
Anaya pikir hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam atau satu jam saja untuk mampir di rumah Tama. Akan tetapi, justru ketika sudah bertemu dengan Citra, rasanya justru Anaya menjadi lupa waktu. Ya, waktu berjalan dengan begitu cepat. Pikirnya hanya ingin memberikan ciuman untuk bayi berpipi chubby yang akan menginjak masa MPASI-nya esok hari dan memberikan hadiah untuk Citra, nyatanya justru membuat Anaya betah berlama-lama di kediaman keluarga Tama.
Walau tak semegah rumahnya, tetapi rumah keluarga Tama ini adalah rumah yang nyaman. Selain itu, ada juga yang membuat Anaya betah tinggal berlama-lama, dan itu adalah karena Citra. Ya, menghabiskan waktu bersama Citra rasanya begitu menyenangkan untuk Anaya.
"Ay, tadi Ayah kamu pesan supaya kamu tidak terlalu malam loh," ucap Tama mengingatkan kembali dengan pesan Dokter Tendean.
Sudah membawa anak orang untuk menemani berbelanja, tentu Tama juga tidak ingin membuat Anaya pulang kemalaman dan membuat Ayahnya cemas. Bukan bermaksud mengusir, tetapi Tama mengingatkan dengan pesan dari seorang Ayah kepada anaknya.
"Iya ... sebentar yah, lima menit lagi," ucap Anaya.
Wanita itu masih saja menawarkan untuk memperpanjang waktu selama lima menit. Sebab, Anaya masih menggendong Citra dan masih ingin berlama-lama dengan bayi gemoy itu.
"Oke ... lima menit lagi yah. Kasihan Dokter Tendean sudah menunggu," sahut Tama.
Anaya merepons ucapan Tama itu dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia segera menyerahkan Citra kepada Mama Rina, dan sekaligus Anaya berpamitan dengan kedua orang tua Tama.
"Aku antar kamu pulang," ucap Tama yang berjalan ke luar dari rumahnya bersama Anaya.
"Aku pulang sendiri enggak apa-apa loh. Kamu capek juga seharian sudah belanja, dan sekarang masih nganterin aku pulang," ucap Anaya.
Akan tetapi, Tama bersikeras untuk bisa mengantar Anaya. Tadi siang dia datang ke rumah Anaya dan meminta izin kepada Ayahnya, dan begitu pulang pun Tama harus mengantarkan Anaya dan berterima kasih kepada Dokter Tendean karena sudah memberinya izin. Para pria sejati pun akan melakukan tindakan itu. Tidak akan membiarkan wanita yang diajaknya pulang sendiri dan tidak berpamitan dengan benar kepada orang tuanya bukan?
"Aku harus mengembalikan kamu dalam keadaan baik-baik dan tak berkurang satu apa pun kepada Ayah kamu, Ay ... yuk, takutnya Ayah kamu sudah menunggu," balas Tama lagi.
__ADS_1
Mau tidak mau, Anaya pun segera masuk ke dalam mobil milik Tama. Membiarkan saja Tama untuk mengantarnya pulang. Sebab, Anaya tahu bahwa Tama memang memiliki itikad baik dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi.
"Baiklah ... makasih yah," ucap Anaya dengan memasuki mobil milik Tama.
Sampai pada akhirnya, mobil Tama pun melaju di hari yang sudah petang itu. Pria itu dengan tenang mengendalikan stir kemudinya, dan mengantarkan Anaya untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, keduanya kembali diam. Seakan tidak bisa berbicara dan memulai satu obrolan. Hingga akhirnya mobil itu sudah berhenti di rumah Anaya.
Namun, lagi-lagi Tama tampak mengernyitkan keningnya saat melihat Mobil Range Rover berwarna hitam yang kembali terparkir di depan rumah Anaya.
"Sudah sampai yah? Kupikir masih lama ... ah, aku padahal masih ingin main sama Citra," ucap Anaya dengan tersenyum.
Di saat bersamaan ada tangan yang mencoba mengetuk kaca jendela mobil Tama. Tangan seorang pria yang mengetuk tepat di tempat duduk Anaya. Baik Tama dan Anaya pun tercekat. Tidak menyangka ada yang mengagetkannya dengan tiba-tiba.
"Ana," panggil pria berbadan tegap dengan masih mengetuk kaca jendela mobil milik Tama.
Senyuman di wajah Anaya pun sirna sudah. Wanita itu kembali terlihat tertekan setelah melihat sosok pria itu di hadapannya lagi. Lalu, untuk apa setelah berbulan-bulan berlalu dan pria bernama Reyhan itu kembali muncul di hadapannya.
"Perlu aku temanin?" tanya Tama.
Entah rasanya, Tama merasa bahwa situasi sekarang tidak aman. Bahkan Tama bisa merasakan dari wajah Anaya yang tegang, dan senyuman wanita itu yang sirna begitu saja. Sehingga, Tama menawarkan untuk bisa menemani Anaya jika memang diperlukan. Sebab, Tama juga tidak keberatan untuk menemani dan memastikan Anaya aman.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tidak perlu. Lagian itu Ayah ada di rumah kok. Aku akan aman," sahut Anaya.
Tama kemudian yang pertama kali keluar dari mobilnya dan melihat ke luar memang sudah ada mobil milik Dokter Tendean. Dalam hatinya Tama berharap tidak ada sesuatu yang buruk dengan Anaya. Akan tetapi, mengingat bagaimana Anaya menangis saat bertemu dengan Reyhan membuat Tama cukup was-was dibuatnya.
__ADS_1
Begitu Tama keluar dari mobilnya, pria bernama Reyhan tampak menatap tajam pada Tama. Pria itu begitu curiga dengan hubungan Tama dengan Anaya. Mungkinkah jika hubungan sebatas Ibu Susu saja bisa sedekat ini?
Begitu pun Anaya yang perlahan juga keluar dari dalam mobil, dan Reyhan mengulurkan tangannya untuk menyambut Anaya. Akan tetapi, Anaya segera menepisnya. Anaya justru melihat kepada Tama yang berjarak badan mobil dengannya.
"Aku pamit ya Tam ... terima kasih," pamit Anaya.
Wanita itu memilih segera membuka gerbang rumahnya dan segera masuk, sementara Reyhan juga mengekori Anaya untuk masuk ke dalam. Tama menghela nafas berat. Entah, rasanya firasatnya buruk kali ini. Bayang-bayang ketika Anaya menangis kembali terlintas di benaknya. Akan tetapi, Tama menguatkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik karena ada Dokter Tendean di rumah.
Sebelum beranjak dari rumah Anaya, Tama memilih masuk kembali ke dalam mobil dan mulai mengirimkan pesan untuk Anaya.
[To: Anaya]
[Ay, kamu beneran baik-baik saja?]
[Jika membutuhkan bantuanku bilang saja, Ay.]
[Kamu bisa berbagi kisahmu itu denganku.]
[Hati-hati, Ay.]
Setelah pesan-pesan itu terkirim, Tama masih menunggu beberapa saat. Pikirnya untuk sekadar berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Akan tetapi, rupanya semuanya tampak baik. Ya, sebatas mata memandang tidak ada juga keributan yang terjadi di rumah itu. Sehingga Tama pun segera melajukan mobilnya perlahan, meninggalkan rumah Anaya.
Kendati demikian, Tama terlebih dahulu mengubah setting handphonenya menjadi berdering. Setidaknya dia akan siaga jika ada pesan atau panggilan yang masuk. Sebab, jika handphonenya dalam mode silent atau diam, Tama bisa tidak akan mendengar apa pun.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang ke rumah kamu sendiri, Ay ... tetapi kenapa rasanya aku merasa tidak tenang? Jika benar Reyhan adalah suamimu, kenapa aku justru merasa bahwa kamu tidak nyaman dengan suami kamu sendiri. Dan, tunggu ... kenapa aku justru ragu bahwa dia adalah seorang suami yang baik untukmu. Ini firasat apa, Ay ... aku tidak tenang."
Dengan gumaman di hatinya dan pikiran yang tiba-tiba saja menjadi kusut, Tama terus melajukan mobilnya. Sembari berdoa, bahwa memang tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan Anaya.