
Selang sepekan berlalu. Tidak terasa malam ini menjadi malam yang begitu sibuk untuk Anaya, Tama, dan juga Citra. Itu semua karena keesokan harinya, akan menjadi hari pertama Citra pergi ke sekolah. Sehingga malam hari ini, Anaya menemani Citra untuk mempersiapkan tas sekolahnya.
Bahkan Citra secara memilih tas dengan warna pink dengan gambar kartun kesukaannya yaitu Little Pony khususnya Pinky Pie. Kuda pony berwarna pink yang gemar membuat kue pie itu. Bukan hanya tasnya, tempat pensil, hingga kotak bekal pun Citra memilih dari kartun serupa.
"Besok Kak Citra bangun lebih pagi yah. Kan besok hari pertama masuk ke sekolah," ucap Anaya kepada putri sulungnya itu.
"Iya Mama. Besok sudah memakai seragam ya Ma?" tanya Citra kepada Mamanya.
Jujur saja, untuk Citra sendiri memakai seragam sekolah merupakan pengalaman menyenangkan untuknya. Jika biasanya dia hanya melihat anak sekolah di kartun atau YouTube, esok hari Citra akan mengalaminya sendiri.
Mama Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Benar Sayang, memakai seragam putih biru ini," balas Mama Anaya.
"Citra suka memakai seragam, Ma," balasnya.
"Kenapa Citra suka memakai seragam?" tanya Anaya kepada putrinya. Sekali lagi ini adalah pertanyaan stimulasi supaya anak bisa mengungkapkan perasaannya. Bisa mengungkapkan emosi yang sekarang ini dia rasakan.
"Iya, seragamnya bagus, Ma. Seperti di film anak yang sering Citra lihat," balasnya.
Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Benar Kak Citra. Jadi, menurut Kak Citra, kira-kira besok di sekolah Kak Citra akan melakukan apa saja?" tanya Anaya kepada putrinya lagi.
Sekarang Citra tampak tengah berpikir. Dia pun mencoba menebak kegiatan apa saja yang akan dia lakukan di sekolah besok.
"Berkenalan dengan Miss atau guru dan teman-teman?"
"Ya, good. Benar, Nak. Apa lagi?" Anaya kembali bertanya kepada Citra. Setidaknya supaya besok Citra bisa bersiap dengan kegiatan hari pertama di sekolahnya.
"Menyanyi, dan mewarnai mungkin, Ma," jawab Citra kemudian.
"Citra bisa bermain juga loh waktu istirahat. Jadi, waktu istirahat gunakan untuk bermain yah, kenalan dengan teman-teman yang baru," balas Anaya.
Tampak sekarang Citra menganggukkan kepalanya. "Baik, Ma. Sekarang Citra bobok ya Ma ... besok minta tolong bangunin Citra lebih pagi ya, Ma," pintanya.
Anaya pun menganggukkan kepalanya. Dia segera menemani Citra hingga dia tertidur. Setidaknya satu malam sebelum sekolah, Anaya sudah menaruhkan keterangan dan informasi kepada Citra perihal sekolah itu bagaimana. Sehingga besok Citra sudah bisa berimajinasi dan harapan Anaya, Citra akan belajar berteman, belajar bersosialisasi.
***
__ADS_1
Keesokan Harinya ....
Pagi hari pun tiba. Sejak pagi Anaya sudah membangunkan Citra, memandikan putrinya itu, dan sekarang Citra sudah rapi mengenakan seragam Biru dan Putih sebagai seragam di hari Senin dan Selasa. Terlihat Citra beberapa kali tersenyum ketika turut sarapan dengan Mama dan Papanya.
"Siap untuk sekolah hari ini?" tanya Papa Tama kepada Citra.
"Iya Papa, siap," balasnya.
"Good job. Selamat belajar dan berteman ya Putrinya Papa. Jangan takut," pesan Tama kepada Citra sekarang.
Tama pun mengharapkan bahwa Citra bisa beradaptasi dengan baik di sekolahnya. Terutama juga Citra akan belajar untuk berteman. Supaya kompetensi sosialnya juga berkembang.
"Selesaikan sarapannya yah, habis ini Papa anter Citra ke sekolah yah," ucap Papa Tama.
"Citra sendirian, Pa?" tanyanya lagi.
"Itu sama Mama. Namun, Mama menunggu di luar kelas. Nanti Charel dan Charla dititipkan ke Oma Dian dulu sampai Citra selesai sekolah," balas Papa Tama.
Hari pertama sekolah adalah momen berharga untuk anak. Kali pertama dia akan belajar hal yang baru mulai dari mengenal guru itu siapa, pelajaran itu seperti apa, berteman itu bagaimana, harus ke toilet ketika tidak ada Mama dan Papa harus bagaimana, dan sebagainya. Untuk mengabadikan momen berharga ini, Anaya memilih untuk menemani Citra di hari pertamanya ke sekolah.
Hingga akhirnya mereka berangkat mengantar Citra ke sekolah. Sebelumnya, Anaya menitipkan Charel dan Charla di rumah Omanya. Sepanjang perjalanan juga Citra tampak senang dan tidak tantrum. Sehingga Anaya dan Tama juga berharap bahwa putrinya bisa melewati hari pertama sekolah dengan baik.
Sampai pada akhirnya, Papa Tama menurunkan Anaya dan Citra di depan gerbang sekolah PAUD Bintang Bangsa. "Selamat sekolah hari pertama Putrinya Papa. Semangat belajarnya yah. Semoga hari ini menyenangkan," ucap sang Papa kepada Citra.
"Makasih Papa, I Love U," balas Citra dengan mengecup pipi Papanya.
Pun dengan Tama yang mengecup pipi Citra. Jujur saja, melihat Anaya dan Citra turun dari mobil, mata Tama memerah dan tampak berkaca-kaca. Rasanya baru kemarin Citra terlahir ke dunia dan menjadi piatu ketika dia lahir. Sekarang, putri kecilnya sudah sekolah. Dada Tama merasa bergetar dan bangga tentunya dengan Citra.
"Bye Papa!"
Citra dan Anaya melambaikan tangannya kepada Papa Tama yang akan bekerja. Begitu sudah menjalankan mobilnya, Tama menitikkan air matanya. Merasa terharu sekarang.
"Yuk, kita naik yuk. Ke lantai dua," ajak Anaya kepada Citra.
"Iya, Ma," jawab Citra sembari mengikuti Mamanya naik menuju ke lantai dua.
__ADS_1
Begitu datang, anak-anak disambut oleh tiga guru yang akan mereka panggil dengan sebutan Miss. Ada Miss Debby, Miss Lusi, dan juga Miss Dina.
"Halo, selamat pagi. Namanya siapa ini?" sapa Miss Debby kepada Citra.
"Namaku Citra, Miss," jawabnya.
"Citra ... namanya bagus yah. Citra boleh main dulu, nanti kalau bel kelas berbunyi baru mengikuti Miss Lusi ke lantai tiga yah. Kelas TK A di lantai tiga," jelas Miss Debby.
Citra pun menganggukkan kepalanya perlahan. Di sana, Citra memilih duduk bersama Mamanya, hingga datanglah Mama Khaira dan Arshaka pagi itu.
"Hei, Citra sudah datang duluan?" sapa Mama Khaira kepada Citra.
"Iya Tante," balas Citra sembari menganggukkan kepalanya.
"Wah, Shaka sudah siap sekolah?" tanya Anaya kemudian kepada Arshaka.
Tampak anak laki-laki kecil yang berwajah tampan itu menganggukkan kepalanya. "Iya, Tante Anaya. Harus siap dan semangat kata Kak Syilla," jawabnya.
"Semalam diberitahu Kakaknya supaya siap dan semangat sekolah," cerita Khaira kepada Anaya.
"Benar Kak. Harus siap dan semangat. Keren yah Kak Syilla bisa memberitahu adiknya," balas Anaya.
"Iya, mereka akrab. Ya, walau kakak adik kadang berantem. Cuma kalau sudah akur itu lucu banget. Gemes banget," balas Khaira.
"Nanti berteman sama Citra yah Shaka?" Sekarang Anaya berbicara kepada Arshaka, menawarkan supaya mau berteman dengan Citra putrinya.
Arshaka pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Tante Anaya ... kan memang Shaka dan Citra berteman. Omanya Shaka menjadi Omanya Citra juga," jawab Arshaka.
Yang dimaksud Oma oleh Arshaka juga adalah Oma Dianti yang sekarang juga menjadi Omanya Citra. Dalam pikiran Arshaka, dia dan Citra juga sudah bertemu beberapa kali, jadi pastilah keduanya adalah teman. Arshaka pun sudah menganggap Citra adalah temannya.
Hingga akhirnya bel kelas pun berbunyi. Ada Miss Lusi yang mengajak anak-anak kelas TK A untuk mengikutinya ke lantai tiga. Arshaka dan Citra pun melambaikan tangannya kepada Mama-Mamanya. Sementara Anaya dan Khaira menunggu di lantai dua.
"Semoga hari pertama Citra sekolah berjalan lancar," ucap Anaya.
Khaira pun tersenyum. "Itu juga doaku, semoga hari pertama sekolah Shaka juga berjalan lancar," balasnya.
__ADS_1
Kedua Mama muda itu menunggu di bawah dan berharap bahwa putra-putrinya bisa mengikuti sekolah hari pertama ini dengan baik dan semangat. Selain itu, Anaya berharap Citra bisa beradaptasi dan tidak takut. Sebab, di hari pertama sekolah semua hal bisa terjadi bukan?