Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Permintaan Talak


__ADS_3

Baru beberapa waktu lamanya, Anaya berdiam di dalam kamar dengan lampu yang masih dia padamkan. Rupanya terdengar ketukan pintu dari luar. Anaya menghela nafas yang rasanya begitu berat, kemudian dia sedikit berteriak, bertanya siapakah yang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa?" tanya Anaya.


"Ayah ... ini Ayah, Aya ... tolong bukakan pintu sebentar," ucap Ayah Tendean.


Anaya pun beranjak dari tempat tidurnya, dan kemudian membukakan pintu bagi Ayahnya, setelah sebelumnya Anaya hanya menyalakan lampu yang berada di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidurnya saja.


"Aya, Ayah ingin bicara sebentar ... tadi Reyhan sudah menjelaskan semuanya kepada Ayah. Dia bilang kepergiannya ke Singapura tidak disengaja, tetapi memang ada projek di sana dan orang tuanya sakit. Sehingga Reyhan kembali ke Singapura sekaligus untuk mengurus orang tuanya yang sakit. Kali ini Reyhan meminta maaf untuk semuanya dan sekaligus dia ingin meresmikan pernikahan kalian berdua secara syah di mata negara. Mencatatkan pernikahan di bawah tangan kalian berdua," jelas Ayah Tendean.


Sebab, begitu prosedur pernikahan di bawah tangan. Pengantin bisa mencatatkan pernikahan mereka tanpa harus melakukan ijab kabul lagi. Pencatatan bisa dilakukan di Kantor Urusan Agama terdekat. Adapun dokumen yang perlu dilampirkan adalah Surat keterangan dari KUA setempat bahwa pernikahan belum dicatatkan, Surat keterangan dari kepala desa atau lurah setempat yang menerangkan bahwa pemohon telah menikah, fotokopi KTP pemohon isbat (pengesahan) nikah, dan tentunya membayar biaya perkara.


"Aya tidak ingin bersatu lagi dengan Rey, Yah ...."


Agaknya keputusan ini sudah bulat. Anaya tidak ingin membina rumah tangga dengan pria yang dia benci seumur hidupnya. Kembali bersama Reyhan yang ada justru akan membuat Anaya kembali jatuh terperangkap dalam lubang yang dalam.


"Terserah kamu saja, Anaya ... semua keputusan Ayah kembalikan kepada kamu," ucap Ayah Tendean.


Merasa bahwa putrinya sudah dewasa, maka Ayah Tendean pun mengembalikan semua keputusan kepada Anaya. Lagipula, yang tahu yang baik untuk Anaya tentu adalah Anaya sendiri. Ayah Tendean hanya berusaha menyampaikan apa yang telah terjadi pada Reyhan. Sebab, sudah pasti Anaya tidak akan mau untuk mendengarkan semua itu.


"Reyhan masih menunggumu di bawah. Dia bersikeras tidak akan pergi dan akan tinggal di sini sampai kamu memaafkan dia. Temuilah dia barang untuk sejenak," ucap Ayah Tendean.


Anaya menghela nafas, kinerja paru-parunya dalam memompa udara dan mengalirkannya ke seluruh tubuh rasanya begitu berat dan sesak. Terlebih saat mengetahui bahwa Reyhan masih berada di bawah, dan pria itu juga bersikeras tidak akan pergi dari kediaman Anaya. Sungguh, Anaya menjadi sebal sekali dengan kelakuan pria itu.


"Kenapa Ayah tidak mengusirnya saja?" tanya Anaya.

__ADS_1


"Sudah, hanya saja dia masih bersikeras di sini ... dia menunggumu, Ay," jawab Ayah Tendean.


Anaya menyeka air mata yang masih meninggalkan jejak di wajahnya dan kemudian Anaya kembali menatap ke Ayahnya.


"Boleh Anaya menemuinya sebentar?" tanyanya.


"Boleh," jawab Ayah Tendean. "Perlu Ayah temani?" tanyanya lagi.


"Iya Ayah ... temani Aya. Aya takut jika saja Reyhan akan memperlakukan Anaya dengan buruk," jawabnya.


Sekadar untuk berjaga-jaga tidak ada salahnya bukan? Sehingga jika ada Ayahnya akan jauh lebih baik.


Dengan langkah gontai dan dada bergemuruh, Anaya kembali turun ke bawah dan hendak menemui Reyhan. Bukan hendak menerima permintaan maaf dari pria itu, tetapi karena Anaya harus menyampaikan keinginannya. Anaya harus mengatakan niat hatinya yang sesungguhnya.


"Ana," suara Reyhan ketika melihat Anaya yang turun dari anak tangga. "Akhirnya kamu turun, Ana ... apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya pria itu yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak ... aku tidak akan memaafkan kamu, Rey. Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku tidak pernah bisa termaafkan," sahut Anaya.


"Kita bisa mulai lagi dari awal, Ana ... aku akan meresmikan pernikahan kita. Mencatatkannya secara sipil," ucap Reyhan lagi.


Dengan cepat Anaya menolaknya, "Aku tidak membutuhkan pernikahan darimu, Rey ... aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama pria bejat sepertimu. Lebih baik aku hidup sendiri," ucap Anaya.


"Berikan aku kesempatan sekali lagi, Ana ... aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar sudah berubah. Aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku janji," ucap Reyhan.


Akan tetapi, Anaya justru mendengkus disertai dengan tawa yang tertahan, "Tidak perlu berjanji untuk suatu hal yang tidak akan pernah kamu tepati. Lagipula, pernikahan jika dalam enam bulan tidak ada komunikasi, itu artinya sudah berakhir, Rey ... sekarang lebih baik ... jatuhkan saja talak atasku, Rey!"

__ADS_1


Dengan menguatkan sepenuh dirinya, Anaya pun mengucapkan supaya Reyhan benar-benar melepaskannya dari pernikahan ini. Lagipula, dari awal pernikahan ini hanya bentuk pertanggung jawaban Reyhan karena telah merenggut kehormatan Anaya. Namun, pada kenyataannya pria bernama Reyhan tidak pernah melakukan tanggung jawabnya baik sebagai seorang suami atau sebagai seorang Ayah. Reyhan tidak tahu bagaimana nasib bayinya. Tidak ada uluran tangan sang Ayah saat bayi kecilnya dikebumikan. Mengingat semua itu, lagi-lagi membuat Anaya begitu sesak.


"No, tidak ... tidak akan, Ana. Kali ini aku tidak akan melakukan hal buruk lagi. Aku akan menebus semua dosa-dosaku. Please, Ana ... jangan berbicara talak di sini karena dalam hatiku akan masih menganggap kamu sebagai istriku," balas Reyhan.


"Istri apa Rey? Istri yang kamu nikahi di bawah tangan dan kemudian kamu tinggal pergi begitu saja. Tidak ada wujud tanggung jawabmu sebagai seorang suami dan sebagai seorang Ayah!"


Kali ini Anaya berteriak. Rasanya sudah tidak bisa lagi segala amarah yang berkecamuk dan bersarang di dadanya. Sementara Ayah Tendean yang berdiri di belakang Anaya, tahu dengan pasti bagaimana hancurnya putrinya itu. Teriak Anaya syarat dengan amarah, penyesalan, kerapuhan, dan ketidakberdayaan.


Mendengar apa yang dikatakan Anaya terkait tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah, Reyhan benar-benar tercekat. Jadi, selama kepergiannya, Anaya benar-benar hamil dan melahirkan seorang anak. Dia pikir, kala itu Anaya mengaku hamil hanya untuk mendapatkan pertanggung jawaban darinya. Dia pikir, Anaya hanya sekadar mengaku hamil hanya untuk dinikahi olehnya. Sekarang, setelah mengetahui semuanya, wajah Reyhan pun memerah. Pria itu menggelengkan kepalanya seakan tak percaya.


"Ayah? Jadi, aku punya anak, Ana? Di mana ... di mana anakku? Di mana anak kita, Ana?" tanya Reyhan.


Ditanya mengenai keberadaan anaknya, tangisan Anaya benar-benar pecah. Ya, ada masa di mana Anaya merutuki hari kepergian bayi kecilnya. Ada masa di mana Anaya menyalahkan Reyhan untuk semua yang sudah terjadi.


Tangisan Anaya yang pecah, tubuh wanita itu yang bergetar dan merintih pilu, akhirnya Ayah Tendean segera maju dan merangkul Anaya.


"Sudah Aya ... sudah, jika tidak kuat jangan diteruskan," ucap Ayah Tendean.


"Dia bertanya di mananya anaknya, sementara dia sendiri meragukan keberadaannya anaknya, Ayah. Anak yang tidak bisa Anaya rawat, karena Tuhan lebih sayang padanya. Anak yang tidak pernah mendengar suara Ayahnya, merasakan dekap hangat Ayahnya, bahkan tidak ada uluran tangan Ayahnya untuk mengebumikannya," teriak Anaya lagi.


Tangisan, isakan, dan raungan Anaya tumpah semuanya. Baru kali ini, Anaya mengatakan semuanya di hadapan Reyhan. Reyhan yang mendengarkan ucapan Anaya pun merasa sangat bersalah. Keraguannya justru membuatnya kehilangan bayinya. Keraguannya kepada kehamilan Anaya justru membuatnya tidak pernah bisa memberikan kasih sayang sebagai seorang Ayah.


Anaya menangis ... Anaya tersedu-sedan dalam isakan demi isakan. Tangan memukuli dadanya sendiri yang rasanya begitu sesak.


"Semuanya karena dia, Ayah ... semua petaka ini karena Dia!"

__ADS_1


Air mata yang tumpah ruah membanjiri mata hingga wajahnya, kesesakan yang selama ini tertahan akhirnya diungkapkan juga. Untuk semua alasan inilah, Anaya meminta Reyhan untuk menjatuhkan talak atasnya.


__ADS_2