
“Kamu ada yang dibeli enggak, Ay? Sekalian saja,” ucap Tama.
Mumpung berada di supermarket, jika Anaya ingin membeli sesuatu bisa sekalian saja. Daripada Anaya juga harus balik lagi ke supermarket lagi. Sekalian membeli keperluan pribadi, tidak ada salahnya bukan.
“Enggak … semua masih ada di rumah kok,” balas Anaya.
“Camilan, coklat, atau minuman, ambil saja,” ucap Tama lagi. Pria itu menawarkan camilan, coklat, atau minuman yang bisa dibeli oleh Anaya.
“Apa yah? Camilan di rumah juga masih banyak deh … lagian snack-snack gini aku juga enggak begitu suka, nanti ASI aku bisa kebanyakan MSG-nya loh,” candanya.
Jujur, itu hanya candaan saja. Namun, dari candaan itu Tama dan Anaya justru sama-sama tertawa. Menurut Tama, Anaya justru bisa lebih rileks, tidak terlalu murung, dan bahkan sudah bisa bercanda. Perubahan sikap ini berbeda jauh dengan Anaya enam bulan yang lalu yang murung, berwajah sendu, dan juga lebih banyak diam.
“Kamu bisa saja sih, Ay … kalau banyak MSG-nya, berarti anakku jadi anak micin sejak bayi dong yah,” balas Tama.
Lagi-lagi Anaya terkekeh geli karenanya. Di mata Anaya sendiri, dalam enam bulan juga banyak yang berubah dari sosok Tama. Pria itu terlihat lebih bisa mengelola emosinya. Walaupun Anaya pun tahu bahwa rasa berduka itu masih saja tumbuh dengan sendirinya. Namun, Anaya yakin waktu dan juga keberadaan Citra yang bisa menguatkan Tama selama ini.
“Udah dong … malahan bercanda. Yuk, masih ada lagi enggak yang dibeli?” tanya Anaya.
Tama masih tertawa dan menengok ke troli belanjaannya, kemudian mulai mengecek satu per satu barang belanjaan mereka, “Kelihatannya sudah semua deh, Ay … kita ke kasir yuk,” ajaknya.
“Eh, bentar … aku ke sana sebentar yah. Kamu ke kasir duluan enggak apa-apa, nanti aku nyusul,” balas Anaya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, dan mendorong troli belanjaannya ke kasir, “Iya … jangan ngilang yah,” balasnya sembari melambaikan tangannya kepada Anaya.
“Aman,” sahut Anaya dengan singkat.
Rupanya tanpa sepengetahuan Tama, kini Anaya menuju ke berbagai perlengkapan untuk bayi. Wanita itu melihat aneka dodot untuk bayi keluaran terbaru dan melihat peralatan untuk MPASI. Rasanya, Anaya ingin membelikan dodot dengan karakter Minnie Mouse dan berwarna pink itu untuk Citra. Tidak hanya itu, Anaya juga membeli set peralatan makan untuk bayi. Rasanya, Anaya juga ingin andil pada proses MPASI pertama Citra.
Buru-buru Anaya membayarnya dan meminta kepada petugas di kasir untuk membungkuskannya. Hadiah kecil darinya untuk Citra. Kemudian, Anaya sudah menunggu di luar bagian kasir, menunggu Tama yang masih mengantri.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Tama yang hanya menggerakkan mulutnya saja tanpa mengeluarkan suara.
Ada anggukan kecil dari Anaya, wanita itu mengangkat paper bag miliknya dan memperlihatkannya kepada Tama. Sembari Anaya menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk tanda 'Oke'.
Hingga giliran Tama membayar, Anaya juga membantu Tama mengeluarkan berbagai barang belanjaan itu dan kasir men-scan harganya dan memasukkan ke dalam kantong plastik.
"Justru kamu duluan yang dapat," ucap Tama.
"Iya, kepikiran beli sesuatu," jawab Anaya.
"Kenapa enggak sekalian saja? Biar aku yang bayar," sahut Tama.
"Jangan dong ... untuk ini aku pengen beli sendiri. Kalau martabak kamu yang beliin tidak masalah," balas Anaya.
Beberapa menit di kasir, sampai semua barang belanjaan di-scan dan dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik, kemudian Tama mengeluarkan debit card miliknya dan membayar semua belanjaan itu.
"Aku titipkan dulu ya, Ay ... ikut aku lagi sebentar yah," ajak Tama lagi.
"Mau kemana lagi?" tanya Anaya lagi dengan bingung.
"Makan dulu ... kamu mau makan apa? Mumpung di sini pilihan makanannya banyak," sahut Tama.
"Apa yah ... aku juga bingung," ucap Anaya yang masih berjalan mengekori Tama dan melihat aneka restoran yang berada di mall itu.
Pilihan makanan di tempat itu juga banyak. Makanan khas Jepang, makanan Indonesia, sampai menu western pun ada. Sehingga, memang banyak yang bisa mereka pilih.
"Ramen?" tanya Tama kemudian.
Entah, kenapa makanan itu yang terlintas di benak Tama. Apakah ada sesuatu yang diingat oleh Tama berkaitan dengan Mie Ramen itu? Sehingga kali ini, Tama mengajak Anaya untuk memakan Ramen bersama.
__ADS_1
"Hmm, ramen yah?" tanya Anaya. Wanita itu menghela nafasnya, dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan samar, "Oke boleh deh," balasnya. Jawaban yang diberikan dengan tidak yakin sebenarnya, tetapi Anaya hanya mengikuti saja Tama. Memakan Ramen pun juga tidak masalah untuknya, karena Anaya juga menyukai makanan berkuah lezat itu. Apalagi dengan telor dengan tingkat kematangan yang tidak begitu matang.
"Yakin, mau? Atau kamu yang memilih juga tidak apa-apa kok?" tanya Tama.
"Iya, enggak apa-apa," balas Anaya.
Kemudian keduanya menuju kedai ramen yang ada di lantai tiga. Anaya memilih Tori Tan Tan-Men, sementara Tama memilih Tori Miso-Men. Untuk minuman keduanya memilih Es Teh yang segar saja.
"Dulu, bukannya kamu tidak suka makan Ramen yah?" tanya Anaya dengan berusaha bersikap senetral mungkin.
"Oh, dulu yah ... cuma itu kan dulu banget," balas Tama dengan menganggukkan kepalanya perlahan.
Anaya pun tersenyum, ya mungkin orang memang bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Sebab, dulu Tama selalu mengeluh ketika Anaya mengajaknya makan Ramen. Padahal, Anaya begitu menyukai makanan khas Jepang itu.
Tidak menunggu lama, dua mangkok Ramen pun tersaji di padahal mereka. Anaya tersenyum sembari mencium aroma Ramen yang memang harum itu. Kemudian dia membuka sumpit dan hendak memakannya. Tidak menyangka, Tama justru memberikan telor di Ramen miliknya ke dalam mangkok milik Anaya.
"Buat kamu ... aku suka telor yang kuningnya tidak terlalu matang seperti ini," ucapnya.
Anaya kian bertanya-tanya, kenapa juga sampai Tama ingat bahwa dia menyukai telor dengan kematangan seperti ini. Anaya hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Makasih," balasnya.
Tama menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu menikmati semangkuk Ramen miliknya. Sesekali dia mengamati Anaya yang begitu lihai menggunakan sumpit untuk menghambil Ramen itu. Bahkan Anaya juga terlihat sangat menikmati Ramen miliknya. Kepulan uap dari kuah Ramen sampai mengenai wajah Anaya yang sedang sedikit menunduk dan memakan habis Ramen itu.
"Mau tambah lagi Ay?" tanya Tama.
"Eh, enggak ... udah ... ini sudah kenyang banget," balas Anaya. Itu adalah jawaban yang jujur karena memang hanya memakan semangkuk Ramen saja rasanya sudah membuat Anaya begitu kenyang. Apakah itu karena dia sungkan atau nyaman karena menikmati makanan kesukaannya bersama dengan Mas Duda Muda itu.
"Tambah lagi juga tidak apa-apa kok," balasnya. "Kayaknya aku bakalan ngajak kamu makan Ramen lebih sering deh, biar selera makan aku bertambah. Lihat kamu makan dengan lahap, Ramenku juga habis," lanjut Tama lagi.
__ADS_1
Sementara Anaya yang mendengarkan ucapan Anaya memilih untuk tidak merespons banyak. Sebab, bagaimana pun ada pembatas yang sangat dalam antara dirinya dengan Tama. Lebih baik, Anaya fokus dengan hidupnya hari ini saja. Ya, merangkai masa depan pun rasanya Anaya begitu enggak. Sebab, masa depan tak ayal hanya sebuah fatamorgana saja untuknya. Lebih baik hidup di hari ini dan menjalani hari ini saja.