Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Momen Mengejutkan


__ADS_3

"Kalau hanya Citra yang diajak, bagaimana dengan Papanya Citra dong Onty?"


Pertanyaan sahutan dari Tama ketika dia masih fokus untuk menyetir mobilnya. Ada deheman Ayah Tendean yang tentu mengisyaratkan sebuah respons. Ada Citra yang masih saja menempel di dalam pangkuan Anaya, dan juga Anaya sendiri yang juga terlihat bingung harus menjawab apa. Itu hanya sekadar pertanyaan yang sifatnya bercanda atau sebaliknya?


"Papanya Citra kan harus bekerja. Papa, boleh enggak Citra ikut Onty saja?"


Anaya membalas dan seakan ingin mengajak Citra untuk turut serta dengannya. Tama yang sedang mengemudikan stir mobilnya pun masih tersenyum dan memilih diam. Hingga akhirnya mobil yang dia kemudikan telah tiba di bandara. Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno - Hatta menjadi tempat yang Tama tuju sekarang.


"Mau turun drop out dulu? Nanti biar Tama parkirkan mobilnya," ucap Tama.


Ayah Tendeanlah yang menganggukkan kepalanya, "Ayah saja yang turun. Ayah yang akan mengambil troli dorong dengan koper Anaya. Kalian bertiga mencari tempat parkir terlebih dahulu saja, Ayah tunggu di sini," balas Ayah Tendean.


"Baik Dokter," balas Tama.


"Baiklah Ayah ... tunggu di sini ya Ayah, jangan kemana-mana," pinta Anaya.


Di dalam mobil itu, ketiganya mencari tempat parkir mobil terlebih dahulu. Tama masih memilih diam, hanya suara Anaya dan Citra saja yang terdengar. Ada ocehan Citra, ada suara Anaya, dan juga ada kekehan dari keduanya. Sementara Tama memilih untuk tersenyum. Hingga akhirnya dia sudah berhasil memarkirkan mobilnya. Sebelum turun, Tama memilih mengenakan hipseat (gendongan) untuk menggendong Citra yang dia rekatkan di pinggangnya.


"Biar aku yang gendong dulu boleh enggak?" tanya Anaya kepada Tama.


"Jalannya cukup jauh loh, Ay ... biar aku gendong dulu saja, begitu sudah di Terminal, kamu boleh kok menggendong Anaya," balas Tama.


Dengan berat hati, Anaya pun menyerahkan Citra ke dalam gendongan Tama. Sementara Anaya memilih berjalan dengan mengambil jarak dari Tama dan juga Citra. Sebenarnya, Anaya sudah sangat menguatkan hatinya. Hanya saja, dengan melihat Citra sekarang, mungkinkah Anaya bisa kuat? Wajah cantik dan lucunya Citra, matanya yang bening, dan ocehannya yang kian menggemaskan seolah membuat Anaya harus menahan pedih lebih dalam dihatinya.


"Kamu sudah mendapatkan Ibu Susu yang baru, Tam?" tanya Anaya sembari berjalan tidak jauh di sisi Tama.


Ada gelengan samar dari kepala Tama, "Belum ... aku belum mendapatkannya. Mungkin Anaya akan bertahan ASIP darimu yang ada di lemari es saja. Setelahnya, aku akan konsultasikan kepada Mas Bisma. Jika memungkinkan aku akan berikan Susu Formula saja," balas Tama.


Ya, kali ini Mas Duda seakan tidak ingin mencari Ibu Susu lagi. Ada rasa tidak enak di hati, jika mendapatkan Ibu Susu yang serupa dengan Mbak Mina, yang sama sekali tidak care dengan Citra. Lebih baik, Tama berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak saja, apakah sudah memungkinkan saluran pencernaan Citra bisa menerima Susu Formula entah itu susu sapi mau pun soya.

__ADS_1


"Citra kan intoleransi susu sapi, bahaya loh nanti Tam," balas Anaya.


Sementara Anaya sendiri masih ingat bahwa Citra intoleransi susu sapi. Dulu, sewaktu kecil Citra pernah mual, muntah, bahkan diare, serta mengalami ruam di kulitnya karena tidak cocok dengan pemberian susu sapi. Sekarang, mendengar bahwa Tama kemungkinan besar tidak akan mencari Ibu Susu membuat Anaya khawatir dengan Citra.


"Bagaimana lagi, Ay ... mungkinkah aku bisa mendapatkan Ibu Susu lagi untuk Citra sebaik kamu," balas Tama.


Ya Tuhan, seketika ada rasa bersalah di dalam hati Anaya karena meninggalkan Citra. Mengingat bahwa anak sebaiknya mendapatkan ASI sampai usianya 2 tahun, dan sekarang Citra baru akan berusia 10 bulan. Separuh dari masa mendapat ASI saja belum dia dapatkan, tetapi agaknya Citra memang harus beradaptasi juga jika memang Papanya tidak akan mencari Ibu Susu lagi.


"Anaya, di Amerika nanti jangan ganti nomor teleponmu yah ... kalau Citra kangen, boleh kan kami melakukan videocall?" tanya Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Ya, tentu ... boleh saja. Iya, aku tidak akan berganti nomor telepon," mengatakan itu saja hati Anaya sudah benar-benar sesak. Matanya pun terasa perih, tetapi sebisa mungkin Anaya menahan jangan sampai meneteskan air matanya.


Ketiga kemudian bertemu dengan Ayah Tendean yang sudah menunggu. Terlihat Ayah Tendean yang sudah berat hati untuk melepaskan anak tunggalnya untuk terbang ke Amerika Serikat. Mata Ayah Tendean pun berkaca-kaca, karena ini akan menjadi perpisahan terlama dan terjauh keduanya selama ini.


"Anaya, jaga dirimu baik-baik di negeri asing. Kamu akan hidup sendiri. Kamu akan bertahan dan berjuang sendiri di sana. Gapailah mimpi dan cita-citamu, Ayah akan mengunjungimu di lain waktu nanti," balas Ayah Tendean dengan haru.


"Iya Ayah ... Ayah juga jaga kesehatan. Ayah harus sering memberi kabar kepada Anaya. Ayah, Anaya akan merindukan Ayah," balasnya.


Ayah dan Anak itu saling berpelukan. Begitu haru rasanya. Sesaat mereka berpelukan, keduanya mereka berjalan menuju pintu keberangkatan. Tidak mudah bagi seorang Ayah untuk melepaskan anaknya, walau pun itu untuk kuliah ke luar negeri, menimba ilmu, tetapi rasanya ada sedih yang mendalam di dalam hati.


"Baiklah, itu pintu keberangkatannya ... Ayah, Anaya pamit yah," ucapnya dengan mencium punggung tangan Ayah Tendean, dan kemudian memeluk Ayahnya. Kali ini air mata Anaya menetes begitu saja. Dia hanya tinggal melangkah kakinya menuju pintu keberangkatan dan melakukan cek in serta memasukkan koper-kopernya ke dalam bagasi pesawat.


"Iya Aya ... hati-hati dalam perjalanan," balas Ayah Tendean.


Anaya menghela nafasnya yang sudah terasa begitu berat, kemudian Anaya menatap kepada Tama yang menggendong dengan menggunakan hipseat, dan menghadapkan Citra ke depan.


"Tama, aku pamit yah," ucapnya dengan berusaha keras untuk menahan air matanya.


Tama mengulurkan tangannya, dan kemudian menjabat tangan Anaya, "Iya ... hati-hati Anaya," balas Tama.

__ADS_1


Kemudian Anaya sedikit menundukkan badannya, dan menciumi Citra, dari kening hingga kedua pipinya. Berhadapan dengan Citra, wajah Anaya sudah memerah dan air matanya kembali jatuh, "Citra, Kesayangannya Onty ... Onty pergi dulu ya. Citra sehat-sehat yah ... selalu menjadi Nak Cantiknya Onty yah. Jadi pelipur hatinya Papa," balas Anaya dengan dada yang begitu sesak.


Kali ini pun Tama begitu menahan sesak di dada, bahkan helaan nafas Tama terasa begitu berat. Menatap Anaya dan Citra bergantian. Selama 10 bulan terakhir, kebersamaan mereka sudah membingkai serangkaian momen yang begitu indah. Pagi menyambut kedatangan Anaya, sore pun bergabung dengan Anaya dan juga Citra untuk bermain bersama. Sejak kemarin, kebersamaan itu hilang begitu saja.


Dengan terisak, Anaya kemudian melambaikan tangannya, "Bye ... sampai jumpa lagi," pamitnya kali ini.


Ada Ayah Tendean yang menangis, ada Citra yang menatap dengan pandangan yang kosong, dan ada Tama dengan pedih dan keresahan yang menyelimuti hatinya. Sampai di batas Anaya membalikkan badannya, dan mendorong trolli koper miliknya dan hendak berjalan memasuki pintu keberangkatan.


Menatap punggung Anaya dari jauh, dada Tama rasanya semakin sesak saja. Pria yang berstatus sebagi duda beranak satu itu merasakan bahwa dia tak ingin kehilangan Anaya. Beberapa meter Anaya berjalan, melangkah ke depan, ada dorongan dalam hati Tama untuk menghentikan Anaya. Tama melirik sekilas ke Ayah Tendean yang menunduk, dengan air mata yang menetes begitu saja. Mungkin kali ini, dia bertindak tidak perlu meminta izin dari Ayah Tendean.


Papa muda berstatus duda itu sedikit berlari dengan menggendong Citra, mengejar Anaya. Sekuat tenaga dia kayuh supaya jaraknya dengan Anaya tidak terlampau jauh.


"Anaya ...."


Tama berteriak dan memanggil Anaya. Pria itu tak lagi menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta itu.


"Anaya," panggilnya lagi.


Kali ini Anaya yang dipanggil pun menghentikan langkah kakinya, tetapi Anaya masih tidak membalikkan badannya. Sebab, kini wajahnya telah basah berlinangan dengan air mata. Ya, air mata yang keluar dengan sendirinya berderai begitu saja, dengan dada yang begitu sesak.


Jarak Tama yang masih menggendong Citra dengan Anaya hanya tersisa kurang lebih tiga meter saja. Dada pria itu berjalan sekian meter dengan menggendong Citra rasanya begitu kembang kempis. Nafasnya pun menjadi kacau dan tidak beraturan. Namun, syukurlah jaraknya dengan Anaya sekarang tidak seberapa.


"Anaya," panggilnya lagi.


"Anaya, jangan pergi Anaya. Jangan tinggalkan aku dan Citra," ucap Tama dengan rasa sesak yang menyeruak dan tidak bisa dia tahan lagi.


Akan tetapi, Anaya masih terhenti di tempatnya. Tidak bergerak, tetapi tidak juga membalikkan badannya. Namun, Anaya terisak dalam tangisannya dengan memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.


"Anaya, maukah kamu menjadi Mama untuk Citra?"

__ADS_1


__ADS_2