Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pagi yang Lebih Baik


__ADS_3

"Baiklah Aya ... aku akan ke kamar. Jika membutuhkan aku ketuk pintu ini saja yah. Ini adalah connecting door ke kamarku," balas Tama.


"Iya ... nanti aku akan mengetuk pintu ini. Kamu istirahat saja tidak apa-apa. Kamu bisa mempercayakan Citra kepadaku," balas Anaya.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Anaya, Tama merasakan hatinya benar-benar menghangat. Anaya adalah sosok yang baik, kasihnya untuk Citra juga begitu tulus. Lebih dari itu, tengah malam pun Anaya berinisiatif sendiri untuk datang ke rumahnya. Tama berhutang banyak kepada Anaya untuk semua yang sudah dilakukan Anaya untuknya dan juga untuk Citra.


Tama masih berdiri di hadapan Anaya yang masih menggendong Citra, pria itu mendekat, dan mulai menundukkan wajahnya, dan mengecup kening dan pipi Citra.


Chup!


"Citra sama Onty Anaya dulu yah ... Papa ada di ruang sebelah. Cepat turun demamnya ya Sayangnya Papa. Papa sayang kamu," ucap Tama.


Sementara Anaya yang mendengarkan ucapan Tama, bentuk kasih sayang secara verbal dari Papa kepada anaknya benar-benar membuat Anaya terharu. Ucapan cinta yang begitu tulus, sampai Anaya bisa merasakan besarnya kasih sayang Tama untuk Citra.


"Kamu tidur saja tidak apa-apa, Tama ... Citra sudah aman sekarang," balas Anaya dengan meyakinkan.


Tama pun menganggukkan kepalanya secara samar, "Terima kasih banyak Anaya ... jika tidak ada kamu, entah bagaimana denganku dan Citra. Terima kasih banyak," jawab Tama.


Usai mengatakan itu, Tama segera masuk ke dalam kamarnya dengan melalui connecting door yang ada di ujung kamar milik Citra. Tidak lupa, Tama berpesan terlebih dahulu kepada Anaya.


"Ay, pintu ini tidak aku kunci yah ... kalau butuh apa pun, tolong bangunkan aku. Jangan mengerjakan semuanya sendirian. Kamu juga perlu istirahat, Ay," balas Tama.

__ADS_1


"Iya-iya ... nanti aku bangunin kalau kenapa-napa. Malam Tam," balas Anaya.


Begitu sudah berada di dalam kamarnya, Tama segera merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Dalam hatinya Tama merasa lega karena memang Anaya datang dan bisa mengurus Citra sekarang. Namun, jika Anaya sibuk begadang dan mengurus anaknya yang demam, sementara dia enak-enakan tidur rasanya juga tidak enak. Oleh karena itu, Tama memilih duduk menyandarkan tubuhnya di sofa yang memang berada di antara pintu penghubung itu, dan menunggu. Kalau Citra dan Anaya yang berada di dalam sebelah sudah tertidur, maka Tama barulah akan tidur.


"Untunglah Citra ... ada Onty Anaya yang datang dan merawat kamu malam ini. Semoga lekas turun yah demamnya. Tidak rewel lagi. Kalau kamu rewel sepanjang malam kasih Onty Anaya," gumam Tama dengan lirih.


Mungkin karena sudah kecapekan, Tama yang duduk di sofa saja perlahan memejamkan matanya. Benar-benar capek rasanya mengurus Citra seorang diri. Mungkin Tama akan tidur sebentar saja, dan nanti dia akan datang kembali ke dalam kamar Citra, kasihan Anaya jika harus begadang demi anaknya.


Mungkin ada dua jam Tama tertidur di sofa, pria itu terbangun karena memang kaget dan kepikiran dengan Citra. Dengan cepat Tama menegakkan punggungnya, dan mengusap wajahnya sejenak. Setelahnya, Tama segera masuk ke dalam kamar Citra melalui connecting door. Kala dia menekan gagang pintu dan membukanya sedikit. Rupanya Citra dan Anaya sudah tidur di ranjang yang ada di dalam kamar Citra. Tama mendekat dan melihat Anaya dan juga Citra yang sudah sama-sama terlelap. Lampu kamar yang semula menyala terang, Tama juga meredupkannya menggantinya dengan lampu tidur supaya Anaya dan Citra bisa tidur lebih nyaman dengan matanya.


"Kamu sudah tidur, Sayangnya Papa ... get well soon yah. Nanti kalau sudah sembuh, main-main lagi yah sama Papa. Atau jangan-jangan kamu sengaja nungguin Onty ya Sayang," gumam Tama dengan lirih.


***


Dengan datangnya Anaya tengah malam, rupanya sampai surya kembali menyapa, Tama tak lagi mendengarkan tangisan dari putrinya itu. Kala Tama bangun dan melihat ke kamar sebelah, rupanya Citra dan Anaya masih sama-sama terlelap. Tama tersenyum menatap Anaya dan juga Citra.


"Kalian boboknya kenapa posenya bisa samaan gini sih ... lucu banget," ucap Tama dengan lirih.


Walau semalam Tama juga kurang tidur, tetapi pagi ini Tama tetap bangun pagi. Bangun pagi seolah sudah menjadi kebiasaan untuk Tama. Libur atau hari kerja, tetap saja Tama selalu bangun pagi. Pria itu memilih menyegarkan tubuhnya, dan segera turun ke bawah untuk menemui Mama Rina.


"Mama," sapa Tama dengan badannya yang sudah segar pagi itu.

__ADS_1


"Ya, Tama ... Citra masih tidur?" tanya Mama Rina.


"Iya ... sama Anaya," balas Tama.


"Anaya? Jadi, Anaya ke sini? Kapan?" tanya Mama Rina yang juga bingung saat Tama mengatakan bahwa Citra tidur dengan Anaya.


"Tengah malam, Ma ... sejak Anaya datang tuh Citra bisa bobok sampai pules gitu. Tadi Tama lihat ke kamar sebelah, mereka berdua masih tertidur. Biarin mereka tidur ya Ma ... kasihan Anaya yang menjaga Citra," ucapnya.


"Iya ... tidak apa-apa. Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Mama Rina saat melihat Tama yang hendak keluar dari rumahnya.


"Mau ke depan sebentar ... beliin Bubur Ayam dan Donat di Mini Market itu buat Anaya, Ma ... Mama ada yang mau dititip?" tanya Tama.


"Oh ... ya sudah. Sana ... Mama tidak titip apa-apa," balas Mama Rina.


Mendengar bahwa demam Citra sudah turun dan bayi kecil itu yang sudah bisa tertidur dengan pulas itu sudah cukup untuk Mama Rina. Namun, pagi itu Mama Rina merasa kasihan pada Tama. Mama Rina tahu menjadi orang tua tunggal itu tidak mudah. Namun, sudah pasti Tama juga belum siap untuk membina rumah tangga lagi. Akan tetapi, kenapa Mama Rina merasa ada bentuk kepedulian dari Tama kepada Anaya, mungkinkah sebenarnya Tama merasa nyaman bahkan mulai bergantung kepada Anaya hanya saja Tama belum menyadarinya.


Bagaimana dengan Anaya sendiri? Mungkinkah semua luka dan duka di masa lalu bisa usai? Ingin rasanya Mama Rina berbicara dengan Anaya dan akan meminta Anaya untuk mau menjadi menantunya. Namun, jika Mama Rina mengatakan semuanya tanpa persetujuan Tama, sudah pasti Tama akan marah. Untuk itu, Mama Rina benar-benar berharap hubungan di antara Tama dan Anaya bisa berubah. Selain itu, tentu akan jauh lebih baik jika Citra juga akan memiliki seorang Ibu.


"Mama ingin kamu bahagia, Tama ... menduda di usia muda dengan seorang bayi yang harus kamu urus itu sangat berat. Sadari perasaanmu dan bergeraklah maju, Tam ... jika menantu Mama adalah Anaya, Mama tidak keberatan," ucap Mama Rina itu dengan lirih.


Sekadar mengucapkan harapannya yang besar dan tulus untuk putra semata wayangnya yaitu Tama agar putranya itu bahagia, air mata Mama Rina pun menetes begitu saja kalau memandangi punggung Tama yang kian menjauh. Sebagai seorang Ibu, Mama Rina hanya berharap kebahagiaan akan segera menyapa. Terlalu lama tinggal dalam duka juga tidak baik. Sudah saatnya untuk maju, dan menyadari keadaan yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2