Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Hiperlaktasi


__ADS_3

Kembali kuliah dengan kondisi tubuh yang berbeda sebenarnya membuat Anaya harus ekstra berjaga-jaga. Bukan dengan luka jahitan yang memang sepenuhnya sudah pulih, tetapi yang Anaya khawatirkan adalah kedua sumber ASI-nya yang bisa dengan begitu mudahnya penuh. Ini adalah fakta karena walau sudah diminum secara langsung dengan Direct Breastdeeding untuk Charel dan Charla, nyatanya begitu pumping, kedua sumber ASI tetap akan menghasilkan ASI yang begitu banyak.


Sementara hari ini, Anaya akan kuliah kurang lebih empat jam. Sehingga Anaya pun merasa khawatir jika terjadi pembengkakan di payu-daranya dan juga bisa saja terjadi rembesan, padahal dia sudah memakai breast pad.


Rupanya benar, dua jam pertama usai kuliah Statistika, Anaya merasakan payu-daranya terasa penuh dan kencang, selain itu Anaya merasakan sakit dan juga nyeri. Ada waktu istirahat setidaknya setengah jam, oleh karena itu, Anaya mencoba mencari Dosennya yaitu Khaira dan hendak menumpang ruangan milik Dosennya itu untuk melakukan pumping terlebih dahulu.


Syukurlah, sosok yang dia cari sekarang ada di kampus, sehingga Anaya bisa meminta izin untuk menemui dan mengatakan ingin pumping terlebih dahulu.


"Permisi Bu Khaira," sapa Anaya dengan mengetuk pintu ruangan Dosen milik Khaira.


"Masuk Anaya," sahut Khaira dari dalam.


"Maaf Bu ... saya mengganggu, mau numpang pumping boleh?" tanya Anaya.


Khaira pun menganggukkan kepalanya, "Boleh silakan saja ... bawa pumping dan kantong ASIP kan?" tanyanya.


"Bawa Bu ... perlengkapan perangnya sudah lengkap. Cuma, saya bingung mau pumping di mana. Tidak mungkin kan Bu, sembarangan pumping," balas Anaya.


Khaira memahami, karena dulu dia pernah ada di tahap itu. Untunglah anak-anaknya lahir ketika dia sudah menjadi dosen muda dan memiliki ruangan sendiri sehingga bisa untuk melakukan pumping. Anaya mengambil tempat di sofa yang ada di ruangan dosen itu, dan kemudian membuka kemeja, dan melihat breast pad yang dia kenakan sudah basah. Selain itu juga Anaya menahan nyeri karena sumber ASI-nya terasa begitu bengkak dan sembulannya terasa panas.


Sedikit melihat Anaya, Khaira pun bertanya apakah mungkin payu-dara milik Anaya bengkak dan membutuhkan pereda nyeri.


"Bengkak ya Anaya?" tanya Khaira.


"Iya Bu ... dan penuh banget."


"Tadi waktu mau berangkat belum diminumkan ke Si Kembar yah?" tanya Khaira lagi.


"Sudah itu Bu ... Direct Breastfeeding itu Bu ... Charel dan Charla sudah minum banyak tadi, ini dua jam sudah sepenuh ini," balas Anaya.


Mendengar jawaban Anaya, lantas Khaira mengernyitkan keningnya. Mungkinkah itu karena Anaya yang baru keluar rumah tanpa mengajak bayinya sehingga memang melewatkan jam minum ASI, atau mungkin terjadi hal yang lain.


"Mungkinkah Hiperlaktasi Anaya?" tanya Khaira lagi.


"Apa itu Bu?" respons Anaya di sana.

__ADS_1


"Hiperlaktasi itu kondisi ketika tubuh ibu memproduksi ASI lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi. Biasanya ditandai dengan keluarnya ASI begitu deras tanpa ada stimulasi seperti dipompa atau pumping dan diminum bayi. Gejalanya bisa payu-dara menjadi penuh dan kencang, payu-dara terasa membesar sepanjang waktu, nyeri dan sakit, dan ASI tercecer saat menyusui karena begitu derasnya," jelas Khaira kepada Anaya di sana.


Anaya tampak berpikir di sana, "Kurang tahu ya Bu ... cuma dulu itu Mas Tama pernah bilang kok sudah diminum Duo C, ketika pumping masih dapat banyak banget. Dari dua ini bisa sampai 3 kantong ASIP loh, Bu," cerita Anaya.


Khaira tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Oh, mungkin saja ... coba sekarang sebelum memberikan ASI dipumping dulu untuk mengurangi arus ASI yang keluar. Arus ASI yang keluar dari kelenjar Alveoli jika terlalu deras bisa membuat bayi seperti tersedak, selain itu kurangi minum suplemen ASI sih," jelas Khaira.


Anaya tampak menganggukkan kepalanya, "Baik Bu ... nanti saya coba kalau di rumah. Lega Bu, kalau sudah keluar begini agak lega, walau saya harus mengganti breast pad," balasnya.


"Saya masih simpan breast pad. Kamu mau?" tawar Khaira kepada mahasiswa itu.


"Boleh Bu," balas Anaya.


Kurang lebih lima belas menit, Anaya melakukan pumping dan menyimpan ASI yang sudah dipumping ke dalam kantong ASIP. Setelahnya, Anaya pun berpamitan untuk melanjutkan kuliah lagi.


"Terima kasih untuk bantuannya ya Bu Khaira," ucap Anaya.


"Sama-sama, kalau waktunya kuliah pumping di sini saja. Jangan sungkan," balas Khaira.


Anaya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Baik Bu ... terima kasih banyak," balasnya dan kembali ke gedung yang hendak digunakan untuk kuliah.


Akhirnya dua jam berlalu, dan sekarang Anaya keluar dari kampus untuk menunggu suaminya yang hendak menjemputnya. Ketika dia keluar, rupanya Dosennya yaitu Khaira juga keluar.


"Bu Khaira juga pulang?" sapa Anaya kepada Dosennya itu.


"Iya, sudah selesai. Menunggu Pak Driver dulu," balasnya.


Anaya pun tersenyum, "Driver pribadi ya Bu?"


Khaira pun tertawa, "Iya ... menunggu Papanya anak-anak," balasnya. "Kamu nunggu Tama juga yah?" tanya Khaira.


"Iya Bu ... menunggu Mas Tama," balas Anaya.


Keduanya pun menunggu di depan gedung fakultas Pasca Sarjana dan berharap suaminya akan segera menjemputnya. Rupanya kali ini Tama yang datang lebih dulu. Tampak Tama menghentikan mobilnya tepat di depan istrinya itu dan pria itu pun keluar dair mobilnya.


"Nunggu lama, Sayang?" tanya Tama.

__ADS_1


"Lumayan Mas," balas Anaya.


Lantas Tama menyapa Khaira di sana, "Belum dijemput Khai?" tanyanya.


"Belum, mungkin jalanan macet," balas Khaira.


"Bu Khaira mau ditemenin duluan tidak?" tanya Anaya.


Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, "Kamu duluan saja. Kan ada baby di rumah, yang sudah kangen Mamanya. Paling sebentar lagi Mas Radit datang kok," balasnya.


Akhirnya Anaya dan Tama pulang lebih dahulu. Tampak Khaira melambaikan tangannya kepada Anaya di sana.


"Aku tadi pumping di ruangannya Bu Khaira, Mas," cerita Anaya kepada suaminya.


"Kenapa, penuh ya Sayang?" tanya Tama.


"Banget Mas ... sampai nyeri. Breast padnya juga basah semua. Jadi, tadi ganti breast pad," cerita Anaya kepada suaminya itu.


Menghela nafas sejenak, kemudian Anaya berbicara lagi kepada suaminya itu. "Katanya Bu Khaira mungkin saja aku ini Hiperlaktasi, Mas ... kondisi ASI yang melimpah dan banyak melebihi kebutuhan normal bayi. Soalnya baru dua jam saja sudah bengkak," cerita Anaya.


"Terus gimana Sayang?" tanya Tama kemudian.


"Dipumping dulu sebelum Direct Breastfedding Mas ... biar arus ASI-nya tidak deras. Sama mengurangi suplemen ASI yang memang membuat produksi ASI melimpah," jawabnya.


"Ini masih sakit?" tanya Tama kemudian.


"Kalau sakit kenapa emangnya?" tanya Anaya.


Tama pun tersenyum, "Ya, nanti aku yang kompresin. Biar enggak bengkak dan nyeri lagi," balas Tama.


Anaya pun terkekeh geli di sana, "Modus pasti. Udah mau ya Mas?" tanyanya.


Tama dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak Sayang ... belum, nanti saja. Aku masih trauma Sayang. Masih kasihan sama kamu," balasnya.


Anaya yang melihat suaminya itu sebenarnya juga kasihan. Namun, Tama sendiri juga merasa masih trauma dan kasihan dengan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2