
Setelah beberapa jam diobservasi, kini Dokter Indri mulai masuk ke dalam kamar perawatan Anaya. Terlihat Dokter yang selalu ramah itu memasang senyuman terbaiknya dan menyapa Anaya.
"Sudah baik?" tanyanya.
"Sudah, Dokter," balas Anaya.
"Tadi kami sudah ambil sisa-sisa jaringan yang ada di dalam rahim kamu. Tidak hanya embrio yang kosong (blighted ovum), tetapi juga ada sisa plasenta yang menempel di dinding rahim. Untunglah, suami kamu memilih melakukan kuret, sehingga sekarang rahim menjadi lebih bersih dan juga sehat," ucap Dokter Indri.
"Berbahaya tidak Dok?" tanya Tama kemudian.
"Tentu berbahaya karena retensi plasenta bisa mengakibatkan pendarahan dan juga nanti membuat bayi yang akan menempati rahim terganggu, bisa keracunan juga," jelas Dokter Indri.
"Terima kasih Tante Indri sudah menolong Anaya," ucap Anaya demikian.
Dokter Indri pun tersenyum di sana, "Sama-sama Anaya ... justru Tante diberi kesempatan untuk bertemu keponakan sendiri. Sangat senang bisa melakukan yang terbaik untuk kamu," balas Dokter Indri.
Anaya tersenyum dan lantas kembali bertanya kepada Dokter Indri, "Anaya kapan boleh pulang? Jika memang kondisi tubuh Anaya sudah baik, bolehkah Anaya pulang?" tanyanya kemudian.
Dokter Indri lantas melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah empat jam berlalu, sejak dilakukannya dilatasi dan kuretase. Kemudian ada beberapa pertanyaan yang diberikan Dokter Indri.
__ADS_1
"Kerasa mual dan muntah enggak?
"Enggak."
"Kerasa pusing enggak?"
"Lumayan, sedikit pening."
"Lalu, apa lagi yang dirasakan?"
"Di bagian panggul terasa kram," jawab Anaya kemudian.
Jujur saja, mendengar apa yang disampaikan oleh Dokter Indri membuat Tama takut. Pasca kuretase, Tama pikir semuanya aman dan lancar, tetapi dalam tiga hari setelahnya banyak hal yang harus diwaspadai. Semoga saja tiga hari nanti tidak ada sesuatu yang terjadi pada Anaya. Sebab, Tama merasa begitu cemas.
Usai konsultasi dan keinginan Anaya, kini Tama sudah membawa istrinya itu untuk pulang. Walau sebenarnya, Tama ingin Anaya dirawat di Rumah Sakit setidaknya satu malam.
"Akhirnya pulang," ucap Anaya di dalam kamarnya.
"Sebenarnya di Rumah Sakit duluan aja kok Sayang. Bahaya loh," balas Tama.
__ADS_1
"Kamu takut Mas?" tanya Anaya kemudian.
Dengan cepat Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya, lebih takut untuk tiga hari ke depan. Bahaya Sayang. Bakalan tidak bisa tidur aku tiga hari ini," ucapnya.
Anaya kemudian menatap suaminya lagi, "Tidak apa-apa. Asal kamu temenin, aku akan segera pulih dan sehat kok," balas Anaya. "Libur berapa hari Mas?"
Ini memang masih hari bekerja, tetapi untuk bisa menemani istri tercinta, Tama memilih cuti. Walau demikian jika ada kerjaan yang sifatnya mendesak, Tama diminta untuk bisa mengerjakannya dari rumah.
"Tiga hari Sayang ... sesuai waktu tanya ke Dokter Indri itu. Ini kan hari Rabu, ya jadinya aku sampai hari Minggu libur. Nanti Senin, aku bekerja lagi yah," balas Tama.
"Iya Mas ... terima kasih ya sudah libur panjang," balasnya.
"Sepekan ini aku temenin. Jangan beraktivitas berat. Fokuskan untuk pulih dulu saja Sayang. Untuk Citra biar aku yang urus. Ada Mama Rina juga kok yang bisa membantu kita. Tidak apa-apa, jangan dipaksakan. Kesembuhan kamu itu penting," ucap Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... yang penting aku sudah di rumah dan bisa pumping lagi. Nak Cantik tetap dapat ASI dari Mamanya dulu. Justru kalau bisa hamilnya usai Citra lepas ASI saja kok," balas Citra.
"Tidak usah dipikir Sayang. Penting kamu sembuh dulu dan yang pasti tiga bulan ini di hati-hati. Jangan sampai hamil, biar rahim kamu sehat dan pulih saja dulu. Aku enggak pasang target juga, sedikasihnya Tuhan saja," balas Tama kemudian.
Anaya yang mendengar ucapan suaminya tersenyum, "Jadi terharu ... makasih ya Mas. Dengan kamu di sisiku, aku yakin bahwa aku akan pulih dengan lebih cepat. Makasih Papanya Citra," ucapnya dengan menatap wajah suaminya itu.
__ADS_1