
Usai dari menghadiri pernikahan temannya, kini Pandu dan Ervita menuju ke rumah orang tuanya untuk menjemput Indira terlebih dahulu. Memang sudah lebih dari 2 jam Indira bermain di rumah Eyangnya, Ervita dan Pandu juga khawatir jika Indira menangis atau mencari keberadaan mereka berdua. Tidak ingin mengambil risiko, keduanya memilih untuk langsung menuju ke orang Pak Hadinata dan Bu Tari.
"Kula nuwun," sapa keduanya begitu memasuki area pendopo di depan rumah dan menuju ke pintu masuk ke rumah keluarga Hadinata itu.
"Sudah acaranya?" tanya Bu Tari.
"Iya, sudah Bu ... Indi nangis enggak Bu?" tanya Ervita kepada Ibu mertuanya.
"Enggak ... seneng kok dia di sini. Katanya kapan-kapan mau ikut Eyang ke Pasar Beringharjo, mau lihat kios batiknya milik Eyang," cerita Bu Tari dengan terkekeh. Bagi Bu Tari memang Indi begitu pintar dan juga kritis, hingga Indi juga ingin turut menuju Pasar Beringharjo, melihat kios batik yang ada di dalam pasar itu.
"Padahal dulu waktu hamilnya, setiap hari di sana ya Bu," balas Ervita.
Bu Tari pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... di kios batik. Dari dalam kandungan sudah membantu Bundanya cari Rupiah," balas Bu Tari dengan tertawa.
Memang begitulah hidup, jika tidak pernah jatuh dulu, maka tidak akan pernah bisa bangun. Jika tidak bersusah-susah dulu, maka tidak akan bisa bersenang-senang kemudian. Semua manusia yang hidup di bawah matahari ini hanya berjalan meniti pada jalan yang sudah Allah tetapkan semata.
"Sana, leren (istirahat - dalam bahasa Indonesia) dulu. Pasti capek tow?" balas Bu Tari.
"Enggak capek kok Bu ... cuma gerah Bu, panas banget," balas Ervita dengan mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Minum yah, Ibuk ambilkan," tawar Bu Tari kepada Ervita.
Dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya, "Eh, tidak Bu ... Ervi ambil sendiri saja tidak apa-apa, Bu. Ibu istirahat saja," balas Ervita.
Akhirnya, Indi keluar dari salah satu ruangan di rumah itu dengan menggandeng tangan Eyang Kakungnya. Melihat kedatangan Ayah dan Bundanya, Indi lantas berlari ke arah Bundanya sekarang.
"Nda, udah pulang?" tanyanya.
"Iya sudah ... kan Ayah dan Bunda juga cuma menghadiri pernikahan saja. Terus pulang, sudah kangen Indi," balas Ervita.
Setelahnya Indira mendekat ke Ayahnya, dengan bergelayut manja pada Ayahnya itu. "Didi, lihat burung parkit Yayah ... di belakang. Parkitnya warna hijau," ceritanya dengan begitu antusias.
"Berapa jumlah parkitnya Eyang Kakung?" tanya Pandu.
__ADS_1
"Sangkarnya empat, Yayah," jawabnya dengan mengangkat empat jarinya sebagai simbol angka empat.
Bu Tari dan Pak Hadinata pun tertawa, "Pinter Indi ... dikasih tahu langsung bisa mengingat. Bahkan ingat kalau Parkitnya ada empat sangkar," ucap Pak Hadinata.
Ketika mereka sedang berkumpul, rupanya ada panggilan video dari Pertiwi di Lampung. Bu Tari pun menerima panggilan video, dan menyapa anaknya Sulung itu.
"Halo Pertiwi, bagaimana kabarnya?" tanya Bu Tari begitu panggilan video itu telah tersambung.
"Baik Bu ... baru ngumpul tow Buk?" tanya Pertiwi.
"Iya, ini adik-adikmu baru di sini. Ada apa?"
"Jadi pengen ngumpul juga, Buk ... Pertiwi kangen, Bu," balasnya.
Mendengar apa yang dikatakan anak sulungnya bahwa putrinya di sana sedang kangen membuat Bu Tari tampak berkaca-kaca. Namun, bagaimana lagi karena Pertiwi di sana ikut suaminya, dan Lintang juga betah di Lampung.
"Sehat tow?" tanya Pak Hadinata kepada putrinya itu.
"Sehat Pak ... cuma habis masuk angin," balas Pertiwi.
"Boleh Bu ... mau Bakpia, Enting-Enting, dan makanan khas Jogja, Bu ...."
Pandu yang mendengar request dari Kakaknya itu pun menyahut, "Itu pengen atau ngidam Mbak?" tanyanya. "Kok kayak orang ngidam."
Mereka yang ada di sana pun tertawa, tidak mengira bahwa Pandu bisa berkata seperti itu. Namun, memang apa yang diinginkan Pertiwi seolah terlihat wanita itu tengah ngidam, sebelumnya tidak pernah Pertiwi seperti ini.
"Ya, gitu deh ... Ervi mana? Sudah isi belum?" tanya Pertiwi.
"Isi sekarang Mbak?" Giliran Ervita yang menyahut dan bertanya kepada Kakak Iparnya itu.
Akhirnya, Pertiwi pun berbicara. "Bapak dan Ibu, ini Pertiwi hamil. Mohon doanya semoga nanti bisa sehat selalu sampai persalinan nanti," ucapnya.
Mendengar bahwa putri sulungnya tengah hamil, Bu Tari pun kali ini benar-benar meneteskan air matanya. Tidak mengira bahwa mereka akan kembali menerima cucu.
__ADS_1
"Alhamdulillah."
Pandu, Ervita, Bu Tari, dan Pak Hadinata sama-sama mengucap syukur. Tentu ini adalah kabar yang baik, dan juga kelahiran seorang bayi tentu akan menambah kebahagiaan bagi keluarga besar Hadinata.
"Vi, cepatan nyusul," ucap Pertiwi di sana dengan tertawa. "Apa Pandu kurang pinter?"
Si Pertiwi tampak tertawa riang dan menggoda adiknya itu. Rasanya sampai Pak Hadinata dan Bu Tari juga ikut-ikutan tertawa.
"Mbak Pertiwi duluan saja, anak bungsu nanti mengikuti," balas Pandu dengan tenang.
Cukup lama mereka melakukan panggilan video, sampai akhirnya panggilan video dari Pertiwi berakhir, dan tentu Pak Hadinata dan Bu Tari sangat senang mendengar bahwa anaknya kini tengah hamil.
"Moga-moga Pandu dan Ervi juga nyusul yah," ucap Bu Tari.
"Doakan saja Bu," balas Pandu dengan kalem.
"Ya ini cuma doanya dari Bapak dan Ibu. Kalau Pertiwi sudah hamil ya bersyukur, Lintang juga sudah waktunya memiliki adik. Semoga pengantin anyar ini juga bisa segera menyusul," balas Bu Tari.
Pak Hadinata pun tertawa, "Cuma ya namanya anak itu kalau belum diberkahi sama Yang Kuasa, ya belum Bu. Mungkin saja Pandu dan Ervi sudah usaha, tetapi memang sekarang belum. Lagian pernikahannya juga baru tiga bulan, masih disuruh kerja keras ya Le," balas Pak Hadinata.
Memang memiliki anak itu bukan suatu kompetisi, harus duluan. Namun, orang tua memang mengharapkan yang terbaik supata pengantin baru yaitu Pandu dan Ervita juga akan segera mendapatkan berkah momongan dari Tuhan.
"Honeymoon sana, Le ... sapa tahu sekalian usaha," balas Bu Tari yang menyuruh Pandu untuk mengajak Ervita Honeymoon.
Saat ini raut wajah Pandu terlihat kalem, sementara Ervita terlihat malu. Sungguh, dulu kala menikah memang dia dan Pandu sama-sama sepakat tidak melakukan Honeymoon karena memang ingin berumahtangga dan menempati rumah baru.
"Tidak usah Bu ... Pandu juga baru banyak kerjaan. Dua minggu lagi, Pandu juga ada kerjaan di Surabaya, ada mendesai hotel baru di sana," balas Pandu.
"Lha itu, Ervi ikut saja ... Indi biar di rumah sana Eyang."
"Tiga hari loh Buk," balas Pandu lagi.
"Lah, kalian berdua mau pergi satu minggu juga boleh. Bapak dan Ibu itu siap mengasuh Indi," balas Pak Hadinata.
__ADS_1
Begitu besarnya support yang diberikan Pak Hadinata dan Bu Tari, sapa tahu nanti putranya itu bisa memiliki waktu berkualitas dengan istrinya, dan siapa tahu mendapatkan berkah momongan. Setidaknya berusaha dulu, jika memang belum dikasih, berarti memang harus usaha lagi.