Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Persiapan Finansial juga Penting


__ADS_3

Tama sangat paham bahwa ketika menyusun Thesis, setidaknya membutuhkan dana untuk melakukan penelitian, pemrosesan data, dan juga membeli beberapa buku yang digunakan sebagai referensi. Setidaknya, dulu Tama pernah mengerjakan Thesis juga, sehingga tahu di bagian mana yang memang harus membutuhkan dana. Selain itu, perlu membeli kertas dengan ukuran A4 dan tinta yang ditambahkan secara berkala di printer.


"Kamu enggak butuh uang untuk Thesis yang sekarang sedang kamu susun, Yang?" tanya Tama kepada istrinya yang sekarang sedang mengerjakan Thesisnya.


"Hmm, kenapa emangnya Mas?" tanya Anaya yang menghentikan sejenak pergerakan jari-jari tangannya di atas mesin ketik.


"Belum beli buku dan sebagainya gitu yah?" tanya Tama lagi.


Anaya pun tersenyum. "Sudah beli ... beberapa buku aku beli online kok Mas, ini ada buku yang dikasih Bunda juga. Jadi, untuk sumber referensi sih aman. Untuk pengolahan data kan tidak perlu membayar, ada suamiku yang jago IT ini bisa dimintai tolong," jawabnya.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Anaya, Tama pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala istrinya itu. "Kamu bisa saja Sayang, pengolahan datanya nanti aku bantu deh."


"Nah, benar kan ... sudah ada yang bantuin, gak perlu keluar banyak dana. Nanti uangnya bisa dialokasikan untuk membeli diapers. Sama beli bahan makanan untuk MPASI-nya Charel dan Charla biar makin gemoy," balas Anaya.


"Cuma, kalau memang butuh suntikan dana, bilang saja. Aku sudah siap sedia. Bahkan dana darurat juga ada. Bisa dipakai kapan saja," balas Tama.


Anaya yang mendengarkan ucapan Tama rasanya dia berpikir bahwa suaminya itu bisa mengalokasi dana untuk berbagai kebutuhan. "Kamu bisa mengalokasikan dana untuk berbagai hal ya Mas?"


"Ya, harus Sayang ... termasuk gaji dari masa muda dulu kan semuanya gak dihabisin. Ada yang ditabung. Terutama ya uang penjualan rumah dulu yang dibagi dua dengan orang tuanya Cellia. Selebihnya ditabung, kamu juga tahu semua tabunganku kok," balas Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya. Masih dia ingat perihal prahara dengan mantan mertua Tama yang meminta harta gono-gini dari penjualan rumah pernikahan Tama dengan almarhumah Cellia dulu. Bahkan tuduhan demi tuduhan yang membuat Anaya tidak habis pikir dengan kedua orang tua itu.


"Ya, kan dulu ... kamu sampai di titik terendah, Mas. Dari penjualan rumah dan perhiasan kamu berikan ke kedua orang tua itu. Cuma, sudah lega ya Mas? Insyaallah, semua digantikan sama Allah. Walau harus bekerja keras, tapi pelan-pelan terkumpul," balas Anaya.

__ADS_1


"Benar Sayang ... waktu itu kamu tahu sendiri sisa uang tabungan aku. Namun, pelan-pelan bisa bertambah lagi. Uang bulanan untuk kamu tidak pernah kosong, selalu terpenuhi. Selain itu, dana pendidikan, dan berbagai tabungan lainnya ada. Merencanakan finansial itu jauh lebih baik, daripada tidak memilikinya sama sekali," balas Tama.


Yang disampaikan Tama ada benarnya. Sebab, kita tidak pernah tahu dengan kendala yang terjadi di masa depan. Misalnya ada anggota keluarga yang sakit, harga beberapa kebutuhan pokok yang melambung tinggi, dan tagihan listrik yang mendadak naik, atau BBM yang juga naik. Setidaknya untuk mengantisipasinya dibutuhkan tabungan supaya tidak panik dengan perubahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.


"Iya, setuju Mas ... kalau urusan tabung-menabung aku percaya sama kamu kok. Pria yang banyak tabungannya. Makasih banget Mas Tama," balas Anaya.


Di sana Tama justru terkekeh geli, sewaktu Anaya mengatakan bahwa Tama adalah pria yang banyak tabungannya. Rasanya juga lucu. Namun, Tama hanya tidak ingin istri dan ketiga anaknya mengalami kesulitan secara finansial. Oleh karena itu, memang lebih baik menabung mulai sekarang dan juga lebih siap untuk menghadapi hari esok dan juga berbagai perubahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.


"Udah, ngerjain lagi. Nanti malahan ngobrol terus jadinya," balas Tama.


Pria itu kemudian mengambil tempat di sisi Anaya. Duduk melantai dan mengamati apa saja yang diketik oleh istrinya itu. Kadang Tama tenang, kadang tangannya bergerak mengusapi puncak kepala Anaya, dan juga kadang pria itu yang menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. Ketika Anaya ingin mengerjakan Thesis dari jam berapa pun, Tama akan selalu mendampingi Anaya, menemaninya. Sekalipun tidak banyak yang bisa Tama lakukan. Akan tetapi, Tama selalu hadir untuk menemani Anaya.


"Sebentar Mas, aku mau ambil minum dulu," ucap Anaya yang kini beringsut hendak mengambil minum.


Akan tetapi, Tama menyelanya. "Kamu duduk saja Sayang, biar aku yang ambilin. Mau cemilan apa? Aku belikan di mini market depan," tawar Tama kemudian kepada istrinya.


"Gak usah pedulikan lemak dan berat badan, Sayang ... yang penting kamu nyaman. Aku juga tidak keberatan kok. Justru sexy gitu kok," balas Tama.


Mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya, Anaya pun tertawa. Bisa-bisanya suaminya itu justru tidak keberatan dengan bobot tubuhnya sekarang. Padahal Anaya masih belum kembali ke berat idealnya. Masih sekitaran 6 kilogram lagi yang harus dia turunkan untuk kembali ke berat idealnya.


"Uang dipakai saja Sayang ... untuk jajan, untuk shopping, beli skincare, ya beli saja. Sebagai istriku kamu juga berhak bahagia. Yang penting belanjakan uang dengan tepat dan bijak. Mau apa? Aku beliin," balas Tama.


"Beliin Es Krim yang viral itu dong Mas ... mau enggak? Di depan perumahan kita ada tuh, yang gerainya merah," balas Anaya.

__ADS_1


Mendengar apa yang disampaikan Anaya, Tama justru tertawa. "Kamu ini malahan makan Es Krim jam setengah sembilan malam. Awas hati-hati, jangan biarkan hatimu kosong Sayang ... nanti ditempati gerai Es Krim dan Boba itu. Bahaya, ntar," balas Tama.


"Hatiku tidak akan pernah kosong kok Mas ... full isinya untuk kamu, dan tiga anak kita," balas Anaya.


"Ya sudah, mau yang rasa apa?" tanya Tama kepada istrinya itu.


"Moka Boba Float," jawab Anaya dengan cepat.


Tama pun segera berpamitan dengan istrinya dan dia menuju ke depan perumahan miliknya yang memang baru dibuka gerai dengan warna merahnya yang khas, es krim yang belakangan ini viral di media sosial. Tidak perlu naik mobil, Tama cukup berjalan kaki saja. Demi istri tercinta malam pun, dia akan keluar rumah dan membelikan apa yang Anaya mau.


Untung malam itu, tidak begitu ramai. Padahal beberapa hari sebelumnya pembeli selalu penuh. Tumpah ruah. Sekarang, Tama bisa langsung memesan dan dilayani. Tidak perlu menunggu lama, Tama pulang dengan membawa Moka Boba Float dan juga Moka Boba Sundae. Terserah saja nanti Anaya akan memilih yang mana.


Begitu sampai di rumah, Tama masuk ke kamar dengan membelikan Es Krim yang diinginkan istrinya itu. "Ini Sayang ... kamu mau yang mana? Satunya Float, dan satunya Sundae," ucap Tama.


Anaya tampak mengamati dua minuman yang tampak sama itu, kemudian dia menjauhkan pilihannya dengan Moka Boba Sundae. "Aku yang ini saja ya, Mas ... yang banyak es krimnya," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya. "Iya, ambil saja. Dimakan. Gak usah takut gemuk. Kamu mau beli Ramen, aku bisa pesankan online," balas Tama.


Namun, Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ramen itu gandum dan ini Es Krim gula dan krim. Wah, bisa menambah berapa kilogram itu, Mas ... enggak ah. Nanti aku kian chubby," balas Anaya.


"Ya, kan jajan sesekali tidak apa-apa, Sayangku ... nanti aku tambahin uang jajannya buat kamu," balas Tama.


"Gak usah ditambahin. Uang dari kamu saja sisa banyak setiap bulannya kok Mas. Makasih Mas Tama yang baik hati," balas Anaya.

__ADS_1


"Sama-sama Mama Anaya," jawab Tama dengan menusukkan sedotan ke dalam minumannya. Kemudian Tama menyodorkan minuman itu ke depan bibir Anaya. "Cobain dulu, Yang," ucapnya.


Mengikuti apa yang diperintahkan suaminya, Anaya pun mencobanya sedikit. "Hmm, enak ... I Mix Ue," ucap Anaya dengan mencuri satu ciuman di bibir suaminya itu.


__ADS_2