
Anaya memasuki ruangan Dokter Indri dengan perasaan begitu cemas. Bahkan telapak tangan Anaya terasa dingin sekarang. Tama tahu bahwa gestur tubuh dan raut wajah Anaya menunjukkan kecemasan, tetapi Tama harus tetap tenang untuk bisa menenangkan istrinya itu.
"Malam Tante," sapa Anaya begitu bertemu dengan Dokter Indri.
"Halo ... bagaimana sehat?" sapa Dokter Indri kepada Tama dan juga Anaya.
"Iya Tante," balas Anaya.
Sebenarnya Dokter Indri sudah tahu kondisi Anaya kurang baik dari hasil pengukuran tensi darah yang baru saja dilakukan. Akan tetapi, Dokter Indri masih begitu ramah dengan keponakannya itu.
"Langsung kita periksa dengan USG ya Anaya," ucap Dokter Indri lagi.
"Boleh Tante," balas Anaya.
Lantas Dokter Indri meminta Anaya untuk menaiki brankar dan perawat memberikan USG Gell di perut Anaya, lantas Dokter Indri mulai menggerakkan transducer dan meminta Anaya serta Tama untuk melihat pada monitor.
"Oke ... kita pantau kondisi janin dengan USG yah. Sekarang usia kehamilan sudah 38 minggu. Air ketubannya masih cukup dan lihat ini si Kembar saling berhadap-hadapan. Lucu sekali," ucap Dokter Indri menunjukkan kedua bayi yang terlihat di dalam rahim itu.
Anaya tersenyum melihat dua bayi yang kini menghuni rahimnya. Semoga saja kedua bayinya bisa kuat dan sehat sampai waktu launching nanti.
"Masing-masing janin beratnya juga normal yah, hampir 2,5 kilogram. Ini hanya perkiraan ya Anaya, berat bayi yang sesungguhnya bisa kita timbang kala lahir nanti," jelas Dokter Indri lagi.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Bisa lebih dari 2,5 kilogram, dan juga bisa berkurang ya Dokter," balas Anaya.
"Ya, benar sekali. Bisa lebih dan juga bisa kurang. Akan tetapi, karena kembar berat segini sudah normal dan juga bagus," balas Dokter Indri.
Mendengar bahwa kondisi Si Kembar dalam keadaan baik dan normal berat badannya tentu saja membuat Anaya dan Tama sama-sama lega. Kemudian Dokter Indri kembali tersenyum melihat Anaya.
__ADS_1
"Anaya terakhir kali makan jam berapa?" tanya Dokter Indri kemudian.
"Jam empat sore tadi, Tante," balasnya.
"Kalau terakhir minum jam berapa?" tanya Dokter Indri lagi.
"Sama, jam empat usai makan tadi," balas Anaya.
Kali ini rasanya perasaan Anaya kian tidak enak, ketika Dokter Indri menanyakan kapan terakhir kali dia makan dan juga minum. Kian merasa bahwa kondisi dirinya yang tidak baik sehingga akan berpengaruh terhadap kesehatan kedua janinnya.
"Hmm, begini Anaya ... perlu Tante sampaikan kepada kamu. Tekanan darah kamu begitu tinggi, 170 untuk tekanan darah kamu. Sehingga, kalau dibiarkan bisa sangat berisiko memutuskan plasenta dari uterus dengan cara yang tidak semestinya."
Dokter Indri memberikan penjelasan kepada Anaya. Barulah sekarang Anaya dan Tama bahwa tekanan darah Anaya cukup tinggi. Pemicunya tentu bisa beberapa hal seperti kelelahan dan juga stress yang tidak dikelola dengan baik. Tekanan darah tinggi pada Ibu yang hendak melahirkan memang sangat berisiko memutuskan plasenta dari uterus dengan cara yang tidak semestinya. Ini bisa memicu pendarahan hebat saat persalinan. Ini sangat berbahaya. Bahkan bisa menyebabkan kematian ibu dan janin.
"Jadi ... kamu siap tidak, kalau kita operasi caesar malam ini?" tanya Dokter Indri.
"Harus ya Tante?" tanya Anaya kemudian.
"Iya ... usia 38 minggu juga bukan usia yang premature, bayi sudah bisa bernafas dengan paru-parunya dan bisa beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim. Jika mau, Tante akan urus dan juga persiapkan semuanya. Lantas mulai ini puasa, ya sekitar tiga atau empat jam lagi, kita mulai operasinya," jelas Dokter Indri.
Anaya lantas melihat kepada suaminya, tidak bisa memberikan keputusan karena tentu Tama sebagai seorang suami memiliki keputusannya sendiri.
"Tapi aman kan Tante? Untuk ibu dan bayinya," balas Tama kemudian.
"Tante dan tim medis akan berusaha, Tama. Sebab, ini tekanan darah Anaya begitu tinggi. Jika tidak plasenta bayi bisa lepas sendiri dan uterus si bayi, dan justru berisiko sekali untuk kedua bayinya," balas Dokter Indri.
Tama yang semula duduk pun, mendekat ke brankar dan menggenggam tangan Anaya di sana.
__ADS_1
"Gimana Sayang, kamu mau?" tanya Tama kemudian.
"Aku takut," balas Anaya.
"Aku temenin selalu," jawab Tama dengan memastikan bahwa sedetik pun Tama tidak akan meninggalkan Anaya.
Anaya tampak diam dan berpikir, lantas kembali menatap wajah suaminya, "Citra bagaimana Mas?" tanyanya.
"Aman ... tidak usah mikirin Citra dulu, ada Mama dan Papa yang bisa kita andalkan. Koper kamu juga sudah kita masukkan di bagasi mobil. Untuk keperluan persalinan, kita sudah siap juga," balas Tama.
Untuk memang benar, ketika usia kehamilan Anaya memasuki 35 minggu, memang Anaya sudah memasukkan dua koper yang berisikan perlengkapan untuk dirinya, Tama, dan si kembar. Bersiap jika mungkin terjadi kontraksi, sehingga mereka tinggal menuju ke Rumah Sakit.
Beberapa menit, Anaya terdiam dan kemudian menatap suaminya, "Oke ... asalkan si Kembar akan baik-baik saja," balas Anaya.
"Kamu juga akan baik-baik saja, Sayang," balas Tama dengan menatap Anaya di sana.
Dokter Indri pun menganggukkan kepalanya, "Jadi kita akan operasi malam ini yah. Jika ada KIS bisa diurus ya Tama, semuanya akan dicover asuransi tersebut. Anaya juga Tante ingin tahu golongan darah kamu untuk meminta kantong darah ke PMI," tanya Dokter Indri.
Bukan hanya tekanan darah tinggi, tetapi ketika membantu persalinan ibu yang melahirkan bayi kembar bisa terjadi pendarahan hebat ketika melahirkan, untuk itu Dokter memang harus menyiapkan kantong darah untuk transfusi darah. Untuk itulah, Anaya harus memberitahukan golongan darahnya.
"O, Tante," balas Anaya.
"Oke ... sekarang kalian bisa tunggu di luar, dan perawat akan membantu kalian dan juga menempati kamar yah. Jangan panik dan santai saja ya Anaya, Tante dan tim Dokter akan bekerja keras dengan maksimal," balas Dokter Indri.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Tante ... tolong kami yah," balasnya.
"Pasti Anaya ... pasti," balas Dokter Indri dengan masih berusaha tersenyum dan membuat sang pasien tidak begitu cemas. Sebab, Dokter Indri pun sangat tahu bahwa Anaya terlihat begitu cemas sekarang.
__ADS_1