Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Dua Garis Merah?


__ADS_3

Sesuai kesepakatan bersama, Anaya dan Tama memutuskan untuk melakukan tes kehamilan seminggu yang akan datang. Hanya saja, Tama merasa bahwa memang Anaya tengah berbadan dua. Terlihat dari selera makan Anaya yang bertambah, dan juga istrinya itu menjadi lebih mellow sekarang. 


Sebenarnya mellow ini hanya Anaya tunjukkan jika sedang bersama Tama saja. Sepanjang hari mengasuh Citra juga biasa saja, tetapi ada kalanya jika sudah bersama Tama, sedikit pembicaraan saja membuat Anaya tersentuh dan akhirnya menangis. Sampai Tama merasa memang istrinya itu tengah berbadan dua. 


"Aku sudah belikan tes pack, Sayang ... pagi nanti kamu coba yah," ucapnya. 


"Takut, Mas," balas Anaya. 


"Enggak perlu takut, ada aku. Mau aku temenin ke dalam kamar mandi?"


"Enggaklah, jangan. Malu," balasnya. 


Tama tersenyum di sana, "Tidak perlu malu, aku sudah tahu milikmu semuanya. Cuma ini kelihatannya makin gede ya Sayang," ucap Tama dengan sengaja meremas buah persik milik Anaya. 


"Ishs, tangannya nakal banget sih. Gimana enggak makin besar, kamu aja nakalnya kayak gitu," balasnya dengan menggelengkan kepalanya. 


"Nakalnya cuma sama kamu aja, Sayang. Gak akan pernah aku nakal sama yang lain. Kamu juga seneng kan dinakalin?" goda Tama kemudian. 


Anaya tertawa dan memukul lengan suaminya itu, pembicaraan yang absurd seperti ini saja sudah bisa membuat keduanya tertawa bersama. 


"Bisa ngecilin kayak gini enggak Mas?" tanya Tama kepada suaminya. 


Tama mengedikkan bahunya, "Emang bisa? Digedein aja Sayang, biar mantap," balasnya dengan mendekap Anaya. 


"Papa nakal deh, mana pernah aku tahu kalau ternyata kamu senakal ini," balas Anaya lagi. 


"Nakalnya cuma sama kamu, Sayangku. Boleh kan nakal?" tanya Tama kepada istrinya. 


"Boleh, justru kalau kamu enggak nakal dan enggak berhasrat sama istri sendiri itu yang dipertanyakan, Mas. Bisa saja di luar sana para suami memiliki bunga yang lain untuk dihinggapi dan dihisap madunya. Kadang kehidupan seksualitas itu penting, aku takut sama gosip barusan. Katanya suami enggak puas sama sang istri, akhirnya selingkuhan dan sudah berjalan empat tahun. Serem. Jangan sampai kamu kayak gitu loh, Mas," balas Anaya. 


Tama menggelengkan kepalanya, "Mana mungkin aku seperti itu Sayang. Kamu juga tahu, pusakaku ada labelnya. Apa labelnya coba?"


"Milik Anaya," balas Anaya dengan tertawa geli. 


"Nah, itu ... sarung kerisnya cuma satu. Enggak akan cari-cari dan incip-incip di luar sana. Janji!"


"Kalau sampai kamu melanggar, konsekuensinya?"


"Kamu boleh memberikan apa pun konsekuensi kepadaku. Hanya saja, jangan tinggalkan aku dan Citra. Aku bisa gila, Yang," balas Tama dengan bersungguh-sungguh. 

__ADS_1


Anaya lantas menatap suaminya itu, "Kalau kamu kedapatan seperti itu, kita pisah kamar ya Mas?" 


"Berapa lama?" tanya Tama. 


"Selamanya," balas Anaya. 


Tama bergidik ngeri dan menggelengkan kepalanya, "Jahat banget," jawabnya. 


"Iya, karena kamu yang jahat duluan. Aku bisa hidup bersama kamu dan Citra, tanpa melakukan hubungan badan. Cuma bagiku kesetiaan itu hal yang penting. Kesetiaan itu hal yang mendasar dalam berumahtangga. Masak iya, ada pelakor yang ngaku-ngaku bercinta denganmu, dan aku hanya diam. Aku tidak sepemaaf itu. Ada beberapa hal dalam hidup yang aku tidak bisa melupakannya," balas Anaya dengan panjang lebar. 


"Iya-iya Sayang, gak akan macem-macem. Tama hanya buat Anaya," balasnya. 


Anaya kemudian tersenyum, "Janji loh yah?"


"Janji, konsekuensi dari kamu itu yang serem Sayang," balasnya. 


Anaya tertawa dan kemudian kembali berbicara, "Kalau mau satu ranjang, ya setialah, Mas. Kita harus menaruh hormat kepada kesetiaan. Hubungan suami dan istri itu anugerah Tuhan loh, Mas. Jadi ya mari menikmatinya dengan penuh syukur," balas Anaya. 


"Iya Sayangku. Janji. Kita bahkan bisa sama-sama bahas itu bersama Sayang, biar tahu apakah sudah sama-sama puas? Biar bisa membangun kehidupan se'ks yang sehat," balasnya. 


"Iya Masku," balas Anaya. 


"Sini, bobok sini. Besok pagi di test ya Sayang. Jangan pikirkan hasilnya, apa pun hasilnya tidak akan mengurangi rasa cintaku kepadamu," balas Tama sembari mendekap erat tubuh Anaya.


***


Keesokan harinya .... 


Pagi hari ini, Tama menjadi orang yang bangun terlebih dahulu. Kala fajar belum menyingsing, Tama sudah terlebih dahulu bangun dan membangunkan istrinya itu. 


"Sayang, bangun dulu yuk," ucap Tama dengan lembut, membangunkan istrinya itu. 


Anaya menggeliat di sana. Sekadar dibangunkan oleh suaminya saja, Anaya merespons, kelopak matanya perlahan terbuka, dan wanita itu pun terbangun. 


"Mas, kenapa?"


"Bangun dulu, yuk tes dulu. Mumpung masih pagi, aku temenin," balas Tama. 


Tidak banyak bicara, Anaya beringsut, dan duduk sejenak. Wanita itu mengusap wajahnya dan menguncir rambutnya terlebih dahulu. Setelahnya dia berjalan dengan Tama ke kamar mandi. Tampak Tama yang sudah mengambilkan test pack dan gelas takar untuk menampung urine. 

__ADS_1


"Ini, mau aku temenin ke dalam?" tanya Tama lagi. 


"Hmm, tunggu di luar saja, Mas. Aku masuk ke dalam dulu, yah," balasnya. 


Anaya pun masuk ke dalam, menampung urine dalam gelas takar, kemudian dia memasukkan sebuah testpack ke dalam gelas takar itu. 


Sebenarnya Anaya bersikap lebih santai, karena pikirnya memang dia belum masanya haid saja. Terlebih Citra juga baru 17 bulan. Pikirnya, kalaupun hamil menunggu Citra lepas ASI saja. 


Beberapa menit Anaya menunggu, terdengar ketukan dari luar yang sudah pasti itu adalah suaminya. 


"Gimana Sayang, udah belum?" tanya Tama. 


"Belum, sebentar Mas," jawabnya. 


"Sudah tiga menit loh Sayang, berapa lama lagi?" tanya Tama yang seakan tidak sabar. 


"Sabar, belum tampak hasilnya," balas Anaya. 


Memang belum terlihat hasilnya, Anaya justru menjadi gugup sekarang. Suaminya yang terkesan tidak sabar dan belum ada reaksi dari testpack di sana. Hingga kemudian terlihat hasil yang mulai ditunjukkan. Bukan menangis, nyatanya Anaya justru tersenyum. 


Wanita itu segera membereskan semuanya dan mencuci terlebih dahulu testpacknya. Kemudian dia keluar dari dalam kamar mandi. Anaya tersenyum melihat Tama yang tampak menunggu-nunggu. 


"Gimana hasilnya Sayang?" tanya Tama. 


Anaya lantas memberikan testpack itu kepada suaminya, "Ini Mas," ucapnya. 


Tama menerima benda pipih itu dari istrinya, dan berkaca-kaca melihatnya. "Alhamdulillah, kamu hamil Sayang? Aku akan punya baby lagi. Citra akan punya adik lagi," balasnya. 


Tama segera memeluk Anaya, sungguh ini ada kebahagiaan untuk Tama. Memang Tama sudah begitu menginginkan buah hati dari istrinya itu. Tama senang akan mempunyai baby lagi. 


"Makasih yah, kamu akan menjadi seorang Ibu dari buah hati kita. Aku seneng banget," balasnya. 


Anaya pun menganggukkan kepalanya juga, "Aku juga senang, Mas. Semoga kali ini lancar yah."


"Iya Sayang, kapan kita ke Dokter. Aku tahu Dokter Kandungan yang bagus dan menjelaskannya detail banget. Dokternya Citra dulu. Mau ke sana?" tanya Tama. 


"Iya, mau ... nanti sore yah," balas Anaya. 


"Oke, My Love ... makasih untuk kebahagiaan ini. I Love U!"

__ADS_1


__ADS_2