Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Mama Anaya Kembali Kuliah


__ADS_3

Agaknya pengaturan waktu Anaya melahirkan sangat tepat, karena Anaya melahirkan di saat dia sudah menyelesaikan ujian semester dan juga memasuki liburan. Sehingga, Anaya tidak perlu cuti untuk kuliahnya. Sekarang, ketika rasa sakit pasca persalinan caesar sudah hilang, Anaya akan kembali menjadi mahasiswa lagi untuk menyelesaikan kuliahnya yang tidak terasa hanya tinggal dua semester.


"Mas, besok aku kuliah lagi loh Mas ... tinggal mata kuliah untuk persyaratan Thesis kok, Mas ... dua mata kuliah saja. Statistika dan Metodologi Penelitian," ucap Anaya kepada suaminya.


"Sudah mulai semester barunya ya Sayang?" tanya Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... sudah mulai dan besok hari pertama kuliah. Jadi, aku lanjut kuliah lagi ya Mas ... sama bagian beasiswa kan harus empat semester lulus. Kalau lebih, aku harus bayar sendiri," balas Anaya.


"Kamu enggak capek nanti? Jadi fulltime Mama dan terus jadi mahasiswa?" tanya Tama.


"Kalau semua dijalani dengan baik ya enggak capek kok Mas ... aku harus bersemangat, cuma tinggal dua semester. Usai ini, aku bisa menata masa depanku. Apa yang aku inginkan, apakah menjadi Ibu rumah tangga penuh waktu atau apa nanti. Jadi, aku lanjut sampai selesai ya Mas," balas Anaya.


Walau memang Anaya sangat indah menyelesaikan kuliah sampai selesai. Akan tetapi, Anaya tetap menginginkan pertimbangan dari suaminya. Anaya juga yakin bahwa suaminya pastilah akan memberikan pertimbangan yang baik.


"Iya, selesaikan saja ... anak-anak biar diasuh Mama Sayang, nanti begitu aku sudah antar jemput kamu, juga aku akan mengasuh anak-anak di rumah. Jadi, ya tunaikan tugas kamu saja. Jangan pikirkan tentang anak-anak," balas Tama.


Terlihat jelas bagaimana Tama begitu kooperatif dan juga mendukung Anaya sepenuh hati. Bahkan sang Papa muda itu tampak mau berbagi pengasuhan dengan istrinya. Ketika Anaya bisa menyelesaikan kuliahnya justru Tama akan merasa bangga.


"Makasih Papa Tama ... baik banget sih," balas Anaya.


"Ya enggak ... menjadi Mama bukan berarti membuat seorang wanita terkungkung dan tidak bisa menggapai apa yang dia mau. Justru, aku harus mensupport kamu untuk bisa menyelesaikan studimu, Sayang."


Anaya yang mendengarkan jawaban Tama sungguh bersyukur. Mungkin para suami lain di luaran sana akan memilih supaya istrinya fokus untuk anaknya yang masih bayi. Namun, Tama justru akan mendukung Anaya. Jika perlu, sampai pengerjaan Thesis nanti, Tama juga akan selalu mendukung istrinya itu.

__ADS_1


***


Keesokan harinya ....


Mama Rina sudah datang ke rumah Tama, memang Mama Rina yang berkata bahwa Tama dan Anaya tidak usah repot ke rumah Mamanya, tetapi Mama yang akan datang ke rumah Tama.


"Belum berangkat Anaya?" tanya Mama Rina.


"Sebentar lagi Ma," balas Anaya.


"Senengnya Eyang bisa main sama Citra, Charel, dan Charla. Mama biar kuliah dulu ya Nak ... nanti kalau sudah besar kalian juga kuliah yang pinter yah kayak Mama Anaya," ucap Mama Rina.


Di sana Citra pun menyahut, "Iya Eyang ... Citra mau pinter sama kayak Mama," balasnya.


Anaya pun segera memeluk Citra dan mencium pipi putri sulungnya itu, "Iya, Mama harus cepat selesai kuliah ... biar tahun depan giliran Kak Citra yang sekolah, nanti dianterin Mama sekolah di Play Grup yah," balasnya.


"Janji Sayang," balas Anaya.


Setelahnya, Tama pun turun dari kamarnya dan kemudian bertanya apakah istrinya itu akan berangkat kuliah sekarang. "Berangkat sekarang Sayang?" tanyanya.


"Mama, Anaya berangkat dulu ... titip anak-anak ya Ma," pamitnya.


"Iya, tidak usah bingungkan anak-anak. Pasti Eyangnya akan menjaganya dengan baik," balas Mama Rina.

__ADS_1


Usai itu, Tama segera mengajak Anaya untuk berangkat ke kampus. Papa muda itu menggandeng tangan Anaya dengan senyam-senyum sendiri.


"Terasa enggak Sayang, kalau berdua gini kita kayak pasangan muda ... tidak tahunya sudah memiliki buntut tiga," ucapnya.


Anaya pun tertawa di sana, "Bener banget ... tidak tahunya di rumah buntutnya tiga. Sudah punya tiga bocils," balas Anaya.


"Sudah semu barang bawaan kamu?" tanya Tama kemudian.


"Sudah kok Mas ... aku jaga-jaga bawa pumping. Cuma jaga-jaga aja kalau sumber ASI-nya penuh," balas Anaya.


Kemudian Tama menatap kepada istrinya, sekarang mereka sudah berada di dalam mobil dan Tama mulai menjalankan mobil itu perlahan. "Kamu sudah memakai breastpad?" tanyanya.


Sebegitu perhatiannya Tama, sampai perihal breastpad saja diperhatikan olehnya. Tentu juga supaya Anaya bisa mengikuti kuliah dengan nyaman, dan berjaga bahwa ASI-nya tidak sampai bocor dan ada rembesan di kemejanya. Breast pad sendiri adalah bantalan menyusui yang terbuat dari kain atau bantalan sekali pakai yang dikenakan pada payu-dara untuk menyerap susu yang mungkin bocor di antara waktu menyusui.


"Sudah Mas ... sudah pakai kok. Aman. Semoga tidak bocor ya Mas," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, aku takut ... soalnya sumber ASI kamu melimpah banget Sayang," jawabnya.


Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sampai di kampus dan Anaya pun berpamitan kepada suaminya itu. "Ya sudah, aku kuliah dulu ya Papa ... jaga anak-anak di rumah yah. I Love U," balasnya.


Tama tersenyum, dia menarik wajah Anaya sesaat dan kemudian mendaratkan kecupan di kening Anaya.


Chup!

__ADS_1


"Kuliah yang rajin My Love ... kabarin ya kalau sudah mau selesai, nanti aku jemput. Tenang, Papa Tama bisa diandalkan untuk ngasuh tiga bocils kok. I Love U too!"


Ya, Anaya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukungnya seperti Tama. Dia adalah suaminya yang memberikan dukungan secara penuh. Bahkan untuk kuliah kali ini, Tama juga akan turut mengasuh tiga bocils yang ada di rumah.


__ADS_2