
Lebih dari tengah malam, Tama baru bisa tertidur. Kali ini usai menuntas bercinta dengan Anaya. Pria itu benar-benar tidur dengan begitu lelap. Mungkin juga efek kelelahan yang dialami Tama selama berada di Singapura. Sekarang, Tama tidur memeluk Anaya denganĀ begitu lelap. Saking lelapnya, Tama sampai tidak mendengar tangisan Charla yang terbangun dan meminta minum ASI. Padahal, biasanya Tama selalu terbangun dan mendengar bayinya yang memang mau minum ASI.
Akan tetapi, Anaya juga memakluminya karena dia tahu bahwa suaminya itu sangat kelelahan. Anaya duduk di tepi ranjang sembari memberikan ASI untuk Charla, wanita itu menatap sejenak wajah suaminya.
"Kamu pasti capek banget ya Mas? Padahal, kamu bisa pulang esok hari dan menghabiskan waktu istirahat di hotel dulu. Makasih sudah memprioritaskan aku," ucap Anaya.
Usai Charla kembali tertidur, Anaya menidurkan Charla terlebih dahulu. Kemudian dia melihat pagi masih buta. Anaya memilih untuk tidur sebentar lagi, sampai nanti alarm di handphonenya berbunyi.
Kembali Anaya memeluk suaminya itu. Masih rindu, tapi setidaknya sudah ada sang suami di sampingnya dan juga bisa dia peluk membuat Anaya lega.
***
Pagi hari ....
Anaya yang berada di dapur dikagetkan oleh Citra yang bertanya mengenai Papanya. Mungkin Citra begitu senang, sampai-sampai Anaya melompat girang.
"Papa sudah pulang ya Ma?" tanyanya.
"Iya, tengah malam Papa sudah pulang, Kak Citra," balas Anaya.
"Kok Papanyamasih tidur Ma?" tanya Citra lagi.
"Papa kelelahan, Sayang ... selama di Singapura kan Papa membuat program. Biarkan Papa tidur dulu yah, kasihan Papa juga capek," ucap Anaya yang memberi pengertian kepada Citra agar Citra tidak membangunkan Papanya dulu.
__ADS_1
Citra yang sudah bisa diberitahu pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya Mama ... Papa juga pasti capek," balasnya.
"Tama sudah datang, Ay?" tanya Mama Rina.
"Iya, semalam Ma ... masih tidur. Kelelahan, Ma ... katanya 72 jam di Singapura minum tidur," ucap Anaya.
Mama Rina pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, biar istirahat dulu. Mama ambil Charla dan Charel yah. Biar Mama yang jagain," ucap Mama Rina.
"Iya Ma ... terima kasih banyak Mama," balas Anaya.
Sungguh Anaya di dalam hati juga bersyukur karena Mama Rina adalah ibu mertua yang baik dan bisa selalu membantunya. Bahkan ketika suaminya pergi ke Singapura beberapa hari, Mama Rina juga mau menginap dan membantu Anaya. Setidaknya tugas rumah tangga Anaya menjadi lebih ringan.
Hingga waktunya sarapan, mereka juga melaluinya bersama, tanpa Tama yang memang masih tidur. Anaya juga tahu semalam mereka bercinta lebih dari jam 00.00 malam. Sehingga, Tama menjadi lebih lelah.
"Siang semuanya," sapa Tama melihat Anaya, Citra, Charel, Charla, dan Mama Rina.
"Baru bangun, Tam?" tanya Mama Rina.
"Iya, Ma ... Tama pikir masih pagi, ternyata sudah siang," balasnya.
Lantas ada Citra yang sebenarnya sejak tadi sudah menunggu-nunggu untuk bisa bertemu dengan Papanya. Sekarang Citra pun ingin memeluk sang Papa.
"Papa, Citra kangen ...."
__ADS_1
Tama membuka tangannya, dan menyambut putri sulungnya itu. Mendekapnya erat. "Papa juga kangen sama Citra," balas Tama.
Rupanya Charel dan Charla pun sekarang merangkak ke arah Papanya. Sehingga Citra dipangku di tengah, dan di paha kanan dan kiri ada si kembar. Ketiga anaknya tampak menempel kepada sang Papa. Mungkin juga begitu kangen dengan Papanya. Si kembar Charel dan Charla memang belum bisa berbicara, tapi keduanya bisa mengenali orang lain. Tentunya si kembar pun bisa begitu mengenal Papanya.
Bahkan Charel dan Charla berusaha berdiri dan mencium wajah Papanya, hingga air liur kedua bayi itu mengenai wajah Papanya. Bukan marah, Tama justru tertawa di sana.
"Kalian kangen Papa yah? Maaf yah, Papa harus pergi dan sudah kembali. Bisa bermain bersama kalian," ucap Tama.
"Kangen, Tam ... anak-anak kan tidak pernah berjauhan sama Papanya. Tiba-tiba berpisah empat hari juga rasanya lama. Untung saja Charel dan Charla tidak rewel sih," balas Mama Rina.
Tama merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak ya Mama ... kami sudah dibantuin Mama. Setidaknya Anaya tidak kerepotan seorang diri. Terima kasih, Ma," ucap Tama.
"Sama-sama, Tam ... tidak apa-apa. Mama juga seneng bisa membantu kalian," balasnya.
Anaya kemudian menatap suaminya, "Makan dulu ya Mas ... sejak semalam belum makan kan? Kamu melewatkan sarapan pagi juga. Anak-anak biar sama aku dulu," ucapnya.
"Sebentar ... sepuluh menit lagi Mama Anaya. Baru disambut anak-anak ini. Ya ampun, mereka kelihatan kangen banget yah, mana Charel ini nempel banget," ucap Tama.
Anaya pun tertawa. "Charel jadi cowok sendiri di rumah ya Nak ... temannya bermain mobil-mobilan pergi, nanti sudah ada Papa yang bisa menemani main mobil-mobilan lagi yah."
"Iya, Charel jadi yang paling cakep di rumah. Mama, Kak Citra, dan Charla cantik-cantik," balas Tama.
Benar, waktu siang itu dinikmati Tama untuk bermain dengan anak-anaknya terlebih dahulu. Sungguh, Tama bahagia disambut dengan hangat dan penuh cinta oleh ketiga anaknya. Benar-benar rindu empat hari tak bertemu. Sekarang, rasanya bisa berkumpul lagi membuat Tama sangat bahagia. Tidak ada kata yang lebih indah selain kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga.
__ADS_1