
“Jadi, sekarang Citra minumnya ASI terus kan?” tanya Bisma kepada Tama.
“Iya Mas … beruntungnya ada Anaya yang memberikan ASI untuk Citra. Jadi, Citra jadi lebih sehat, berat badannya juga naik,” balas Tama.
“Bagus … usahakan dalam enam bulan pertama, Citra mendapatkan ASI secara eksklusif. Soalnya Citra kan intoleransi terhadap susu sapi. Jadi, usahakan untuk mendapat ASI terlebih dahulu,” balas Dokter Bisma lagi.
Anaya yang mendengarkan perbincangan Dokter Bisma dan Tama pun turut mendengarkan penjelasan Dokter Bisma itu. Paling tidak Anaya tahu bagaimana gejala bayi yang intoleransi susu sapi itu. Sebelumnya, Anaya juga pernah mendengar dari Ayahnya bahwa memang ada beberapa bayi yang tidak bisa meminum susu sapi.
"Dokter, bayi yang alergi susu sapi itu apakah bisa juga alergi susu soya?" tanya Anaya yang seolah menginterupsi obrolan Dokter Bisma dan juga Tama.
Dokter Bisma pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Anaya, "Dari hasil penelitian setidaknya ada 25% anak yang memiliki alergi susu sapi juga alergi dengan susu soya. Oleh karena itu, sebelum mengganti susu dengan produk lainnya, Ibu dianjurkan untuk memeriksakan anaknya ke Dokter Anak terlebih dahulu. Susu soya pun bisa menyebabkan alergi dengan gejala bayi bisa muntah, diare, muncul ruam, rewel, hingga terjadi pembengkakan di wajah, bibir, dan lidah," jelas Bisma kepada Anaya.
Terlihat wajah serius Anaya dan juga Tama. Tidak mengira bahwa bayi yang alergi susu sapi, ternyata bisa pula alergi terhadap susu soya. Namun, bagi bayi yang tidak mengalami alergi, susu soya (susu kedelai) kerap digunakan sebagai alternatif untuk memenuhi asupan nutrisi pada bayi.
"Namun, perlu diingat bahwa susu soya tidak dianjurkan juga untuk diberikan kepada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan. Selain itu, susu soya sebaiknya tidak diberikan pada bayi yang kolik dan berisiko tinggi memiliki alergi makanan. Dulu, waktu aku memeriksa Citra, bayi ini kolik. Rupanya koliknya mengarah ke intoleransi susu sapi. Maka, advice yang aku berikan adalah memberikan ASI untuk Citra. Sistem pencernaannya tidak bisa mencerna, sehingga susu yang baru sampai di tenggorokan, dimuntahkan kembali," jelas Bisma.
"Oh, jadi waktu itu Citra sampai muntah-muntah yah?" tanya Anaya.
Dokter Bisma pun menganggukkan kepalanya, "Benar ... bahkan dia mengalami ruam. Jika dipaksa minum susu sapi, justru kasihan saluran cernanya, dan bisa membuat bayi tersedak. Ingat, bayi tersedak bisa membuat kematian," jelas Dokter Bisma lagi.
Mendengar kata 'kematian' terlihat Anaya yang menunjukkan wajah sendu. Teringat lagi dengan bayinya yang telah tiada. Namun, apa yang disampaikan Dokter Bisma memang sangat ilmiah, dan itu adalah penjelasan dari seorang ahli spesialis anak.
"Sebegitunya seriusnya yah, Mas ... padahal hanya perkara susu," respons Tama dengan menghela nafas.
"Benar ... karena kondisi tubuh satu bayi dengan yang lainnya beda-beda, karena itu memang sebaiknya dikonsultasikan ke Dokter terlebih dahulu," balas Dokter Bisma.
Tama seolah mendapatkan pengetahuan baru bahwa memang merawat bayi itu gampang-gampang susah. Seperti kasusnya kali ini, hanya perkara memberikan susu saja, ternyata ada bayi yang alergi susu sapi, ada bayi yang alergi susu soya, ada yang mengalami intoleransi terhadap laktosa, begitu banyak mengenai serba-serbi susu bayi.
"Makasih penjelasannya Dokter ... Anaya juga sekalian belajar," balasnya.
"Iya ... sama-sama. Kan kalau kalian ke sini, bisa sekalian konsultasi. Atau kalau mau ke rumah juga boleh kok ... konsultasi gratis kalau main ke rumah," balas Bisma dengan sedikit tertawa.
"Boleh Mas ... nanti lain kali aku main ke rumahnya Mas Bisma ... mau ketemu sama dua jagoannya Mas Bisma dan Mbak Naya," balas Tama.
__ADS_1
"Dokter, Istrinya bernama Naya juga? Sama seperti aku?" tanya Anaya.
Terlihat Dokter Bisma yang tersenyum, "Istriku bernama Kanaya. Sementara aku memiliki dua putra, Aksara dan Airlangga," balas Bisma.
"Wah, dua cowok ya Dokter ... dua jagoan. Bundanya paling cantik di rumah," balas Anaya lagi.
Cukup lama mereka bertiga berkonsultasi sembari mengobrol. Akan tetapi, sebagai Dokter Spesialis Anak juga harus profesional. Masih banyak pasien yang mengantri di luar untuk mendapatkan pemeriksaan, maupun imunisasi.
"Jadi, kita kembali ke jalan yang benar yah ... Citra mau imunisasi yah?" tanya Bisma dengan tertawa.
"Iya Mas ... imunisasi DPT/Hib 1," balas Tama.
"Ya sudah, yuk ... Baby Citra ditidurkan di sini dulu yah. Paman Dokter siapkan jarum suntiknya dulu," ucap Dokter Bisma.
Kemudian sebuah kapas yang sudah terkena alkohol diusapkan ke paha Citra, beberapa kali Citra terlihat menendang-nendangkan kakinya. Kemudian mulaikan vaksin disuntikkan ke otot paha. Baik Tama dan Anaya seolah kompak memejamkan matanya, tidak tega melihat jarum suntik disuntikkan ke otot paha (intramuscular) Citra. Tentu sudah bisa ditebak, ketika jarum suntik itu perlahan dicabut, yang terjadi adalah Citra yang menangis dengan begitu kencang.
Anaya pun langsung membuka matanya, wanita itu segera menggendong Citra untuk menenangkan bayi itu.
"Cup cup cup ... sayangnya Onty ... sakit yah? Disuntik biar sehat ya Sayang ... cup," ucap Anaya yang berusaha menenangkan Anaya.
"Cup Sayang ... ada Papa di sini," ucapnya lirih.
Dalam diam, rupanya Bisma mengamati Bisma dan Anaya. Yang satu menyebut dirinya Papa, dan yang satu menyebut dirinya Onty. Sampai perawat yang ada di situ cukup bingung mendengarkan ucapan dari Tama dan Anaya.
"Enggak apa-apa ya ponakan kecilnya Paman Dokter ... cuma kayak digigit semut saja kok. Diimunisasi biar Citra selalu sehat," balas Dokter Bisma.
"Memberikan efek demam enggak, Dok? Suntikannya ini?" tanya Anaya lagi.
"Demam ... karena tubuh si kecil akan merepons kandungan dari vaksin tersebut. Oleh karena itu, nanti aku resepkan penurun panas drops saja untuk Citra. Berikan 0,2 ml saja yah ... hanya waktu panas. Jika, memang tubuhnya CItra tidak panas, tidak masalah," jelas Bisma lagi.
"Baik Dokter," sahut Anaya.
"Ya sudah, Mas ... kami pamit ya, Mas ... kapan-kapan aku main ke rumah saja, tidak enak sudah banyak pasien kecil di luar yang pengen bertemu dengan Dokter Bisma," balas Tama.
__ADS_1
"Bisa saja kamu ... iya, mainlah ke rumah. Ana, main ke rumah ... kenalan sama Istri dan Aksara serta Airlangga," ucap Dokter Bisma yang juga mempersilakan Anaya untuk main ke rumahnya.
"Iya Dok, lain kali," balas Anaya dengan menundukkan wajahnya.
Setelah menyelesaikan imunisasi, kemudian Tama dan Anaya berpamitan dan keluar dari ruangan Dokter Bisma. Namun, Dokter Bisma masih mengamati keduanya sampai punggung keduanya hilang ketika pintu ditutup.
"Jika saja kalian berdua bisa saling menyembuhkan luka satu sama lain. Tama kehilangan istrinya, dan Anaya kehilangan bayinya ... sangat menyenangkan jika pada akhirnya nanti aku bisa melihat kalian berdua bersama dan menjadi orang tua seutuhnya bagi Citra," gumam Bisma dalam hati.
Ya, di dalam hatinya ... Dokter Bisma rupanya beranda-andai dan memiliki harapan jika saja Tama dan Anaya bisa saling menyembuhkan satu sama lain. Kerapuhan, luka, duka, dan kepedihan di dalam hati semuanya itu bisa disembuhkan dengan satu kata yaitu cinta.
Akan tetapi, sepenuhnya Bisma tahu bahwa baru sebulan waktu berlalu ... baik Tama dan juga ANaya masih membutuhkan waktu untuk membereskan hatinya sendiri. Berusaha mengusir duka itu sendiri.
Meninggalkan sejenak Dokter Bisma dan harapan dalam hatinya, kini Tama dan Anaya tampak mengantri untuk membayar administrasi dan menebus obat penurun demam dalam bentuk drops itu. Sementara, Citra bisa sedikit lebih tenang, hanya saja efek dari suntikan dan menangis kencang, wajah si baby sampai kelihatan merah jadinya.
"Sakit ya Citranya Papa ... cup cup cup ... tidak apa-apa yah, yang penting Citra sehat dan kuat," ucap Tama yang berdiri di depan Anaya yang sedang menggendong Citra.
"Mungkin dia kaget saat jarumnya dicabut," sahut Anaya.
"Iya, efek kejut saja, biasa bayi," balas Tama.
Beberapa menit berlalu saat Tama membayar untuk imunisasi dan menunggu obat, kemudian dia segera mengajak Anaya dan Citra untuk segera masuk ke dalam mobil. Hanya saja, Citra kembali menangis.
"Tama, boleh beri waktu untuk memberi ASI buat Citra dulu enggak?" tanya Anaya kepada Tama.
"Boleh ... ya sudah, aku hidupkan mobilnya dulu, biar tidak panas," ucapnya.
Tama segera menghidupkan mobil, dan mengarahkan AC sedikit ke arah Anaya. Kemudian Tama memilih untuk keluar dari mobil.
"Ay, kamu berikan ASI untuk Citra dulu saja, aku tunggu di luar. Kalau sudah, buka saja jendela mobilnya yah," ucap Tama.
Anaya menganggukkan kepalanya, melihat Tama dan sikapnya kali ini, seolah membuat Anaya tertegun karena Tama tidak seperti image duda yang genit, me-sum, bahkan suka mencari keuntungan dari lawan jenisnya.
"Hmm, iya Tam ... makasih," balas Anaya.
__ADS_1
Tama menutup pintu mobilnya, kemudian pria itu memilih keluar dan duduk dengan membelakangi mobilnya. Memberikan waktu bagi Anaya untuk memberikan ASI untuk putri kecilnya.