
Entah sudah berapa lama Tama terjaga dan masih menunggu Anaya. Di dalam hatinya, Tama selalu berdoa dan memanggil nama Allah supaya Anaya bisa segera sadar. Sebab, Tama begitu khawatir dengan Anaya. Lagipula, jika hanya pingsan mungkinkah memang membutuhkan waktu yang lama? Namun, Tama kembali mengingat istilah medis yang disampaikan oleh Dokter Tendean tadi. Bahkan sembari menunggu dan menjaga Anaya, pria itu menjelajah di mesin pencarian (Mesin pencarian adalah kata ganti untuk Google,-) dan mencari tahu apa itu sinkop psikogenik.
Tama tampak mengernyitkan keningnya saat menelaah penjelasan mengenai keadaan yang kali ini dialami oleh Anaya. Cukup takut dan juga justru kian khawatir dengan kondisi Anaya.
Sinkop psikogenik adalah pingsan yang disebabkan oleh gejala psikologis seperti trauma, histeris, dan juga luka di masa lalu. Pingsan sendiri dihubungan dengan berkurangnya aliran darah ke otak. Pingsan bisa menjadi sesuatu yang sangat serius dan juga berbahaya.
Hanya sekadar membaca apa yang dituliskan dalam artikel itu sudah membuat Tama cemas. Sebab, dia pun menunggu waktu di mana Anaya akan segera sadar. Bahkan kali ini Tama dengan sengaja memegang tangan Anaya.
"Aya, ini aku Tama ... bangun Aya. Citra butuh kamu, Ay ... jangan terlalu lama, Ay. Kamu tahu sebenarnya aku melangkahkan kaki ke tempat ini dengan menguatkan diriku sendiri. Rumah Sakit mengingatkan pada kehilangan terbesar dalam hidupku enam bulan yang lalu. Juga, sekarang ... kamu yang tak sadar seperti ini seakan menghantam dadaku, Aya ... kamu tahu, istriku pergi begitu saja dalam keadaan tak sadarkan diri seperti ini. Jadi, please Aya ... bangunlah. Menunggumu di sini setiap detiknya membuatku berdebar-debar dan ketakutan. Sadarlah Anaya. Semua ini serasa dejavu bagiku. Citra sudah kangen tuh sama Onty nya. Kamu tahu, waktu dia membuka hadiah darimu dia sangat senang. Bahkan aku sudah mensteril dodot yang kamu belikan dan Citra sudah memakainya untuk meminum ASIP darimu. Aya, banyak orang yang sayang padamu."
Tama kembali diam, tetapi dia tetap memperhatikan Anaya. Yang diucapkan Tama sepenuhnya benar. Rumah Sakit mengingatkannya dengan kehilangan terbesar yang dialaminya enam bulan yang lalu. Oleh karena itulah, Tama memilih memberikan imunisasi bagi Citra di klinik milik Dokter Bisma, bukan di Rumah Sakit. Semuanya itu semata-mata karena Tama merasa terpukul tiap kali melihat Rumah Sakit ini.
Hanya saja, malam ini ... hanya untuk menunggu Anaya dan memastikan wanita itu bisa kembali pulih, Tama rela melawan rasa takutnya. Melawan rasa terpukulnya, walau dengan dada yang sesak, Tama tetap melangkahkan kakinya dan sekarang dia sendiri yang menunggu Anaya.
Perlahan-lahan, rupanya jari telunjuk Anaya bergerak. Tama begitu terkejut saat mengamati jari telunjuk Anaya yang bergerak. Semoga ini adalah awal yang baik bagi Anaya dan wanita itu segera menemukan kesadarannya.
"Aya ... bangunlah Aya. Aku di sini, Aya," ucap Tama.
Sungguh, sekarang dadanya bergemuruh riuh. Hanya sekadar melihat pergerakan kecil dari jari telunjuk Anaya saja sudah membuatnya begitu bahagia. Semoga akan disusul dengan repons tubuh Anaya yang semakin baik.
"Aya ... Citra sayang kamu, Aya ... bangunlah," ucap Tama lagi dengan lirih.
Sekian menit kemudian, kelopak mata Anaya yang tampak bergerak. Tama masih menunggu. Situasi seperti ini benar-benar membuatnya harap-harap cemas. Semoga Anaya sudah mendapatkan ambang batas kesadarannya.
Rupanya benar, kelopak mata Anaya perlahan kian mengerjap dan ada isakan dari bibir Anaya. Sudah pasti, Tama menerka bahwa semuanya ada hubungannya dengan pingsannya Anaya.
"Aya ... Aya," panggil Tama kepada wanita itu.
__ADS_1
Perlahan-lahan pun kelopak Anaya terbuka, wanita itu terisak, pandangannya masih kabur, dan Anaya mencoba memfokuskan pandangannya. Betapa terkejutnya dia, jika orang yang pertama kali dia lihat justru adalah Tama.
"Tama," panggil Anaya dengan lirih.
"Ya, Aya ... ini aku, Tama. Kamu sudah sadar, Ay?" tanya Tama.
Sejujurnya Anaya masih bingung. Sebab, kala dia sadar dan mengedarkan pandangannya yang dia lihat sama sekali bukan rumahnya. Sementara memori terakhir yang Anaya ingat adalah dia masih berada di rumahnya. Terlebih aroma bau obat yang menyengat. Agaknya Anaya tahu di mana dia berada. Pergerakannya kian terbatas karena ada jarum infus atau intravena yang terpasang di tangannya.
"Ayah, di mana?" tanya Anaya.
Ya, jujur saja seingatnya dia jatuh dalam pelukan Ayahnya. Akan tetapi, sekarang orang yang pertama kali dia lihat adalah Tama. Mungkinkah Tama yang sudah menjaganya. Anaya merasa bingung dengan semuanya.
"Aku akan mengabari Ayahmu. Istirahatlah dulu, Aya ... aku akan memanggil perawat dulu, tadi pesan dari Ayahmu, begitu kamu sadar harus segera memencet tombol yang berada di atas brankar pasien. Jadi, aku akan memanggil perawat dulu," balas Tama.
Pria itu pun berdiri dan kemudian memencet tombol yang terhubung langsung kepada perawat yang berjaga. Kemudian Tama kembali duduk di kursi yang berada di samping brankar Anaya.
Tama segera mengambil handphone dari saku jaket bomber yang dia kenakan, kemudian segera mencari nomor kontak Dokter Tendean. Segera Tama menekan ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya dan kemudian menunggu sampai sambungan telepon itu terhubung.
"Halo," sapa Tama begitu telepon itu tersambung.
"Ya, halo Tama ... bagaimana kabar Anaya?" tanya Dokter Tendean.
"Dokter, ini Anaya sudah sadar ... Tama sudah memencet tombol yang terhubung ke perawat. Jadi, sebentar lagi perawat akan datang," balas Tama.
Ah, dalam hatinya Ayah Tendean merasa begitu lega. Rupanya Tama adalah sosok pria yang bisa diberi kepercayaan. Buktinya, sekarang Tama segera menghubunginya ketika Anaya sudah sadar.
"Baik Tama ... terima kasih untuk kabarnya," balas Dokter Tendean lagi sembari mematikan handphonenya.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar itu, Anaya juga merasa canggung hanya berduaan dengan Tama. Namun, dengan kondisinya sendiri yang masih lemah, maka Anaya harus berbaring di atas brankar dengan jarum intravena yang masih menembus pembuluh darahnya.
"Di mana yang sakit, Ay?" tanya Tama.
Ada gelengan lemah dari kepala Anaya, "Tidak ... tidak sakit. Hanya sedikit pusing," jawabnya dengan suara yang lirih.
Tidak berselang lama, perawat dan Dokter Gilbert masuk bersama dengan Dokter Tendean. Tentu Tama juga merasa kaget, bukankah Dokter Tendean tadi sudah berpamitan untuk pulang. Namun, hanya beberapa menit berselang dari teleponnya tadi Dokter Tendean sudah tiba. Pria paruh baya itu tampak berdiri di dekat Tama dan menepuki bahu pria itu.
Sementara Dokter dan perawat kembali memeriksa kondisi Anaya di sana. Jawaban yang diberikan Anaya juga menjadi acuan catatan medis yang didengar langsung oleh Dokter Gilbert.
"Apa yang dirasakan sekarang?" tanya Dokter Gilbert.
"Sedikit pusing saja, Dok ... hanya itu saja," balas Anaya.
"Apakah pandangan masih kabur?" tanya Dokter Gilbert lagi.
"Tidak ... saya sudah baik-baik saja. Bolehkah saya istirahat di rumah saja? Terlalu berlebihan jika hanya pingsan dan dirawat di Rumah Sakit," ucap Anaya.
"Saturasi oksigen sudah stabil. Hanya saja, harus pandai-pandai mengelola emosi. Oleh karena itu, pastikan tidak terjadi lagi panik, kecemasan, hingga histeria karena memori yang buruk. Hindari, karena pingsan bisa berakibat fatal juga," jelas Dokter Gilbert.
"Baik Dokter," balas Anaya.
"Jadi apakah Anaya boleh pulang?" giliran Ayah Tendean yang bertanya.
"Jika memang stabil dan pasien bisa benar-benar mengelola emosinya saya kira tidak masalah," balas Dokter Gilbert lagi.
Syukurlah, badai yang terjadi kali ini bisa segera berlalu. Semoga di lain waktu, Anaya bisa mengelola emosinya dengan baik. Bagi mereka yang pernah terkena depresi memang harus pandai-pandai untuk mengelola emosinya. Jikalau tidak, mereka bisa terserang depresi yang lebih berat lagi.
__ADS_1