
Tidak terasa hanya berselang beberapa hari saja sebelum hari bahagia untuk Ayah Tendean dan Bunda Dianti. Akan tetapi, kali ini Ayah Tendean menyempatkan untuk mengunjungi rumah Anaya lagi. Sebab, masih ada beberapa hal yang harus disampaikan Ayah Tendean kepada putrinya itu.
"Anaya, Ayah tidak mengganggu kamu kan?" tanya Ayahnya begitu sudah bertemu dengan Anaya dan Tama di rumah putrinya itu.
"Tidaklah Ayah ... kenapa Ayah? Anaya justru senang, tinggal tidak jauh dari rumah Ayah ada keuntungannya juga bisa membuat Ayah sering-sering kemari," balas Anaya dengan terkekeh geli.
"Hanya tingga satu pekan sebelum pernikahan Ayah, Anaya ... Ayah merasa masih ada yang perlu Ayah bicarakan denganmu. Terkait pernikahan Ayah nanti," balasnya.
Anaya menganggukkan kepalanya, dan mempersilakan Ayahnya untuk bisa menceritakan semuanya. Sebagai anak, lebih baik jika Anaya memberikan telinganya untuk mendengarkan terlebih dahulu.
"Ya Ayah ... silakan berbicara terlebih dahulu," balasnya.
“Begini Anaya, untuk pernikahan Ayah nanti. Akan dilangsungkan di rumah. Di taman rumah kita, hanya sekadar akad saja, Anaya. Tamu yang datang juga hanya beberapa kenalan Ayah dan anak-anak dari panti asuhan Kasih Bunda saja, Anaya,” jelas Ayah Tendean kepada Anaya.
Untuk mereka yang masih muda, pernikahan tak ubahnya sebuah pesta mewah yang akan dihadiri banyak tamu undangan. Akan tetapi, untuk mereka yang sudah paruh baya dan kali ini adalah pernikahan kedua, maka Ayah Tendean hanya mengundang kolega sesama Dokter saja, dan juga anak-anak Panti Asuhan. Selain itu, tentu pihak besan dari keluarga Tama.
“Oke Ayah … wah, kelihatannya semuanya sudah matang ya Ayah. Apa yang bisa Anaya dan Mas Tama bantuin?” tanyanya.
"Sudah semua, Anaya ... di Kantor Urusan Agama sudah, dan juga untuk catering, dekorasi di taman rumah kita. Kamu mengenakan kebaya ya Aya ... dampingi Ayah nanti," pinta Ayah Tendean sekarang ini kepada Anaya.
Anaya tampak mengernyitkan keningnya. Apakah tidak salah, jika dirinya yang akan mendampingi Ayahnya nanti. Padahal rencananya, Anaya ingin tampil sebatas mengenakan Lace Dress saja, mengingat dia tengah menyusui baby kembar sekarang.
"Kenapa Ayah?" tanya Anaya kemudian.
"Iya, karena Ayah dan Bunda Dianti sudah sama-sama tidak memiliki orang tua, di pelaminan nanti kamu dan Tama yang akan naik ke pelamin mendampingi Ayah. Sementara dari Bunda Dianti akan diwakili Khaira dan suaminya yang sudah dianggap anak sendiri oleh Bundamu itu," balas Ayah Tendean.
Anaya pun tertawa, "Malu loh Ayah," balasnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kan pernikahan itu menyatukan dua keluarga. Kamu anak kandungnya Ayah, harta Ayah yang paling berharga. Sementara keluarga Khaira sudah seperti keluarga untuk Bunda Dianti, jadi mereka juga akan menjadi keluargamu," balas Ayah Tendean.
Di sana Anaya pun tertawa, "Kenapa dunia begitu sempit dan lucu ya Ayah ... Ayah tahu enggak sih? Dulu Mas Tama itu naksir berat sama Kak Khaira," balasnya.
"Tahu dong, Bunda Dianti pernah cerita kok," jawab Ayah Tendean.
"Lucu ya Ayah ... tidak jadi mendapatkan Kak Khaira justru kini menjadi layaknya keluarga," balas Anaya.
Tama kemudian melirik istrinya itu, "Cuma naksir Sayang ... pelabuhan terakhirku tetaplah kamu. Ibarat perahu, mungkin aku hanya singgah sesaat di dermaga, tetapi sejatinya dermaga terakhirku adalah kamu," ucap Tama dengan sungguh-sungguh.
"Benar Tama ... pada akhirnya kamu bersatu dengan Anaya. Bagaimana pun kita semua memiliki masa lalu. Begitu juga Ayah, dulu Ayah berpikir akan selamanya menduda. Namun, ketika Ayah sudah kepala lima, siapa sangka perahu yang kayunya mulai lapuk ini mulai menemukan dermaga untuk bersandar hingga akhir usia," balas Ayah Tendean.
Anaya pun menatap ayahnya dan suaminya bergantian, "Ayah dan Mas Tama kok bisa kompakan sih," balasnya.
"Iya dong ... kan kompakan untuk hal yang baik, Aya ... kamu pun tidak menyangka kan bahwa Ayahmu ini akan menikah lagi. Padahal, selama ini Ayah tidak pernah bercerita perihal wanita yang dekat dengan Ayah," jawabnya.
"Ada ... cuma enggak serius. Ayah juga enggak minat, soalnya prioritas Ayah itu ...."
"Prioritas Ayah adalah Anaya," sahutnya.
Lantas, Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, "Benar banget ... karena kamu sudah bahagia bersama Tama, Ayah jujur juga bahagia, Anaya. Bersatulah membina dan mempertahankan rumah tangga kalian. Walau yang kalian alami baru beberapa tahun, tetapi kalian sudah melewati banyak hal bersama. Sukacita, Dukacita, hingga kehilangan. Semuanya tentu mendewasakan kalian berdua," ucap Ayah Tendean.
"Iya Ayah ... semoga Ayah nanti juga bahagia bersama Bunda yah. Tidak menyangka, Anaya benar-benar akan memiliki Bunda," jawabnya dengan hampir saja menangis, tetapi Anaya berusaha untuk menahannya.
Ayah Tendean pun segera merangkul bahu Anaya di sana, "Sudah jangan nangis. Bagaimanapun nomor satu untuk Ayah tetap kamu, Aya ... Ayanya Ayah," balas Ayah Tendean.
"Makasih Ayah ... di hati Anaya, nomor satu juga selalu Ayah ... nomor dua baru Mas Tama." Anaya kemudian melirik kepada Tama, "Maaf ya Mas, kamu menempati posisi kedua," ucapnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa My Love ... Ayah adalah cinta pertama untuk putrinya. Pun begitu juga untuk Citra dan juga Charla ketika dia dewasa nanti, aku yang akan menjadi nomor satu di hati putri-putriku itu," balas Tama.
Ayah Tendean mengacungkan ibu jarinya kepada Tama, "Kamu hebat, Tama ... jaga Aya ya Tama. Ayah berani melangkah sekarnag juga karena kamu, ketika ada hasrat untuk berumah tangga, Ayah melakukannya," ucap Ayah Tendean.
"Benar Ayah ... jangan menunda niatan baik," balas Tama.
"Oh, iya Ayah ... kebaya untuk Anaya bagaimana?" tanya Anaya kemudian untuk memastikan.
"Besok akan datang desainer yang ke sini, pilihlah kebaya yang kamu mau, dan untuk Tama, memakai Jas yang Tam," pinta Ayah Tendean kemudian.
Tama menganggukkan kepalanya, "Siyyaapp Ayah," balas Tama dengan mengangkat ibu jari tangannya.
Ya, hanya perlu menghitung hari untuk Ayah Tendean melepas masa dudanya. Di dalam hatinya, baik Anaya dan Tama sama-sama berharap bahwa Ayahnya akan mendapatkan dermaga terakhir untuk hidupnya sekarang. Ada waktu yang panjang yang akhirnya akan dinikmati Ayah Tendean dengan Bunda Dianti.
***
Dear My Bestie,
Khusus hari besok akan menjadi hari yang bahagia untuk Ayah Tendean dan Bunda Dianti. Haruskah mereka diberikan bab khusus momen pertama? Pembaca yang mendukung atau punya saran, silakan tinggalkan komentar yah.
Khusus malam pertama Ayah Tendean dibuat berdasarkan komentar dari pembaca terbanyak yah.
Dukung selalu...
Love U All,
Kirana^^
__ADS_1