
“Deanti?”
Ketika Citra mendapatkan tulisan yang laksana memang salah ketik (typho) atau disengaja, membuat Opa Tendean bergumam dalam hati. Jika memang itu adalah kesalahan ketik, pastilah sebelum proses cetak naskah akan ada proses editing untuk memastikan tidak ada kesalahan ketik dan juga quality control untuk memastikan bahwa tidak akan ada kesalahan di dalam naskah tersebut. Terlebih untuk cover yang sudah pasti akan dilakukan layouting cover terlebih dahulu.
“Oh, iya … Oma justru baru lihat,” jawab Dianti dengan tersenyum.
Sungguh Oma Dianti pun tidak tahu jika Citra bisa sekritis itu dan tulisan yang ejaannya tidak benar, Citra juga bisa menemukannya. Namun, Oma Dianti berusaha untuk bisa tetap tenang dan juga berusaha bersikap santai. Walau sebenarnya sekarang rasanya begitu deg-degan.
“Oma, kalau DEAN itu namanya Opa … namanya Opa Tendean. Kalau Oma kan Dianti, DIAN. Benar kan Oma?” tanya Citra lagi.
“Iya, benar … maaf ya Citra,” balas Oma Dianti.
Citra pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya Om … tidak apa-apa. Terima kasih banyak untuk buku-bukunya. Titip dulu dan Citra mau main jungkat-jungkit boleh Oma?” tanyanya yang tetap sopan kepada Oma Dianti.
“Boleh … mana biar disimpan Oma, dan nanti bisa disimpan Opa yah,” balasnya.
Setelahnya, Opa Tendean melihat Dianti dengan pandangan yang berbeda dan kemudian mengambil satu langkah lebih dekat dengan Dianti di sana. “Tidak mungkin itu salah ketik kan Dian?” tanyanya perlahan.
Ada senyuman di wajah Dianti, ketika Tendean bertanya kepadanya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa jantungnya berdegup dengan begitu kencangnya. Dianti sudah tidak lagi muda, tetapi sekarang rasanya justru dia menjadi salah tingkah di hadapan Tendean.
“Kurang tahu, Mas … mungkin aku yang kurang teliti. Kita kembali ke depan saja, Mas … di sini jika AC tidak dinyalakan rasanya pengap,” balas Dianti.
__ADS_1
Sang pria pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian berjalan di belakang Dianti dengan membawa buku-buku yang memang diberikan Dianti untuk Citra. Namun, sesekali Tendean menatap punggung yang berjalan di depannya. Selama puluhan tahun berlalu, tidak pernah ada cerita mengenai Dianti, ya wanita yang kini berjalan di depannya ini bak hilang begitu saja. Pertemuan yang tak terduga akhirnya bisa mempertemukan keduanya dan juga dengan kondisi yang sudah tidak lagi sama. Keduanya sudah di usia paruh baya, tidak lagi muda. Masa muda dan semua pesona sudah mereka lepaskan, dan juga pertemuan kembali dengan kondisi Tendean sudah menjadi duda 26 tahun lamanya, sementara kabar mengenai Dianti, dia tidak pernah tahu.
“Kita duduk di sini saja Mas … bisa sambil lihatin Citra,” ucapnya yang kemudian mengambil duduk di kursi-kursi taman dengan warna putih itu.
“Iya … terima kasih banyak yah,” balas Tendean.
Beberapa saat mereka diam, dan arah pandangan Tendean beralih kepada dua objek yaitu Citra yang sedang main jungkat-jungkit, dan juga kepada Dianti yang duduk di sampingnya. Hingga akhirnya, Tendean kembali bertanya kepada Dianti.
“Sudah lama ada taman baca ini yah?” tanyanya.
“Baru … baru saja kok, Mas … sebelumnya aku menjadi donatur untuk sebuah panti asuhan yang bernama Panti Asuhan Kasih Bunda. Terus ada donatur lain yang masih muda, dia terpikir untuk membuat taman bacaan, dan ini hasilnya. Kerja samaku dengan donatur itu. Buku-bukunya pun juga koleksi kami berdua. Ada buku bacaan yang terkesan kuno yah karena cetakan belasan atau puluhan tahun yang lalu, tapi memang kami taruh di sini biar anak-anak bisa membaca. Membudayakan membaca,” cerita Dianti panjang lebar kepada Tendean.
“Siapa Donatur muda itu. Keren banget, masih muda bisa terpikir untuk membuat taman bacaan,” balas Tendean.
“Muda banget … seusia menantuku,” balas Tendean.
“Kita belajar kan bisa dari mana saja dan dari siapa saja, dan aku rasa justru aku bisa belajar darinya. Aku pernah tanya kepadanya, kenapa suka anak-anak? Dia jawab karena di bahu anak-anak ini akan terukir jelas masa depan bangsa. Oleh karena itu, dia ingin anak-anak tumbuh sehat, bahagia, dan mendapatkan literasi yang akan memacu mereka untuk bermimpi dan mewujudkan impian itu di masa depan. Ketika aku bertanya, kenapa kamu begitu baik dan mau menyumbang secara tetap untuk panti asuhan ini? Dia menjawab, “Bunda, di dunia ini ada begitu banyak orang baik, jika aku menemukan tidak ada orang baik lagi, maka aku harus berubah dan menjadi salah satu di antara orang baik itu. Sebab, sebaik-baiknya orang adalah yang bisa bermanfaat untuk sesamanya.” Jujur waktu mendengarkan jawabannya aku berdebar. Dia berarti memang baik,” jelas Dianti lagi.
Tendean mendengarkan cerita dari Dianti dengan begitu perhatian. Dia juga terketuk dengan kebaikan orang yang masih muda itu. “Anak muda itu kerabat kamu atau saudara?” tanyanya.
Dianti dengan cepat menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak ada hubungan apa-apa di antara kami. Kami dekat karena hati dan ingin melihat anak-anak ini menjadi sesuatu di masa depan nanti. Justru sejak itu, kami kayak ibu dan anak, dia selalu memanggilku Bunda, dan anaknya memanggilku Oma,” cerita Dianti lagi.
__ADS_1
“Syukurlah … memang ada keluarga yang terjalin bukan dari hubungan darah, tetapi dari hati. Bahkan tak jarang, kalau keluarga yang terjalin dari hati kerekatannya justru melebihi keluarga yang terjalin karena hubungan darah,” balas Tendean.
“Iya … ya, setidaknya aku merasakan kembali memiliki keluarga, setelah Bapak dan Ibuku sudah tiada. Ada donatur itu dan keluarganya, serta ada anak-anak kecil ini, dan anak-anak di panti asuhan yang lainnya. Setidaknya aku masih berharga dan berguna untuk anak-anak ini,” balas Dianti.
“Bapak dan Ibu sudah berpulang?” tanya Tendean dengan terkesiap dan kaget juga.
“Sudah lama Mas … Bapak berpulang sembilan tahun yang lalu. Sementara Ibu berpulang tiga tahun setelahnya. Ya, begitu Mas … usia kan tidak ada yang tahu yah, jadi ketika masih hidup, menjadi sosok yang berguna dan bermanfaat untuk orang lain,” balas Dianti lagi.
“Yang kuat ya, Di,” balas Tendean.
“Hmm, makasih Mas Dean,” balasnya.
“Kamu tidak ingin menikah atau memiliki keluarga, Dian?” Kali ini Tendean mengajukan pertanyaan yang lebih sensitif dan sekaligus ingin tahu pandangan Dianti akan membina keluarga.
Dianti terkesiap, tidak mengira bahwa Tendean akan menanyakan itu kepadanya. “Aku sudah tua, Mas … gagal juga pernah. Jadi, yah … apa masih layak dengan usiaku yang hampir kepala lima dan menikah? Rasanya lucu,” balasnya.
Mereka yang sudah lama hidup sendiri, dan ketika diperhadapkan dengan pertanyaan untuk menikah di usia yang sudah tidak lagi muda akan merasakan semuanya lucu. Selama ini sudah berteman dengan kesendirian. Ketika dipertanyakan tidak inginkah membina keluarga, membuat Dianti memandang kelayakan dirinya.
“Mas Dean emangnya mau menikah lagi?” tanya Dianti kemudian kepada Tendean.
Ada senyuman yang terbingkai di sudut bibir Tendean, dan melirik Dianti sesaat, “Kurang tahu … Anaya sudah memintaku menikah, tapi tidak ada calon, Di … selama ini hidupku aku berikan untuk membesarkan Anaya dan mengabdi untuk profesiku. Jadi, rasanya … kalau menikah lagi, jujur tidak calon yang aku miliki.”
__ADS_1
Obrolan dua orang yang sudah tidak lagi muda, penuh terkesiapan, dan juga menyadari bahwa masa muda mereka telah berlalu. Mereka diperhadapkan dengan usia yang menuju senja. Menikah kembali di usia yang tidak lagi muda, memang penuh pertimbangan. Begitu jugalah yang terjadi dengan Dianti dan Tendean.