
Tepat hari ini Citra sudah berusia 6 bulan. Ini adalah saat yang tepat untuk memberikan Makanan Pendamping ASI atau MPASI untuk Citra. Setidaknya Tama bersyukur, karena ini adalah hari minggu sehingga Tama bisa berjibaku di dapur untuk menyiapkan sendiri MPASI untuk Citra. Walaupun menyiapkan MPASI pertama untuk si Baby seringkali menjadi tantangan tersendiri. Para ibu biasanya akan bingung menentukan jenis makanan apa yang sebaiknya diberikan terlebih dahulu, cara menyiapkannya, sampai harus menghadapi kerewelan Si Baby saat menyiapkan MPASI, hingga tak jarang membuat para Ibu kewalahan.
Jika bayi-bayi yang lain memilih ibu dan para ibulah yang akan heboh di dapur untuk membuat MPASI. Namun, situasi itu tidak berlalu untuk Citra, karena Ayahnya lah yang justru heboh di dapur. Membaca resep terlebih dahulu, kemudian menimbang setiap bahan yang dia butuhkan, dan juga mulai memasak MPASI. Tahap terakhir adalah menyaring atau menghaluskan bubur MPASI itu supaya sesuai dengan tekstur yang diinginkan Citra. Sebab, bayi yang kali pertama menikmati MPASI tidak bisa menerima tekstur yang terlalu keras dan padat.
"Perlu dibantu enggak Tam?" tanya Mama Rina.
Sebenarnya dari jauh, Mama Rina mengamati Tama yang berdiri di dapur. Pria muda kadang tampak bingung, sampai harus membaca berkali-kali bubur MPASI yang resepnya sudah diberi Dokter Bisma dan Istrinya itu. Takut salah dan juga ragu. Akan tetapi, demi Citra dan memberikan pengalaman MPASI yang menyenangkan dan disiapkan dengan penuh cinta, Tama menolak untuk menyerah.
"Bisa Ma ... cuma sebentar, Tama masih perlu belajar," balas Tama.
"Kalau tidak bisa, sini biar Mama yang masakkan. Kamu ajak main Citra saja," balas Mama Rina.
"Biar Tama yang siapkan Ma ... harusnya para Ibu kan yang menyiapkan? Cuma, Citra tidak punya Ibu jadi ya Tama yang akan menyiapkannya. Tidak apa-apa, Ma ...."
Mendengar apa yang baru saja Tama sampaikan membuat Mama Rina rasanya ingin menangis saja. Benar, harusnya para Ibu yang heboh dari jauh-jauh hari untuk membuat menu MPASI yang enak dan kaya nutrisi untuk bayinya. Namun, tidak dengan Citra. Almarhumah Cellia boleh pergi, tetapi Tama masih berusaha menghadirkan momen yang indah untuk Citra.
"Ya sudah ... kalau butuh bantuan, bilang saja sama Mama. Anaya sudah baikan belum? Hari ini berarti Anaya istirahat di rumahnya yah?" tanya Mama Rina.
"Semalam Anaya bisa langsung pulang dari Rumah Sakit kok, Ma ... hanya saja Tama memang meminta dia untuk istirahat di rumah dulu. Kan masih ada ASIP untuk Citra, jadi tidak apa-apa," balas Tama.
Mama Rina pun menganggukkan kepalanya, di lemari es simpanan ASIP untuk Citra memang banyak. Mama Rina pun heran, seakan sumber ASI milik Anaya tidak pernah ada habisnya. Sudah diminum langsung setiap harinya oleh Citra, tetapi masih bisa dipumping. Begitu melimpah, semoga saja bisa sampai Citra berusia 2 tahun nanti.
Baru saja, Mama Rina bertanya mengenai sosok Anaya. Rupanya suara wanita itu sudah terdengar dan membuka pintu rumah dengan perlahan-lahan.
"Pagi ... ini Anaya," sapa Anaya yang sudah kembali tersenyum.
Mama Rina dan Tama pun segera menoleh dan melihat ke belakang mereka. Rupanya benar, bahwa Anaya sudah kembali datang ke rumah mereka.
"Anaya, bukannya kamu sakit? Istirahat dulu saja, Nak," ucap Mama Rina yang berjalan mendekat ke Anaya dan menyentuh tangan Anaya yang masih ada bekas infus di sana.
"Benar Ay ... istirahat dulu saja. Kamu kan masih sakit," sahut Tama.
__ADS_1
"Aku sudah baikan kok ... justru kebanyakan tidur di rumah, bikin aku pusing," balas Anaya.
"Ya ampun, Anaya ... jangan dipaksakan. Kan aku juga perlu sembuh dan pulih. Kami beneran tidak apa-apa. ASIP untuk Citra juga masih ada," balas Mama Rina.
Kemudian Anaya pun tersenyum, "Anaya ingin terlibat di MPASI pertamanya Citra, Ma ... melihat Citra makan bubur MPASI pertamanya," jawab Anaya.
Ya, tujuannya datang adalah untuk Citra. Hari ini menjadi pijakan yang baru bagi Citra, bayi yang selama ini hanya meminum ASI saja, untuk kali pertama akan memakan bubur MPASI. Jadi, memang Anaya tidak ingin kehilangan momen ini. Terlebih rasa sayangnya kepada Citra yang menggerakkan hatinya untuk datang.
"Nanti Mama bisa videoin dan kirim ke kamu. Kan bisa juga Anaya ... sekarang istirahat saja yah, temani Citra bobok saja. Tama masih bikin MPASI untuk Citra tuh, tadi Mama menawarkan untuk bantuin, dianya tidak mau," balas Mama Rina.
"Uhm, Anaya bantuin Tama boleh enggak? Tertarik juga pengen buat bubur MPASI, sapa tahu nanti Anaya bisa bikinin bubur MPASI buat Citra kapan-kapan," balas Anaya.
"Jangan Ay ... istirahat saja," balas Tama.
"Mama, boleh ya Ma?" Anaya mencoba membujuk Mama Rina supaya diizinkan untuk membantu Tama.
"Boleh ... cuma duduk saja, itu di dekatnya Tama ada kursi kamu lihatin sambil duduk saja. Ya sudah, Mama naik ke atas yah, Mama yang jaga Citra," ucap Mama Rina.
"Menu hari pertama ini ya Tama?" tanya Anaya.
"Iya, ngikuti resep yang diberikan Mbak Kanaya," balasnya sambil mengupas wortel.
Pria memang tidak jago memakai dan menggunakan pisau, tetapi Tama berusaha saja untuk mengupas wortel dan kemudian nanti akan memarut wortel itu sedikit.
"Masak pakai panci atau pake slow cooker?" tanya Anaya lagi.
"Slow cooker biar nutrisinya tidak hilang," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia melihat langkah demi langkah memasak yang dilakukan Tama, kemudian Anaya berinisiatif untuk membantu.
"Sini Tama, aku bantuin," ucapnya.
__ADS_1
"Kamu duduk aja, Ay ... kalau sampai kamu pusing dan pingsan gimana coba. Aku khawatir Ay," ucap Tama.
Kali ini tanpa terkira Tama bisa mengatakan kekhawatirannya kepada Anaya. Ucapan spontan yang membuat Anaya pun menggigit bibir bagian dalamnya dan melirik sekilas kepada Tama. Khawatir dalam maksud apa yang dimaksudkan oleh Tama. Namun, Anaya tak ingin gegabah dan ceroboh. Cukup di masa lalu saja, dia tertarik kepada Tama sampai mengucapkan kata cinta pertama kali kepada Tama.
Sementara itu, Tama yang bersikap biasa mulai memasukkan beras organik, salmon, wortel, dan unsalted butter ke dalam slow cooker. Setelahnya, Tama menekan tombol cook yang terdapat di slow cooker miliknya.
"Ini tingga menunggu?" tanya Anaya.
"Iya, katanya sih begitu ... cuma ya aku belum tahu juga. Mau minum Ay? Aku buatkan," tawar Tama.
"Enggak ... nanti saja. Ini kamu mau ngapain lagi?" tanya Anaya.
"Mau cuciin ini peralatannya. Heheheh, biasa kalau cowok yang berada di dapur itu pasti mengotori semua peralatan makan," balasnya.
Anaya ikut tertawa kecil, membiarkan saja Tama untuk membersihkan berbagai wadah yang dia gunakan. Anaya memilih menunggu dan mengamati kinerja slow cooker milik Tama itu. Uap dari bubur MPASI itu pun sudah mulai mengepul. Lantaran, dimasak dengan slow cooker, jadi memang membutuhkan waktu agak lama, tetapi nutrisi dari setiap bahan makanan tetap terjaga.
"Sudah selesai ini, Tama ... terus gimana?" tanya Anaya.
"Ambil sedikit saja untuk satu kali porsi makan Citra, Aya ... sini, biar aku yang blender," balas Tama.
Anaya pun mengambil sedikit dari bubur MPASI itu. Sebab, memang Tama membuat sekaligus untuk dua kali makan, sehingga setengahnya akan dia simpan di lemari es terlebih dahulu. Hanya sedikit yang dia ambil dan akan menghaluskannya.
"Hmm, baunya saja sudah harum banget loh ini," ucap Anaya yang sembari menghirup aroma bubur MPASI Citra itu.
"Iya ... aromanya kecium sampai sini," balas Tama.
"Seru yah ... bisa membuatkan MPASI pertama untuk anak kita," balas Anaya.
Namun, kenapa ucapan itu syarat dengan kesedihan, sampai Tama pun bergerak dan kini berdiri tidak jauh dari tempat Anaya berdiri.
"Kapan-kapan kalau kamu mau dan senggang, kamu boleh kok membuatkan bubur MPASI buat Citra," ucap Tama.
__ADS_1
Anaya tersenyum, dia yang menjadi ibu, tetapi tidak pernah menyentuh anaknya, justru Tuhan beri kesempatan untuk menyentuh dan mengasuh bayi lain. Rasanya ada rasa haru dan juga sendu di dalam hati Anaya yang seolah bercampur dengan satu.