Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Sosok Seperti Bunda


__ADS_3

Melihat bahwa dua garis merah ditunjukkan Anaya dalam pemeriksaan pendeteksi kehamilan pagi itu, tentu Tama merasa begitu bahagia. Itu artinya kebahagiaan keluarga kecilnya akan bertambah. Tama pun tidak keberatan walau Citra sendiri masih kecil dan belum lepas ASI. Namun, bukankah kelahiran seorang bayi adalah kebahagiaan untuk orang tua dan keluarganya? Untuk itu, Tama pun merasa begitu bahagia sekarang.


"Istirahat saja Sayang ... kamu baru hamil muda. Aku beliin susu untuk Ibu hamil yah?" tawar Tama kepada istrinya itu.


"Enggak usah Mas ... ntaran aja," balas Anaya.


Kemudian Anaya beringsut dan menatap suaminya itu, "Mas, jangan memberi kabar kepada keluarga kita dulu yah. Kita pastikan ke Rumah Sakit dulu yah. Aku enggak mau kalau belum dipastikan dan sudah membagikan kabar. Jadi, sebaiknya dipastikan terlebih dahulu," ucap Anaya.


"Baiklah ... aku juga belum memberikan kapan kepada siapa pun," balas Tama.


Lantas Tama menatap ke Anaya, "Senang kan Sayang?" tanyanya.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... seneng banget. Tidak menyangka, buah cinta kita berdua ada di sini," balasnya.


Tama kemudian tersenyum di sana, "Kerja keras kita menabur benih berhasil Sayang ... benar-benar tidak menyangka," balas Tama.


Agaknya suaminya itu kembali ke mode modusnya dan begitu absurd. Sampai Anaya tertawa dan mencubit pinggang suaminya itu.


"Kamu aslinya itu IT Engineering atau Petani sih Mas?"


"Ya, kerjanya IT, kalau sama kamu alih profesi ya aku mau-mau saja. Jadi petani, jadi pembersih rumah, jadi apa pun asalkan sama kamu, aku mau-mau saja kok Sayang," balasnya.


Anaya terkekeh geli di sana, bisa-bisanya suaminya bercanda dan serba mengada-ada. Rasanya ingin menghadiahi cubitan kepada suaminya itu.


"Kamu bisa-bisanya sih Mas ... aku tuh ya Mas ... kadang kalau baru diem atau ngapain gitu tiba-tiba kangen dengan sosok Bunda. Aku akan berpikir dan sebatas membayangkan, gimana Citra kalau besar nanti dan tidak punya kenangan sama sekali mengenai Bundanya," ucap Anaya kini.

__ADS_1


Merasa bahwa Anaya tengah bercerita dan membahas sesuatu yang serius, Tama pun tampak mengalihkan perhatiannya sepenuhnya kepada Anaya. Dia pun turut berpikir bagaimana jadinya jika Citra besar nanti dan tidak memiliki kenangan sama sekali mengenai Ibu kandungnya. Jujur saja, mendengarkan cerita dari Anaya membuat Tama merasa begitu sedih.


"Cerita dari Ayah kan aku lahir ya menjadi piatu sejak lahir. Tidak ada Bunda karena Bunda meninggal setelah beberapa jam melahirkan aku. Jadinya ingatan yang kumiliki hanya sebatas foto dan cerita saja dari Ayah. Wajah Bunda yang seperti apa saja aku tidak tahu, jadi ketika aku memejamkan mata dan mencoba membayangkan wajah Bunda ya aku hanya bisa melihat foto-foto Bunda saja yang selama ini ku simpan," ceritanya.


Kali ini Tama tidak banyak berbicara. Pria itu duduk dan menatap wajah istrinya, dengan satu tangan yang menggenggam tangan istrinya itu. Tama ingin menjadi suami yang mau mendengarkan cerita istrinya. Tama ingin menjadi suami yang siaga untuk sang istri.


"Kadang itu ya Mas ... ada rasa kangen gitu. Ngebayangin Bundaku itu dulu seperti apa, cara dia bertutur kata itu seperti apa. Kelihatannya ada rasa kangen yang seperti itu. Hanya saja, Tuhan tidak menghendakinya. Sebab, seumur hidupku aku tidak pernah mendengar suara Bundaku," ceritanya lagi.


Bukan merespons, nyatanya Tama dengan segera memeluk Anaya. Sebuah pelukan yang hangat jauh lebih berarti untuk Anaya sekarang ini dibandingkan puluhan kalimat yang tersusun dengan rapi. Anaya tersenyum dan mendekap tubuh suaminya itu. Bahkan Anaya memejamkan matanya, kala suaminya itu dengan cepat memeluknya. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama berpelukan, hingga akhirnya Tama barulah mulai bersuara.


"Ada kalanya dalam hidup ini memang tidak semuanya bisa kita rasakan. Kembali lagi, suka dan duka itu silih berganti. Layaknya ada siang dan juga ada malam. Mungkin juga kamu merasa tidak memiliki kenangan akan Bundamu, tetapi cerita yang sudah Ayah Tendean sampaikan itu akan terus hidup di hati kamu. Semua kenangan yang manis bukan hanya terekam di otak kita, tetapi juga di hati kita. Makasih sudah berbagi hidup, Anaya. Kiranya kamu selalu kuat, teguh, dan kian kokoh."


Perkataan yang penuh afirmasi positif dari seorang Tama, untuk itu Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Terima kasih Suamiku," balasnya dengan mencerukkan wajahnya di dalam dekapan Tama.


"Iya Mas," balas Anaya.


***


Menjelang sore hari ....


Anaya dan Tama sudah menitipkan Citra ke rumah Mama Rina, kini keduanya sama-sama menuju Rumah Sakit untuk memeriksakan kandungan Anaya. Terlihat Tama yang beberapa kali melirik istrinya itu.


"Deg-degan enggak?" tanyanya.


"Enggak sih ... biasa saja. Cuma ya sekarang senang aja, hamil ada suaminya. Dulu kan enggak," balasnya.

__ADS_1


"Suamimu ini akan selalu mendampingi kamu, Sayangku," balas Tama.


Hingga akhirnya, tidak berselang lama mobil Tama pun sudah tiba di salah satu Rumah Sakit yang ada di Jakarta. Tama tampak menggandeng tangan istrinya itu dan kini mereka ke poli kandungan dan mendaftar ulang untuk pemeriksaan. Anaya masih terlihat santai dan menunggu saat namanya akan dipanggil.


"Antrian berapa kita Mas?" tanya Anaya.


"Enam Sayang ... tiga lagi," balasnya.


Hampir setengah jam mereka menunggu, sampai akhirnya Anaya dan Tama masuk untuk memeriksakan kandungan mereka.


"Silakan Ibu Anaya," panggil seorang perawat yang menyebutkan nama Anaya.


"Yuk," balas Tama yang berdiri lebih dulu dan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Begitu memasuki ruangan Dokter, nyatanya Anaya tertegun di sana. Bahkan Anaya terlihat menahan nafas dan matanya berkaca-kaca.


"Ayo Sayang," ajak Tama lagi karena kala itu Anaya seakan membeku di tempatnya.


Tama melirik ke Anaya dan melihat perubahan air muka pada istrinya itu.


"Kenapa Sayang?"


"Dia ... mirip dengan Bunda," balasnya lirih dan suaranya bergetar seolah hampir menangis.


Siapakah dia?

__ADS_1


__ADS_2