulu sambil menunggu waktu terbang nanti?" tanya Tama kepada istrinya itu.


Terlihat Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak lapar, aku malahan udah ngantuk loh Mas," keluhnya kali ini.


Tama tersenyum, "Kamu kecapekan banget menuruti aku selama lima hari ini ya Yang? Maaf yah," balas Tama.


Jujur, Tama juga merasa kasihan dengan istrinya. Bahkan di Malang ini rasanya juga Anaya menjadi banyak mengantuk. Sehingga usai bercinta, tidak membutuhkan waktu lama Anaya bisa langsung tidur di pelukan Tama. Tama pun menyadari waktu lima hari ini benar-benar dahsyat untuk keduanya. Pernah mereka melakukan percintaan dalam sehari hingga tiga kali. Ini adalah hal yang tidak pernah mereka lakukan selama di Jakarta, bahkan selama pernikahan mereka.


"Tidak apa-apa Mas ... kan nanti di Jakarta juga enggak tiap malam juga. Aku juga butuh waktu istirahat juga, dan ngasuh Citra tentunya," balas Anaya.


"Nanti di Jakarta, mau body spa boleh Sayang ... biar aku rileks, capek-capeknya hilang, dan juga seger. Maaf banget yah," balas Tama.


"Tidak perlu minta maaf, kan kita sudah menikmatinya bersama. Tidak usah minta maaf, aku juga suka kok," aku Anaya dengan menundukkan wajahnya lantaran malu sebenarnya. Namun, bagaimana lagi jika Anaya pun begitu suka menikmati waktu lima hari ini bersama dengan Tama.


"Makasih Sayang ... nanti di Jakarta, akhir pekan kamu body spa saja. Citra biar aku asuh, aman kok," balas Tama lagi.


Hingga beberapa saat menunggu, para penumpang pun dipersilakan untuk menaiki pesawat, dan Tama berjalan dengan menggandeng istrinya itu. Selama Anaya masih kuat, Tama tidak masalah, untuk itu Tama pun berjalan pelan dan tidak terburu-buru untuk menaiki pesawat.


"Tentu boleh ... duh, kalau kamu kecapekan gini jujur deh aku merasa bersalah," aku Tama lagi.


"Mas, kalau kamu enggak capek yah? Apa, tambah seger yah?" tanya Anaya dengan tiba-tiba.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, kalau cowok malahan tambah seger, Yang ... tambah semangat, enggak ada capek-capeknya," aku Tama.


Memang begitulah pria, Tama justru merasa usai bercinta merasa kian bersemangat, hatinya lebih bahagia, dan juga justru tidak merasakan lelah sama sekali. Untuk itu, mood booster terbaiknya adalah kala mendapatkan jatah dan pemenuhan secara batin dari istrinya itu.


"Gitu ya Mas ... sistem di tubuh kita berbeda yah berarti," balas Anaya lagi.

__ADS_1


"Mungkin Sayang ... ya sudah, nanti libur seminggu dulu saja. Kamu juga kecapekan banget," balas Tama.


Hingga kemudian pesawat mengambil posisi untuk lepas landas. Terlihat Anaya melingkarkan tangannya di lengan Tama, dan sesekali kepalanya menyadar di lengan suaminya itu, melihat kota Surabaya dari udara dengan posisi pesawat yang kian naik dan naik, hingga mencari posisi yang stabil di udara.


"Takut?" tanya Tama.


Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku justru senang momen waktu terbang kayak gini. Lebih takut kalau landing malahan," balas Anaya.


Memang waktu take off dan landing itu adalah waktu krusial dalam penerbangan. Tak jarang banyak waktu yang takut dan panik kala pesawat hendak mengudara atau ketika pesawat hendak turun dan kemudian mendarat. Akan tetapi, Anaya sendiri justru takut kalau pesawat hendak landing.


"Sudah stabil ini pesawatnya, kamu boleh bobok," balas Tama.


Anaya tersenyum, dia segera mencari posisi ternyaman dengan tidur sebentar dalam rangkulan suaminya itu. Berharap nanti ketika dia terbangun, sudah waktunya untuk landing di Jakarta.


Beberapa waktu pun berlalu, dan kru kabin mulai memerintahkan supaya penumpang yang tertidur bisa bangun, menegakkan sandaran, membuka penutup jendela pesawat serta mengenakan sabuk pengaman.


"Bangun Sayangku ... sudah mau landing," ucap Tama menepuk lengan istrinya itu.


Anaya tersenyum di sana, wanita itu mengerjap dan merapikan rambutnya, hingga dia menguap sesaat, "Sudah mau landing?" tanyanya.


"Iya, Surabaya ke Jakarta kan dekat Sayang ... cuma satu jam lebih sedikit saja," balas Tama.


"Makanya kayak aja bobok, sudah landing," balas Anaya.


"Iya, sudah waktunya landing. Nih pesawatnya mulai menukik dan berputar," sahut Tama.


Benar, pesawat yang mereka tumpangi mulai berputar di udara, menurunkan ketinggiannya, menukik, dan menstabilkan posisinya. Hingga akhirnya roda-roda pesawat menyentuh tanah, dan pesawat itu melaju di tanah dengan kecepatan penuh dan Pilot yang mengendalikan pesawat mulai bisa mengurangi kecepatan. Sampailah mereka di Jakarta dengan selamat.

__ADS_1


"Welcome to Jakarta ... kembali dengan rutinitas kita," ucap Tama.


"Bulan madu sudah selesai, back to our rutinity," sahut Anaya dengan bahagia.


__ADS_2