
Tangisan Anaya kala itu adalah tangisan haru. Tangis bahagia, walau tidak bisa dipungkiri bahwa Anaya masih takut. Takut jika embrio di dalam rahimnya tidak berkembang. Untuk itu, Anaya memilih untuk mengajak suaminya mendatangi Dokter Kandungan sesegera mungkin untuk memastikan semuanya aman.
"Mas, nanti ke Dokter Kandungan mau?" tanyanya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Oke, aku daftarkan dulu. Ke Dokter Indri kan?" tanya Tama lagi.
"Iya, ke Tante Dokter saja," balas Anaya.
Kini Tama dan Anaya sudah kembali ke atas ranjang. Bersandar di headboard dan Tama yang merangkul istrinya itu. "Tumben mau ke Dokter cepet-cepet?" tanya Tama.
"Aku cuma takut kalau Blighted Ovum lagi. Jadi, lebih baik segera dicek saja, Mas ... semoga embrio kali ini sehat dan bisa berkembang dengan sempurna sampai usia 9 bulan 10 hari nanti. Aku akan cemas," akunya dengan jujur.
Tidak dipungkiri bahwa Anaya masih saja merasakan kecemasan. Terlebih sebelumnya pernah terjadi hal yang tidak diinginkan. Hal yang membuatnya kembali kehilangan. Untuk memastikan semuanya baik, Anaya lebih memilih untuk segera ke Obgyn.
"Amin ... itu juga adalah doaku, Sayang ... jadi gimana, mulai lepas ASI untuk Citra?" tanya Tama kemudian.
Anaya pun menatap suaminya itu, "Kalau aku lepas ASI dan hanya berikan ASIP saja boleh enggak? Di lemari es, stok ASIP masih banyak. Boleh enggak Mas?" tanyanya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya, boleh ... enggak apa-apa, kan kita tidak tahu kondisi janinnya dulu. Citra juga sudah mau dua tahun, jadi yah, enggak apa-apa," balas Tama.
Anaya sedikit lega, karena ketika berbicara dan bertukar pendapat dengan suaminya selalu mendapatkan hasil yang maksimal. Selain itu, Tama juga sosok suami yang bisa memahami dirinya, tidak mengintimidasi, sehingga Anaya merasa senang bisa bertukar pendapat dengan Tama seperti ini.
***
Sore Harinya ....
Sepulang dari kerja, Tama segera mengajak Anaya dan Citra ke Rumah Sakit. Sebelumnya Tama juga sudah mendaftarkan Anaya sebelumnya melalui pendaftaran dengan Whatsapp, sehingga Anaya mendapatkan nomor antrian terlebih dahulu.
__ADS_1
"Citra, temenin Mama di Rumah Sakit yah?" ajak Anaya kali ini kepada putrinya.
Terlihat Citra yang menganggukkan kepalanya, "Untik ... untik Ma? (Di suntik Ma?)" tanyanya.
Lantas Anaya menggelengkan kepalanya, "Mau cek, kalau di dalam sini ada Dedek Bayi, Citra suka enggak?" tanyanya lagi.
"Iyaa ... cuka," balas Citra dengan tertawa-tawa.
Hingga Tama yang sudah keluar dari kamar mandi, segera menghampiri istri dan anaknya itu, "Sudah siap?" tanyanya.
"Sudah Papa," balas keduanya seolah begitu kompak.
Kali ini Tama yang menggendong Citra, "Aku yang gendong aja Sayang ... kamu jangan gendong-gendong dulu. Takutnya menekan perut kamu," balas Tama.
Anaya pun tersenyum, "Makasih Papa ... perhatian banget sih. Sukanya jadi Bumil kayak gini, suaminya jadi tambah perhatian," balas Anaya.
Tama pun tersenyum, "Aku setiap hari perhatian sama kamu loh, My Love ...."
Hingga akhirnya, mereka segera memasuki mobil, dan Tama segera melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit. Kurang lebih setengah jam berkendara, dan sekarang mereka sudah tiba di Rumah Sakit. Kali ini, Anaya mendapat nomor antrian tiga. Sementara sudah berjalan dua, sehingga sebentar lagi giliran Anaya.
"Selanjutkan Bu Anaya," panggil perawat.
Anaya pun segera menimbang berat badan terlebih dahulu dan kemudian mengukur tekanan darah. Setelahnya, barulah Anaya masuk ke dalam ruang Dokter Indri diikuti Tama yang menggendong Citra.
"Halo Tante Dokter," sapa Anaya dengan memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri, Tantenya yang adalah saudara kembar Bundanya itu.
"Halo Anaya ... halo Pak Tama dan si kecil sapa ini namanya?" tanya Dokter Indri.
__ADS_1
"Citra, Oma Dokter," balas Tama.
"Wah, iya ... saya sudah menjadi Oma Dokter yah. Bagaimana Anaya, sehat?" tanya Dokter Indri kepada keponakannya sendiri itu.
"Sehat Tante," balas Anaya dengan menganggukkan kepalanya.
"Mungkinkah ada kabar baik?" tanya Dokter Indri lagi.
"Iya, Tante ... tadi pagi test kehamilan dan hasilnya positif. Hanya saja, Anaya cemas takut jika Blighted Ovum lagi," balasnya.
"Baik, kita cek saja sekarang yah ... untuk memastikan," balas Dokter Indri.
Anaya pun dipersilakan untuk naik ke brankar, melihat baru saja positif, maka kali ini Dokter Indri melakukan USG Transvaginal, di mana tongkat USG akan dimasukkan ke dalam inti sari tubuh Anaya.
"Sakit tidak Tante?" tanya Anaya yang sudah merasa ngeri sebenarnya.
"Tidak sakit kok ... justru ini bagus karena bisa melihatĀ organ dalam sistem reproduksi wanita, seperti rahim, saluran telur, indung telur, leher rahim, dan lainnya. Tidak sakit. Sekarang tarik nafas yah ... tolong tidak berpikir yang aneh-aneh, dan saya akan masukkan perlahan," instruksi dari Dokter Indri.
Lantas Dokter Indri melihat ke monitor, "Silakan dilihat juga ya Tama," ucap Dokter Indri yang kali ini memanggil Tama langsung dengan namanya saja.
Tama pun menganggukkan kepalanya dan menatap ke monitor. Berharap dan berdoa dalam hati semoga kali ini hasil yang diharapkan baik adanya.
"Ini rahim kamu ya Anaya ... dan masih ada kejutan loh," ucap Dokter Indri kemudian.
Anaya pun terlihat bingung, kejutan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Dokter Indri kepada dirinya sekarang.
"Kenapa Tante? Mungkinkah Blighted Ovum lagi?" tanya Anaya. Sebab, pengalaman sebelumnya sedikit banyak meninggalkan trauma di dalam hatinya.
__ADS_1
Dokter Indri menggelengkan kepalanya, "Tidak ... coba Anaya dan Tama perhatikan sekali lagi yah. Ini adalah rahimnya, dan juga di sini ada dua kantung embrio yang tumbuh. Jadi, kamu hamil kembar Anaya ... selamat!"
Ah, Anaya seketika menangis di sana. Rasanya tidak percaya. Kali ini bukan kali Blighted Ovum, melainkan ada dua kantung embrio di dalam rahimnya. Mendapatkan dua buah hati setelah mengalami dua kali kehilangan. Rasanya Tuhan begitu baik kepada Anaya, sampai air matanya berlinang dengan sendirinya.