Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita


__ADS_3

Di pesta pernikahan itu, beberapa kolega dari Dokter dan juga kerabat yang datang. Usai momen yang mengharu biru, kemudian dilanjutkan kepada seluruh hadirin untuk bisa menikmati sajian yang memang sudah disediakan. Juga dengan beberapa tamu undangan yang berfoto bersama.


Sore itu, juga datang Dokter Indri, yang adalah saudara kembar dari Bunda Desy. Jikalau dulu, ketika kembarannya menikah, Dokter Indri tidak tahu karena dirinya menempuh studi di Singapura. Sekarang, Ayah Tendean rupanya memberikan undangan untuk Dokter Indri yang sore itu datang dengan kedua anaknya yang sudah dewasa dan menjadi Dokter juga.


"Selamat menempuh hidup baru, Dokter Tendean," ucapnya memberikan selamat untuk pria yang dulu menjadi kakak iparnya itu.


"Terima kasih Dokter Indri," balas Ayah Tendean yang juga membalasnya dengan sopan.


Kemudian ada orang tua Khaira dan orang tua Radit yang turut datang dan memberikan selamat untuk Bunda Dianti. Sangat senang rasanya melihat Bunda Dianti akhirnya menikah.


"Selamat Bunda Dianti ... sekarang sudah ada pendamping. Anak-anak juga akan sangat senang karena Bundanya juga bahagia," ucap Bunda Ranti yang adalah ibunda dari Radit.


"Amin ... terima kasih, sudah berkenan hadir," balas Bunda Dianti di sana.


Tidak lupa kedua pengantin berfoto bersama dengan anak-anak Panti Asuhan yang jumlahnya ada 25 orang anak itu. Benar yang disampaikan Bunda Ranti sebelumnya bahwa anak-anak merasa sangat senang karena Bunda Dianti akhirnya menikah pula. Akhirnya berlanjut sampai malam, dan tepat jam 21.00 malam, semua acara sudah selesai. Namun, Anaya masih di sana menunggu sampai semua selesai.


"Semuanya sudah selesai, Ayah," ucapnya.


Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya, "Iya Anaya ... terima kasih ya Putrinya Ayah," balasnya.


"Iya Ayah ... ya sudah, Anaya dan Mas Tama pamit pulang ya Ayah ... takut mengganggu Ayah," balasnya dengan setengah berbisik kepada Ayahnya.


Ayah Tendean pun juga tersenyum di sana, "Tidak akan mengganggu Anaya, Ayah sudah berumur," balasnya.


"Santai saja, Ayah ... pelan-pelan," balas Anaya lagi.


Kemudian Anaya melambaikan tangannya kepada Ayahnya, "Anaya pulang ya Ayah ... good night Ayah," balasnya.


Pasangan yang baru menikah itu, akhirnya baru bisa benar-benar istirahat menjelang jam 22.00 malam, di mana keduanya berantrian untuk mandi terlebih dahulu. Di dalam kamar pengantin yang memang tidak dihias dengan aneka bunga itu, terasa sekali atmosfer kecanggungan dari keduanya.


"Akhirnya hari ini tiba, Di," ucap Ayah Tendean dengan berjalan menghampiri Bunda Dianti yang duduk di tepi ranjang.


Wanita berusia 47 tahun yang masih terlihat cantik dan muda itu terlihat tersenyum. Sebenarnya dia merasa begitu grogi ketika Ayah Tendean sudah duduk di sampingnya. Namun, Bunda Dianti berusaha untuk tenang dan membiarkan semua mengalun begitu saja. Toh, dia juga bukan seorang remaja, masa mudanya yang berseri penuh cinta sudah berakhir. Sehingga, Bunda Dianti bersikap normal dan sewajarnya.


Hingga perlahan Ayah Tendean meraih tangan Bunda Dianti dan menggenggamnya di sana, "Sekarang ... mulai hari ini, aku dan kamu sudah berganti menjadi kita. Walau usia kita sudah tidak lagi muda, tetapi Tuhan masih memberikan waktu bagi kita berdua untuk berkasih-kasihan berdua," ucap Ayah Tendean kemudian.


"Iya Mas Dean," balasnya.

__ADS_1


"Jadi, malam ini apakah akan berjalan layaknya pengantin baru pada umumnya atau bagaimana Di? Aku setidaknya sangat senang ... mulai malam ini ada kamu yang berbaring di sisiku," ucap Ayah Tendean yang perlahan mendekatkan tangan Bunda Dianti ke bibirnya dan memberikan kecupan di punggung tangan itu.


"Sepenuhnya terserah Mas Dean saja," balas Bunda Dianti di sana.


"Jika aku meminta hakku sebagai suamimu apakah boleh?" tanya Ayah Tendean.


Bunda Dianti merespons dengan menganggukkan kepalanya. Jangan ditanya betapa dada mereka berdebar-debar. Ini adalah saat yang paling mendebarkan untuk keduanya. Ayah Tendean pun mematikan lampu utama di dalam kamarnya terlebih dahulu dan kemudian mengganti lampu tidur yang lebih temaram.


Pria itu dengan tenang, mulai memangkas jarak wajahnya dengan wajah istrinya. Tangan yang membelai sisi wajah Dianti, dan perlahanl-lahan akhirnya bibir itu mendaratkan kecupan di kening Dianti.


"Aku cinta kamu, Di ... mungkin terkesan terlambat, tapi sebenarnya dalam cinta tidak ada kata cepat atau lambat, yang ada hanyalah waktu yang tepat," ucapnya.


Kata-kata yang begitu manis, yang membuat Bunda Dianti menganggukkan kepalanya. Wanita itu memejamkan matanya kala mendapatkan kecupan hangat dan juga mengucapkan kata yang manis untuknya.


Hingga akhirnya, perlahan-lahan bibir Ayah Tendean melabuhkan kecupan di kedua kelopak mata istrinya, turun ke ujung hidungnya, pipi kanan dan pipi kiri, dan juga akhirnya bibir itu dengan perlahan dan begitu lembut mengecup bibir Bunda Dianti di sana. Satu kecupan yang dalam dan juga dengan tubuh yang sama-sama tegang.


Bahkan kala itu saja, tangan Ayah Tendean rasanya begitu dingin. Cukup lama dua bibir itu bertemu dan saling menempel, nafas hangat yang sama-sama menyapa, hingga akhirnya meneguhkan hatinya sendiri Ayah Tendean pun memberanikan diri untuk menggerakkan bibirnya perlahan, memberikan kecupan demi kecupan di bibir Dianti dan ada helaan nafas yang keluar.


Sangat maklum, dalam 26 tahun terakhir, Ayah Tendean juga benar-benar puasa. Tidak pernah tersentuh kebutuhan biologisnya. Sehingga sekadar, memberikan ciuman di bibir saja, nafasnya terasa kepayahan dan terengah-engah.


"Maaf, Di ... aku terlalu lama menduda. Aku sampai grogi," balasnya.


"Tidak apa-apa, tidak harus malam ini tidak apa-apa," balasnya.


Akan tetapi, ada gelengan samar dari Ayah Tendean dan dia menguatkan hatinya. Dia harus bisa untuk mengendalikan suasana. Ini adalah pelabuhan cintanya, maka Ayah Tendean berketetapan untuk membawa serta Dianti untuk mengarungi samudra cinta bersama. Pria itu kembali mengikis jarak wajahnya dan kembali mencium bibir istrinya dengan lembut. Ciuman yang bermula dari kecupan demi kecupan, hingga dua bibir yang saling melu-mat, dan saling memagut di sana.


Tangan Ayah Tendean pun perlahan melepaskan kancing demi kancing di piyama yang dikenakan oleh sang istrinya. Begitu terdengar helaan nafas yang berat ketika kancing itu terlepas dari sarang. Hingga akhirnya, tidak butuh waktu lama, seluruh kancing di piyama yang terbuat dari kain satin yang lembut itu sepenuhnya terbuka. Ayah Tendean pun melepaskan piyama itu, dan memposisikan istrinya di ranjang dengan sempurna. Pria itu lantas melepaskan piyamanya sendiri, membuat tubuhnya shirtless di sana.


Walau usia sudah kepala lima, tetapi tubuh itu masih terlihat tegap dan tidak menua. Perlahan-lahan dia menindih Dianti di sana. Lantas, ciuman yang panas pun kembali terjadi. Kecupan-kecupan basah dan hangat mulai Dianti rasakan di sepanjang garis lehernya, tulang selangka dan tulang belikatnya.


Sebagai wanita, Dianti pun menguatkan dirinya. Dia memberikan kendali penuh kepada suaminya itu. Tangan yang semula yang memberikan usapan di lengan dan tengkuk, kini dengan sengaja mulai meraba dan memberikan remasan di bagian dada itu. Remasan dalam tekanan yang membuat Dianti menelengkungkan punggungnya.


"Mas Dean," engahnya dengan memeluk tubuh suaminya.


"Ya, Dian ... Dian," ucap Ayah Tendean di sana.


Sungguh, tubuh itu bergerak dengan begitu otomatis, dan juga jiwa muda Ayah Tendean bak lahir kembali. Dia merasa bisa mengusai dirinya dan siap menggelora dalam indahnya malam pernikahan sekarang ini.

__ADS_1


Hingga akhirnya, tangan Ayah Tendean melepaskan pengait yang ada di balik punggung itu, dia melihat bulatan indah yang menggoda matanya. Dengan lapisan cokelat membulat yang membuatnya gelap mata. Dengan hati-hati, dia mendekat, membawa bibirnya, lidahnya untuk memberikan usapan di sana, menghisapnya perlahan, bahkan gigitan demi gigitan kecil, Ayah Tendean berikan di sana.


Lenguhan dan pekikan dari Dianti pun justru menjadi alunan yang indah untuk Ayah Tendean. Hingga akhirnya, keduanya tampil dengan kepolosan mutlak satu sama lain. Sungguh, di dalam mimpi pun Ayah Tendean tidak pernah bermimpi akan mengarungi malam yang penuh candu seperti ini.


Berlanjut dengan invansi basah yang menyisiri lembah di bahwa sana. Usapan lidah yang begitu dahsyat, hingga sang istri memekik dan memejamkan matanya dengan begitu erat.


"Mas Dean ...."


Hanya itu ucapan yang bisa Dianti ucapkan dengan lenguhan yang membuatnya dirinya terombang-ambing sekarang ini. Hingga di batas, Ayah Tendean mulai menempatkan diri di antara dua paha yang terbuka dan kemudian dia mulai menghujamkan pusakanya ke dalam cawan surgawi yang tersembunyi di dalam sana. Namun, nyatanya pusaka itu tak mampu menembus cawan surgawi ini.


Satu hunusan ... dua hunusan ... tiga hunusan ....


Ayah Tendean sampai berpeluh dengan hebatnya, lantas dia berpikir mungkinkah ada yang salah. Tidak mungkin dengan beberapa hunusan dan miliknya masih tidak bisa masuk ke dalam.


"Di, kamu?" tanya Ayah Tendean dengan menelisipkan untaian rambut Dianti di sana.


"Hmm, iya Mas Dean," jawab Dianti dengan meneteskan air matanya di sana.


"Astaga, bagaimana bisa Di?"tanyanya bingung dan juga heran.


"Aku menunggu kamu, Mas ... selama ini," jawabnya.


Ya Tuhan, dada Ayah Tendean bergemuruh riuh. Sungguh dia tidak menyangka bahwa istrinya masih gadis di sana. Usianya saja yang menua, tetapi nyatanya ada pengakuan yang diucapkan Dianti bahwa selama ini dia menunggunya.


"Aku akan pelan-pelan dan tidak akan menyakitimu, Di ..."


Kali ini Ayah Tendean kembali berusaha, dan menghentak di dalam sana, mencoba mengoyak tirai yang menjadi jalan masuk baginya. Perlahan-lahan, walau dia sangat tahu tetap saja sakit. Akan tetapi, untuk penyatuan ini Ayah Tendean tak akan mengambil jeda. Dia yakin dan percaya bahwa ini adalah kejutan terindah untuknya.


"Sakit?" tanyanya perlahan.


"Hmm, iya," balasnya dengan mendekap tubuh suaminya.


"Penyesuaian dulu yah," ucap Ayah Tendean yang mulai memberikan hujaman demi hujaman, menghentak dalam kelembutan, dan juga gerakan seduktif keluar dan masuk, menghujam dan menusuk dilancarkan oleh Ayah Tendean. Hingga di batas keduanya melebur, rasa sakit yang perlahan-lahan menjadi rasa nikmat. Hingga di batas Ayah Tendean merasakan tubuhnya berguncang dengan hebat.


"Di ... an," de-sahnya disertai dengan letupan lava pijar yang masuk sepenuhnya di ke dalam cawan surgawi.


Sungguh, begitu indah ... buah manis pertama dalam pernikahan untuk keduanya yang sesungguhnya sudah melupakan masa muda. Akan tetapi, nikmatnya justru kembali membakar kembali jiwa muda mereka.

__ADS_1


__ADS_2