Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Bahagia Sebagai Seorang Anak


__ADS_3

Malam harinya, ketika anak-anak sudah tertidur, tampak Anaya yang bergelayut manja dengan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sekarang memang malam minggu, tetapi masih ada pekerjaan yang harus Tama lakukan terkait analytical data untuk perusahaannya, sehingga Papa muda itu duduk dengan memangku laptop di pahanya, sementara Anaya duduk di sampingnya dan ingin menemani suaminya itu.


"Baru banyak kerjaan ya Mas?" tanyanya.


"Analis data saja, Sayang ... daripada kelamaan nanti," balasnya.


"Jadi kangen dulu kamu ngajarin aku algoritma, Mas," balas Anaya.


Ya, dulu ketika mereka masih satu kantor dalam bekerja, Tama banyak mengajarkan Anaya untuk bahasa pemrograman. Walau pada kenyataannya, banyak kesalahan juga yang dilakukan Anaya saat bekerja dulu. Sehingga, banyak hal yang harus Tama perbaiki terkait koding dan indensitas.


"Iya, dulu ... cuma kok kamu bisa banyak salahnya loh Sayang ... padahal aku ngajarinnya sudah pelan-pelan loh," balas Tama.


"Aku terlalu grogi, Mas ... deket-deket kamu bikin aku nervous. Jadinya gak fokus dan banyak salah deh. Kadang ya Mas ... bisa sedeket ini sama kamu, rasanya seperti mimpi," balas Anaya.


Tama pun tertawa, benarkah bahwa istrinya itu segrogi itu. Padahal juga dirinya biasa saja. Walau dulu Tama memang sosok yang dingin. Akan tetapi, Tama juga seorang staf yang galak. Bahkan, Tama begitu sabar menghadapi Anaya dulu. Berjam-jam untuk mengajari dan mereview hasil pekerjaan Anaya saja, Tama melakukannya dengan sabar.


"Ini nyata Sayang ... kamu sambil cerita juga boleh Sayang. Kamu tahu kan kalau aku bisa mendengarkan orang cerita sambil tangan bekerja," ucap Tama kemudian.


Anaya pun tampak menganggukkan kepalanya, "Percaya deh ... cuma aku bahagia banget sih. Akhirnya Ayah dan Bunda Dianti bisa satu langkah menuju hubungan yang serius. Mungkin rasanya cepat, tetapi mengingat masa menduda ayah yang sudah seusiaku, jadi itu juga terbilang lama," cerita Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar Sayang ... aku juga senang dan setuju banget kalau lebih baik langsung menikah. Walau yang disampaikan Ayah dengan pertimbangan seperti itu. Kalau aku menilai, daripada terjadi zinah dan dipandang orang lain tidak baik, Sayang. Aku jadi ingat dulu waktu kamu menjadi Ibu Susunya Citra, tetangga di perumahannya Mama sering menggunjingkan kamu sebagai simpananku. Menjaga kehormatan wanita juga, Sayang. Bagaimana pun dekat dengan seorang duda juga rasanya tidak baik," balasnya.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Benar ... iya, aku dulu digunjingkan waktu nganterin Citra posyandu, katanya aku wanitanya Mas Duda. Ya ampun, gitu banget. Padahal kita benar-benar menjaga koridor dan juga seputar meng-ASI-hi saja, aku lakukan di ruangan tersendiri tanpa terlihat olehmu kok," balas Anaya kemudian.


"Makanya itu, jika memang hati sudah niat dan juga sudah yakin, lebih baik sih langsung serius saja. Dulu, aku terlalu lama memahami perasaanku sendiri. Rupanya cinta sejatiku ada di depan mata," balas Tama dengan melirik Anaya yang masih bergelayut manja di bahunya.


Anaya kemudian tersenyum, wanita itu membuka mulutnya dan menggigit bahu Tama, walau masih mengenakan kaos, tetap saja digigit rasanya sakit. Sampai Tama mengaduh di sana.


"Aduh, sakit Yang," ucap Tama sembari mengusapi bahunya yang baru saja digigit oleh istrinya itu.


"Abis gemes sama kamu ... aku kan juga nungguin. Cuma bersyukur sekarang Ayahku tidak menunggu terlalu lama, aku sangat bahagia sebagai seorang anak. Membayangkan Ayahku bangun pagi ada orang yang berbaring di sisinya saja membuatku sangat bahagia," balas Anaya.

__ADS_1


Ya, itu adalah perasaanya yang sangat tulus sebagai seorang anak. Membayangkan ketika membuka mata ada orang dikasihi yang berbaring di sisinya, dan juga ada yang membuatkan sarapan. Sore, ketika Ayahnya pulang dari Rumah Sakit ada yang membukakan pintu rumah, ada yang menemaninya mengobrol rasanya begitu menyenangkan. Sungguh, Anaya merasa sangat bahagia. Sebab, Anaya sangat tahu bahwa kehidupan Ayahnya sangat sepi selama ini.


"Sama Sayang ... ada kamu yang berbaring di sampingku, membuatku sangat bahagia. Duh, ngebayangin yang indah-indah, membuatku mendamba, Sayang ... yang dulu itu kan enggak jadi," ucap Tama kemudian.


Anaya pun mengernyitkan keningnya, "Yang mana Mas?" tanyanya tampak bingung.


"Yang ada Bunda Dianti ke rumah. Astaga, itu sudah dua pekan yang lalu," keluh Tama dengan menghela nafas yang terasa begitu berat.


Anaya pun tersenyum di sana, "Kepending sampai dua pekan ya Mas ... heheheh, abis jadi lupa kok," balasnya.


Tama kemudian menyimpan semua pekerjaannya terlebih dahulu, dan kemudian mematikan laptopnya, kemudian melirik Anaya dengan membelai sisi wajah istrinya itu. "Sekarang yuk Sayang ... mau enggak?" tanyanya dengan wajah yang terlihat mendamba.


"Kalau anak-anak bangun gimana?" tanyanya.


"Asal kamu tidak menjerit-jerit ya aman kok Sayang," balas Tama dengan mengedipkan satu matanya.


"Emang sudah selesai, pekerjaannya?" tanya Anaya kemudian.


Tanpa banyak bicara, Tama meraih dagu Anaya di sana, dan lantas pria itu memangkas jarak keduanya dan dengan begitu hati-hati, Tama segera melabuhan kecupan demi kecupan di bibir Anaya itu. Rasanya, Tama diingatkan dengan sesuatu yang tertunda beberapa pekan yang lalu. Kala di mana dirinya benar-benar mendamba, tetapi harus terjeda karena kedatangan Ayah Tendean dan Bunda Dianti. Kali ini, Tama tidak akan mengalah lagi. Dia dengan begitu tenang segera mengecup bibir Anaya, melu-matnya dengan bibir dan lidahnya yang terasa basah dan manis. Anaya pun memejamkan matanya, merasai indahnya ciuman suaminya itu atas bibirnya. Kecupan, lu-matan, hingga pagutan yang membuat Anaya perlahan-lahan menyandarkan ke sandaran kursi dan membiarkan suaminya untuk perlu mencium bibirnya, mencumbunya, memuaskan dahaga yang memang terjeda selama kurun waktu dua pekan ini.


Ketika bibir Tama bergerak turun ke lehernya yang jenjang, Anaya menengadahkan wajahnya, membiarkan Tama untuk memberikan jejak-jejak basah di garis lehernya. Yang Anaya lakukan sekarang adalah memejamkan matanya rapat-rapat dan merasakan perjalanan menggapai nirwana bersama dengan suaminya itu.


Tangan Tama pun tidak henti-hentinya untuk meraba setiap lekuk-lekuk feminitas di sana, memberikan remasan di bahu Anaya, dan kemudian dengan tangan yang sana, Tama memberikan remasan di buah persik milik Anaya, tangan ini menyusup ke dalam kaos yang dikenakan Anaya dan memberikan usapan dan remasan di buah persiknya.


Anaya mendesis di sana, gerakan tangan suaminya membuatnya melayang, membuatnya terbang walau pada hakikatnya Anaya tak memiliki sayap.


"Jangan di situ Mas ... nanti keluar lagi ASI-nya," ucap Anaya yang masih mengingatkan suaminya itu. Sebab, dulu mereka bercinta dan ASI miliknya memancur kemana-mana.


"Gas tipis-tipis saja Sayang," balas Tama.


Dengan begitu cepat dan lihai, Tama kemudian menarik ke atas kaos yang Anaya kenakan, membuatnya tampil polos dia bagian atas, dan membuang asal kaos dengan braa yang dikenakan Anaya. Pria itu bak orang yang kehausan segera melu-mat buah persik yang begitu menggoda itu. Memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya, hingga tidak membutuhkan waktu lama puncak itu mengkilap dan menegang.

__ADS_1


Hanya sebentar, karena Tama ingin bahwa dia hanya sekadar gas tipis-tipis saja. Kemudian, Tama bergerak kian turun dan menginvansi lebih di bawah. Ketika matanya bersitatap dengan kedua bola mata Anaya yang tertutup kabut, Tama tersenyum di sana.


"Rileks ... hiburan terbaik untukmu," balas Tama.


Yang mulai menyisiri lembah yang ada di bawah. Usapan dengan ujung lidah, dan juga gerakan melu-mat dan menghisap benar-benar membuat Anaya terengah-engah.


Sungguh luar biasa, sampai Anaya menggigit bibirnya sendiri. Merasakan terpaan gelombang dahsyat yang membuatnya kalang kabut. Anaya merasa tubuhnya bergetar dan Anaya menjauhkan kepala suaminya dari bawah sana.


"Sudah Mas ...."


Tama tersenyum di sana, melihat tubuh istrinya berguncang hebat, dan lantas pria itu melepaskan satu demi satu pakaiannya. Tampil dalam kepolosan mutlak di depan istrinya, mengetahui isyarat dari suaminya, Anaya segera memberikan service terbaik untuk suaminya. Mengulum sang Lingga, masuk dalam rongga mulutnya yang hangat dan basah. Gerakan peristaltik yang membuat Tama mende-sah dan mengusapi wajah Anaya di sana.


"Nikmat, Sayang."


Rasanya benar-benar nikmat. Akhirnya pusakanya kembali bertemu dengan tuannya. Sangat indah, sangat nikmat. Sampai di batas Tama menggelengkan kepalanya, dan mengeluarkannya dari rongga mulut Anaya. Kemudian pria itu memilih untuk duduk di sofa, dan segera memangku Anaya, memasukkan Lingga ke dalam Yoni. Kesan erat, basah, dan cengkeraman di bawah sana, membuat keduanya terengah-engah.


"Kamu selalu nikmat, Sayang," ucapnya.


"Berdiri bulu romaku, Mas," engah Anaya dengan memejamkan matanya dan memeluk suaminya.


"Sama ... luar biasa, Sayang ... My Love ... My Love."


Benar-benar malam yang indah. Ketika keduanya bisa berpadu. Pun dengan Anaya yang dengan nakal bergerak di atas pangkuan suaminya, mencengkeram bahu suaminya itu dan meninggalkan gigitan merah di bahu suaminya.


Mempertahankan Anaya di pangkuannya, dengan nafas yang kian terengah-engah, akhirnya keduanya bergetar dengan hebat, ketika mereka berhasil menggapai nirwana. Sangat indah, sampai Anaya terkulai dalam dekapan suaminya.


"I Love U, My Love."


Satu kata pengakuan cinta yang berhasil mensegel semua wujud afeksi yang baru saja mereka lakukan bersama.


"Love u too, Mas Tama ... love u," balas Anaya dengan suaranya yang lirih dan nafas yang terengah-engah.

__ADS_1


__ADS_2