
Selang beberapa hari berhari, Baby Citra makan bersahabat tiap kali mendapatkan suapan MPASI. Beberapa rasa yang tersaji dalam semangkuk buburnya bisa dia nikmati dengan lebih baik. Tama pun masih berusaha untuk membuatkan bubur MPASI dengan tangannya sendiri untuk Citra. Akan tetapi, jika Tama begadang di malam hari, Mama Rina yang akan membuatkan bubur MPASI untuk Citra.
Akan tetapi, hari ini rasanya ada yang berbeda dari Citra. Bayi kecil itu lebih banyak ngiler (mengeluarkan ludah) lebih banyak, selera makannya pun turun, dan lebih banyak tantrum. Rasanya Tama sampai kewalahan untuk menjaga Citra malam ini.
"Mama, ini kenapa kok Citra rewel terus ya Ma ... padahal sudah Tama gendong loh ini," tanyanya kepada sang Mama.
"Coba, tengok diapersnya dulu, Tam ... penuh enggak. Sapa tahu dia enggak nyaman karena diapersnya penuh atau pup mungkin," balas Mama Rina.
Memang ada banyak hal yang membuat bayi lebih sering rewel, salah satunya bisa karena diapersnya yang penuh atau memang sedang pup dan tidak langsung diketahui oleh orang tuanya. Mendengar apa yang disampaikan oleh Mama Rina, Tama segera menidurkan Citra di atas tempat tidur dan mulai mengecek diapersnya. Tangan sang Papa muda itu sampai meraba permukaan diapers tipe celana yang dikenakan bayinya itu, dan memdapatkan bahwa diapersnya masih kering. Ini berarti penyebab Citra menjadi rewel bukan karena diapersnya yang penuh.
"Diapersnya masih kering kok Ma ... cuma ini kok Citra banyak ngeluarin ludah yah?" tanya Tama kepada Mamanya.
Mama Rina yang sedang mengerjakan sesuatu pun meninggalkan itu sejenak, kemudian mulai melihat wajah Citra. Mungkin saja ada indikasi lain yang bisa dilihat sehingga bayi itu lebih sering menangis. Memang Citra lebih banyak mengeluarkan ludah, kemudian Mama Rina meraba bagian pipi hingga leher Citra yang terasa demam. Menyentuhkan telapak tangannya di pipi, leher, dan kening Citra.
"Coba ambil termometernya, Tama ... ini tangan Mama atau memang Citra yang demam yah?"
Tama pun segera mengambil termometer seperti yang diperintahkan oleh Mamanya dan kemudian mengecek suhu tubuh Citra. Mendekatkan termometer tepat di kening Citra, memencet bagian tombolnya dan menunggu hasil yang tertera di layar digital dari termometer itu.
"38 derajat celcius, Ma ... demam ini, Ma," ucap Tama yang sudah terlihat begitu panik.
__ADS_1
Sebagai seorang Papa tunggal, memang Tama begitu panik jika Citra mengalami demam. Seperti saat Citra harus diimunisasi dan mengalami demam setelahnya, Tama merasa takut, sampai sepanjang malam Papa tunggal itu tidak bisa tertidur. Sekarang, sebenarnya bukan jadwal Citra imunisasi, tetapi kenapa bayi hanya hampir berusia 7 bulan itu mengalami demam?
"Perlu Tama bawa ke Dokter enggak Ma?" tanya Tama kemudian.
"Iya, ke Dokter saja, Tam ... biasanya Citra demam itu kalau udah imunisasi. Ini tidak imunisasi kok demam. Jam segini klinik Dokter Bisma masih buka kan?" tanya Mama Rina.
"Masih Ma ... masih jam 19.00, tutupnya kan jam 21.00, Ma ... ya sudah, temani Tama ya Ma ... kita bawa Citra ke Dokter Bisma," ucapnya.
Tidak perlu menunggu lama, Tama berserta Mama Rina dan Citra pun segera bertolak ke tempat praktik Dokter Bisma. Tujuannya tentu adalah untuk memeriksakan kondisi Citra. Bagi Tama, demam dengan suhu 38 derajat celcius, adalah demam yang tinggi. Sebab, termometer yang dia gunakan tadi sampai bersuara mengindikasikan kalau Citra memang demam.
Beberapa menit berkendara, syukurlah klinik Dokter Bisma tidak ramai. Bahkan hanya ada satu antrian, sehingga Tama bisa dengan cepat untuk memeriksakan Citra.
"Selamat Malam Mas," sapa Tama yang sudah memasuki ruang pemeriksaan milik kerabatnya itu.
"Ini, bukan imunisasi kok Mas ... cuma ini Citra demam. Tadi dicek pakai termometer, suhu 38 derajat celcius," jelas Tama yang mengatakan bahwa sebelum di rumah sudah dilakukan pengecekkan suhu tubuh dengan menggunakan termometer.
Kemudian Dokter Bisma meminta Tama untuk membaringkan Citra, dan kembali lagi dicek suhu tubuhnya ternyata memang 38 derajat celcius. Dokter Bisma kemudian menggunakan stetoskop untuk memeriksa Citra, memeriksa bagian dadanya, dan seolah melakukan ketukan di perut Citra. Dokter Bisma hanya diam, dan kemudian melihat bahwa memang pipi Citra yang memerah, seolah ruam, kemudian lebih banyak menghasilkan ludah di bibirnya.
Melihat gejala itu, Dokter Bisma sedikit membuka mulut Citra dan mengarahkan Senter yang bentuknya mirip sebuah pulpen dan menyorot bagian mulut Citra. Rupanya terlihat ada bagian gusi yang bengkak.
__ADS_1
"Oh, tidak perlu khawatir Tama ... sudah ketemu penyebabnya. Citra mau tumbuh gigi nih," ucap Dokter Bisma.
Ketika Dokter Bisma mengatakan bahwa Citra demam karena tumbuh gigi, rasanya Tama agak lega. Dia pikir Citra sedang sakit atau gejala apa yang serius. Sebab, ada kalanya demam menjadi gejala suatu penyakit. Oleh karena itu, saat Dokter Bisma mengatakan bahwa Citra sedang tumbuh gigi, Tama merasa sedikit tenang.
"Terlihat dari lebih banyak ileran ini, lalu gusinya yang bawah ini memerah. Demam karena tumbuh gigi pada bayi itu wajar, paling tidak 2 hingga 3 hari akan demam, dan nanti akan mulai kelihatan tuh gigi pertamanya. Citra sedang bertumbuh yah? Bertumbuh menjadi dewasa itu memang sakit, tetapi itulah proses ya Citra Sayang," jelas Dokter Bisma lagi yang kini justru sedang mengusapi pipi Citra perlahan.
"Dikasih obat enggak Mas?" tanya Tama kemudian.
"Iya ... pereda nyeri dan demam saja. Sebenarnya kalau kamu ada Paracetamol Drop di rumah, cukup berikan itu saja. Ada tidak?" tanya Dokter Bisma kemudian.
"Habis deh Mas, kelihatannya," jawab Tama. Seingatnya memang paracetamol drops miliknya di rumah memang habis. Untuk itu, Tama memang mengharapkan obat itu diresepkan lagi saja.
"Baiklah ... aku resepkan paracetamol drops saja untuk Citra, diminum 3x sehari dengan takaran 0.3 ml yah. Nah, cuma kalau tumbuh gigi seperti ini, Citra akan mulai tidak nyaman untuk makan bubur MPASI-nya dan menginginkan minum ASI secara langsung dari sumbernya. Jadi, gimana yah? Mungkinkah Anaya bisa menginap di rumah kamu dulu untuk menjaga Citra?"
Dokter Bisma pun berkata demikian, karena memang bayi ketika rewel karena demam tumbuh gigi bisa diam dan merasa nyaman jika mendapatkan ASI secara langsung. Di saat seperti inilah, Tama merasa tak berdaya. Bayi sangat membutuhkan ibunya, tetapi Citra hanya memiliki ibu susu saja.
"Kalau pakai dodot saja gimana Mas?" tanya Tama.
"Ya, enggak apa-apa. Coba dulu saja. Cuma biasanya bayi kalau tantrum itu butuh banget Mamanya dan menginginkan untuk meminum ASI secara langsung," balas Dokter Bisma.
__ADS_1
Tama yang mendengarkan apa yang baru saja disampaikan oleh kerabatnya itu, berpikir mungkinkah malam ini dia meminta bantuan Anaya? Bagaimana jika Citra rewel sepanjang malam? Jika Citra sehat, menjaga Citra di malam hari tidak masalah untuk Tama. Namun, ketika Citra sedang tidak sehat dan rewel di malam hari menjadi tantangan yang begitu berat untuk Tama.
Bagaimana pun dia hanya seorang pria yang tidak memiliki kelenjar ASI, tidak bisa menenangkan bayinya saat rewel. Memang dengan dekat dengan Ibu, mendengar detak jantung sang Ibu, dan mendapatkan ASI adalah salah satu terbaik untuk menenangkan bayi di saat tantrum.