Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Suapan Pertama


__ADS_3

"Kapan-kapan kalau senggang, kamu boleh kok buat MPASI buat Citra," ucap Tama dengan spontan.


Semua itu Tama katakan karena memang Anaya yang terlihat exicted sekali dengan fase MPASI pertama Citra ini. Seakan Tama memberikan kesempatan bagi Anaya untuk mencoba apa yang tidak pernah dia lakukan. Berbagi sedikit kebahagiaan kepada sosok Ibu yang merasa dirinya tidak sempurna itu. Dengan demikian Tama pun berharap bisa memberikan kebahagiaan untuk Anaya, turut mengajak wanita itu untuk bahagia bersama.


"Yakin, boleh?" tanya Anaya.


"Iya, boleh ... cuma bilang dulu, jadi aku tidak memasak kayak gini buat Citra," jawab Tama dengan menganggukkan kepalanya.


"Makasih banget Tama ... bersama Citra aku punya banyak pengalaman baru," sahut Anaya yang juga turut tersenyum. Ini adalah sebuah pengakuan jujur dari Anaya bahwa bersama dengan Citra, banyak pengalaman baru yang didapatkan Anaya, secara khusus pengalaman seputar pengasuhan anak.


Tama yang sekilas melihat senyuman di wajah Anaya pun turut tersenyum. Jujur saja, alih-alih melihat Anaya menangis, Tama lebih suka melihat Anaya yang seperti ini. Wajahnya yang sayu mungkin karena kemarin sakit sekarang sudah bisa tersenyum. Hanya saja, ini adalah perasaan yang masih bias di dalam hati Tama.


"Iya, sama-sama," balas Tama yang juga turut tersenyum.


Keduanya kemudian membawa bubur MPASI yang sudah dihaluskan dan juga sudah didinginkan, kemudian keduanya naik bersama ke dalam kamar Citra yang berada di lantai dua. Ketika hendak menaiki anak tangga, tampak Tama yang memberikan akses lebih dulu kepada Anaya.


"Naiklah dulu," ucapnya.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, dan melangkahkan kakinya menapaki anak tangga. Sementara Tama berjalan di belakangnya. Lantas, keduanya pun masuk ke dalam kamar Citra.


"Mama, kami sudah selesai," ucap Anaya yang tersenyum lebar dengan membawa mangkok MPASI. Itu adalah mangkok dan sendok yang dia belikan untuk Citra kemarin, dan sekarang set peralatan makan itu memang sudah disiapkan Tama sebelumnya di dapur.


"Ya, sudah ... kalian yang suapin Citra atau Mama?" tanya Mama Rina.


"Kami saja, Ma ... makasih banyak Ma ... sudah mau menjagain Citra," balas Tama.


"Iya ... makan yang lahap yang cucunya Nenek. Nenek turun dulu yah ... gantian yang jaga. Udah ganti shift," ucap Mama Rina dengan terkekeh geli.

__ADS_1


Kemudian Tama mendudukkan Citra di baby chair dengan sosok yang bersandar, memasangkan kain lampin di lehernya, dan kemudian mulai menyuapi Citra.


"Yuk, belajar makan dulu yuk Sayang ... akhh ... mam ... mam," ucap Tama. Si Papa muda itu berusaha untuk mengajak Citra untuk makan.


Single Daddy itu berusaha untuk menyuapi Citra. Akan tetapi, kali pertama MPASI itu begitu tricky. Bayi memerlukan waktu untuk mengenali rasa makanan dan juga tekstur makanannya. Pun begitu dengan Citra yang tampak mengecap-ecap bubur MPASI pertamanya.


"Ihh, lucu banget sih ... kenalan sama rasanya dulu ya Cit ... nanti lama-lama juga suka," ucap Anaya yang tertawa geli melihat bibir Citra yang belepotan dengan bubur MPASI.


"Tuh ... ada Onty Aya tuh ... dilihat sama Onty ... mam yuk ... dicoba dulu, Sayangnya Papa," ucap Tama lagi.


Satu suapan ... dua suapan ... lima suapan ...


Citra bisa menerimanya, Tama pun sudah begitu senang rasanya. Sehingga pada suapan yang keenam, Tama pun juga berharap bahwa kali ini Citra juga bisa menerima dan memakannya.


"Wah, pandai ... lagi yuk lagi ... mam mam," ucap Tama.


Rupanya kali ini di luar ekspektasi, karena Citra justru menyeburkan bubur yang dia makan. Hingga bubur itu mengenai wajah Tama.


"Citra lucu banget sih ... Papanya justru disembur," balas Anaya.


"Kamu baby atau Mbah Dukun sih Citra, kok Papa disembur loh," ucap Tama.


Anaya kian terbahak-bahak mendengar gerutuan Tama itu, bagaimana bisa Tama menyamakan bayinya dengan Mbah Dukun hanya karena Citra yang menyemburkan bubur dan mengenai wajahnya. Kemudian Anaya yang refleks tertawa pun sampai menepuki bahu Tama.


"Kamu lucu banget sih Tama," ucap Anaya.


Tama hanya tersenyum, sembari membersikan percikan bubur yang mengenai wajahnya. "Wah, wajahnya Papa jadi beraroma Salmon dong ini," ucapnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Anaya justru terkekeh geli. Wajah wanita itu memerah karena terbahak dalam tawa. Tama sendiri pun justru merasa bahagia karenanya.


"Daripada menangis seperti kemarin, lebih baik kamu bahagia dan tertawa seperti ini, Ay," ucap Tama yang sekilas menatap wajah Anaya.


Merasa ditatap dan mendengar ucapan Tama, perlahan Anaya pun menahan tawanya. Wanita itu sedikit mengipasi wajahnya sendiri dengan telapak tangannya dan kemudian menelisipkan rambutnya ke belakang telinga. Apa maksud ucapan Tama barusan, tetapi ucapan itu terasa mengena di hatinya.


"Euhm, Tama ... boleh gantian aku yang nyuapin Citra enggak?" tanya Anaya kemudian.


Tama pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian menyerahkan mangkok yang berisi bubur itu kepada Anaya, dan kemudian duduknya berpindah, supaya Anaya bisa duduk di hadapan Citra.


"Silakan Onty Aya," ucap Tama.


Menerima mangkok dari Tama, Anaya pun tersenyum. Wanita itu mengangkat sendok dan mengisinya sedikit dengan bubur kemudian menyuapkannya ke mulut Citra.


"Sekarang giliran Onty ya Citra Cantik ... maem yuk, Onty suapin ... mam-mam," ucap Anaya.


Kali ini Citra justru lebih baik dalam mencecap rasa bubur dan juga menelannya perlahan. Di tangan Anaya, justru bubur yang Citra lebih banyak suapannya. Tama pun sampai terheran-heran.


"Wah, pinter banget ... Citra pinter deh. Cuma kenapa lahapnya waktu disuapin Onty dan Papa justru disembur sih?"


Anaya mengedikkan bahunya, "Entahlah ... mungkin karena Citra sayang sama Onty. Ya, Sayang yah ... pinter yah. Onty mau deh suapin Citra terus, yang penting Citra makannya lahap ... biar makin gemoy ya Sayang," balas Anaya dengan menyuapi bubur MPASI kepada Citra lagi.


"Seriusan mau nyuapin Citra terus?" tanya Tama kemudian.


"Iyalah ... mau," balas Anaya dengan cepat.


Tama kemudian tersenyum dan melirik ke arah Anaya, "Boleh deh ... wah, pekerjaannya Onty Aya tambah banyak nih ... kira-kira Papa kuat enggak nih gaji Onty," balas Tama. Tentu itu adalah sebuah candaan.

__ADS_1


"Enggak lah ... bahkan aku mau tanpa menerima gaji darimu, Tam ... karena ... aku sayang sama Citra," balas Anaya.


Sebuah pengakuan jujur dari Anaya bahwa dia pun mau melakukan semuanya tanpa digaji karena dia sayang kepada Citra. Rasa sayangnya yang kian hari kian besar yang mendorongnya untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk Citra. Melakukan hal yang dia bisa dengan tulus, bukan lagi berorientasi pada gaji yang dia dapatkan.


__ADS_2