
Malam itu pun, Dokter Gilbert memberikan izin kepada Anaya untuk bisa pulang. Rasanya begitu lega bagi Ayah Tendean dan juga untuk Tama. Kendati demikian, Dokter Gilbert tetap mewanti-wanti bahwa Anaya harus mengelola emosinya dengan baik. Saat itu pula, jarum infus yang terpasang di pembuluh darah di tangan Anaya pun sudah bisa dilepas.
"Kami akan pulang, Tama ... sebaiknya kamu juga pulang. Terima kasih karena sudah menjaga Anaya," ucap Dokter Tendean.
"Ini sudah malam, Dokter ... biar saya yang antarkan Dokter dan Anaya pulang saja," ucap Tama.
Tama memang beritikad baik. Sebab, hari memang sudah malam ... sementara bagi pria paruh baya seperti Ayah Tendean yang sudah terkena rabun jauh dan sekaligus silinder, menyetir di malam hari tentu saja berbahaya.
"Tidak usah, Tam ... merepot kamu. Lagian mobilnya Ayah ada di sini juga kok," sahut Anaya dengan cepat.
"Tidak merepotkan Aya ... lagian ini sudah terlalu malam. Menyetir di malam hari berbahaya. Biar aku antar, dan besok Tama antar Dokter ke Rumah Sakit juga," balasnya.
Menimbang-nimbang apa yang baru saja Tama ucapkan, Dokter Tendean akhirnya pun luluh juga. Dia akan mengiyakan tawaran Tama itu.
"Baiklah ... tidak apa-apa. Itu pun kalau tidak merepotkan kamu," balas Dokter Tendean pada akhirnya.
"Tidak merepotkan sama sekali kok, Dokter ... justru saya merasa senang bisa membantu Aya," balasnya.
Setelahnya, mereka bertiga menuju tempat di mana mobil Tama diparkir, kemudian Tama juga yang membukakan pintu belakang untuk Dokter Tendean dan juga Anaya. Pria itu melakukan semuanya dengan tulus dan oleh karena dorongan hatinya sendiri. Sementara Anaya dengan diam sesekali juga mencuri pandang kepada Tama. Dalam benaknya, kenapa sosok Tama yang sekarang begitu berbeda dengan Tama yang dia kenal beberapa tahun lalu. Jikalau dulu, Tama begitu dingin dan kesannya sebagai cowok yang cool, justru Tama sekarang menjadi pribadi yang hangat.
"Kami justru merepotkan kamu ya Tama?" tanya Dokter Tendean sembari Tama yang terus berkonsentrasi untuk mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Enggak ... enggak repot sama sekali, Dokter," balas Tama.
"Makasih banyak yah ... padahal saya bawa mobil malam-malam juga masih bisa. Jadi, ini justru merepotkan kamu banget. Apalagi di rumah kamu juga ada bayi. Semoga saja Citra tidak rewel yah," sahut Dokter Tendean lagi.
"Kalau Mama tidak mengirimi pesan biasanya Citra aman sih, Dok ... biasanya kan Mama selalu ngabarin kalau Citra sedang tantrum (rewel). Bersyukurnya saya ada Mama jadi kebantu banget untuk mengurus Citra. Ya, bagaimana cowok ngasuh bayi pasti sangat tidak mudah," balas Tama.
Itu adalah perkataan yang jujur. Para Ayah disuruh bekerja lebih jago, mengais Rupiah setiap hari. Akan tetapi, jika harus mengasuh anak yang masih bayi, dibutuhkan keterampilan khusus.
"Tidak apa-apa. Nanti kalau Citra sudah agak besar sudah lebih enak. Apa kamu tidak berniat menikah lagi Tama?" tanya Ayah Tendean dengan tiba-tiba.
Tama pun tersenyum, "Belum terpikirkan sampai ke sana, Dokter ... lagipula saya sudah menjadi Duda. Jarang-jarang kan orang mau sama Duda? Mana saya juga tidak kaya raya, hanya staf IT biasa. Lagian kalau pun mau pasti saya pengennya punya istri yang juga sayang sama Citra," balas Tama.
Mendengar apa yang Tama sampaikan, Anaya yang duduk di belakang turut mendengarkan dan juga sepenuhnya tahu. Bagi mereka yang sudah berstatus janda atau duda memang tidak mudah untuk menemukan pasangan. Beda, jika mereka kaya raya. Juga, Anaya setuju bahwa apa yang disampaikan Tama ada benarnya, kalaupun mau menikah tentu yang sayang sama Citra.
"Ya, kalau mau menikah lagi tidak apa-apa, kamu kan masih muda. Citra suatu saat nanti juga membutuhkan kasih sayang seorang Ibu, walau hanya Ibu sambung. Jadi, tidak apa-apa," balas Dokter Tendean.
"Hmm, entahlah Dokter," balas Tama. Kemudian Tama melirik Anaya dari kaca spion yang ada di tengah, "Aya, kamu sendiri bagaimana?"
Rasanya, Tama ingin tahu mengenai masa lalu Anaya dengan Reyhan. Sebenarnya apa yang terjadi sampai Anaya bisa sampai bereaksi histeris saat bertemu dengan pria itu. Seolah Tama ingin mengurai cerita mengenai kisah Anaya dan juga Reyhan.
"Hmm, aku seperti ini saja. Ya kan Ayah?" tanya Anaya.
__ADS_1
Sejujurnya, Anaya mencoba mengelak. Tak bisa menjawab juga apa yang harus dia sampaikan kepada Tama. Lebih baik memang Anaya memberikan jawaban yang tidak jelas saja.
"Kalau kamu membutuhkan teman cerita, aku bisa menjadi teman berbagi untukmu, Aya ... santai saja. Selama ini kita juga berbagi pengasuhan Citra, jadi kalau berbagi cerita juga tidak apa-apa," balas Tama.
Mendengar apa yang baru saja Tama sampaikan, Ayah Tendean justru tersenyum dalam hati. Pria paruh baya itu menerka apakah mungkin sudah ada rasa dari Tama dan Anaya, hanya saja rasa itu belum terucap. Haruskah Ayah Tendean yang mencari cara agar keduanya bisa menyadari perasaan keduanya masing-masing. Sebab, jika hanya berpikir dengan masa lalu dan duka, hidup seakan tidak ada habisnya. Namun, jika kita berpikir bahwa hari depan yang dilalui masih panjang, tentu kita akan berandai-andai dan berpikir untuk menggapai masa depan dengan kebahagiaan.
Tidak terasa mobil yang dikemudikan Tama sudah tiba di kediaman Ayah Tendean, pria itu pun segera turun dan juga mengucapkan salam untuk pamit kepada Ayah Tendean dan juga Anaya.
“Ya sudah, aku pamit ya Aya … saya pamit ya Dokter,” ucap Tama.
“Iya Tama … terima kasih banyak,” balas Dokter Tendean.
Dokter Tendean pun memilih untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, mungkin saja ada sesuatu yang ingin disampaikan Tama kepada Anaya. Sebagai seorang Ayah, maka Dokter Tendean pun memberikan waktu untuk keduanya.
“Istirahatlah Aya … kamu istirahat dulu saja. Kalau belum sembuh, di rumah dulu saja, tidak perlu ke sana. Kesehatanmu nomor satu,” ucap Tama.
“Iya Tama … terima kasih banyak yah. Maaf ya jadi merepotkan kamu,” balas Anaya lagi.
“Aya, apa yang barusan aku katakan benar … kita bisa saling berbagi bukan? Jangan menyimpan semuanya seorang diri. Sebab, jika kamu menyimpan semuanya sendiri suatu saat kamu bisa meledak. Urai dan bagi semuanya itu. Aku akan selalu siap mendengarkan ceritamu,” ucap Tama.
“Iya, nanti kapan-kapan aku cerita yah,” balas Anaya.
__ADS_1
Tidak sekarang … tetapi, Anaya mungkin juga akan bercerita dengan Tama perihal masa lalunya. Semoga saja, perkaranya dengan Reyhan segera selesai. Anaya hanya menunggu satu kata dari Reyhan yaitu ‘Talak’, setelahnya Anaya akan benar-benar bebas dari semua hubungan dengan pria itu.