Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ketika Tuhan Memberi Lebih


__ADS_3

Penjelasan yang diberikan oleh Dokter Indri benar-benar membuat Tama dan Anaya begitu bahagia. Ketika tahu bahwa ada dua kantung janin dan yang artinya Anaya sekarang tengah hamil dua baby kembar. Rupanya Tuhan masih memberikan kejutan yang lain, yaitu mereka akan mendapatkan anak kembar Fraternal yaitu sepasang cowok dan juga cewek.


“Selamat yah … tambah bahagia bukan? Tinggal menunggu minggu demi minggu sampai nanti persalinan yah,” ucap Dokter Indri.


“Iya Tante … doakan Anaya bisa sehat dan bisa menjalani kehamilan sampai persalinan nanti. Gak sabar lihat baby boy dan baby girl,” balas Anaya.


Dokter Indri pun tersenyum, lantas menyudahi pemeriksaan dengan USG itu dan kemudian mengeprint terlebih dahulu beberapa lembar foto dari USG. Menunjukkan posisi si kembar di dalam rahim Anaya.


“Menuju trimester dua, jadi kondisi Bumil lebih sehat, stabil, gejolak perasaan seperti mood swing agak berkurang. Untuk berhubungan suami istri juga lebih aman sekarang, cuma diperhatikan untuk tidak menekan perut yah. Dihati-hati, ada baby twins di dalam perut kamu,” pesan dari Dokter Indri lagi.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Dari kehamilan Anaya sehat kok Tante … Mas Tama justru yang teler, cuma sekarang sudah berkurang banyak,” balas Anaya.


“Oh, kehamilan simpatik yah Papanya?” tanya Dokter Indri kemudian.


Tama pun menganggukkan kepalanya, “Iya Tante … awal-awal itu yang morning sickness malahan Tama. Sekarang sudah berkurang banyak kok,” balas Tama kemudian.


“Kalau masih parah morning sicknessnya, bisa Tante resepkan pereda mual, diminum ketika mual saja,” balas Dokter Indri lagi.


Akan tetapi, Tama segera menggelengkan kepalanya, “Tidak Tante … sudah ada penawarnya kok,” balas Tama dengan melirik ke Anaya yang sekarang duduk di sampingnya.


Dokter Indri pun tersenyum, “Baiklah … pemeriksaan selanjutnya satu bulan lagi yah. Selamat sekali lagi, Tante doakan kalian bahagia dan sehat selalu. Tante akan selalu mengawal kehamilan Anaya, kalau perlu sesuatu kirimkan pesan saja Anaya,” ucap Dokter Indri kemudian.


“Iya Tante … terima kasih,” balasnya.


Mengakhiri pemeriksaan malam itu, kemudian Anaya dan Tama berpamitan dan menebus obat dulu di apotek. Keduanya keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang berseri-seri. Bahkan tangan Tama sesekali mengusapi perut buncit istrinya itu.


“Tuhan baik banget yah … di saat kita, hamba-Nya benar-benar ikhlas, dia justru memberikan lebih. Aku padahal sedikasihnya aja loh, enggak mengharap akan mendapatkan anak kembar sepasang. Kembar Fraternal kan susah ya Sayang … kalau kembar identik yang lebih dominan. Jadi, seneng banget,” ucap Tama.

__ADS_1


“Iya Mas … aku juga seneng banget. Enggak mengira, si boy dan si girl di dalam sini. Uh, games ya Mas … gimana nanti mereka kalau lahir. Excited banget aku,” balas Anaya.


Keduanya kemudian membayar untuk biaya pemeriksaan, dan juga menebus obat. Sembari menunggu, keduanya kembali duduk di depan apotek dan loket pembayaran itu. Tama yang tengah berbahagia agaknya tangannya tak bisa lepas dari perut Anaya. Rasanya ingin terus-menerus mengusapi perut yang di dalamnya ada sepasang bayi kembar itu.


“Kata orang, kan sudah punya anak pertama cewek, makanya kehamilan berikutnya berharapnya cowok. Aku malahan enggak … sedikasihnya saja. Bagiku cewek atau cowok sama saja. Yang penting mereka tumbuh sehat, lahirnya lengkap dan selamat. Sekarang ini, aku kayak mendapatkan anugerah yang super lebih dari Tuhan,” ucap Tama.


Anaya pun juga menganggukkan kepalanya, “Aku juga Mas … aku juga enggak ada target, mau cewek atau cowok. Bagiku sih sama saja kok,” balas Anaya.


“Cuma sekarang jadi seneng?” tanya Tama kemudian.


“Seneng banget sih … enggak nyangka. Mungkin karena kita dalam kondisi pasrah dan juga tidak mengharap apa pun yang penting bayinya sehat, begitu dapat kembar sepasang rasanya bahagia banget,” balas Anaya.


“Mungkin Tuhan tahu kesedihan kita di waktu lama, dan masalah yang menghadang. Sehingga kali ini Tuhan memberikan berkah yang luar biasa, jauh dari apa yang kita harapkan. Dijaga baik-baik ya Sayang … ada Baby Twins di dalam sini. Aku jadi kepikiran yah siapa nanti namanya,” balas Tama kemudian.


Anaya pun tertawa kecil di sana, “Iya ya … namanya nanti siapa. Justru belum kepikiran nama sama sekali. Mau berawalan C biar kayak Citra, atau bebas Mas?” tanya Anaya kemudian.


Anaya kemudian kembali tersenyum, “Nanti aku cari-cari dulu deh … nama kan doa, Jadi, ya mencarikan yang terbaik, menyematkan doa dan harapan kita untuk kedua anak kita. Kenapa Citra nama belakangnya tidak ikut nama kamu Mas?” tanya Anaya kemudian.


Biasanya orang tua ketika memberikan nama, di belakangnya akan ada tersemat nama orang tuanya. Sementara Citra justru memiliki nama lengkap Citra Eira Kinanthi, tidak ada nama Tama di sana. Sehingga, Anaya pun bertanya kepada suaminya.


“Enggak … ini nama dipilih almarhumah dulu, maunya ada nama itu,” balas Tama kemudian.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, rupanya memang nama Citra dipilih langsung oleh mendiang Cellia. Berarti Tama memang tidak memiliki andil dalam pemberian nama itu. Anaya pun melirik kepada suaminya.


“Nanti kita kasih nama barengan aja Mas … nama belakang kamu Yudha yah … agak susah juga ya untuk dijadikan nama belakang,” balas Anaya kemudian.


Tama pun tertawa, “Nama kamu juga cuma Anaya saja, Yang … enggak ada nama Tendean di belakangnya,” balas Tama.

__ADS_1


“Kata Ayah yang singkat aja. Lagipula, waktu itu Ayah kehilangan Bunda juga, jadinya ya enggak bisa memikirkan nama katanya,” balas Anaya dengan tertawa pula.


Ya, kala itu Ayah Tendean yang hancur dan benar-benar patah hati tidak bisa berpikir harus memberikan nama apa untuk Anaya yang baru lahir. Yang teringat hanya nama ‘Anaya’ yang dipilih oleh Bunda Desy. Selebihnya, tidak ada lagi yang terpikirkan oleh Ayah Tendean.


“Benar Sayang … untuk itu dulu Mama kandungnya Citra sudah mengucapkan nama itu dulu. Aku cuma mencatatnya saja dan membuat surat keterangan lahir dari Rumah Sakit,” balas Tama kemudian. “Setelahnya, aku juga udah enggak bisa mikir. Buntu rasanya kepalaku,” balas Tama.


Bagaimana pun kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup membuat dirinya merasa buntu dan juga tidak bisa berpikir. Sekarang situasinya berbeda, berharap semuanya akan baik, Tuhan juga menganugerahkan hubungan yang panjang dengan Anaya, istrinya.


“Iya Mas … aku tahu rasanya, kok obatnya lama ya Mas,” tanya Anaya kemudian.


“Sebentar … mungkin tidak lama lagi,” sahut Tama kemudian.


“Aku sudah mengantuk. Tantanganku sekarang jadi lebih cepat mengantuk deh Mas,” balas Anaya sekarang.


Jika di awal kehamilan rasanya selera makan bertambah, jadi lebih sering menangis, sekarang yang dirasakan Anaya adalah merasa lebih cepat mengantuk. Sehingga jam tidurnya juga lebih banyak sekarang. Akan tetapi, Tama juga tidak masalah. Yang penting istrinya itu bisa sehat.


“Ya sudah … nanti kamu bobok duluan saja, biar aku yang menidurkan Citra,” ucapnya.


Senyuman pun terbit di wajah Anaya, “Makasih Mas Suami … baik banget sih. Beneran aku boleh bobok dulu?” tanyanya.


“Iya … boleh dong. Selalu boleh. Apa pun untuk Istriku tercinta,” balas Tama dengan tersenyum.


Setelah cukup lama mengantri, kemudian nama pasien atas nama Anaya pun dipanggil dan kemudian diberikan Asam Folat dan Kalsium yang harus diminum Anaya setiap harinya. Tama juga langsung membayar semua biaya pemeriksaan dan juga obat. Setelahnya, pria itu kembali mendekat kepada istrinya, mengajaknya untuk pulang.


“Udah yah … yuk pulang, sudah ngantuk kan,” ucap Tama.


Anaya yang melihat Tama yang perhatian dan juga bisa memahami rasanya benar-benar bahagia. Hamil dengan ditemani suami, hamil dengan mendapatkan kasih sayang dan juga perhatian membuat Anaya sangat bahagia. Ini adalah kehamilan kedua bagi Anaya dan semuanya terasa berbeda. Ada Tama yang selalu ada di sampingnya dan juga selalu memberikan perhatian lebih untuknya.

__ADS_1


__ADS_2