
Pulang dari Ragunan, Citra meminta kepada Opanya untuk membeli Ayam Goreng yang memang terkenal. Anak berusia 3 tahun itu mengeluh lapar dan meminta membeli Ayam Goreng dari salah satu fast food yang cukup terkenal.
"Opa, Citra mau makan Ayam Goreng dong," pintanya.
"Iya, Ayam Goreng kesukaan kamu kan?" tanya Opa Tendean yang tahu dengan salah satu Ayam Goreng kesukaan cucunya.
"Iya Opa ... dibawa pulang saja ya Opa. Citra mau makan disuapin Mama," ucapnya lagi.
Oleh karena itu, Opa Tendean memilih layanan Drive Thru dan membeli satu bucket Ayam Goreng sekaligus untuk oleh-oleh Tama dan Anaya di rumah. Tidak lupa membelikan Burger dan juga Kentang Goreng untuk Citra. Setelahnya, mereka kembali melajukan mobil dan pulang ke rumah.
"Makasih banyak Opa," ucap Citra yang kala itu sambil memakan Kentang Goreng miliknya yang masih hangat.
"Sama-sama Nak ... Citra seneng gak jalan-jalan sama Opa? Lain kali jalan-jalan sama Opa lagi mau?" tanya Opa Tendean.
Gadis kecil itu segera menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, mau ... ke rumahnya Oma Dian ya Opa ... kan katanya Citra mau dikasih buku. Kapan Opa?"
Melihat Oma Dianti dan juga mendengar bahwa dia akan diberikan buku dongeng anak-anak yang ditulis sendiri oleh Oma Dianti membuat Citra merasa begitu excited dan juga ingin segera mendapatkan buku-buku itu. Oleh karena itulah, Citra sudah begitu ingin bertemu dengan Oma Dian.
"Kapan-kapan ya Sayang ... nanti kalau ke sana, pasti sama Citra. Oke," balas Opa Tendean lagi.
"Iya Opa," sahut Citra dengan terus mengunyah Kentang Goreng miliknya.
Hingga akhirnya, mobil yang dikemudikan oleh Ayah Tendean kini sudah berhenti di depan rumah Anaya dan Tama. Segera mereka turun dan tidak lupa Ayah Tendean membawa satu bucket Ayam Goreng yang bisa mereka nikmati bersama.
"Papa ... Mama ..., Citra pulang," teriak Citra sembari berlari menuju ke arah pintu.
__ADS_1
Ada Mama Anaya yang sudah membukakan pintu dan tersenyum melihat Citra yang berlari dan memeluknya dengan penuh sayang. Anaya memeluk CItra dan mengusapi rambut sebahu putrinya itu.
"Sudah pulang, Nak Cantiknya Mama," sambut Anaya.
"Iya Mama ... kangen Mama," balas Citra dengan masih memeluk Mamanya dengan erat. "Papa mana Ma?" tanya Citra kali ini yang mencari di mana Papanya berada.
"Ada tuh ... sambil nonton tv Papa, sambil jagain Twins," balasnya.
Ayah Tendean tersenyum melihat Anaya di sana, "Ini oleh-oleh dari Citra," ucap Ayah Tendean dengan menyerahkan satu bucket Ayam Goreng itu.
"Wah, makasih Opa ... makasih Citra," balas Anaya.
"Itu dari Opa kok Ma ... kan Citra tidak punya uang. Opa yang bayar tadi," balas Citra. Begitu kritisnya Citra dan bisa mengamati apa yang terjadi di sekitarnya bahwa Ayam Goreng dalam satu bucket itu adalah dari Opanya, bukan dari dia, karena Citra sendiri belum memiliki uang.
"Citra mau susu vanilla juga ya Mama. Minta tolong buatkan susu untuk Citra ya Mama?"
Anaya pun tersenyum menatap anaknya, "Tentu Kak Citra ... Mama buatkan yah," balasnya.
Ayah Tendean bergabung dengan Tama dan juga Twins yang ada di ruang keluarga, sementasra Anaya membuatkan minuman untuk Ayahnya dan juga untuk Citra. Setelahnya mereka bergabung di ruang keluarga. Duduk di atas karpet bulu yang lembut dan mengasuh Twins, Charel dan Charla.
"Minumannya Ayah," ucap Anaya menyerahkan Jeruk hangat untuk Ayahnya.
"Ini susu vanilla untuk Citra."
"Yee, makasih Mama ... Citra sayang Mama," balas Citra yang sebelum meminum susu itu justru mencium pipi Mamanya terlebih dahulu. Setelahnya Citra mengambil tempat duduk di dekat Mama dan Papanya. Tama juga tersenyum melihat Citra minum susu sembari mengusapi puncak kepalanya.
__ADS_1
Usai minum susu, Citra kemudian tampak menatap wajah Mama dan Papanya bergantian. Kemudian mulialah dia bercerita, "Mama ... Papa, tadi seru banget di Ragunan loh. Citra bisa melihat gajah, kuda, unta, dan ada burung yang cantik banget ... namanya burung merak," cerita Citra.
"Jadi, Citra melihat burung merak di sana?" tanya Anaya.
"Iya Ma ... warnanya hijau, kalau semua bulunya melebar, cantik banget Ma ... katanya Oma Dian, itu namanya burung Kahyangan karena begitu cantik," cerita Oma lagi.
Anaya tampak mengernyitkan keningnya mana kala Citra menyebut tentang Oma Dian, lantas Anaya bertanya kepada anaknya itu. "Oma Dian itu siapa Citra?"
"Temannya Opa, Ma ... Oma Dian ... dia tadi nolongin Citra waktu Citra mau jatuh. Penulis buku anak," jawabnya.
Anaya tersenyum dan mendengarkan jawaban dari Citra, kemudian Anaya melirik ke Ayahnya yang terlihat cuek dan biasa saja. Mungkinkah memang Ayahnya mengajak Citra jalan-jalan karena memang akan bertemu dengan wanita yang disebut Oma Dian itu, atau memang sengaja bertemu di Ragunan.
"Siapa itu Opa?" tanya Anaya menelisik.
"Temannya Ayah dulu ... adik kelas di fakultas kedokteran, tapi dia mengambil jurusan psikologi," balas Ayah Tendean.
Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Jadi ... tadi," balas Anaya.
"Tidak begitu ... itu kami sengaja bertemu. Tidak ada janjian sebelumnya. Justru Ayah merasa kaget, Citra tadi lari di arah kandang burung merak, kakinya nyaris tersandung akar pohon. Untung ditolongin sama Dianti. Ya, namanya Dianti. Begitu, syukurlah Citra tidak jadi terjatuh. Ayah sudah panik tadi," cerita Ayah Tendean.
Anaya pun tersenyum dan menatap Ayahnya, "Calon Omanya Citra ya Ayah?" tanyanya jawab.
Citra ternyata menyahut, "Iya, calon Oma dong Mama. Kan Mama punya Papa ... Opa kan punya Oma," jawabnya lagi.
Semua yang ada di situ pun tertawa. Sekali lagi Citra membuat Anaya, Tama, dan Opanya tertawa. Hingga Ayah Tendean menggelengkan kepalanya melihat cucunya itu.
__ADS_1