
Bagi Anaya dan Tama menginap satu malam di hotel menjadi waktu yang lebih dari cukup. Keduanya mengingat pada Citra yang berada di rumah. Meninggalkan Citra yang baru berumur satu tahun itu rasanya tidak tenang. Untuk itu, keduanya sepakat untuk pulang ke rumah.
"Maaf ya Mas ... aku gak bisa jauh-jauh dari Citra. Sudah kangen banget," ucap Anaya kepada suaminya.
"Enggak apa-apa, next time kita menghabiskan waktu berkualitas lagi," balas Tama.
"Iya Mas, waktunya di bagi-bagi," balas Anaya.
Satu yang Anaya pelajari di sini bahwa membagi waktu itu penting. Walau masih pengantin baru dan masih menggebu-gebu perihal asmara, tetapi Anaya juga tahu bahwa terlalu lama meninggalkan Citra juga tidak mudah baginya. Untung saja, Tama juga bisa memahami dirinya dan juga tidak masalah jika hanya menginap satu malam saja di hotel.
"Latihannya di rumah lagi enggak apa," balas Tama kemudian.
Anaya tertunduk dan tersenyum di sana. Sungguh, rasanya begitu malu. Apalagi ketika suaminya itu berbicara mengenai latihan yang tentunya mengarah kepada bentuk latihan yang lain. Anaya pun menyadari bahwa dirinya masih pasif, sekadar menerima apa yang Tama lakukan kepadanya, tetapi Anaya mau belajar supaya ke depannya keduanya bisa sama-sama saling memberi dan menerima.
"Sayang, mulai nanti atau besok jangan memakai warna hitam yah," pinta Tama lagi.
"Iya, apa perlu besok aku ambil baju ke rumah dulu?" tanya Anaya.
"Enggak ... itu saja enggak apa-apa. Di rumahku ada kaos-kaos kok yang bisa kamu pakai," balas Tama.
"Hmm, iya ... nanti pinjam dulu saja kalau gitu," balas Anaya.
Kurang dari jam 12 siang, keduanya sudah melakukan cek out. Walau Anaya masih malu-malu, tetapi Tama tidak masalah namanya juga pengantin baru. Masih perlu waktu untuk membuang rasa malu itu.
"Tangan kamu Sayang," pinta Tama yang ingin menggenggam tangan istrinya itu.
Anaya pun mengulurkan tangannya dan menaruhnya di atas tangan suaminya. Dengan cepat Tama menggenggam tangan itu. Pria itu tersenyum kala melihat tangan keduanya yang saling bertaut.
__ADS_1
"Kamu cuti berapa lama Mas?" tanya Anaya kepada suaminya itu.
"Seminggu Sayang ... tapi masih free tuh. Kan ini masih akhir pekan, jadi seminggu ke depan aku masih di rumah. Gimana, mau main atau kemana? Mau bulan madu tipis-tipis juga bisa," balas Tama.
Anaya kemudian tertawa, "Kamu bisa saja sih Mas," balasnya.
"Ya kan memanfaatkan waktu," balas Tama.
"Papanya Citra ternyata pinter," balas Anaya.
"Harus pinter Sayang ... karena nanti juga harus membagi waktu antara bekerja, mengasuh Anaya, dan berduaan sama kamu," sahut Tama.
Kini keduanya mulai masuk ke dalam mobil, dan Tama segera melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah. Tama juga sudah begitu kangen dengan Citra, sehingga Tama sudah begitu ingin memeluk dan menggendong putrinya itu.
Hampir setengah jam berkendara, kini keduanya sudah tiba di rumah. Rupanya masih ada beberapa tetangga yang datang untuk memberikan selamat untuk pernikahan Tama dan juga Anaya. Beberapa tetangga juga kaget rupanya Tama menikahi Ibu Susu anaknya sendiri.
Anaya dan Tama pun memberikan salam kepada tetangga yang memilih datang ke rumah dan memberikan ucapan selamat.
"Sudah lega ya Mas Dud ... eh, maaf Mas Tama," ucap seorang ibu-ibu.
"Iya Bu," balas Tama dengan menganggukkan kepalanya.
"Cuma ya Mas Tama dan Mbak Anaya cocok kok. Sekarang sudah berdua, sudah tidak timpang ya Mas jalannya. Ada yang menemani, tinggal membesarkan Citra," balas ibu yang lainnya.
"Benar Bu," sahut Tama lagi.
"Kami doakan Mas Tama dan Mbak Anaya bisa selalu bersama sampai Kakek Nenek. Menua bersama dan segera diberikan momongan," ucap seorang ibu yang lainnya.
__ADS_1
"Amin, terima kasih," sahut Tama dan Anaya bersamaan.
Setelah menemui beberapa tamu yang masih datang, Tama dan Anaya bergantian untuk mandi terlebih dahulu. Setelah Tama segera menggendong Citra. Papa muda itu sudah begitu rindu dengan buah hatinya. Hanya semalam, tetapi sangat begitu rindu untuk Citra.
"Emm ... ma ... maa," celoteh dari Citra yang justru memanggil Mamanya.
"Ini Papa, Sayang ... coba panggil Papa dong. Pa ... pa ... Papa," ucap Tama yang sengaja mengeja Papa supaya Citra bisa mengikutinya.
"Emm ... ma," balas Citra yang justru memilih mencari Mamanya.
Tama pun merasa begitu gemas dengan Citra rasanya, "Ih, kamu itu Sayang ... Hanya Mama saja sih yang dipanggil. Panggil Papa juga. Kangen banget sama kamu putri kecilnya Papa. Citra senang tidak sekarang sudah punya Mama?"
Tama bertanya kepada putri kecilnya seolah-olah Citra bisa memberikan jawaban kepadanya. "Aaa ... ma ma ...."
Anaya menyahut. Lagi-lagi Tama tertawa dan berkata di dalam hatinya, "Sampai kamu sendiri saja tahu Mama kamu, Nak ... Mama Anaya sangat sayang kepadamu. Mama Anaya yang ngajak Papa buru-buru pulang supaya bisa memberikan ASI untuk kamu, dan Mama bawakan oleh-oleh ASIP yang sehat untuk kamu minum. Kamu beruntung Sayang. Bukan hanya Papa yang beruntung, Citra juga beruntung," ucap Tama dalam hatinya.
Dulu Tama pikir akan sukar baginya membuka hati untuk wanita lain. Tidak menyangka, melalui kebersamaan yang terajut setiap hari. Hingga menjadi rasa saling membutuhkan satu sama lain, dan cinta itu hadir dengan sendirinya. Memberikan potret keluarga yang utuh dan sempurna adalah hal yang ingin Tama hadirkan dan berikan untuk Citra. Tama menyadari satu hal bahwa menikahi Anaya bukan hanya membuatnya beruntung, tetapi juga Citra. Putri kecilnya itu tidak akan lagi menjadi piatu, tetapi Anaya akan hadir memberikan kasih sayang seorang Ibu untuk Citra. Bahkan Anaya juga berjanji bahwa sekalipun dia memiliki anak nanti, Anaya akan selalu menyayangi Citra. Kasih sayangnya untuk Citra tidak akan berkurang.
"Nanti malam Citra sudah berkumpul sama Mama dan Papa. Citra sekarang punya keluarga yang utuh dan lengkap. Citra senang bukan?" Tama berbicara lagi kepada putrinya.
Namun, sejurus kemudian tampak Anaya yang baru selesai mandi dan keluar dari kamar mandinya. Rupanya melihat Anaya, Citra seolah mengangkat kedua tangannya dan ingin meminta gendong kepada Mamanya itu. Anaya yang sudah paham bahasa bayi putrinya itu pun tersenyum.
"Sini ... Nak Cantik mau ikut Mama yah? Kangen sama kamu Sayang," ucapnya yang mendekat kepada Tama dan juga Citra.
Tama segera memberikan Citra ke dalam gendong Anaya. Wanita itu tampak menggendong Citra dan menciumi kening Citra. "Kangen kamu banget, Sayang ... Citra putrinya Mama. Mama sayang banget sama Citra," ucap Anaya.
Tama kemudian tersenyum, ya Anaya adalah wanita yang penuh kasih sayang. Citra benar-benar beruntung memiliki Anaya sebagai ibunya. Seorang wanita yang bukan hanya menginginkan Papanya saja, tetapi juga sangat menyayangi putrinya. Tama tidak salah menjatuhkan pilihan, doanya bahwa kebahagiaan ini akan terjalin untuk selamanya.
__ADS_1