
Anaya masih memilih untuk diam, kendati demikian setidaknya Anaya tahu bahwa apa yang dibicarakan Farhani itu adalah terkait dengan Reyhan. Namun, apa yang sebenarnya terjadi hingga Reyhan banyak berhubungan dengan kasus hukum?
"Apa enaknya hidup penuh tipu-tipu. Aku sendiri Reyhan, dari perusahaan telekomunikasi sampai perusahaan galangan kapal kenapa semuanya bermasalah?"
Farhani bergumam, dan dia sampai tidak habis pikir kenapa bisa Reyhan tersandung dengan berbagai kasus hukum. Tama yang mendengarnya hanya tersenyum sekilas.
"Tama, katanya Reyhan terjerat kasus asusila juga, di perusahaan telekomunikasinya. Bukan hanya dengan satu staf, tetapi sampai tiga staf," cerita Farhani kali ini.
Mendengar nama Reyhan disebut, barulah Anaya merasa bahwa memang Reyhan adalah pria berengsek. Jadi, selama ini Reyhan tidak hanya meniduri Anaya saja, tetapi juga stafnya yang lain. Anaya sungguh tidak menduga, terlebih melihat Farhani yang begitu cantik, kenapa Reyhan masih berbuat seperti itu?
"Farhani, sebaiknya tidak usah membicarakan tentang Reyhan," balas Tama sekarang ini.
Tama meminta itu tentunya untuk menjaga perasaan Anaya. Apa perkara yang terhubung dengan masa lalunya. Oleh karena itu, Tama merasa sudah cukup untuk membicarakan tentang Reyhan.
"Kenapa Tam?" balas Farhani.
Belum sempat Tama menjawab, rupanya Anaya sudah terlebih dahulu angkat bicara, "Aku ... salah satu korbannya," ucap Anaya dengan menaruh sumpit yang semula dia pegang di samping mangkuknya.
Jujur saja, Farhani merasa begitu kaget, jika istri teman kuliahnya itu adalah salah satu korban tindak asusila dari mantang tunangannya sendiri. Tidak mengira wanita secantik Anaya adalah korban seorang Reyhan.
"Astagfirullah, yang benar Anaya?" tanya Farhani seakan tidak percaya.
"Iya, benar ... aku salah satu korbannya, 1,5 hingga 2 tahun yang lalu," jawab Anaya.
__ADS_1
Mendengar Anaya yang berbicara, Tama segera menautkan tangannya, di tangan Anaya. Sepenuhnya Tama sadar bahwa Anaya kembali teringat dengan masa lalunya yang begitu pahit.
"Tidak usah diceritakan karena itu adalah masa terburuk untuk kamu," bisik Tama dengan lirih di telinga Anaya. Sungguh, Tama pun ingin terus menjaga Anaya. Jangan sampai wanitanya itu kembali tertekan.
"Maaf ya Anaya ... aku benar-benar tidak tahu. Namun, kelakuan Rey yang gila itu sudah diketahui banyak orang. Jadi, banyak korbannya," balas Farhani.
"Apa kamu juga sampai tidur dengannya?" tanya Anaya kali ini.
Pikir Anaya jika memang Farhani belum sampai tidur dengannya, itu lebih baik untuk Farhani. Sebelum semuanya terlanjur, lebih baik menjaga diri terlebih dahulu.
"Tidak, tetapi nyaris ... untung saja aku selamat. Hanya saja sejumlah uang yang kami gunakan untuk membeli apartemen yang akan kami tinggali bersama, raib. Uangku terlanjur hilang dan apartemennya tidak ada. Dia bilang lebih baik membeli apartemen bersama dan akan kami tinggali begitu usai menikah. Nyatanya apartemen itu tidak pernah ada," cerita Farhani kini.
Bukan direnggut mahkota, tetapi Farhani nyatanya direnggut Rupiahnya. Anaya pun yakin untuk sebuah apartemen mewah di kota yang besar sudah pasti mengucurkan dana ratusan juta Rupiah. Lantas, kenapa Reyhan melakukannya? Bukankah Reyhan adalah seorang CEO dan juga kaya raya. Uang ratusan juta sama sekali tidak berarti untuk seorang CEO perusahaan telekomunikasi.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa," balasnya.
"Tidak ingin menuntut Reyhan?" tanya Farhani kali ini.
"Ingin," balas Tama dengan cepat.
Ya, kalau pun Anaya tidak ingin menuntut Reyhan, tetapi Tama justru ingin menuntut pria itu. Sebab, baginya Reyhan harus mendapatkan ganjarannya. Semua tingkah polahnya yang begitu buruk harus dipertanggungjawabkan.
"Beberapa staf yang dilecehkan secara seksual sedang mengajukan tuntutan. Jika kamu bergabung silakan," ucap Farhani kemudian.
__ADS_1
"Aku akan turut menuntutnya. Lagipula, akhir-akhir ini Reyhan beberapa kali menemui Anaya dan bilang ingin tanggung jawab kepadanya. Tanggung jawab seperti apa lagi? Kenapa dulu tidak bertanggung jawab dan justru lari ke Singapura. Setelah Anaya benar-benar hancur, sampai akhirnya Anaya perlahan bangkit, untuk apa dia bertanggung jawab," balas Tama.
Farhani pun tersenyum getir di sana, "Sabar yah ... kita di sini adalah sama-sama korban. Semoga saja Reyhan mendapatkan hukuman yang setimpal, dan pihak penegak hukum segera mengamankannya terlebih dahulu. Memang, pria sepertinya harus mendapatkan pelajaran. Aku juga tidak menyangka bahwa Reyhan melecehkan beberapa stafnya. Sia-sia aku setia kepadanya selama ini, jika akhirnya dia pun mengkhianatiku," balas Farhani.
"Sabar Kak ... aku juga berharap satu per satu masalah yang menimpa Reyhan akan diusut. Kendati begitu terkait dengan kasusku, aku sepenuhnya limpahkan kepada Mas Tama. Aku akan ikuti apa pun yang direncanakan oleh suamiku," balas Anaya.
Tama tersenyum, "Tentu Sayang," balasnya singkat.
Farhani di sana pun turut tersenyum, "Pengantin baru memang yah ... masih manis, tapi aku bahagia buat kalian berdua. Semoga suatu saat nanti aku dipertemukan dengan pria lain yang lebih baik."
"Amin ... semoga ya Kak. Jadi pertunangan itu benar-benar batal?" tanya Anaya lagi.
Farhani pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Iya, batal ... melihat track record Reyhan juga orang tua mana pun akan berpikir dua kali untuk menyerahkan anak gadisnya untuk dipersuntingnya. Penggelapan dana itu masalah serius, pelecehan seksual juga sangat serius. Jadi ya sudah, Mama dan Papa tidak memberikan izin lagi lebih baik batal sekarang. Lebih baik ketahuan buruknya sekarang, daripada setelah akad nanti. Sekarang atau nanti, ya aku akan sama-sama terluka, cuma aku percaya waktu yang akan membantu untuk menyembuhkan."
Sebagai orang yang pernah terluka, Anaya pun yakin bahwa waktu memang akan menyembuhkan. Cepat atau lambat proses pemulihannya tergantung dengan cara kita membuka hati, cara kita memproses semua yang telah terjadi, cara seseorang untuk pulih itu yang memberikan nilai yang berarti bahwa setiap luka pastinya akan sembuh.
Selain itu, Anaya juga yakin semua keputusan pasti ada konsekuensinya. Semua keputusan pasti ada risikonya. Namun, benar Anaya setuju terkait masalah Farhani, pembatalan pertunangan cepat atau lambat tetap Farhani akan terluka.
"Aku doakan semoga ada pria baik yang mengisi hidup kamu yah ... mengisi hari-hari bersama dengan saling bergandengan tangan, memenuhi setiap hari dengan merajut cinta berdua," ucap Anaya.
"Amin ... makasih ya Anaya. Aku juga berdoa kamu dan Tama selalu bahagia. Kalau punya baby, kabar-kabar yah. Biar aku bisa nengokin baby kalian," balas Farhani.
Berbicara mengenai baby, Anaya hanya tersenyum di sana. Masih satu minggu hubungan keduanya, Anaya masih ingin menikmati masa pernikahan dengan Tama. Namun, jika memang Tuhan memberikan buah hati sekarang tidak masalah juga buat Anaya. Sebab, anak pun adalah anugerah dari Tuhan.
__ADS_1