Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pesawat dengan Penerbangan Terakhir


__ADS_3

Keahlian Tama di bidang programming, memang tidak perlu diragukan lagi. Sejak dulu, walau mengambil kuliah S1 di Teknologi Pendidikan, tapi sebenarnya passion yang dimiliki Tama adalah lebih ke Teknologi. Untuk itu, barulah ketika dia mengambil kuliah S2, barulah Tama memperdalam ilmu komputer dan teknologi.


Anaya sendiri yang dulu pernah bekerja di satu perusahaan dengan Tama juga sangat tahu bahwa suaminya itu sangat jago di bahasa pemrograman dan juga Algoritma. Untuk itu, ketika Tama bercerita semua pencapaiannya rasanya memang Anaya sangat bangga kepada suaminya itu.


"Aku sih tidak masalah, kalau dua bulan sekali ke Singapura. Yang penting jaga hati kamu saja, Mas," ucap Anaya dengan sungguh-sungguh.


Anaya bisa mengatakan demikian juga karena dia percaya sepenuhnya kepada Tama. Selain itu, ketika suaminya diharuskan untuk terbang ke Singapura, paling hanya beberapa hari saja yang dihabiskan untuk bekerja di sana. Tidak akan selamanya.


"Pasti Sayang ... aku pasti selalu menjaga hatiku untuk kamu, Anayaku," ucap Tama.


Anaya pun tersenyum, kemudian wanita itu melihat analog di meja. Sekarang sudah hampir tengah malam. Untuk itu, memang sebaiknya bisa sekaligus untuk tidur, mengingat suaminya itu juga pasti capek setelah menempuh penerbangan dari Singapura ke Jakarta.


"Kamu pasti capek kan Mas? Yuk, bobok ... biar lebih hilang capek dan lelahnya. 72 jam mengikuti pekan retas pasti pusing banget juga," ucap Anaya sekarang.


"Kalau capek sih pasti, Sayang. Kalau pusing ya jujur saja pusing. Ibarat kata benar-benar memeras otak banget. Cuma, puas sih sama hasilnya. Selain itu, aku juga sudah tidak pusing lagi, sudah dapat obatnya," balas Tama.


Akhirnya keduanya pun menaiki ranjang dengan perlahan-lahan. Sungguh, Anaya sangat senang. Seharusnya malam ini dia masih harus tidur seorang diri. Akan tetapi, sekarang sudah ada suaminya yang berbaring di sisinya. Oleh karena itu, Anaya pun segera memeluk suaminya.


"Seneng banget, akhirnya bisa bobok meluk kamu," aku Anaya dengan jujur.


"Sama Sayang ... aku bela-belain sampai mencari tiket pesawat. Walau penerbangan terakhir ke Jakarta, aku beli ... semua karena rinduku yang begitu menggebu kepada kamu," balas Tama.


Ya, beberapa jam usai closing ceremony, Tama mencari tiket untuk pulang ke Jakarta. Itu juga karena dia ingin ketemu dengan Anaya. Rasanya sudah tidak tahan jika harus menunggu terlalu lama. Oleh karena itu, begitu ada tiket ke Jakarta untuk hari itu juga, Tama segera membelinya.


"Semua demi cinta kan Mas?" tanya Anaya perlahan.


"Hmm, iya ... demi cinta, demi rindu ingin bertemu, demi bisa bobok memeluk kamu, Sayangku," balas Tama.


Sedikit beringsut dari posisinya yang semula berbaring, sekarang Anaya mendekat ke wajah suaminya, dengan telapak tangannya yang menyentuh dada bidang suaminya. Lantas, Anaya melabuhnya bibirnya tepat di tengah-tengah dua lipatan bibir suaminya itu.

__ADS_1


Chup!


"Terima kasih sudah dibela-belain pulang duluan. Walau penerbangan terakhir, dan sampai rumah sudah begitu malam. I Love you, Mas Suami," ucap Anaya.


Tama yang matanya sudah begitu lelah, masih berusaha tersenyum. Ketika Anaya kembali rebah di sisinya, giliran Tama yang beringsut. Kini, pria itu menempatkan dirinya dengan sempurna dengan menindih tubuh Anaya, dan menggunakan siku-siku tangannya yang menahan bobot tubuhnya sendiri.


"Satu kecupan saja bisa menjadi api yang membakar, Sayang ... apalagi usai puasa panjang," balas Tama.


Anaya tersenyum di sana. "Baru juga empat hari," balas Anaya.


"Kalau bisa sih setiap hari, Sayang," jawab Tama.


Kini Tama kian mendekatkan wajahnya, sapuan nafas yang hangat seolah menerpa wajah mereka. Anaya tersenyum di sana, bahkan wanita itu sudah membawa tangannya untuk melingkari leher suaminya. Seolah Anaya sendiri bersiap dengan apa yang hendak Tama lakukan. Namun, sebelumnya waktunya tiba, Anaya kemudian bertanya kepada suaminya.


"Enggak ngantuk Mas?" tanyanya.


Ada gelengan samar dari Tama. "Berbuka puasa dulu Sayang ... biar lebih nyenyak tidurnya," balasnya.


Hingga perlahan Tama membuka bibirnya dan mulai memagut bibir Anaya dengan begitu lembutnya. Sensasi manis, hangat, dan basah seketika bisa Tama rasanya. Ini adalah bukti nyata kerinduannya. Sehingga, kini Tama mencium Anaya dengan nafas yang lebih memburu. Pun, Anaya dengan berusaha untuk bisa mengimbangi suaminya. Saling memagut, saling mencecap, dan saling menghisap. Seakan sekarang keduanya benar-benar dahaga, dan mereka mereguk air kehidupan yang bersarikan kemanisan dari nektar cinta.


Anaya sangat yakin bahwa ciuman yang bersalutkan dengan kerinduan ini adalah salah satu cara untuk mengurangi rindu yang begitu menggebu. Sampai-sampai Tama memringkan sedikit wajahnya, mencari posisi yang tepat dan kian memperdalam ciumannya. Bibir bertemu dengan bibir, lidah bertemu dengan lidah, menghasilkan kombinasi sempurna tanpa celah. Jika Tama adalah instrumen yang mengalun indah, maka Anaya adalah liriknya. Berpadu menjadi simfoni yang indah, lagu penuh cinta.


Hingga perlahan kini tangan sang suami mulai menelusup mengelus punggungnya, meraba lekuk demi lekuk feminitas di tubuhnya. Anaya mencoba menikmati, walau sebenarnya dia sangat tahu bahwa sekarang suaminya itu juga kecapekan. Namun, tanpa Anaya sadari justru sekarang Anaya meremas rambut suaminya dan menarik ke atas kaos yang dikenakan oleh suaminya, sehingga Tama pun shirtless di sana.


"Yakin tidak mengantuk?" tanya Tama sesaat dengan menarik wajahnya.


"Kamu?"


"Tidak ... sebelum aku menuntaskan semuanya," balas Tama.

__ADS_1


Tidak ingin menunggu terlalu lama. Dua sejoli itu mulai bergerak perlahan, tapi pasti. Benang demi benang pun terlepas dari tubuh keduanya. Sekarang, ada tangan Tama yang meremas perlahan gundukan buah persik di sana, memijatnya memutar, dan mencubit puncaknya. Ketika Anaya memekik, justru Tama merasa kantuk dan lelahnya menguar entah kemana.


Sampai di batas, Tama membawa wajahnya turun dan dia menenggelamkan buah persik itu ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Menciumnya, menghisapnya, mengusapnya, bahkan memberikan gigitan demi gigitan di sana. Sungguh luar biasa, terpaan badai mengguncang tubuh Anaya. Tangannya kian kuat meremas rambut suaminya, dengan mata yang terpejam kian rapat.


Benar, sekarang percikan api yang semula tidak seberapa itu kini telah berubah menjadi bara api yang menyala-nyala. Menyulut dan membakar keduanya.


"Mas Tama."


Akhirnya suara itu keluar juga dari bibir Anaya, ketika Tama mengecupinya dengan lembut dan menyapanya dengan usapan lidah yang memabukkan. Bagi Tama sendiri adalah waktu berkualitas untuk mereka berdua.


Ketika Tama kian bergerak dan kini menginvansi lembah di bawah sana. Anaya kembali memekik dan menelungkungkung sepuluh jari-jari kakinya. Rasa yang tak pernah dia tolak. Menjeratnya dan menenggelamkannya ke dalam samudra cinta. Merasa Anaya sudah siap, Tama kemudian menyatukan dirinya dengan hentakan yang sempurna.


"Anaya ... Anaya!"


Sungguh luar biasa. Sapaan yang hangat dan erat menunjukkan begitu indahnya sapaan itu. Hingga Tama merasakan aliran darahnya lebih deras, dan juga jantungnya yang berdegup kian kencang. Desiran yang Tama rasakan membuat wajah pria itu memerah dan peluh mulai bercucuran begitu saja. Rasa nikmat dan padu yang tidak pernah cukup untuk didefinisikan dengan berbagai kata dan makna.


Anaya yang terengah-engah, hanya bisa memeluk yang suami yang mulai bergerak di sana. Maju dan mundur dengan begitu berirama. Hentakan, dan juga benturan yang bisa keduanya dengar bersama. Namun, keduanya sepakat bahwa itu adalah momen yang indah. Gerakan seduktif yang kian padu, dibarengi dengan tempo yang kian cepat.


Sulut menyulur. Memberi dan saling menerima. Itu adalah sebuah keharmonisan cinta. Ada nada, irama, lirik, yang semuanya mengkombinasi menjadi satu. Alunan simfoni yang seolah terdengar di dalam Taman Surgawi.


Tama hingga memejamkan matanya kian rapat, dan dia sampai menengadahkan wajahnya.


"Anaya!"


Kembali Tama bersuara lirih dan dalam. Hingga Anaya kian memeluk erat suaminya itu. Hingga di batas Tama tak mampu lagi bertahan bola-bola api siap melesak. Ya, tumpah ruah dan memenuhi seluruh cawan surgawi milik Anaya. Membakar keduanya dalam pusara kerinduan tak bertepi.  Puncak dari melepas rindu kepada sang kekasih hati.


"I Love U, My Love!"


Tama berbicara dengan tubuhnya yang rubuh menimpa sang istrinya. Sungguh dahsyat dan luar biasa. Sampai dengingan bisa Tama dengar di telinganya. Hingga untuk sesaat Tama laksana kehilangan fungsi telinganya, lantaran erupsi maha dahsyat yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Love U too, Mas Suami," balas Anaya.


Ketika terjadi gesekan lempeng magma, biasanya akan terjad gempa tektonik. Akan tetapi, sekarang yang terjadi adalah ledakan besar dan juga dahsyat. Ledakan bahkan yang tidak mampu untuk diprediksi berapa kekuatannya dengan Skala Richter.


__ADS_2