
Keesokan harinya benar-benar menjadi hari yang direncanakan Ayah Tendean untuk merayakan kelulusan Anaya. Sang Ayah memboyong seluruh keluarga untuk menikmati liburan di pantai. Bukan hanya anaknya dan besannya, tetapi Bunda Dianti juga mengajak serta keluarga Khaira dan juga Radit.
Di salah satu pantai Ibukota, keempat keluarga berkumpul bersama. Rasanya sangat seru dan juga banyak tawa dan canda di sana.
"Kita hari ini berkumpul untuk merayakan kelulusan Anaya," ucap Ayah Tendean.
Anaya di sana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Malu sebenarnya dengan acara yang dibuat oleh Papanya itu. "Malu, Pa ... sejak Anaya lulus saja, tidak pernah dirayakan," ucapnya.
Apa yang baru saja disampaikan oleh Anaya adalah benar. Sejak dia kecil sampai sekarang ketika merayakan kelulusan, biasanya tidak pernah ada perayaan. Hanya ada ucapan selamat dan pelukan hangat saja dari Ayahnya. Akan tetapi, kali ini rasanya berbeda karena Ayahnya memboyong beberapa keluarga untuk merayakan kelulusan Anaya.
"Papa sangat bangga kepadamu, Aya ... lagipula, sekarang kondisinya berbeda. Kita memiliki keluarga yang utuh. Selama 27 tahun kamu hidup dan hanya mengenal Ayahmu, di tahun ini kamu memiliki kesempatan memiliki seseorang yang kamu panggil Bunda. Memang bukan Bunda yang melahirkanmu, tetapi Ayah sangat yakin Bunda Dianti sayang kepadamu," ucap Ayah Tendean.
Ya, dalam 27 tahun terakhir, di mana sosok yang Anaya lihat hanya dirinya. Di tahun ini ada sosok baru yang bisa Anaya panggil dengan nama Bunda. Tentu ini membuat Ayah Tendean merasa senang, putrinya yang melewatkan masa panjang tanpa sosok Bunda, kini bisa menikmati waktu untuk memanggil seseorang yang menyayanginya dengan sebutan Bunda.
"Terima kasih banyak Ayah dan Bunda," balas Anaya.
"Ayah bangga kepadamu, Aya ... jika menilik hidupmu tidak selalu mulus. Ayah adalah saksi dengan banyaknya air mata yang keluar dari matamu. Kamu kehilangan Bundamu sejak bayi, kamu mengalami cobaan hidup yang sangat berat bertubi-tubi, bahkan kamu mengidap depresi. Semua itu masih Ayah ingat. Namun, perlahan ada seseorang yang datang ke dalam hidupmu adalah angin yang berhembus sepoi-sepoi. Begitu tenang, hingga dampaknya bisa membuatmu merasakan kebahagiaan dalam hidup seperti ini."
Menurut Ayah Tendean memang begitulah kehadiran Tama di dalam hidup Anaya. Pria itu datang laksana angin sepoi-sepoi yang begitu menenangkan dalam hidup Anaya. Memang angin sepoi-sepoi itu memberikan rasa semilir dan juga tidak begitu terlihat, tetapi keberadaannya terasa sangat menyejukkan. Pernah menjadi kekasih di masa lalu, merasakan sama-sama kehilangan hingga mereka sekarang bisa bersama dan mengarungi rumah tangga bersama.
Anaya yang mendengarkan ucapan dari Ayah itu pun menitikkan air matanya. Di dalam hatinya, Anaya pun sangat memahami bahwa memang Tama telah hadir di dalam hidupnya laksana angin sepoi-sepoi. Berhembus perlahan, menyapa dirinya dengan kesejukannya, menenangkannya dengan tiupan yang tidak seberapa, hingga keduanya menyatu dan membina rumah tangga.
__ADS_1
"Jadi, liburan keluarga ini untuk kamu, Aya ... putrinya Ayah. Sekaligus, di pihak Bunda Dianti adalah seseorang yang sudah dia anggap sebagai anak, sehingga sekarang kita satu keluarga. Walau bukan dari darah, keluarga bisa terjalin dari kedekatan hati. Bahkan tak jarang yang terjalin dari hati, eratnya melebihi kekeluargaan yang terjalin dari hubungan darah," ucap Ayah Tendean.
Di sana juga Radit dan Khaira sama-sama menganggukkan kepalanya. Merasa senang dan bersyukur karena mereka dianggap sebagai keluarga. Terlepas dari masa lalu Khaira dan Tama dulu, atau masalah antara Tama dengan Radit dulu. Sekarang mereka seolah benar-benar satu keluarga.
"Terima kasih semuanya, kami sudah dianggap seperti keluarga," ucap Radit yang mengucapkan terima kasihnya.
Setelah acara formal dan membuat Anaya terharu. Sekarang mereka menikmati waktu untuk menyatu dengan alam. Tampak para Eyang beserta Oma dan Opa mengasuh cucu-cucu, dan sekarang Anaya dan Tama berjalan-jalan bersama di tepi pantai.
"Hari yang spesial untuk kamu, Sayang," ucap Tama dengan menggandeng tangan Anaya dengan begitu erat.
"Iya Mas ... Ayah yang merencanakannya. Sampai menginap di hotel yang berada di depan pantai. Walau menurutku berlebihan," balas Anaya.
Tama kemudian tersenyum. "Ini juga bentuk kebahagiaan seorang Ayah, untuk pencapaian putri tunggalnya. Bagaimana pun, kamu sangat berhasil, Sayang," ucap Tama.
"Kamu yang sangat berarti bagiku, Sayang. Dengan pesona dan caramu sendiri, kamu datang ke dalam hidupku, menyingkirkan seluruh air mataku, melengkapi Citra, dan juga mendampingi aku. Terima kasih banyak, My Love," ucapnya.
Bukan hanya Anaya, Tama pun menyadari bahwa kehadiran Anaya juga sangat berharga di dalam hidupnya. Semua kebahagiaan dan manisnya hidup sekarang tentu karena sekarang Tama memiliki Anaya. Jika, tidak lagi bertemu dengan Anaya, entah apa lagi yang akan terjadi.
"Kumpul sama yang lain yuk?" ajak Tama kemudian.
Akhirnya Anaya dan Tama berkumpul dengan yang lainnya. Sekarang Citra tampak bermain dengan Arsyilla, putrinya Radit dan Khaira. Sementara Shaka memilih bermain volley dengan Papanya. Kemudian Anaya dan Tama mengajak kedua bayi kembarnya untuk merasakan pasir di pantai. Biasanya bayi akan merasa jijik jika bersentuhan dengan pasir. Sehingga sekarang Anaya menatih Charla, sementara Tama menatih Charel. Jika Charel terlihat biasa saja, Charla awalnya justru menangis.
__ADS_1
"Kok nangis sih anaknya Mama ... ini pasir, Sayang ... Charla kenalan yah dengan alam sekitar. Kenalan dengan pasir," ucap Anaya.
Ya, memang ada beberapa anak yang merasa jijik dengan sesuatu seperti dengan pasir, tepung, rumput, dan lainnya. Itu karena mereka tidak terbiasa dan juga merasa semua itu adalah hal yang kotor. Untuk itu, Anaya pun mengenalkan pasir kepada kedua bayinya. Membiarkan kaki-kaki kecil mereka untuk bisa menginjak pasir. Sebab, latihan seperti ini juga termasuk di dalam terapi integrasi sensorik.
Terapi integrasi sensorik sendiri adalah latihan yang dilakukan pada panca indera yang mengalami gangguan. Misalnya anak yang memiliki gangguan sensoris perabaan, bisa melakukan latihan dengan merasakan tepung polos dan tepung yang ditambahkan air. Tekstur yang berbeda, bisa mengajari anak tentang sensorik.
"Nangis tuh Sayang," ucap Tama kepada Anaya.
"Tidak apa-apa Papa, biar Charla sekaligus belajar integrasi sensorik," jawabnya.
"Kasihan, wajahnya sampai merah gitu," balas Tama yang merasa kasihan dengan bayinya itu.
Padahal Charel bersikap biasa saja. Akan tetapi, Charla juga menangis hingga wajahnya memerah. Dari pasir yang kering, kemudian Anaya sengaja mengajak Charla menginjak pasir yang terkena ombak, sehingga pasir itu basah. Awalnya, Charla menangis, tetapi merasakan telapak kakinya basah terkena air, lama-lama bayi kecil itu diam.
"Tuh, gak nangis kan ... biar menyatu dengan alam, Mas," ucap Anaya.
"Ya, cuma kasihan saja melihat Charla nangis gitu, aku gak tega," balas Tama.
Anaya pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Gak apa-apa. Biar latihan saja sih Mas. Itu Charel berani, Citra juga nyaman itu bermain dengan Kak Arsyilla. Sekarang Charla juga pelan-pelan bisa berani dengan pasir. Kalau Charel sudah lebih besar bisa main volley pantai seperti Kak Arshaka. Akan tetapi, Charel masih baby. Ya sudah deh," balas Anaya.
"Benar Sayang ... jadinya ya sudah. Seru yah, banyak anak-anak berkumpul," balas Tama.
__ADS_1
Anaya pun menganggukkan kepalanya. "Benar, rasanya kayak liburan keluarga sungguhan. Itu lihat Mas, Bunda juga ngobrol tuh sama Mama Rina. Biar lebih akrab kan sama besan," balas Anaya.
Tama pun tersenyum. Dia menyadari bahwa piknik keluarga seperti ini ada baiknya. Juga, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar dari alam, mencoba sesuatu yang baru. Sementara untuk orang tua bisa melepaskan kepenatan, dan juga merasakan refreshing sejenak sebelum kembali beraktivitas.