Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Terpikir Menopause Dini


__ADS_3

Dulu, usai melahirkan dan tahu bahwa rahimnya sudah diangkat, satu hal yang terbersit di dalam benak Anaya adalah dia akan mengalami menopause. Menopause sendiri adalah fenomena berhentinya produksi hormon reproduksi perempuan sehingga menyebabkan dia tidak lagi mengalami menstruasi. Pada umumnya, menopause terjadi saat usia 45 hingga 55 tahun. Seorang wanita dikatakan mengalami menopause dini apabila sudah terjadi di usia masih kurang dari 40 tahun.


Padahal sebelumnya, Anaya pernah membaca bahwa ketika hendak menopause itu seorang wanita akan badan menjadi gerah di siang hari dan malam harinya bisa menggigil kedinginan, berkeringat saat tidur, inti sari tubuh menjadi kering, penurunan gairah seksualitas, dan juga merasa cemas. Jujur saja, ada ketakutan yang Anaya alami yaitu suaminya masih muda, jika dia sendiri sudah mengalami penurunan gairah bagaimana dengan suaminya nanti.


"Malah bengong Sayang?" tanya Tama begitu mereka sudah sampai di rumah dan juga anak-anak mereka sudah tertidur.


"Aku pikir rahimku diangkat penuh, Mas. Setahuku jika rahim diangkat secara penuh maka menstruasi akan berhenti, dan aku akan mengalami menopause dini. Rupanya Histerektomi yang dilakukan adalah parsial, masih ada indung telur dan tuba palopi. Ketika kemungkinan terburuk adalah menopause, yang aku pikirkan apa Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.


Tama menatap wajah Anaya di sana, dan menerka apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Anaya. "Apa yang kamu pikirkan Sayang?" tanya Tama kemudian.


"Yang aku pikirkan adalah kamu, Mas ... aku membaca ketika terjadi menopause seorang wanita akan mengalami penurunan gairah bercinta. Sementara kamu sendiri masih muda. Jadi, aku sangat takut tidak bisa mengimbangimu," balasnya.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Anaya, Tama menghela nafas perlahan dan kemudian menatap istrinya itu. "Aku bisa beradaptasi dengan kamu, Sayang ... aku memiliki kamu sebagai teman hidupku saja, sudah sangat bersyukur," balasnya.


"Jujur Mas ... di usia bahwa kamu sedang begitu bergairah, masak aku sudah mengalami penurunan gairah seksualitas. Aku takut tidak bisa memberikan yang sebagaimana harus aku berikan," balas Anaya.


"Aku enggak mikirin itu, Sayang ... yang aku pikirkan kamu sehat dan bisa mengurus anak-anak dengan baik. Udah itu aja," balas Tama.


"Ya, kan kesehatan reproduksi wanita itu sangat kompleks Mas ... tak jarang dalam organ reproduksi kami juga ada penyakit yang bersarang di dalamnya. Bahkan penyakit itu jika dibiarkan bisa merenggut nyawa. Pengangkatan organ reproduksi kan ada dampaknya," jelas Anaya.


Memang benar bahwa masalah reproduksi wanita itu sangat kompleks dan juga tak jarang ada penyakit pun yang ada di sekitaran organ reproduksi seperti kista, endometriosis, bahkan Plasenta Akreta juga yang dialami oleh Anaya. Untuk itu, wanita memang harus menjadi kesehatan reproduksi. Ketika ada bagian yang diambil, dan itu berpengaruh kepada kesehatan dan juga memberikan dampak di masa yang akan datang. Misalnya wanita yang mengalami kista di dekat indung telur, terpaksa harus diangkat salah satu atau kedua indung telurnya. Terkadang mereka akan mengalami kesulitan untuk hamil di masa depan. Hal ini jadi wujud nyata bahwa kesehatan reproduksi wanita itu sangat kompleks.

__ADS_1


"Ya, benar Sayang ... jadi sekarang, aku bersyukur karena setidaknya kamu tidak menopause dini," balas Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar Mas ... jujur, aku juga belum siap menghadapinya. Aku masih 26 tahun, rasanya cobaan yang kualami sudah terlalu berat."


Tama kemudian membuka kedua tangannya, mengisyaratkan kepada istrinya itu untuk bisa masuk ke dalam pelukannya. Sehingga Anaya pun beringsut dan menghambur ke dalam pelukan suaminya. Wanita itu memejamkan matanya, sembari mencerukkan wajahnya di dada suaminya, dengan dua tanganya yang melingkari area pinggang suaminya. Begitu juga dengan Tama yang mendekap erat tubuh Anaya, dan sesekali Tama menundukkan wajahnya untuk mengecup kening istrinya.


"Benar Cintaku ... yang kamu alami sudah begitu banyak. Padahal kamu masih begitu muda. Yang kuat ya Sayang ... di dalam fase hidupmu yang terberat pun, aku akan ada di sana dan menemanimu," balas Tama.


Ya, dia berjanji bahwa di fase hidup yang terberat sekalipun, Tama akan selalu bersama dengan Anaya dan juga menemaninya.Tidak akan membiarkan Anaya seorang diri. Namun, Tama akan selalu membersamai Anaya.


"Kamu yang seperti ini yang memberikanku kekuatan lebih, Mas ... jika tidak ada kamu, entahlah ... bagaimana jadinya aku," balas Anaya.


"Aku akan berusaha menjalankan peranku sebagai seorang suami yang akan menemanimu di susah dan senang, di sehat dan sakit. Jadi, aku akan selalu melakukannya Sayang."


"Makasih banyak Mas Suami," balas Anaya.


"Sama-sama My Love ...."


Menikmati tubuh yang masih sama-sama memeluk, lantas Tama menyentuh bagian lengan Anaya yang baru saja ditanam alat kontrasepsi di sana. "Sakit ini Sayang?" tanya Tama kemudian.


"Iya, linu gitu loh Mas, jadi sakit deh," balas Anaya.

__ADS_1


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Aku yang lihat saja linu Sayang ... udah, aku gak mau punya anak lagi. Sudah cukup dengan tiga anak bersama kamu. Kita rawat dan asuh sampai mereka dewasa," balas Tama.


Ya, melihat parahnya kondisi Anaya, rasanya Tama sendiri juga mengalami trauma dengan peristiwa persalinan. Rasanya tidak bisa jika sampai istrinya itu mengalami hal-hal yang begitu menyakitkan ketika bersalin. Tama sudah menetapkan hatinya bahwa sudah cukup dengan memiliki Trio C. Tidak menginginkan yang lain.


"Cuma produksi jalan terus ya Mas?" tanya Anaya dengan sedikit tawa di sana.


Tama pun tertawa dan terkekeh geli, "Iya, tidak dipungkiri kan nafkah batin itu butuh Sayang ... tapi, tidak sekarang. Sampai kamu benar-benar sembuh dulu saja. Aku masih trauma Sayang melihat kamu kesakitan dan pendarahan seperti dulu," balas Tama.


"Waktu itu kamu melihat ya Mas?" tanya Anaya.


"Ya, walau kain direntangkan cuma ya terlihat tangan para Dokter yang sarung tangannya merah, Sayang ... aku sebenarnya memiliki trauma sendiri dengan persalinan. Pertama dengan Mamanya Citra dulu sampai dia akhirnya tiada, dan yang terakhir dengan kamu sampai kamu pendarahan hebat dengan plasenta akreta dan kerusakan rahim di sana. Jadi, kayaknya aku sudah tidak sanggup deh Sayang," balas Tama.


Bukan bermaksud untuk mengenang masa lalu, tetapi Tama secara jujur mengakui bahwa dirinya mengalami trauma sendiri yang berhubungan dengan persalinan. Bagi Tama sendiri, juga lebih baik dirinya tidak lagi menghadapi pasangannya bersalin.


"Kamu juga trauma ya Mas?" tanya Anaya.


"Iya, aku mungkin akan gila jika yang terjadi benar-benar yang buruk, Sayang ... aku lihat bagaimana merahnya sarung tangan medis para Dokter itu. Semakin kalut waktu kamu dilakukan transfusi darah," balas Tama dengan menghela nafas yang terasa begitu berat.


Anaya pun tersenyum di sana, "Kamu juga harus pulih ya Mas ... kamu menguatkan aku, tapi aku justru belum menguatkan kamu," balasnya.


"Kamu sehat saja sudah menguatkan aku, Sayang," balas Tama.

__ADS_1


Itu adalah pengakuan yang jujur dari Tama bahwa ketika Anaya bisa sehat saja, rasanya dia sudah merasa kuat dan juga lebih baik lagi. Cukup dengan semuanya itu.


__ADS_2