Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Flight Cancelled?


__ADS_3

Apa yang terjadi di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta semuanya dilihat dengan jelas oleh Ayah Tendean. Dalam hatinya, Ayah Tendean mengapresiasi keberanian Tama yang berani mengalahkan keraguannya dan mengatakan isi hatinya secara jujur kepada Anaya. Bagi Ayah Tendean, sebenarnya dia hanya membutuhkan sosok pria yang bertanggung jawab. Bagi Ayah Tendean status atau kedudukan pria yang hendak mengambil Anaya sebagai pasangannya tidak menjadi masalah. Yang penting adalah tanggung jawabnya.


Seorang pria dipercaya karena tanggung jawabnya untuk berani melangkah ke depan, tanggung jawab untuk menghidupi dan menafkahi istri, dan tanggung jawab untuk melakukan semua hal yang baik untuk menjaga rumah tangga. Predikat duda beranak satu yang disandang Tama pun bukan masalah besar bagi Ayah Tendean.


Pria paruh baya itu tersenyum dan berdehem mendekati Anaya, Tama, dan juga Citra.


"Ehem, jadi bagaimana Aya?" tanya sang Ayah.


"Ayah, bolehlah Anaya?"


Pertanyaan dari Anaya pun terdengar menggantung. Namun, memang Anaya yakin tanpa dia mengucapkan semuanya, Ayahnya terlebih dahulu sudah tahu. Untuk itu, Anaya kali ini menanyakan hal tersebut kepada Ayahnya terlebih dahulu.


Ayah Tendean menganggukkan kepalanya dan kemudian balas merangkul Anaya, "Tentu, Aya ... untuk kebahagiaanmu," balas Ayah Tendean.


"Dokter, maafkan Tama sebelumnya. Bukannya Tama gegabah, tetapi Tama sudah berpikir dari jauh-jauh hari, dan sekarang baru Tama berani mengatakannya. Jadi, bolehkah Tama menikahi Anaya?"


Terlihat jelas bahwa Tama adalah pria yang bernyali besar. Dia bahkan sekarang berbicara secara langsung kepada Ayah Tendean. Semoga saja Ayah Tendean juga akan memberikan restu kepadanya.


"Kamu bisa membahagiakan Anaya?" tanya Ayah Tendean.


"Saya akan berusaha untuk selalu membahagiakan Anaya," balas Tama.


"Kamu bisa menjaga Anaya?" tanya Ayah Tendean lagi.


"Saya akan berusaha untuk selalu menjaga Anaya," balas Tama.


"Kamu bisa berjanji tak akan menyakitinya?" tanya Ayah Tendean lagi.


"Ya, saya berjanji tak akan menyakitinya," balas Tama dengan yakin.

__ADS_1


Dari jawaban yang Tama berikan, untuk membahagiakan dan menjaga Anaya, Tama akan selalu berusaha. Kebahagiaan dan menjaga tidak bisa diukur hanya dalam waktu satu hari. Untuk itu, perlu waktu yang lama bagi Tama. Namun, Tama akan terus berusaha menghadirkan kebahagiaan untuk Anaya.


"Jagalah Anaya, karena Ayah yakin bahwa kamu bisa membahagiakan, menjaga, dan tidak akan menyakitinya," balas Ayah Tendean.


Ah, rasanya Tama begitu lega sekarang ini. Bukan hanya Anaya yang mengiyakan, tetapi juga Ayah Tendean yang memberikan lampu hijau. Kini tinggal menunggu kesiapan hati Anaya saja untuk dia nikahi dengan secepatnya.


"Terima kasih, Dokter ... Tama akan melakukannya," balasnya.


Kini Tama kembali menatap Anaya, "Ay, jadi ... sekarang kamu tidak akan pergi ke Amerika kan?" tanya Tama.


Walau Anaya sudah menjawab dan Ayah Tendean sudah memberikan lampu hijau, tetapi Tama masih takut jika Anaya masih harus pergi ke Amerika. Rasanya Tama tidak bisa menerima jika Anaya harus pergi ke Amerika.


"Maumu bagaimana Tam?" tanya Anaya.


"Tinggallah di sini, Aya ... temani aku dan Citra," pinta Tama.


"Aku sudah terlanjur membeli tiket, Tam," balas Anaya dengan menunjukkan tiket yang memang sudah dia beli dengan aplikasi digital penjual tiket itu.


Di satu sisi Tama tahu bahwa tiket Jakarta ke New York itu begitu mahal. Kali ini, Tama pun siap mengganti rugi asalkan Anaya tetap di sisinya. Ini adalah salah satu upaya Tama untuk menahan Anaya.


"Tidak bisakah kamu menungguku untuk dua tahun, Tam?" tanya Anaya kepada Tama.


Lagi, dada Tama menjadi sesak rasanya. Mungkinkah bahwa ungkapan cinta dan lamarannya tidak akan menghentikan kepergian Anaya ke New York?


"Jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, baiklah Anaya. Aku akan menunggu," balas Tama.


Bukannya Tama menyerah begitu saja, tetapi Tama sepenuhnya tahu bahwa Anaya pun adalah seorang wanita yang berkemauan keras. Menghentikan seorang Anaya tidak mudah. Untuk itu, mungkin memang Anaya tetap akan pergi.


"Aku bisa menunggumu untuk dua tahun, Ay ... hanya saja mampukah kamu dan Citra melewatkan momen emas pertumbuhan Citra?" balas Tama.

__ADS_1


"Aku Papanya, yang mengukirnya sejak dalam kandungan, tetapi kata pertamanya adalah "mama," aku sangat yakin bahwa mama yang barusan disebut oleh Citra adalah kamu," balas Tama.


"Jadi, bagaimana Aya?" tanya Tama kali ini.


Tidak langsung menjawab, Anaya justru bertanya kepada Ayahnya terlebih dahulu. "Ayah, bagaimana ini? Bolehkah Anaya membatalkan penerbangan kali ini?" tanya Anaya.


"Tanyakan pada hatimu sendiri, Aya," balas Ayah Tendean.


Bukan menjawab langsung, nyatanya Ayah Tendean juga meminta kepada Anaya untuk bertanya pada hatinya terlebih dahulu. Sebab, apa yang dimaui oleh Anaya, pasti hati Anaya sudah tahu jauh lebih dulu.


"Baiklah, aku akan menggagalkan penerbanganku," balas Anaya pada akhirnya.


Benar-benar lega rasanya hati Tama. Jodoh sudah di depan mata, kepergian Anaya ke New York pun batal sudah. Kini Tama siap membawa pulang kembali Anaya dan Ayah Tendean. Selebihnya masih banyak yang perlu mereka diskusikan bersama. Apakah Anaya ingin langsung menikah atau tidak, selain itu Tama juga perlu tahu apakah talak dari Reyhan sudah diucapkan. Jikalau sudah, tentu Tama akan menunggu sampai masa iddah selesai.


"Baiklah, Ay... kita pulang kembali ke rumahmu yah. Lega rasanya. Yeay, Mama Anaya akan tetap bersama kita Sayang," ucap Tama dengan mencium kening Citra.


Inilah yang Tama harapkan untuk menahan Anaya tetap di sisinya. Sekarang keinginan Tama hanya satu yaitu bisa sesegera mungkin menghalali Anaya dalam ikatan pernikahan yang dah di mata agama dan negara.


"Perlu Ayah yang menyetir mobilnya?" tanya Ayah Tendean. Setidaknya Ayah Tendean pun ingin memberikan waktu kepada Anaya dan Tama untuk bersama. Mereka masih sama-sama muda, sehingga memang memerlukan waktu berdua.


"Eh, tidak perlu Dokter. Tama yang akan menyetirnya," balas Tama dengan cepat.


Bagaimana pun juga Tama akan mengemudikan mobilnya. Tidak akan merepotkan calon Ayah mertuanya. Lagipula Tama tahu, bahwa waktunya bersama Anaya nanti masih sangat panjang. Jadi, memang tidak perlu terburu-buru. Semuanya bisa dijalani dengan pelan-pelan asalkan sudah ada keinginan dan kemauan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.


"Yakin?" tanya Ayah Tendean lagi.


"Yakin, Dokter," balas Tama lagi.


"Kalau begitu, jangan panggil saya Dokter. Panggil saya Ayah saja sama seperti Anaya memanggil saya," balas Dokter Tendean.

__ADS_1


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Baik, Ayah," balasnya dengan lirih.


Sepanjang perjalanan dari bandara menuju kembali ke rumah Anaya. Hati Tama merasa begitu lega. Kali ini, Tama merasakan keyakinan kepada sosok Anaya. Semoga saja, saat Tama akan meminang Anaya nanti, pernikahan keduanya bisa bertahan untuk waktu yang lama. Sebab, keinginan Tama adalah untuk menua bersama Anaya dan mengisi hari-hari bersama.


__ADS_2